Latest Event Updates

Mabuk Kemenangan (4)

Posted on Updated on


Sabtu, 8 Maret 2014

Alas Roban, 00.02

Saat duduk sebagai penumpang bus, bagiku, menyeberangi alas Roban adalah momen krusial saat menjelajahi sisi utara Pulau Jawa. Di sini, performa sesungguhnya dari para pemain Liga Premiere Pantura dapat diukur.

Faktor skill, insting, kejelian membaca situasi, serta jam terbang pengemudi amatlah strike untuk  untuk menahbiskan siapa sesungguhnya yang paling lihai menaklukkan rute berat yang dikontruksikan oleh Alas Roban. Tak cukup hanya berpatokan kekuatan mesin ber-cc besar semata.

Tiga bus yang sempat tidak terlacak rimbanya tahu-tahu sudah kembali memimpin. Berturut-turut dari belakang ke depan, Garuda Mas, B 7383 IZ, Sindoro Satria Mas, 223, dan Gunung Harta, DK 9131 GH.

Tak pelak, laga antar keempat kontestan memasuki episode-episode seru di zona Tulis – Banyu Putih. Pressing ketat yang diperagakan Kemenangan membikin Garuda Mas kelimpungan. Idem ditto pula dengan Sindoro Satria Mas berpakaian New Sprinter yang sukses menggondol gelar sebagai yang terdepan dari cengkeraman Gunung Harta koridor Jakarta – Ponorogo.

Perbedaan poin antara Kemenangan dengan Gunung Harta kian melebar terganjal gerak lambat truk-truk yang kepayahan mendaki tanjakan Clapar, Subah. Usaha tak kenal capai untuk memburunya akhirnya gagal total lantaran rumah makan Alam Sari 2 menyabdanya untuk menepi.

IMG_2666

Banyu Putih, 01.10

Setelah hampir ¾ jam secara bergantian ditemani oleh pool matenya, PO Kemenangan, Legacy Sky, AG 7219 UN, yang sedang heading to Jakarta, Madjoe Utama dengan kode pintu 222, serta Zentrum MK, TZ16, Kemenangan pun melepas tali tambatnya dari pelataran rumah makan yang dulu bernama Sabana Jaya.

IMG_2665

DSC_0791

IMG_2663

Lingkar kemudi telah berpindah pemilik. Separuh perjalanan telah ditempuhi. Dan kini, jalur warisan kompeni menanti.

Mengandalkan kepekaan naluri serta ilmu titen membaca sorot lampu kendaraan lain, the real Roban itu dengan tangan dingin berhasil dijinakkan. Belasan truk-truk bukanlah onak berarti saat PO Kemenangan meneguhkan dominasinya melahap special stage yang berkelak-kelok serta menurun tajam di  bibir jurang yang menyabuki trek Poncowati. Tak sampai lima menit masa yang dibutuhkan untuk merekatkan pangkal dan ujung tanjakan yang lebih dikenal dengan sebutan Plelen lama ini.

Dari Pertigaan Kota Sari, Gringsing, hingga Patebon, bus non air suspension ini terperangkap dalam pusaran persaingan dengan Langsung Jaya “Pandan Arum”. Sempat dua kali saling bertukar posisi, sebelum “gerobak Jepang” dengan roket pendorong jenis AK174LA itu melempar handuk putih.

Kali Bodri, 01.55

Jejak kemenangan kembali dipahat di jalan arteri Kota Kendal. Dengan puing-puing agresivitas yang masih mampu diorbitkan, derap bodi Genesia karya New Armada yang membingkai GMS, mampu dihempaskan. Perlakuan yang sama juga dialamatkan pada Fire Fox Palur, nomor lambung 396, serta Sindoro Satria Mas, 223.

Lingkar Kaliwungu kini menghamparkan “ring tinju” untuk sekali lagi menjajal peruntungan berduel dengan salah satu pemain Ngembal Kulon United.

The Joker, yang kemarin siang di Pulo Gadung menempati pole position di depannya, kini terlihat terang.

DSC_0756

Peluru pertama nyaris saja berbuah skor, namun saat side by side, Red Titans itu malah mengungkit kecepatannya.

Satu dari big three penguasa Pulau Garam itu rupanya tak mau dipermalukan tim new entry. “Follow me if you cor !!!” begitu sesumbarnya. (cor solar, maksudku…)

Lagi-lagi, intersep kedua yang tinggal menyisakan ¼ bodi lagi untuk menyalipnya terbentur kendaraan kecil yang melaju pelan di sisi kiri.

Lewat open play niscaya bakal susah untuk jadi juara, maka “taktik culas” pun diaplikasikan. Melihat HR64 tunduk traktat untuk mencoret absensi kehadiran di Terminal Mangkang, PO Kemenangan pasang kuda-kuda untuk langsung melenggang. Dan kenalakannya pun terendus petugas jaga di pinggir jalan dan seketika diberhentikan. Mau tak mau, upeti yang dibayarkan dilipatduakan agar tak kena semprot.

Kudus, 03.20

Mendadak, aku terbangun.

Rupanya, antara Krapyak hingga Tanggulangin aku nyilem di dasar mimpi. Rasanya, baru kali ini aku menikmati perjalanan bus malam dengan jam tidur paling larut. Jam dua dinihari baru bisa merem.

Entahlah, apa ini yang dimaksud dengan makna kiasan dari label “Mabuk Kemenangan”? Ataukah scene-scene yang terpanggungkan di atas venue Pantura begitu menggoda adrenalin dan mendidihkan gejolak darah muda?

Sementara itu, di depan Terminal Jati, nongol kembali si “antagonis”, musuh batman,  The Joker. Kereta kencana beregistrasi B 7038 VGA itu mencuri kembali supremasi yang susah payah dibangun PO Kemenangan.

Namun, harapan akan hadirnya kembali pertandingan ulang dengannya karam terwujud. Bus berjantung pacu 7.7 liter itu mengarahkan moncongnya ke perempatan Kencing, sementara bus yang mempercayakan Aldilla untuk urusan singgasana para penumpang ini menentukan arah pelayarannya sendiri menuju Pati via ring road.

DSC_0746

Wuss…

Ritme mata yang naik turun terkantuk-kantuk seketika buyar, ketika Pahala Kencana, B 7905 IZ, melakukan revenge di daerah Widorokandang, Pati. Sepertinya, yang mengendalikan kokpit sudah berganti, tidak sama ketika PO Kemenangan mengalahkannya beberapa saat yang lalu. Kini, bus jurusan Jember I itu show off aura kelincahannya, tanpa kompromi membabat satu persatu gerandong-gerangdong jalanan, dan akhirnya dalam sekejap sirna dari pandangan. Sementara, aku hanya bisa menggeleng-geleng sembari lirih memujinya, “Dasar kentir…

Rembang, 04.44

“Terima kasih ya, Pak!” kalimat thanks giving aku sanjungkan kepada para kru, saat bersiaga turun di seberang Kantor Polantas Polres Rembang.

Hampir 15 jam untuk menempuhi rute Pulogadung-Rembang, sejauh 550 km. Not bad …dengan kondisi jalan Pantura yang satu per dua-nya yang amburadul, dengan dua kali istirahat makan dengan akumulasi waktu hampir dua jam, dan dengan dua kali masa kerja shift penggantian kursi tiap pengemudi.

Aku tinggalkan doa, semoga Kemenangan kuasa mematahkan pemeo lama bahwa bus dari gugus Jatim acap kesulitan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Mereka berulang kali hanya jadi sub ordinat dan dipandang inferior atas bus-bus berpelat “B”, bila menggarap dunia malam lintas provinsi. Dan semoga pula, PO dengan jingle “the best choice to travel” ini mampu berguru pada PO Harapan Jaya atas kisah pencapaiannya berupa hegemoni hakiki atas tanah Wilis Raya.

DSC_0747

*****

Sebenarnya, apa sih korelasi judul “Mabuk Kemenangan” secara harfiah dengan ending cerita? Toh, secara track record, PO Kemenangan tampil biasa-biasa saja, tak layak disebut pemenang. Prestasinya pun pasang surut, angin-anginan. Kadang tampil perkasa, namun sebaliknya, kerapkali pula jadi bulan-bulanan kawan-kawan sejawatnya. Kurang pantas andai “acara wisudanya” dirayakan secara euphoria, dengan “bermabuk-mabukkan” hingga lupa daratan.

Hmm…masih ingatkah akan sosok laki-laki yang meminta izin kepada kru untuk jeda sejenak lantaran ada  keperluan mencari obat di daerah Patrol?

Rupanya, ia tengah pusing tujuh keliling direpotkan oleh pasangannya yang didera siksa mabuk perjalanan. Dari awal berangkat hingga aku dari tercungkil dari takhta satu malam, istrinya dibekap mabuk darat nan amat akut serta masif. Puluhan kali terlontar erangan sumbang keluar dari mulut, terdorong desakan rasa mual untuk memuntahkan isi lambung. Dan kendala minor ini membuat nuansa happy journey penumpang lain berubah menjadi jijik, illfeel dan tidak nyaman.

Bukan maksud mencela atapun merendahkan martabat perempuan itu. Toh nyatanya, dialah yang menjadi sebab turunnya inspirasi bagiku untuk memparaf judul “Mabuk Kemenangan” dalam tulisan kali ini. Karena sejatinya, wanita muda itulah yang punya sangkut-paut dan relevansi erat dengan idiom  “Mabuk (di dalam) (PO) Kemenangan” dalam artian yang sesungguhnya.

