Pengumpan:
Tulisan
Komentar
“Nderek Anto, Pak?” tanya Pak Wisnu setelah lampu sein kiri The Gold berkedip. Logis dengan apa yang diputuskan HM21, mengingat kendaraan yang njebur ke jalan lingkar tertahan dan naudzubillah karut-marutnya. (Ikut Anto, Pak?)

“Pak, Anto niku kliru, malah mlebet kota. Pun, medal lingkar mawon. Titeni, ingkang bener rak awakke dhewe.” jawab Pak Shantiko yang seakan haqqul yakin dengan pertimbangannya. (Anto itu keliru, malah lewat kota. Lewat lingkar saja. Ayo dibuktikan, yang benar pasti kita)

Ternyata, kemacetan di ringroad diakibatkan oleh terperosoknya truk tronton ke dalam sawah, dengan seperempat baknya mencaplok badan jalan. Patroli Jalan Raya pun memberlakukan sistem buka tutup.

Setelah masa tempuh terbuang 15 menit-an, antrian terurai. Saat berlomba-lomba adu start, Pahala Kencana divisi Kudus B 7600 PV plus B 7401 NL menekuk derap langkah bus yang dilengkapi handrail di kaca samping ini. Duet armada RG Pak Hendro Tedjokusumo itu tak tersaingi, lenyap menyelinap di keremangan malam.

“Mas, The Gold belum nemu jalur utama, tadi tak bisa lewat kota, dijagain polisi, dibuang kiri ke jalur lama. Malah matot.”

Datanglah kabar dari Mas Fathur saat busku menyalip Kramat Djati B 7265 IS, menyusul kemudian bus plesiran Yen Jaya di teritorial Suradadi. Aku pun pernah merasai “siksa” jalur lama yang dimaksud. Yang muternya jauhnya minta ampun, terlebih kondisinya rusak. Terbukti, Pak Anto kalah awu (abu) disandingkan Pak Shantiko. Hehe…

Faktanya, Barbar Kids menang ubet (lincah) dan lebih tajam insting penjelajahan wilayahnya. Sekarang trap klasemennya lebih unggul dibanding Sang Emas Marcopolo.

Lagi dan lagi, lawan-lawan dilampaui di seputaran Munjung Agung, Tegal. Tercatat Lorena LB-461 Purwodadi, bus wisata Gunung Sembung D 7995 AB, lungsuran Rosalia Indah yang digunakan untuk operasional Ponpes Nurul Huda, Handoyo AA 1689 CA serta Selamet Transformer K 1435 GA.

Penyakit akut malam Senin itu menyerang lagi. Kurang lebih 4 km menjelang pertigaan Pejagan, buntut traffic jam telah menjuntai. Pak Shantiko tak perlu repot-repot dalam berkelit. Dipandu Dewi Sri, berdua bergotong-royong merintis “jalan baru” dengan membajak jalur kanan. Hasilnya, lumayan memangkas waktu.

“Depan polisi, cepat cari putaran!” teriak sopir Sinar Jaya yang arahnya kres. Tak dapat dipungkiri, solidaritas antar sopir masih erat terjalin. Bisa berhemat, mereduksi pengeluaran dana mel-melan buat polisi.

Sayang, satu-satunya u-turn yang tersisa — itupun lebarnya sempit, tak layak untuk dilintasi bus yang hendak pindah jalur — justru telah dipasangi palang portal dari bambu, ditancapi rambu-rambu larangan serta dihalangi bongkahan separator jalan.. Mau tak mau, Pak Wisnu dan kenek Dewi Sri bahu-membahu, kerja bakti menyingkirkan kendala ini, seolah merekalah regulator jalan raya, seenaknya sendiri mengatur jalan. Hmm…tengah malam mendapat kerjaan dadakan di luar SOP perusahaan. Alangkah lucunya negeri ini?

Setelah maju mundur agar mendapat haluan, moncong Selamet mulai nongol ke jalur semula. Sialnya, beberapa truk tak mau mengalah untuk memberi kesempatan. Kesabaran di air muka Pak Shantiko tampak habis. Karena pembawaan nguyek factor-nya, beliau melakukan quick kick down terhadap tuas gas, alhasil memotong paksa langkah Hino FM 320 saat akan bergerak maju.