IMG_2661

 -rampung-

Mabuk Kemenangan (3)

Posted on


Kertasemaya, 20.10

Serangan spartan yang dilancarkan Kemenangan secara bertubi-tubi ke jantung pertahanan Pahala Kencana, B 7905 IZ, membuat kinerja OH 1626 itu kelelahan. PO liliput berdaulat atas PO goliath.

Rival sepadan kembali didapatkan. Kali ini Garuda Mas B 7732 WB yang memberikan perlawanan alot dan liat. Dua kali upaya untuk menggusur posisinya kandas, selalu nyangkut di buritan  truk lantaran Hino AK8 berstrata ekonomi 2-2 non AC itu punya sifat kepala batu, tak sedikitpun legowo untuk mengalah.

Meski beda trayek, bukanlah kompetitor dalam liga yang sama, mereka layaknya dua tokoh animasi kartun Tom dan Jerry.  Aksi kejar-kejaran yang dipertontonkan cukup menegangkan. Aku pun senyum-senyum terhibur. Bahkan naluri liarku tak berani bertaruh bahwa rear engine bakalan berjaya mengungguli front engine.

Wusss…

Tanpa disadari, sebuah wujud Legacy Sky, B 7921 IZ, yang lagi-lagi bagian dari family Ombak Biru menyayat jalur kanan, mendegradasi trap Kemenangan berikut Garuda Mas. Metode overtakingnya ciamik. Halus, smart, dan  tanpa terdeteksi radar. Silent killer, mungkin ungkapan yang cocok buat menyanjungnya.

Tegal Gubug, 20.35

Pasar sandang terbesar di Asia Tenggara hendak memulai hari pasarannya yang jatuh pada Sabtu esok. Pelat-pelat mobil luar Cirebon menyesaki kantong-kantong parkir. Bahkan, pedagang-pedagang baju dan kain dari wilayah pesisir timur, dari mulai Pasar Kliwon, Kudus, hingga Pasar Jatirogo, Bojonegoro, pada eksodus mengambil barang kulakan dari Tegal Gubug dan mulai meninggalkan Pasar Tanah Abang.

Mungkin, pergeseran para pelaku ekonomi itulah yang membuat pasar seluas 30 ha ini menjadi simpul kemacetan baru dalam lima tahun belakangan ini.

Luragung Jaya “Yudhistira” meraup berbal-bal paket dan cuek bebek meski letak berhentinya melintang jalan. Seakan bus jurusan Kuningan-Jakarta itu mencibir Kemenangan, bahwasanya untuk mencetak profit, tak perlu membuka trayek sampai ujung dunia. Hehe…

Tol Palimanan – Kanci, 20.48

“Pak, saya turun Tol Ciperna!” rikuest seorang teteh dengan logat Priangan Timur nan kental kepada pengemudi.

Wew…sepanjang aku bersebadan dengan bus-bus Madura-an, inilah pemecahan rekor “penumpang meteran” terpendek. Cuma Klari sampai Cirebon! Benar-benar wanita dengan selera berkelas serta borjuis. Salam takzim buatnya…

Anak kembar punya ikatan telepati yang kuat. Begitu premis para psikiater.

Tak dinyana, HR77 “Legendaris” menyebelahi PO Kemenangan. Dua armada persis identik, sama-sama eks PO Tridifa Trans, sama-sama bertipe Hino RK8JSKA-NHJ, sama-sama mengusung bentuk Jetbus HD jahitan Adi Putro, sama-sama mempertahankan livery lama, dan sama-sama berkarya sebagai bus malam setelah disapih dari induknya, kini berdiri sejajar.

Tapi mengapa tak ada sikap basa-basi, saling sapa, setidaknya bersulang klakson? Justru diem-dieman sebagai saudara sebiologis?

Malah, tim Solo itu menaikkan gengsinya dengan mendongkrak kecepatan. De javu, lagi-lagi… Kemenangan “dipailitkan” oleh Haryanto.

Apa segampang ini bus yang juga punya izin AKDP untuk mengoperasikan line Surabaya-Banyuwangi menyerah?

Ternyata tidak!

Dari jauh, pendar lampu belakang dari konvoi rapat lima unit bus samar tertangkap retina mata. Semuanya berbanjar di sisi kanan, karena lajur satu terhambat truk gandeng yang merayap pelan.

Dengan kalkulasi yang cermat serta teliti, pedal gas pun dibejek secara intens. Dalam speed tinggi, satu persatu, barisan itu terlewati. HR77, Jetbus Pahala Kencana, Harapan Jaya AG 7049 US, serta kompatriotnya, AG 7494 UR.

Tinggal satu lagi aset Ibu Hartatik Cahyana, AG 7678 UR, yang masih melenggang di depan. Ruang menyalipnya kian ciut karena pantat truk di muka kian mendekat. Mau tak mau, aksi jilat sapi dilanjutkan nyetik tipis dan goyang kanan dilakukan secara kilat. Hal yang membuat sitting beauty-ku di bangku 1A  meradang! Panas dingin, Rek! It’s trully nekat!

Tapi, babak klimaks itu terpaksa di-break, karena cadangan bahan bakar kian tergerus. Proses refuel akan dilakukan di SPBU rest area tol Cirebon. Niatan itu dianulir, ternyata antrian truk yang hendak mengisi solar juga panjang menjuntai, karena dari delapan dispenser warna abu-abu, hanya dua yang difungsikan.

Sebagai gantinya, pom di daerah Kanci dibayar tunai untuk menyuntikkan infus cair sebagai nutrisi utama penggerak mesin varian J08E-UF.

DSC_0738

Dan di pitstop imajiner ini pula dilakukan lagi barter jabatan pengemudi.

Etape Kanci-Losari-Brebes tak ubahnya jalan tol bebas bayar. Kanal sunyi yang dibangun etape sepanjang hampir 50 km benar-benar menggoda para speed addict. Laju bus kian melesat, tanpa rintangan berarti. Lubang-lubang yang bertebaran pun masih bersahabat diredam telapak roda, meski dilindas dengan kecepatan tinggi.

Gajah Mungkur ber-STNK B 7070 IS serta Medium Bus Aladin Cirebon-Tegal-Semarang dibuat tak berdaya mengikuti ulahnya. Bahkan, sempat pula beradu sprint dengan lokomotif CC 206 yang menyeret rangkaian 10 gerbong barang di daerah Pejagan. Namun, lambat laun, PO Kemenangan keteteran mengimbangi output engine bikinan GE Transportation, Amerika, itu.

Brebes – Pekalongan, 22.17 – 23.58

Hujan deras mengguyur kota industri telur asin. Sikap hati-hati diambil dengan mendemosikan skala jelajah ke level ekonomis.

GMS “Missile2” serta Sindoro Satriamas kode 223 kuasa melampaui, menodai prestasi PO Kemenangan yang sebelumnya digdaya meruntuhkan tampuk Gunung Harta, DK 9131 GH, di Desa Suradadi, Tegal.

Rasa kantuk yang datang tak kugubris. Film layar lebar yang disiarkan kaca depan bisa-bisa mubazir bila dilewatkan dengan tidur. Apalagi melihat semangat juang driver berusia senja yang masih panggah menggeluti rute ratusan kilo tiap hari, membuatku mengagungkan kata salut dan apresiasi kagum.

Berikutnya, Garuda Mas “Lanange Jagat” jadi pemeran pembantu. Marcopolo, B 7383 IZ, begitu gemulai menari-nari di atas catwalk Pantura.

Ngga dapat adiknya, kakaknya juga boleh…Mungkin itu yang ada di pikiran PO Kemenangan, setelah kisah asmaranya dengan Garuda Mas Skyliner selama mengaspali alam Eretan dikandaskan oleh Pahala Kencana.

Berdua pun memintal hubungan bilateral nan manis, membangun mahligai indah sepanjang garis khayal Petarukan – Wiradesa. Garuda Mas sebagai imam, Kemenangan sebagai makmum.

Setiap ada pertemuan, niscaya akan datang perpisahan.

Jembatan Siwalan, yang masuk wilayah Wiradesa, jadi aral keintiman yang telah terangkai. Kerusakan badan jalan di atas gelagar jembatan akhirnya jadi triggerit’s time to say goodbye”. Moda berkelas AC ekonomi itu salah pilih jalur yang steril dari lubang, sedangkan bus-ku terus meluncur dengan bantuan kontur kiri jalan yang lebih rata.

Mabuk Kemenangan (2)

Posted on Updated on


Cikopo, 16.50

Macet di seputaran pangkal Tol Cikampek-Jakarta kala bubaran jam kerja jadi rutinitas abadi. Deretan kendaraan dari kelas roda dua hingga enam poros roda mengular sampai Pertigaan Mutiara.

Di pinggir jalan, terlihat Langsung Jaya “Fatikah” membuka kap atas dan kru tengah mengutak-atik unit pendingin transporter berkelas bisnis AC itu.

IMG_2638

Sementara, bus pertama yang bersilangan dengan PO Kemenangan adalah Kramat Djati, B 7432 IS, yang masih hot from oven, tanpa bangku penumpang. Bukan jetbus ala body builder tersohor, melainkan garapan Karoseri Kasturi Prima Sejati, Malang.

Ketersendatan yang didominasi oleh truk-truk bertonase berat kembali menggenang menjelang simpang Jomin. Ditambah kemunculan bigfoot, makhluk misterius mirip kera yang menghuni hutan wilayah Amerika Utara, kian merunyamkan keadaan. Hehe…

IMG_2652

IMG_2653

Semula, bus yang berpaspor kota brem, Madiun, ini kembali ke kultur semula, sabar mengantri. Namun, sejak dikipas-kipasi serdadu Ngembal Kulon, HR63, yang berulah selonong boy dari bahu jalan, driver yang menurutku bertipikal sumbu pendek ini pun tiba-tiba meledak.

IMG_2645

Seakan tak ingin dicap sebagai anak bawang di “ladang garam”, jalur lawan pun disandera. Misinya, mengembalikan kehormatan yang telah direnggut “The Survival”. Meski untuk itu, dia harus membuntu aliran lalu-lintas saat head to head dengan truk kepala hijau tipe SG 360TI.

IMG_2647

IMG_2649

Sejenak memohon kebaikan Rosalia Indah, 396, untuk menyingkap kerapatan celah, Kemenangan menyelinap ke jalan yang benar.

Rupanya, “Blue Titans” line Madura itu tak mau disepelekan dengan menyalip kembali dari sisi kiri.

IMG_2650

Sayang, niatan untuk mengekor bus yang ber-wisdommunio podo atimu” (bicaralah sesuai kata hatimu) itu digagalkan tackling Putra Luragung “Kumbang”. Hal ini membuat pak sopir sedikit geram dan mengumpat sinis.

IMG_2651

Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk “menggebuk”  VGA gank. Hehe…   

IMG_2655

Petak Jomin-Kaliasin adalah neraka bagi kendaraan yang mengarah barat. Aksi saling serobot, hingga menyisakan satu lajur utara tak terelakkan. Bus-bus jarak menengah (Cirebon-Kuningan-Tegal-Purwokerto) banyak yang terjerembab dalam kekusutan suasana. Iseng-iseng, aku baca panji-panji kebesaran mereka untuk menandai jati diri masing-masing. Ada Tepos, Sahara, Jalla Darat, Putra Sindang, Caraka, Ganesha, Alexis, Rehan, Abdi, Rengganis, Dewi, Mubarok, Budakngora, Lodaya, Wiralodra, Keong Mas dan yang jumlah aksaranya paling irit, SP, milik Bhinneka. Barangkali, para pelanggan lebih familiar dengan julukan ini daripada nama PO bersangkutan.

Di dalam jejalan ratusan kendaraan itu, terselip Karina berkode jurusan LE-113. Sepertinya produk 058 dalam status pinjaman saudara tuanya, Lorena, untuk mengisi trayek Banyuwangi-Lampung.

IMG_2658

Titik-titik kerusakan jalan pantura masih banyak tersebar di petak Cibanggala – Ciberes. Entah kapan pihak DPU pusat akan merealisasikan janji perbaikan kendati intensitas hujan sudah berkurang drastis. Ops, ini negeri salah urus, tak usah banyak menuntut pada petinggi republik mimpi…

Jederrr…jederr…jederr…

Rasa-rasanya, sambungan las hendak lepas dan baut-baut penyangga bangunan Jetbus HD ini mau rontok saat terperosok ceruk-ceruk nan dalam di depan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi.

Kerusakan dan kemacetan jalan adalah penyumbang terbesar menjulangnya cost maintenance bagi operasional PO akhir-akhir ini. Bodi bus-bus AKAP kian tak awet dan cepat berisik, kaki-kaki rakus mengkonsumsi ban dan kampas rem, beban kerja mesin bertambah berat, dan dalam jangka panjang akan memperpendek life time onderdil serta umur ekonomis kendaraan.

Peristiwa horor hampir saja terjadi di distrik Sukasari. Seorang biker sempoyongan hendak jatuh setelah dicaplok liang, membuat Kemenangan yang sedang menguntit menginjak tuas rem sedalam-dalamnya. Ingat akan kejadian lima tahun silam, kala bus yang aku tumpangi menggilas pengendara motor hingga tewas seketika di Kendal. “Semoga peristiwa memilukan yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri cukup sekali terjadi, sekaligus terakhir kali,” pintaku kala itu.

Kini, bus yang dilengkapi fasilitas reclining seat minus leg rest, bantal, selimut, toilet hingga hiburan audio-video ini mencoba menyempitkan gap dengan pantat Kuda Tulungagung, AG 7515 UR. Tak ada nafsu yang meluap-luap untuk mencundanginya, lantaran sebentar lagi bakal ada kewajiban yang wajib diemban. Yakni men-service makan malam bagi segilintir penumpang.

Pamanukan, 17.40     

Menu buffet tiga sehat tanpa lima sempurna yang terdiri dari nasi putih, telur pedas, sayur sop, sambal tahu, kerupuk serta teh manis disajikan.

DSC_0779

Itulah kekhasan hidangan Rumah Makan Nusantara 2. Seumur-seumur mengaktori peran sebagai karyawan PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), baru inilah aku mampir di “saung” yang bersebelahan dengan outlet Wijaya Subang, diler resmi mobil pabrikan Toyota.

DSC_0782

DSC_0784

DSC_0780

DSC_0775

Hampir  sejam “masa reses”, namun selama itu pula PO Kemenangan take a rest alone. Entahlah,  PO apa saja yang bermitra dengan rumah makan yang berdiri di atas turut tanah Jalan Raya Pamanukan km. 2,5, aku juga kurang tahu. Hanya ada plang nama PO Zentrum tertempel di dinding. Namun setelah diakuisisi oleh Tri Sumber Urip Group, apa iya masih “dimasukkan” di sini?

Subtitusi pengemudi dipentaskan kembali. Rupanya, driver pinggir yang tadi adem ayem mulai panas seiring rona lembayung melukis langit.

It’s showtime…

Belum lama melakukan warming up, titik kulminasi kerusakan Pantura menghalang di depan Pasar Pusakanagara. Jalanan sungguh-sungguh acak adut dan siap menelan siapa saja yang lengah dan kurang waspada.

Harapan Jaya AG 7049 US terlalu enteng untuk didahului. Dan kekalahan OH 1626 itu terbalaskan oleh Menara Jaya “Dona Doni” yang lari kesetanan saat mengaspal di bentang Sumur Adem.

Di Pasar Patrol, bus mengangkut dua penumpang imbuhan. Dari hasil pembicaraan telepon antara awak kabin dengan owner, memang ada arahan untuk mengambil sewa tambahan bilamana saldo bersih dari penjualan tiket masih defisit untuk menutup biaya operasional.

Sebagai newbie di belantika “antar provinsi”, aku maklum dan mafhum dengan kebijakan yang demikian. Apalagi PO Kemenangan bukanlah modalis besar.

Saat melangsungkan joyride trayek Madura, tanpa gembar-gembor advertising yang meriuhkan bursa terminal-an. Bahkan, timing buka jalurnya pun menurutku kurang pas. Mengapa bukan momentum Idul Fitri atau bahkan Idul Adha, saat perantauan Madura menyelenggarakan mudik besar-besaran?

Dan hematku, untuk menciptakan image serta branding yang kuat, perlu menciptakan livery tersendiri buat armada-armadanya, bukan bawaan PO sebelumnya. Bukankah itu salah satu bahan pencitraan yang cukup menjual serta tepat sasaran!?

Dari curi dengar percakapan itu pula, aku pun tahu bahwa tingkat hunian kursi dari Jakarta masih kedodoran, berbanding terbalik dengan arah ngulon yang mulai nge-seat. Masih dibutuhkan banyak usaha, perjuangan dan kerja keras lagi dari semua lini operasional bus yang bermarkas di Jl. Kol. Sugiono No. 88, Surabaya, itu untuk dapat bersaing dengan PO-PO mapan lainnya.

Baru saja hendak berangkat kembali, mendadak seorang lelaki memohon izin untuk turun.

“Pak..Pak…tunggu sebentar! Mau ke apotek, beli obat!” bilangnya dengan tergesa-gesa.

“Iya, Mas, tapi jangan lama-lama ya!” pesan Bapak Sopir.

Klajaran Kulon – Jatibarang, 18.50 – 19.55

Garuda Mas berjubah Skyliner jadi pemandu perjalanan kali ini. Berdua saling seiring-sejalan, bergandengan erat, merenda asa sepagi mungkin menggapai tujuan akhir. Sayang, kebersamaan yang terjalin dirusak oleh kehadiran orang ketiga. Dialah Evonext Nano-Nano jurusan Madura. B 7916 WB mengacak-acak barisan dan terkesan mendorong-dorong Garuda Mas ber-engine Hino RK8 untuk memutus kemesraan dengan PO Kemenangan.

Tak padam semangat, bus dengan corak tubuh bermotifkan tribal sulur tanaman ini terus melaju. Meski galau ditinggal “pacar sesaat”nya yang telah direbut Pahala Kencana, dia cepat move on.

“Dendam kesumat”nya coba dilampiaskan pada Pahala Kencana, Jetbus, B 7905 IZ, yang kini semakin mepet posisinya. Memforsir rpm di atas angka 2000 rupanya tak sanggup juga meladeni polah aset milik Pak Hendro Tedjokusumo.

Byar…byar…byar…

Sorotan cahaya lampu highbeam memantul dari kaca spion. Tanpa banyak cingcong dan umbar terompet, varietas Evonext Pegangsaan yang lain tahu-tahu menyodok dari sisi kiri.