Karena dongkol, didukung watak temperamen serta tersulut emosi, sopir truk angkutan turun, dan menyumpahserapahi Pak Shantiko.
“Nek ra becus nyetir, rasah neng kene!!!” caci orang berpostur tambun kucel itu. (Kalau tidak becus nyetir, ngga usah di sini)

Dengan wajah dingin, tanpa ekpresi dan seakan-akan tak punya dosa, Pak Shantiko dengan santai tak menggubris ajakan adu mulut.

“Mbok sing sabar Kang. Opo susahe bagi-bagi dalan. Trimo nggowo bekakas thok mbok ngalah, aku iki nggowo nyowo…” kilah beliau dengan kalem. (Mbok yang sabar Kang. Apa susahnya berbagi jalan. Cuma bawa barang mati mbok ngalah, aku ini bawa nyawa)

Hihi…pasnya Pak Shantiko ini dijuluki silent killer. Tanpa banyak bacot, langsung menggebuk musuhnya hingga mati kutu.

Zzz…aku terkapar dalam peraduan.

Tersadar bugar kembali saat bus berlivery pemandangan Kota Pati tahun 3000 ini menginjak ranah Pangulah, Cikampek.

Kutelusuri letak jam digital di display ponsel, wow…04.38! Cepet juga rupanya, biarpun armada lawas. Semoga juga berkuasa mengejar waktu, agar aku bisa ontime menjejak kebun pencaharianku.

Kali ini, posisi kru telah bertukar tempat, steering wheel di bawah wewenang penuh Pak Koplak. (Maaf, saya tidak tahu namanya. Pak Wisnu memanggilnya dengan sebutan demikian.)

Rupanya, pola pergantian shift bagi driver yang dianut PO Selamet adalah ½ – ½, ingkar dari kebiasaan PO Muriaan, yang cenderung memakai aturan ¼ – ½ – ¼.

Dalam takaranku, masalah speed, pria yang selalu mengenakan peci ini “sadis” serta lebih on fire dibandingkan Pak Shantiko. Bus yang masa uji kirnya habis di bulan Juni 2011 ini seolah haus untuk sesegera mungkin menuntaskan akhir tripnya.

Baru sebentar melek, disuguhi aksi pengasapan terhadap Kramat Djati 7029, Sumber Alam 0306210 serta Santoso seri E.

Kealiman Pak Koplak memang tak dapat disangkal. Padahal koplak sendirinya maknanya gila. Hehe…

Di Jomin, sebuah masjid kecil di pinggir jalan disinggahi, memberi slottime bagi yang punya kewajiban untuk menunaikan, berbarengan dengan Shantika Galaxy Air Suspension chanel Ponorogo. Selesai sholat, kulihat Pak Koplak wirid begitu lama, menunjukkan kedalaman kadar religiusitasnya.

30 menit kemudian, lelaki yang yang sudah mendekati masa pensiun ini unjuk gigi di “nadi” tol Cikampek-Jakarta. Inilah sesungguhnya show off beliau.

Kelihaian memenej pedal akselerator serta memanuverkan kaki-kaki Don King berbuah prestasi manis. Dalam buku catatanku, tertera nama-nama yang dicoret dari medan percaturan. Mulai dari Sari Mustika H 1585 CA, Proteus HT 574, Sinar Jaya Petarukan, bus kesayangan Koh Hary, Madjoe Utama “Amanda”, Warga Baru 051, Santoso B, Sumber Alam 1710 EC, Sumber Alam 1530 BC, Agra Mas 2056, Sumber Alam 0203284, Santoso Seri X, Sumber Alam Panorama DX 37AC, Dewi Sri G 1422 GR, Mayasari Bhakti AC 121 Blok M-Cikarang, Hiba Utama 65 Evolution, Jackal Holidays D 7999 JH, Handoyo AA 1412 CA, Sumber Alam Bogor AA 1476 CL, serta sebagai pemuncaknya, menyalip Haryanto eks OBL, B 7588 IG.