Byar…byar…byar…

Reffrain itu terulang kembali. Tak berselang lama, Another Hino RG berkerudung Evonext, B 7298 IS, diam-diam menikam pula dari belakang.

Wownever ending RG, banter banget!

Secara kolektif, tiga Evonext Pahala Kencana yang semuanya ngelen ke “arena karapan sapi” layak dapat predikat sebagai man of the match malam ini.

Mabuk Kemenangan (1)

Posted on


Jumat, 7 Maret 2014

Pulo Gadung, 12.47

“Eh, Mas! Mas! Mau ke mana?” panggil seseorang dengan fonetis yang terdengar ketus, mengusik selaput gendang telinga.

Kutoleh pandang ke arah sumber suara, meski tak menghentikan jangkah kaki ini untuk terus menyusuri area parkiran motor yang merupakan lorong penghubung antara shelter Trans Jakarta dan pintu keluar terminal.

DSC_0744

“Ah, malas dengan orang beginian. Seragam lusuh, tak ada badge nama PO, makin kentara saja mencirikan momok itu. Calo gadungan!” gumamku.

“Maaf, saya mau naik Kemenangan!” kugunting saja ajakan pembicaraannya daripada terlibat dialog yang bakalan mencekam nantinya.

Bergegas kupercepat langkah, namun tak membuat dia pantang menyerah.

“Eh, kalau naik Kemenangan, lewatnya sini!” hardik lelaki itu dengan sedikit kesal, sembari jari telunjuknya menunjuk gate in pojok yang menuju embarkasi jurusan Surabaya, Madura dan Mataram.

Sabodo teuing!” cerca batinku. (Bodo amat)

Tentu saja, berbasis pengalaman, spot itu sebisa mungkin harus kuhindari. Di sanalah oknum-oknum gaje biasa berkumpul, menyusun modus operandi dalam menjebak penumpang.

Beruntung, cewek berperawakan subur yang merupakan duta dari salah satu PO semenanjung Muria turut mendekat.

“Mau ke mana, Mas?” tanyanya dengan ramah.

“Rembang, Mbak!”

“Ayo, ikut Haryanto. Buat Mas, udah deh…saya kasih 120 ribu!” rayunya maut, mencoba menggoyahkan plan A yang telah kupetakan jauh-jauh hari.

Kutatap tubuh mulus di seberang pagar. Dengan guyuran cat putih mutiara sebagai latar, berpadu kelir ijo pupus, hitam arang dan sedikit list oranye, colour mark-nya sangat artistik dan sejuk di mata. Fujiyama, demikian etiket kebanggaannya.

DSC_0740

“Maaf, Mbak, saya ikut Kemenangan saja!” tampikku. Aku memilih setia pada rencana.

“Ini mau berangkat loh, Mas. Tuh, lihat Kemenangan! Apa sabar menunggu sampai penuh?” bujuknya lagi dengan trik mendiskreditkan sang rival yang masih kosong melompong belum terisi.

Kugelengkan kepala.

Aku punya hajat mulia ingin menghadiahkan pengalaman baru serta kesan mendalam untuk perjalanan wira-wiri kali ini. Gara-garanya, bibit-bibit “edan sepur” semakin bertunas dan bersemi menyelingkuhi interest-ku terhadap sarana transportasi bus. Hal itu akan sulit kupenuhi secara sempurna seumpama kusambut pelukan hangat HR104, kolega dari HR87, HR90, HR91, HR92, HR67 dan HR79 yang sering aku gauli saat perjalanan balik ke Jakarta.

Dan sejurus kemudian…

“Om agen Kemenangan ya?” tanyaku pada bapak paruh baya berkemeja warna jingga yang masih kinclong, setelah kulihat name plate “Kemenangan” terjahit di atas saku depan.

DSC_0743

“Benar, Mas. Mau ke mana?”

“Ke Rembang, Om. Diangkut ngga?” gayaku sok retoris, “Kalau iya, berapa?”

Hehe…ayo, Mas. 150 ribu saja. Langsung naik ke busnya ya!” ujarnya semringah seraya menggiringku menghampiri “obyek jualannya”, sekaligus diumpankan pada ibu muda yang bertindak sebagai ticketing girl.

DSC_0736

“Dikasih harga berapa sama Om-nya, Mas?” koreknya dengan membisik.

“150, Mbak,” gamblangku yang tengah sibuk memungut dua lembar doku pecahan seratus ribu dari balik kantong celana.

DSC_0735

*****

Satu jam sudah PO Kemenangan mengais-ngais rezeki, namun nyatanya, tak ada yang bisa digaet semenjak aku dan lima penumpang yang lain teken kontrak buat trip satu malam yang sebentar lagi akan kami lakoni.

IMG_2603

Merana dan mengenaskan, itulah deskripsi satire untuk menggambarkan kiprah PO debutan di medan membara, Jakarta-Madura.

Di saat Pahala Kencana telah memberangkatkan dua armada, Jetbus non HD, B 7298 IX serta Legacy Sky, B  7821 IZ, pun dengan dua unit kavaleri Haryanto, Fujiyama serta Joker, dan dipungkasi Kramat Djati yang diwakili oleh New Travego rombakan, Kemenangan justru mengalami puso dalam mengumpulkan pundi-pundi keuntungan.

DSC_0751

DSC_0764

Nasibnya tidak lebih baik ketimbang Karina KE-550 yang masih berpangku tangan di front belakang, dibekap kesusahan dalam menjaring sewa.

DSC_0748

“Ini nanti ambil penumpang Cikarang satu, Klari dua!” instruksi mandor kepada kru ketika mereka melakukan briefing singkat sesaat sebelum keberangkatan.

O la la…para juru mudi yang akan turun lapangan ternyata sepuh-sepuh. Dari guratan keriput di wajah, jelas mengidentifikasikan rentang usia 55 – 60 tahun. Menilik sejarah bahwa Kemenangan sejatinya adalah PO kawakan dari tlatah Jawa Timur yang lebih banyak bermain di bidang usaha angkutan pariwisata, bisa jadi kedua driver tersebut adalah penggawa senior yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi pada perusahaan yang menaungi nasib dapur mereka.

Sedangkan sang asisten sedang melanglang selasar kabin, mendistribusikan jatah snack yang berisi sekerat kue basah plus segelas air mineral bagi tiap pemilik kursi.

IMG_2598

Akhirnya, tepat pukul 14.05, bus perpelat nomor AE 7220 UN ini berpisah dengan pos utamanya. Dia bersiap mengarungi selaksa duka berkarir hingga Sumenep, kudu tegar mengunyah aspal pantura yang akhir-akhir ini citarasanya lagi pahit serta getir tatkala dikecap tapak-tapak roda.

DSC_0750

Menjelang lampu merah yang mempertemukan ujung terminal dengan Jl. Perintis Kemerdekaan, PO Madu Kismo selangkah ditinggalkan. Laskar Karangturi yang mengusung nama gunung ikon Kota Batu, Panderman, masih asyik bergelut dengan masalah klasik, paceklik penumpang.

“Ah, aku membuang peluang emas untuk mengeksekusi plan B!” kesahku saat melewati sarang Garuda Mas. Tampak spesies the most wanted, Mercedes Benz OH 1830, menggawangi dinas sebagai eksekutif satu Pulogadung – Cepu sore itu. Buka selubung saja, ini kegagalan kali keempat aku berburu batangan Pak Alan Suherian itu. Dua kali dapat kompensasi diikutkan eksekutif dua, RK8 Air Suspension, B 7027 UGA dan B 7024 UGA, percobaan ketiga berjodoh dengan kres-kresannya, OH 1626, E 7871 HA, dan pada kesempatan terakhir malah kugadaikan dengan PO Kemenangan.

Kini, kansku membidiknya kian menciut lantaran terbit kabar dari pentolan GMM (Garuda Mas Mania), Mas Jefry dan Mas Hendro, bahwa pihak manajemen tengah menyiapkan suksesor untuk mendongkel kedudukan Mercy 300 HP dari tahta eksekutif satu di medio tahun politik ini.

Ah, sudahlah…

Tipar – Pertigaan Tol Cakung, 14.20-14.38

Keruwetan lalu lintas khas metropolitan menyambut di bilangan Tipar. Jalan utama yang menjembatani ibukota dengan kota satelit Bekasi banjir kendaraan. Bus mantan kepunyaan PO pariwisata dari pulau dewata, “Tridifa Trans”, ini seakan melanggengkan citranya sebagai armada pelesiran. Tak ada gelagat untuk memangkas kemacetan, setia di lajur paling kanan, pasrah diri menguntit truk trailer yang menarik sasis kosong berukuran 40 feet.

IMG_2592

IMG_2602

IMG_2600

Jalur tambahan yang terjepit di antara selokan dan markas TNI AD Tipar benar-benar dimanfaatkan oleh Bejeu Scorpion King, Langsung Jaya, AD 1423 CF, serta Hiba Utama kode GLX 06. Tak perlu tempo lama, bertiga sukses mendekat traffic light Pasar Cakung, sementara PO Kemenangan sekadar jadi peneropong dari jarak jauh, penyaksi betapa berkobar-kobarnya elan trio tersebut mengawali kick off.