Luar biasa bukan?

Aku pun me-request turun di Jatibening, lantaran gerbang pembayaran tol Pondok Gede Timur — yang umurnya tinggal mengitung hari — masih menjadi biang kemacetan utama arus kendaraan yang mengarah ke jantung kota.

Untungnya, aku langsung ditampani bus yang masih satu grup dengan Warga Baru, PO Walet Biru berkode 9701. Armada dengan trayek Cikampek-Tanjung Priok itu pun tak kalah gaya gedornya. Gocekannya dalam menembus kepadatan lalu lintas Senin Pagi mulai Jatiwaringin, Cawang hingga Rawamangun sanggup meruntuhkan kesombongan piranti kehadiran yang ditanam di lobi kantorku.

Tiga kali lagi putaran jarum menit menyentil angka delapan, aku telah lunas menyetor sidik jari ke sensor pembaca finger print, yang berarti pula, aku masih bersih dari keterlambatan di Bulan Februari.

Fabulous ending of my journey!!!

Bukan hendak memandang sebelah peran PO Walet Biru, namun respek dan rasa hormat ini seutama-utamanya kusanjungkan kepada PO Selamet, yang dengan perjuangan sengitnya menundukkan dominasi jarak sejauh 500-an kilo.

Wabil khusus kepada Pak Shantiko dan Pak Koplak. Di pundak mereka, sekedar “per gerobak” yang diramu dengan sedikit sentuhan nakal “barbar kids”, sebuah falsafah kuno “slaman slumun slamet” di-upgrade-nya menjadi “greget (semangat), ubet (lincah), cekat-ceket (tak buang-buang waktu) tur cepet (cepat)”, diselaraskan dengan dinamika zaman kekinian.

Andai aku seorang bule, I will say : “They aren’t only Barbar Kids, but they are Wonder Kids, too…”

T – a – m – a – t

Pukul 18.24

Dengan bergegas, pintu keluar terminal kelas A Kota Kretek ditinggalkan. Namun tak serta merta determinasi tingkat tinggi dikendurkan. Moda bernomor “KTP” K 1684 FA tetaplah berlari dengan tunggang langgang, cekat-ceket, seakan ingin memperlebar jarak dengan kompetitor-kompetitor muda yang mengintai di belakang.

Bus berkapasitas 40 seat ini sempat dua kali melakukan jeda nafas, saat berhenti di agen Gajah serta menghampiri lima orang yang nyetop di jalan lingkar Kota Wali, yang merupakan titipan agen Demak.

Selebihnya, bus dipacu dengan kecepatan yang “mengagumkan” sehingga memberikan peluang bagiku untuk merasai kreatifitas para mekaniknya Pak Aris dalam mengalihfungsikan “komponen per bekas kepunyaan gerobak”. Menurutku sih hasilnya lumayan empuk, bodyroll bisa diredam, tak sampai mengocok isi perut. Meski tak selembut ayunan leaf springs defaultnya, namun memberikan kenyamanan yang lebih dibanding milik Hino RK8 generasi awal.

Rute jalan tol Muktiharjo-Krapyak lebih dipilih ketimbang lewat kota atau arteri Pelabuhan Tanjung Mas. Sesampai di interchange Jatingaleh — titik pertemuan dengan jalur Jogja/ Solo – tampaklah Ramayana Setra tengah bernafsu menguber Raya Panorama DX. Selamet tak mau ketinggalan berpartisipasi. Didesaknya duo mercy klasik tersebut hingga bus berlatar dua sejoli tengah menari tersebut didongkel dari posisinya, saat menuruni bentang jembatan Kaligarang. Tak lama kemudian, Rhema Abadi AA 1584 AA pun mengalami nasib serupa, disungkurkan. Sayang gate penghujung menghadang usaha Pak Shantiko dalam melengserkan PO Raya.