Tol JORR – Tol Cikampek, 14.40 – 16.46

Walaupun bangku masih nglondhang, tak menjadikan hukum darurat untuk menambah okupansi dengan cara ngetem di mulut tol Cakung. Bus dengan tenaga kinetik powered by Hino R.260 ini bablas masuk Tol JORR Cakung-Cilincing. Pakem bus wisata dipertahankan. Kecepatan dijaga di rentang 60-80 km/ jam. Kesantunan dijunjung dengan berteguh fatwa bahwa menindas jalur larangan bus/ truk adalah haram seharam-haramnya. Jangan ditanya soal manuver dan zig zag style, lingkar setir hanya berputar tak lebih dari radius 30 derajat, memaku diri di lajur dua.

Menjelang KM 49 Bintara, yang baru-baru ini heboh sebagai lokasi penemuan mayat Ade Sara, mahasiswi Universitas Budi Mulya yang dibunuh mantan kekasih yang bersekongkol dengan bokin barunya, Setia Negara “Si Botak” berjalan dengan langkah seribu. Sementara, di kolong perlintasan jalan sebidang tol, sebuah dump truck terjerembab menghantam separator hingga mencium pilar jembatan.

IMG_2605

Lepas dari Interchange Cikunir, Kemenangan mulai pamer taring. Agra Mas 5102 dimasukkan sebagai isian pertama dalam daftar torehan positif, disusul aksi meng-overtake armada Tunggal Daya Nucleus 3. Mayasari Bakti B0913 pun tampil gemilang, memdemonstrasikan tarung bebas di gelanggang tol yang kondisinya sedang bebas hambatan.

DSC_0771

Exit Cikarang Pusat kena tetes manisnya. Sepinya populasi pengguna jalan membikin akses menuju kawasan industri itu meninggalkan adatnya sebagai gate out paling semrawut sepanjang ruas tol Jakarta-Cikampek.

IMG_2613

IMG_2616

IMG_2620

Cuma butuh waktu 10 menit keluar-masuk Tol Cikampek untuk menjemput penumpang yang bertujuan Kudus, kini waktunya unjuk performa kembali. Dan hasilnya, you know lah…kembali negatif. Hehe…

Era Trans berlingkup cangkang Evonext, K 1745 F, Menara Jaya dengan mesin Mitsubishi BM, Luragung Jaya pelat E 7729 YA, Patas Termuda “Prona” serta medium bus Hiba Utama B311 menekuk lutut bus berkapasitas 34 seat ini.

“Kalah solar, c*k…” begitulah pledoi yang mangkus tatkala kulirik sebatang baut stopper yang difungsikan sebagai limiter tertanam di area cakupan kerja tuas akselerasi.

Kini giliran Terminal Klari yang disinggahi. Geliat stanplat kecil yang diampu oleh Dishub Kota Karawang ini mulai tampak mencuat. Bus-bus malam memenuhi emplasemen. Terdata Murni Jaya E69 jurusan Jogja, Agra Mas BM 025, Royal Safari H 1714 DC, Kramat Djati seri 4 Ponorogo, dan skuat bus yang paling susah disalip, Sinar Jaya dan Sumber Alam.

IMG_2627

IMG_2629

IMG_2633

Unik dan beda dengan yang lain, demikian penilaianku mendapati fakta terjadi aplusan pengemudi, meski kapten pinggir baru bekerja ± 2 ½ jam. Dan interval rotasi pendek – pendek ini akan terus diterapkan sepanjang perjalanan. Faktor “U” kah?         

Every driver has a different skill and sikil…

Garang, ngotot dan ngeyel… Itulah kesan “joki baru” saat menghela kuda balap dari ras Nipponkoku ini. Jarum kecepatan ditenggerkan di atas skala 90 kmh manakala menuntaskan jengkal 20 km dari jalan tol yang tersisa.

Imbasnya, nilai rapor pun terkerek ke level biru, kala berhasil menyatroni posisi Gajah Mungkur, AD 1417 AG, bus paket Rosalia Indah, 712, serta Kramat Djati relasi Jakarta-Denpasar, B 7861 IW.

Di KM 65 terjadi kecelakaan yang menimpa truk pembawa peti kemas milik korporasi pelayaran asal Taiwan, Wan Hai Lines. Kontainer bercat biru dongker dengan dimensi panjang 12 meter itu nyungsep ke dalam parit, menyebabkan flow lalu lintas melambat.

Setelah berhasil berkelit dari TKP, bus dengan model kabin high roof ini kembali digeber semampu pedal gas berayun mencapai batas penalti. Harapan Jaya kode lambung H.238, “Setyo Tuhu”, disemburi asap berkonten carbon monoksida, dan hampir saja Tunggal Dara Putera berbusana Crystal gawean Restu Ibu jadi sasaran empuk berikutnya. Unfortunatelly, garis kejut yang dipasang pihak Jasa Marga menjelang gerbang Cikopo, mengendurkan berahinya.

IMG_2637















































 

“RN 285” Roulette (3)

Posted on


16. 10

Untuk kali kedua, aku mencicipi masakan para koki didikan Sari Wijaya Rasa, Ciasem. Soal citarasa, menurutku, termasuk kategori lumayan. Bumbu rempah-rempah yang merasuk dalam menu kering tahu, bihun goreng, sayur lodeh, serta ikan bandeng pedas, ramah menyapa ujung lidah. Bisa jadi, dedicated resto, yang memang mengkhususkan diri melayani penumpang Sedya Mulya. Tak kujumpai bus lain sepanjang aku rehat di tempat ini.

DSC_0107

DSC_0101

DSC_0176

Rombongan kolosal para penumpang dari armada “RN 285”, Nucleus 3, AD 1461 CG, serta armada Legacy Sky, AD 1435 CG, meramaikan acara makan bareng, yang konon, menstimulus nafsu makan hingga membuat lahap saat menyantap sajian yang dihidangkan.

DSC_0103

DSC_0175

DSC_0178

16.55

Masih dalam nuansa sendu yang dilukis butiran-butiran gerimis, bus berkapasitas 38 seat melakukan restart. Laju kecepatan hanya naik turun di skala sedang. 70 km/ jam, itulah yang terbaca pada speedometer Mega Pro yang sempat menyampinginya.

Sinar Jaya kode 42Y yang disalip di atas flyover Pamanukan bukanlah tolok ukur untuk menahbiskan sebagai bus cepat.  Agra Mas BM 012 Tangerang – Purwantoro sempat pula menyejajari dan malah mengajak guyon driver Sedya Mulya. Keduanya sempat tertawa terbahak-bahak oleh bahan gurauan untuk beberapa saat. Guyup dan rukun euy…

Rumah Makan Taman Sari II Pamanukan tampak mulai menggeliat didatangi para tetamu. Sekelebat bayangan Harapan Jaya Scorpion King, Gajah Mungkur dengan bangunan berarsitektur Old Legacy serta Lorena New Travego OH 1525 menghiasi bentang parkiran.

Restoran Indorasa kedatangan dua macan yang menempel di lambung PO Handoyo. Sedangkan RM Uun juga masih menganggur, tak beda jauh kondisinya dengan RM Anugerah, Sumur Adem.

Sahabat “Shangrilla” yang tengah storing di pojok halaman rumah makan-nya PO Garuda Mas, serta Pahala Kencana “Nano-Nano” yang teronggok di kantor polisi Patrol memantulkan wasiat akan kerasnya kehidupan di atas roda.

Kursi buncit alias CB akhirnya laku di depan Pasar Patrol. Para awak senyum semringah, bakalan ada bonus menanti sebab pendapatan sore itu melampaui target.

Hiburan musik tradisional etnik jawa diputar tayang. Bergantian tembang-tembang jawa, mulai genre karawitan, mocopat, hingga campursari dilantunkan para pesinden dan wiyaga dari grup campursari ringkes Sangkuriang asal Mojogedang, Karanganyar.

Satu tembang Mocopat berjenis Asmaradana, syairnya begitu meresap dalam sanubari.

Gegaraning wong akrami  ( Syarat/ modal orang membangun rumah tangga )
Dudu bandha dudu rupa  (
Bukan harta bukan rupa)
Amung ati pawitané  (
Hanya hati bekalnya)
Luput pisan kena pisan (
Gagal sekali itu berhasil ya sekali itu)
Lamun gampang luwih gampang  (
Jika mudah maka sangatlah mudah)
Lamun angèl, angèl kalangkung  (
Jika sukar maka teramat sukar)
Tan kena tinumbas arta  (
Tidak bisa dibeli dengan uang)

Oh, so wise…

Kita sepatutnya respek dan say thanks pada bus. Karenanya, dia bisa jadi wahana pelestari kesenian adiluhung warisan leluhur. Dia penyambung dinamika budaya bangsa.

Tiga bus dari tanah Ciayumajakuning (Cirebon Indramayu Majalengka Kuningan) sanggup ditaklukan. Bus ukuran sedang milik PO. Setia Negara dipecundangi di depan “kompleks rumah masa depan” Eretan Kulon. Sedang bigbus Setia Negara “Muslim” terpangkas jangkahnya menjelang bypass Widasari. Dan satu lagi bus wisata tanpa nama berpelat Karisedan Cirebon, juga berhasil digusur trap-nya.

18.40

Kembali geng Agra Mas yang diwakili BM 007 menusuk secara lembut dari belakang di daerah Kertasemaya. Sebagai parasetamolnya, Sedya Mulya menenggak PO Jaya, Laksana Comfort, sebelum akhirnya berhenti di depan pasar sandang Tegalgubug untuk mengangkut berkoli-koli paket.

Meski bukan berklasifikasi bus ambisius, nyatanya Gajah Kebayoran bernickname CBR jurusan Bima juga diungguli di Arjawinangun.

“Bus anyar tak malu-maluin,” bisikku.

19.13

Gerbang Tol Ciperna disusupi.

Meski kondisi rata bangku, “Luxury Bus” ini tetap harus setor muka pada pengawas operasional Cirebon. Berbarengan itu pula, si Warisan Langit yang dipunya PO Tunggal Dara Putera mendaftarkan diri di Terminal Harjamukti. Agak asing terlihat di layar retina tatkala medium bus Sahabat jurusan Cirebon-Tegal-Semarang sedang mengantri keberangkatan di luar terminal.

Kelengangan ruas Cirebon-Pejagan benar-benar dimanfaatkan pemilik pilar B melengkung gubahan karoseri Malang ini. PO dari Medan, Antar Lintas Sumatera (ALS) beranatomi Celcius didepak posisinya di wilayah Kanci. Demikian pula Dewi Sri “Laredo”,  menanggung nasib yang sama,  dikudeta di turut tanah Kecamatan Losari.

Kemacetan terjadi di Bulakamba yang diskenaroi oleh kerusakan badan jalan di depan markas PO. Dedy Jaya. “RN 285” hanya bisa mengelus dada menyaksikan Harapan Jaya “smiley”, Dewi Sri kelas ekonomi serta Agra Mas bodi Ventura menggagahi jalur berlawanan.

Lepas dari keruwetan, agresivitas yang sesekali dipertontonkan menuai prestasi. BM 023 dan Langsung Jaya “Panorama 2” harus mengakui kehebatan Super Jetbus.

Aku mulai kehabisan energi untuk mengganjal kelopak mata. Soft suspension yang dirancang ulang oleh teknisi-teknisi Hino benar-benar menyurutkan efek kesadaran.

23.06

Eat area yang bertengger di Jl. Raya Kuto Sari Km. 50, Gringsing, menjadi persinggahan kedua. Rumah makan legendaris itu masih tampak semarak menyongsong pergantian hari. Putera Mulya AD 1467 CG, Harta Sanjaya “selempang clurit”, serta trio Sedya Mulya, masing-masing AD 1461 CG jurusan Purwantoro, AD 1435 CG tujuan Pacitan serta AD 1719 AR, mendonasikan kehiruk-pikukan itu.

Ada hal yang membuatku tergelak sekaligus mengapresiasi kreativitas pengelola rumah makan yang pada masa silam punya andil membesarkan nama PO. Artha Jaya, Lasem. Yakni disediakannya fasilitas olahraga berupa lapangan bola voli serta meja pingpong. Ekslusif dan tiada duanya, bukan?

DSC_0187

DSC_0188

Aku manfaatkan time out ini untuk menjamak sholat magrib berikut isya, merefresh pikiran sekaligus menyuntikkan spirit baru bahwa rute perjalanan antimainstream yang kulakoni masih panjang dan berliku.  

25 menit berlalu, tiba waktunya alat angkut yang teregistrasi di Kantor Samsat Kabupaten Wonogiri dengan nomor urut WNG-9530 itu meneruskan kiprahnya. Aku pun terkantuk-kantuk kembali oleh tingkahnya nan lemah gemulai.

Pendegradasian Kuda Tulungagung, AG 7023 US, dari tampuk arteri Kota Kendal tak memancingku untuk terus berjaga hingga destinasi akhir yang dirujuk. Sekali lagi, aku tertunduk dalam peraduan.

 01.04    

Bunyi knalpot yang menderu tatkala mendaki tanjakkan Jatingaleh, Semarang, membantuku siuman dari ruang mimpi. Aku berlekas menyiagakan diri, mengemasi barang dan tas backpacker, kemudian melangkah pasti ke depan.

“Turun Sukun nggih, Pak!” ucapku lirih.

Pada akhirnya, episode cinta satu malam dengan “RN 285” telah mencapai klimaks. Ada kepuasan yang tidak bisa diukur dengan formulasi angka-angka usai berpeluh kebahagiaan menggaulinya.  Ada bangga jadi penyaksi bahwa karakter civitas pelat AD…G perlahan melumer, mulai giat beradaptasi serta tekun berasimilasi dengan selera zaman.

Persaingan semakin ketat, tensi kompetisi meninggi. Yang malas berinovasi, berkreasi serta berimprovisasi dalam memenej tata kelola perusahaan otobus, niscaya akan tergilas guliran peradaban.

Aku pun kemudian mudeng dan mafhum dengan gebrakan PO Sedya Mulya yang memeragakan jurus gimmick marketing untuk mendongkrak reputasi berikut value atas pesaing-pesaingnya.

Tak perlu diperdebatkan manakala dia membetot perhatian calon konsumen dengan label “New RN 285” pada armada-armada teranyar, mengecoh keberadaan fakta sesungguhnya, bahwa sasis berikut mesin yang tertanam masih era RK8JSKA-NHJ, dengan tipe engine J08E-UF.

DSC_0183

Who knows, sosok AD 1719 AR adalah trigger buat manajemen untuk menerbitkan purchase order bagi pembelian unit-unit “Real RN 285”, guna menambah kekuatan tempur skuadron d’oranje from Wonokarto ini.

DSC_0181

Semoga…

“RN 285” Roulette (2)

Posted on Updated on


Mapping perburuan makhluk “RN 285” telah dipetakan. Andaikan kelak dia jadi milikku, ibarat orang menikah, aku bakalan serius mennyuntingnya dengan status “kawin resmi”. Akan kupasrahkan gawe suci pada kebaikan budi agen berjalan sebagai mak comblang perjodohan ini. Aku tak mau menyandarkan diri pada tangan-tangan jahat sarkawi. Itu sama saja dengan “kawin lari”, menikah tanpa surat legal, tanpa pengakuan dari otoritas lembaga berwenang.

Dua Minggu Kemudian…

14.02

Berondongan peluru-peluru cair dalam ikatan H2O semakin deras menghujam bumi usai Agra Mas jurusan Tanjung Priok-Karawang Timur membayar pajak atas penggunaan jalan tol di gerbang exit Karawang Barat.

DSC_0156

Banjir kecil pun tercipta di beberapa titik Jalan Raya Badami. Gumpalan awan colombus masih mengepung hamparan awang-awang, seolah menguji nyali dan ketahanan mentalku agar jangan menciut.

Telah aku tepis zona nyaman yang diselenggarakan Pulogadung, Rawamangun ataupun Tanjung Priok kala berutinitas pulang ngetan.

Aku belum menggenggam secarik tiket, masih abu-abu tentang nasib trip ini nanti. Tak kugubris taksiran waktu tempuh, kisaran tarif maupun kadar pelayanan unplanned bus andai kisah “arjuna mencari cinta” meleset. Dan ini adalah belantara Klari, yang kubabat dan kubangun sebagai landas pacu pertama demi tereksekusinya ritual terbang menjelang akhir pekan.

Rolet ini ibarat perjudian, penuh spekulasi, main untung-untungan, mengandalkan insting semata. Semua ini kulakukan demi nyai…eh, “RN 285” maksudku.

Berkat hantaran angkot warna biru jurusan Klari-Cikampek, sampailah aku di seputaran pertigaan lampu merah Klari, yang merupakan jalur in out kendaraan yang hendak menuju/ keluar Tol Cikampek melalui loket Karawang Timur. Shortcut maya ini mulai dilirik para pengemudi intercity, setelah exit Dawuan maupun Cikopo kerapkali dibekap kemacetan di saat bubaran jam kerja.

DSC_0158

Dan detik-detik inilah petualangan pertaruhanku dimulai. Sukseskah berkimpoi dengan “RN 285”, ataukah malah gigit jari termakan sumbarku sendiri?

14.38

Keyakinan itu menyeruak kala bus yang pertama kali hadir adalah Sedya Mulya, AD 1451 CG, yang dua minggu sebelumnya aku kecap real taste of Wonogiren-nya.

DSC_0160

Moda jatah Pademangan itu seakan mengirim pesan bahwa aku tepat berpijak pada slottime armada-armada Wonokarto.

Kucueki saja klakson yang terkesiur. “Maaf…aku pernah mereguk wangi tubuhmu,” batin ini menolak.

Lima menit kemudian, giliran saudara mudanya, Sedya Mulya berpakaian Nucleus 3 dengan kelas Bisnis AC, tiba mendekat. Kubentangkan lima jari sebagai isyarat bahwa aku emoh diajak ber-ajojing sepanjang malam dengannya.

DSC_0162

Lalu terlihat duo Agra Mas, model Ventura dan Jetbus mengarah ke Terminal Klari, tempat checkpoint sempalan PO Giri Indah itu berada.

Tak lama berselang, jadoel community yang lain menampakkan diri. PO Putera Mulya, dengan mesin OH Prima serta model tubuh non orisinal hasil permakan Sari Murni Body Builder, Wonogiri. Tembakan lampu dim tak kuindahkan. Andai moodtour sejarah” sedang bergolak, pastilah iming-iming konstanta keklasikan itu akan kuturuti.

Hatiku berdegup kencang. Cemas-cemas harap. Barangkali sudah puluhan kali tri-warna lampu bangjo berbagi tugas untuk mengedip, namun tak ada bus lain yang kunjung datang.