Bersua kembali dengan jalan non bebas hambatan, lagi-lagi bertemu pantat PO Raya yang lain, dengan nopol AD 1498 AS. Meski sudah intip kanan intip kiri, seolah kena kutukan “kursi pesawat DC 10”, bus-ku pun gagal mendahului Laksana Clurit berID 37, karena harus mampir di SPBU Wonosari. Bersamaan itu pula, masuklah K 1705 GA, serikatnya yang lebih fresh, lantaran dicangkoki reaktor pembangkit jenis OM 906 LA.

Ketika menghisap cairan berenergi sebanyak 115 liter, berbondong-bondong bus malam yang akan bermusafir ke penjuru barat. Satu di antaranya bus yang aku incar, The Gold Haryanto, yang “dijejali” para wisatawan domestik setelah selesai berlibur di Kampung Loram.

Sip, jamnya nyaris bareng, kemungkinan bisa nge-gap di rumah makan.
Bus yang ber-GVW 14.080 kg ini kembali pajang greget di ruas Mangkang-Kendal. Tanpa basa-basi, bus wisata Pandu Jaya yang mengusung model Laksana Comfort, Tri Sumber Urip garapan Morodadi Prima serta Safari H 1463 BC, didepaknya.

Di Weleri, peran kursi CB dioptimalkan sebagai tambahan income bagi kru, sehingga mempersempit kedudukan Pak Wisnu di singgasananya.

Sewaktu absen di rest area Bukit Indah, terlihat The Gold lebih duluan “finish”. Armadaku mengistirahatkan diri di sebelah kompatriotnya, masing-masing Si Puppy (yang dinaiki Bapakku dulu) serta Albert Einstein H+W = LR. Setelah menikmati gala dinner disambung ibadah wajib, kemauan hati ingin mencari Mas Fathur cs, kandas. Gara-gara corong pengeras suara meminta seisi bus agar bersiap. Waktu break for meal aku nilai memang singkat.

Dan benar, sewaktu berangkat meninggalkan tempat rehat yang paling aku benci itu, ngeblong tak jantan idola baru anak-anak Haryanto Mania.

Yang aku herankan, tak ada aplusan driver, hak atas lingkar setir masih atas nama Pak Shantiko, sedang rekan seprofesinya yang terlihat cuma Pak Wisnu. Kemanakah yang satunya? Jangan-jangan engkel, seperti yang dialami Old Butterfly tempo hari?

Tanjakan Plelen bukan batu sandungan bagi kinerja OM 366LA. Dengan entengnya ditaklukan, sembari menundukkan Pahala Kencana B 7275 WV, Selamet Grand Aristo serta Garuda Mas Evolution B 7881 VB.
Di special stage Alas Roban, Selamet kecolongan. Tanpa ampun dilibas salah satu amunisi bertitel “HT”, Setra Ombak Biru B 7401 NL yang malam itu tampil kesetanan. Aku kurang tahu, jurusan Ponorogo, Yogyakarta ataukah Wonogiri.

Ikatan batin sesama member BMC sangat kuat, hingga jagat alam pun sudi menghamparkan bilik pertemuan antar mereka. Dan aku meyakini akan hal itu.

Setelah tertidur agak lelap, di ruas Petarukan, entah sebab pasal apa, tiba-tiba aku terbangun. Dalam sekejap kedipan mata, berlalulah Dahlia Indah “Barata” dan amazing!!!…ditempel secara lekat oleh HM 21, kode bus untuk The Gold Haryanto.

Dan ajibnya, secara bersamaan dan bersebelahan akhirnya tertahan oleh lalu lintas yang melambat menjelang Tugu Selamat Datang Kota Pemalang, meski posisi busku sedikit di belakang The Gold. Dari balik pekatnya kaca, lamat-lamat aku menatap siluet wajah Mas Rully dan Mas Hadi, serta dengan jelas memergoki someone yang sedang merekam momen turing lewat kamera di atas bangku kenek.

HM21 yang kondang akan kelincahan dalam meloloskan diri dari kemacetan, menggunting U-turn lalu menginfiltrasi jalur berlawanan. PO Selamet pun tak kalah gesit. Seolah mendapat guide, dikuntitnya aksi B 7979 VGA tersebut, hingga berhasil mengarungi lautan “pekerja malam” yang terjerembab di jalur yang benar.