“Kemanakah gerangan ‘RN 285’? Apakah dia sudah melangkah di depan jauh sebelum aku berdiri di sini? Ataukah dia sudah fullseat sehingga menghindar exit Karawang Timur? Ataukah dia lagi regular maintenance sehingga offline dulu?” selarik pertanyaan menghantui benakku.

“Ah…kugelar saja injury time selama 5 menit. Seandainya rencana percintaan ini kandas, ya apa boleh buat!? Barangkali Dewi Fortuna sedang tidak memihakku!”

Kulirik agen-agen bus yang berbanjar di belakang punggungku. Garuda Mas, Madukismo, Pahala Kencana, Rukun Jaya, Nusantara, GMS dan Mulyo Indah seakan genit menggodaku yang tengah terombang-ambing dalam biduk ketidakpastian.

DSC_0164

DSC_0163

15.05

Tiba-tiba..

Tett…tett…tett…

Kutoleh pandangan menyudut pada traffic light area. Aku terkesima dibuatnya.

Wah…wah…wah…sebuah obyek dengan “jepit rambut” warna coklat susu bertagline “Luxury Bus” berpacu dengan fase transisi cahaya hijau menjelma merah.

DSC_0113

“Inilah yang kucari!!!”

Secepat kilat kulambaikan tangan, namun sayang, respon bapak sopir agak telat. Bus terlambat melakukan pengereman hingga baru benar-benar berhenti dengan melebihkan jarak ± 50 meter dari posisiku mematung.

Dengan suka cita, kumantapkan ayunan kaki untuk acara ijab kabul sebagai barang bukti halalnya hubungan antara manusia dengan makhluk yang digandrungi.

“Kemana, Mas?” tanya sang agen berjalan, yang kini di mataku laksana seorang penghulu.

“Semarang ya, Om”.

“Silahkan, Mas, masih ada yang kosong kok!”

“Berapa tarifnya, Om?” korekku sekadar berbasa-basi. Padahal, berapapun dia menyebut nominal, selama masih di bawah angka 200 ribu, aku siap menyerahkan mas kawin secara tunai, tanpa kutawar sepeserpun.

“125, Mas, sudah termasuk service makan!”

Sah…sah…sah…

DSC_0167

Digiringnya aku menuju kursi pelaminan nomor 33, karena baris depan dan tengah telah berpenghuni.  Tak apalah nyempil di depan toilet dengan sudut pandang terbatas, yang penting dan sakral, aku akan merenda jalinan percintaan dengan pasangan yang sangat aku idam-idamkan selama ini.

DSC_0169

Bus dengan nomor polisi AD 1719 AR bergerak maju secara perlahan, nyante dan kalem. Dua tambahan penumpang didapat di daerah Purwasari, Tamelang. Dan jumlah yang sama pula diperoleh di Jl. Ahmad Yani, Cikampek. Satu rezeki plus kembali diraih di Jl. Stasiun Dawuan, hingga menyisakan bangku terakhir di sudut belakang.

Di samping Mal Cikampek, agen berjalan pun paripurna bertugas untuk hari itu sembari pamit kepada kru. Lewat media telepati, kutitipkan kata terima kasih akan sumbangsihnya, dan semoga dia mendengar kalimat sanjung puji ini.

15.35

Finally, last seat itu berpenduduk kala seorang pemuda menyetop di depan garasi Warga Baru,  Kaliasin, Pangulah Utara. Laris manis tanjung kimpul, tampilan manis penumpang ngumpul. Hehe…

Dihibur aksi panggung duet Mbak Eny dan Mas Irul dalam kemasan Djandut (Djaranan Dangdut) Orkes Melayu Sagita Assololey, nyata-nyata menggairahkan suasana. Dua  unit LCD TV yang terbenam di dalam kabin setidaknya bisa mengalihkan perhatian dari alon-alonnya pusingan enam ban yang menyangga sasis ladder frame bikinan prinsipal Hino Motors Indonesia ini.

Langit berpayungkan mendung pekat mengiringi joyride bersama Sedya Mulya. Busku hanya jadi garda bagi medium bus bermodelkan Tourista, PO IKF, E 7532 PA.

Jalan Pantura mulai menunjukkan nestapa kerusakan di sana-sini, gara-gara dicuci genangan air hujan, dikucek tapak-tapak roda angkutan tonase berat. Di tengah rintik gerimis, terlihat sekawanan alat berat; asphalt finisher, tandem roller serta pneumatic roller, sibuk bekerja mengaspal ulang badan jalan di distrik Balonggandu, Jatisari.

Di Pasar Cikalong, nego alot sempat terjadi dengan nomine sewa. Entahlah, ketidakcocokan itu karena harga, ataukah posisi tempat duduk, sehingga dia batal menggunakan jasa bus berteknologi diesel konvensional ini.

Lalu lintas sore itu senyap, tak banyak kendaraan berseliweran. Rumah Makan PO Haryanto juga kosong melompong, tak satupun bidak yang dijuluki “the fastest bus on South East Asia” itu menampakkan wujud.

Yang justru mendatangkan keprihatinan, di bawah guyuran hujan, dua cewek ABG bermotor matic dengan dandanan seronok, tanpa helm dan kelengkapan motor yang memadai, dengan asyiknya bercanda di atas motor. Mereka tak menyadari, manuver-manuver setang kemudi telah menyulitkan laju pengguna jalan yang lainnya. Semoga mereka bukan bagian dari suku kimcil, atau bangsa cabe-cabean, ataulah nama-nama yang lain…yang saat ini tengah jadi pembahasan hangat di Komisi Perlindungan Anak.   

“RN 285” Roulette (1)

Posted on Updated on


November, Hari ke-29

12.35

“Mas, mohon untuk diperiksa kembali ya!” ujar penjaga loket stasiun Tanjung Priok mengingatkanku, sebelum tiga lembar uang pecahan seratus ribu sebagai mahar transaksi, berpindah tangan.

“Kereta Api : Sembrani; Jadwal Keberangkatan : 2 Desember 2013  (23.02) – Semarang Tawang; Jadwal Tiba : 3 Desember (05.38) –  Jakarta Gambir.”

“Benar, Mas, fixed!” tandasku.

DSC_0196

Bergegas kuberlari-lari kecil menjauhi bangunan kolonial yang memiliki langgam art deco itu, menuju sekerumunan tukang ojek yang menyemut di depan pintu terminal Tanjung Priok.

DSC_0212

DSC_0204

“Pak, ke Pademangan!” pintaku pada salah satu dari mereka.

Dengan style riding selap-selip, tiada gentar serta tak minder bergelut di antara deretan truk-truk pengangkut petikemas yang meninggalkan kawasan pelabuhan, dibawanya aku menyusuri garis pantai yang terik membakar.

“Pademangan-nya mana, Mas?” serunya setengah berteriak sembari mempelintir tuas gas motor 4-tak sengacir mungkin.

“Eks Bioskop King, Pak!”

DSC_0061

Tak sampai 10 menit kemudian, tibalah kami berdua di depan gerai penjualan tiket sebuah PO semenjana yang bertempat lahir di kota gaplek, alias Wonogiri. Sedya Mulya, demikian sang founding father menamainya.

DSC_0054

“Mas, langsung naik saja ya, ini hampir jam satu, waktunya bus berangkat,” perintah agent keeper saat aku melakukan boarding, dan serta merta mengurungkan niatan untuk mencari sesuap makan siang.

DSC_0060

12.58  

Setelah menyambut seorang ibu yang berfiguran sebagai the last passanger sitting, bus lawas yang mempercayakan kesetiaan pada kinerja mesin OM 366A ini merintis pengembaraannya.

Jalan sempit penghubung terminal bayangan Pademangan serasa penuh sesak bilamana moda bongsor dengan lebar up to 2 meter serta panjang di atas 10 meter  melintas. Belum lagi rumah-rumah penduduk yang mepet jalan, mobil-mobil yang parkir tidak beraturan, hingga lapak usaha yang mencaplok sisi jalan, membuat Jl. Budi Mulia ini seakan tak bertuan. Berkali-kali bapak yang duduk di belakang setir mesti ekstra hati-hati dan fokus mengarahkan kemudi, karena space antar kendaraan yang berpas-pasan dengannya sangatlah terbatas.

DSC_0056

DSC_0059

Ruas beton ini berujung di Jalan Gunung Sahari, tempat sentra bisnis Mangga Dua meneguhkan cengkeraman kuku-kuku kapitalisnya. Setelah berbelok ke arah kiri dan mendapatkan celah u-turn, transporter lintas provinsi yang hanya memanggul delapan customer itu berputar haluan 180°. Gerbang entry Ancol Timur dijadikan lubang infiltrasi memasuki Tol Pluit – Pelabuhan, untuk menggenapi instruksi mandor kepala agar menjemput sebiji requester di Pulogadung.

DSC_0069

DSC_0075

DSC_0077

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Razia DLLAJ di depan Pasar Pedongkelan, seberang waduk Ria Rio, Cempaka Putih, membikin angkutan umum serta barang mati kutu. Meskipun dipaksa untuk menepi, kru nekat berlalu, sambil menyawer “koin upeti” buat aparat yang hierarkinya di bawah Dinas Perhubungan tersebut.

DSC_0080

“Kayak biasanya ya, Bos!” seloroh kenek Sedya Mulya dengan aksen mencemooh.

Pfuh…Cerminan budaya feodalistik yang mengakar dalam darah daging warga negara Indonesia.

Setelah memungut penumpang di luar terminal AKAP paling senior di ibukota itu, kesemrawutan arus lalu-lintas merintang. Biang keladinya adalah rekontruksi jembatan Jl. Perintis Kemerdekaan, yang terkesan dikerjakan ogah-ogahan sehingga molor dari plan semula.

DSC_0087

Sinar Jaya 21 DX serta Muji Jaya Citra Mandiri (MJCM), K 1500 DC, masih berikhtiar mencetak tambahan keuntungan di mulut keluar stanplat. Sedangkan Luragung Jaya “Aldi” seenaknya membandel, memblokir lajur menjelang bintik kemacetan.

Di pulnya masing-masing, selintas Kramat Djati B 7179 IA, Garuda Mas Euroliner serta Trans Zentrum kode 62 tengah berlomba sengit, memperebutkan trofi serta supremasi penguasa tanah Purbosemi.

Pada jalur berseberangan, di muka kantor serta workshop PT. United Tractor, PO Mawar berbusana Concerto terlihat tertatih-tatih melenggang untuk menggapai garis finish yang tinggal menyisakan jarak sekitar 2 km lagi.

Tak ingin tampil beda dengan Madjoe Utama, AE 7089 UB, bus yang menggarap trayek Tanjung Priok-Wonogiri-Pracimantoro ini ngetem di pertigaan Tol Cakung.

DSC_0088

Justru bus Muncul, AD 1705 DA, berkaroseri gawean dewek, Suryana, langsung bablas masuk tol, dengan tingkat hunian yang cukup profit dan seksi.

14.28

Hampir setengah jam moda yang memiliki nomor akte AD 1451 CG menawarkan bangku dagangan, namun usahanya berakhir dengan tangan hampa. Tak satupun orang terpikat oleh tampang oldies-nya.

Mengusung tema “elevating comfortibilty more than just a speed”, d’oranje from Wonokarto ini mencumbui aspal mulus Tol Lingkar Cacing, Cakung – Cilincing.

Troposfir siang yang panas, dialiri hawa sejuk piranti pendingin udara, ditimang keempukan leafspring sasis Mercy OH 1518, serta gejolak adrenalin yang terlumpuhkan oleh lambatnya putaran roda, berdaulat merancang suasana sleepy.

Di km. 15 seputaran Bekasi Timur, saat bersebelahan dengan Rosalia Indah non AC nomor lambung 143, aku terjaga. Barangkali, ada petuah yang ingin disampaikan kepada khalayak bismania bahwa menyalurkan hobi sah-sah saja sepanjang tidak membahayakan yang lain, terlebih mengorbankan nyawa diri sendiri.

Seolah tak menghiraukan aspek keselamatan, anak-anak remaja tengah heboh menyelenggarakan hunting obyek yang dicintainya persis di pinggir tol, sehingga memancing perhatian para pengguna jalan yang bisa berpotensi hilangnya daya konsentrasi ketika mengemudi.

Tak terkecuali bapak penggawa Sedya Mulya, sontak beliau berceletuk “Tuh…tuh…tuh..anak-anak mania!”

Ya ampun…inikah dekadensi soul, akhlak serta kesantunan para penggila bus!?

Fungsi controlling diselenggarakan di SPBU 34.175. 28, yang berdiri tepat di km. 19, Tol Jakarta – Cikampek.

“Sepi ya?” tanya sang joki kepada petugas checker.

“Iya,” balasnya, sambil mengecek jumlah penduduk di dalam kabin. “Bus 41 (merujuk koleganya, AD 1441 CG) juga cuma isi 23.”

Setelah memegang kartu tol Gardu Cikarang, bus berkelas VIP 40 seat ini mulai unjuk gigi. Kecepatan bertambah signifikan, meski secara lari masih kalah tipis versus bus karyawan Hiba Utama 108, bus pemandu moda bandara, Primajasa, B 7423 IW serta Sinar Jaya divisi wisata, dengan ciri pengenal 2E.

Prestasi nirpoin itu akhirnya pecah setelah tiga bus rombongan Warga Baru diasapi olehnya di km 42. Masing-masing bernomor punggung 352, AK015 serta 467.

15.35

Karawang Timur rupanya lebih dipilih ketimbang exit Dawuan ataupun Cikopo. Sedya Mulya pun kres dengan Prima Jasa jurusan Cikarang-Bandung, Karunia Bhakti model Skania line Singaparna serta Lorena OH 1526 berkode penerbangan LE-610, sebelum mencapai lampu merah pertigaan Klari.

DSC_0092

Sebenarnya inilah pasar yang wajib dimaintain oleh armada-armada yang bertangsi di Jl. Brigjen Katamso, Wonogiri. Hampir sepanjang petak Klari-Kosambi-Purwasari-Cikampek-Jomin, banyak bertebaran “tambang emas”, pengerek okupansi bilamana jualan agen Jakarta dsk kurang memenuhi harapan.

Dan realitas di lapangan, inilah tugas dan misi yang diemban oleh personel yang berjuluk agen berjalan, sebagaimana sistem yang banyak diadopsi PO-PO dari ranah Mangkunegaran.

Hasilnya dua additional passangers bisa diraih, meski untuk itu, bus harus rajin menyambangi spot-spot ramai yang biasanya menjadi “shelter imajiner” para penumpang luar kota.

Terlihat Agra Mas BM 007 pun melakukan hal yang sama, menyeser sewa. Namun hal itu tidak berlaku bagi Harapan Jaya AG 7915 UR, yang menggunakan jasa agen resmi Pangulah, Kota Baru, untuk menjaring penumpang.

DSC_0095

Kebutuhan cairan solar untuk menggerakkan dapur pacu bervolume 6 liter disanggupi oleh pom bensin Darussalam 3, Cikampek. Tertulis dalam display mesin dispenser sebanyak 100 liter yang diasup ke dalam tangki bahan bakar, dan dikalkulasi akan mampu menyeret bobot armada seberat 12 ton hingga Kota Semarang.

Belum jauh merangkak, Kramat Djati berbusana Setra Selendang, B 7861 IW, menjerembabkannya. “Ah…sepertinya sepanjang jalan akan lebih sering dipantati bus-bus lain,” gumamku.

Kusempatkan memajang status di Facebook, “Feel Another Wonogiren Woles Style”, untuk menggambarkan rapor Sedya Mulya di mata seorang penglajo mingguan sepertiku ini. Dan dari komentar yang saling bertautan, ada kabar impresif dari Mas Ade Candra, bahwa Sedya Mulya “New RN 285” gres kemarin malam berdinas ke Jakarta, dan diperkiraan Jumat sore ini pulang kandang. Wowngelen perdana!!!

Tak tahan disiksa rasa penasaran, kulongok fanspage Sedya Mulya Mania (SMM). Alamak…ciamik nian “Luxury Bus”nya.

Sedya Mulya Mania

“Aku ‘salah’ naik!” gerutuku.

Penyesalan yang membebar belakangan itu seolah menisbikan prakarsa awal untuk mengaspirasi kekangenku akan taste Wonogiren. Sebuah citarasa khas lagi unik, dilambangkan dengan armada bergaya retro klasik, berpaham konservatif serta tradisonal dalam menjabarkan arti pelayanan, menjunjung need for sleep di atas needs for speed, serta mengagungkan status quo. Tak hanyut dalam gebyar jor-joran bus bergaya wah, mewah sekaligus banter.

Ah, sudahlah…nikmati saja night opera bersama OH King 6 speed ini.

DSC_0097

Di seberang SPBU Jatisari, Subang, yang merupakan provider PO Setia Negara dalam urusan perminyakan, agen berjalan turun, memungkasi job desknya untuk kembali ke Jakarta.

Apa yang kuprediksikan benar-benar terjadi. Busku jadi bulan-bulanan kloter di belakangnya. Rosalia Indah PB 106, AD 1495 AU, serta Pahala Kencana, B 7089 BK, serentak melangkahinya.

Beruntung Rumah Makan Sari Wijaya Rasa jadi penyelamat darurat bagi bus berbasis bodi Prestige  prakarya Tri Sakti ini, sebelum kelak dipermalukan oleh teman-teman sepermainan di gelanggang Pantura.

DSC_0106

16.25

Tett…tett…tett…

Dari lorong pakir ruang belakang rumah makan, nongol selebritis yang tengah jadi media darling di entitas SMM, meminta prioritas untuk melenggang keluar. Dialah Sedya Mulya “Luxury Bus”, dalam balutan gaun nan necis, New Travego Super Jetbus High Deck, sentuhan Adi Putro Taylor.

Kojur…aku memang keliru, keliru dan keliru “naik bus”. Ratapan itu aku didihkan kembali.

Kesan pertama begitu menggoda. Nalarku takluk lantaran kisi-kisi hati ini terbujuk pesona serta terpikat “sex appeal” usai menatapnya. Inikah bibit-bibit cinta?

Tanpa tedeng aling-aling, kuucapkan sesumbar pada diri sendiri, “Gugatlah kualitas kebismaniaanku jikalau aku gagal meminang si dia! Tak ada kamus ‘cinta tak harus memiliki’ dalam hidupku. Kelak, aku harus bisa menyebadani ‘New RN 285’. Catat ikrar ini!”