Semakin mendekati pertigaan ringroad Kota Nasi Grombyang, di mana banyak “korps baju coklat” berdinas, Pak Anto, pramudi, menyusup kembali ke lintasan semula, diikuti bantingan setir yang diarahkan ke kiri oleh Pak Shantiko.

Dan keajaiban datang lagi. Saat tersendat kembali, kedua bus lain pesona itu persis berdampingan. Dan semakin jelas tampang-tampang penghuni seat-seat depan.

Kukabari Mas Fathur via short messages, “Mas, aku di sampingmu.”

Teettt…Pak Anto mengawali menyapa dengan membunyikan klakson, sembari tangan kanannya melambai dari luar jendela, sebagai salam hormat kepada seniornya. Dan seketika itu pula dibalas Pak Shantiko. Teett…

“Niku Anto ingkang ngasto…” kata Pak Shantiko kepada Pak Wisnu. “Jagoan-e Kajine”, imbuhnya. (Itu Pak Anto yang bawa, jagoannya Pak Haryanto)

Yang membikinku salut, para kru PO Selamet selalu menggunakan bahasa krama dalam berdialog. Barang langka yang sulit ditemukan di atas panggung jalanan era sekarang.

Baru saja menginjakkan dua kaki di lantai, sudah bisa ditebak segmen pasar seperti apa yang dibidik PO Selamet. Menyapu pandangan ke seluruh ruangan, tampak wajah-wajah golongan sepuh, kebanyakan orang-orang dusun sepertiku dan tentu saja, bukan pekerja formal atau kantoran layaknya penumpang NS 19, The Red Haryanto atau Pahala Kencana Euro 3 yang aku langgani. Sebagian anak kecil yang ikut serta, menandakan bus ini favorit para keluarga dan pemberi solusi bagi yang cekak secara biaya.

Cocoklah pilihan mereka dengan tagline PO yang berhomebase di Jalan Dr. Susanto No. 126, sesuai falsafah orang tua jaman dulu, slaman slumun slamet, alon-alon waton kelakon.

Finally…bus yang mengiklankan diri sebagai “Luxury Art of New Armada” mengawali debutnya, disekondani tiga kru kabin.

Pun saat mengamati raut muka serta penampilan mereka. Pradugaku yang seringkali berbau subjektif, bicara. “Hmm…wajah-wajah oldies, babe-babe, mriyayeni. Semuanya bertampang dingin, pendiam dan terkesan cuek. Style mereka kurang cocok ah dengan kerasnya atmosfer Pantura,” aku membisik. “Sepertinya, untuk urusan “pemain”, “manajer” PO Selamet bukan penganut aliran young guns, namun lebih berguru pada AC Milan, yang demen mengoleksi “balung tuo” (tulang tua). Hmm…Jangan-jangan “three musketeers” ini teman-teman ngaji Pak Aris ya?”

Namun, aku keliru total. Dibawah kendali Pak Shantiko (jangan-jangan di PO Shantika ada sopir bernama Pak Selamet?!?), “feel” pertama yang kurasai benar-benar gahar, kaki pramudi begitu galak dalam membejek gas. Baru saja berbelok menyusuri kawasan Gajah Mati, untuk ukuran bus tua, tarikannya terasa ngacir dan langsung melesat. Entah karena ngga concern atau memang karakter ngototnya, traffic light di perempatan Koramil, — mulut jalan Syeh Jangkung –, yang sedang menyala merah nyaris diterjang sebelum rem bus diinjak dalam-dalam. Alhasil, separuh badan bus melewati batas marka berhenti.

Wow!…korban pertama yang digasak bukannya kendaraan, namun malah lampu bangjo.

Nguyek detected…nguyek detected…begitu pikiranku menerka.

But, justru itulah yang membangunkan gairah serta moodku untuk sebisa mungkin melek mata, manteng setiap jengkal jalan yang dilahap armada penghubung koridor Pati-Pulogadung-Serang tersebut.

Engine varian Don King aka King Cooler yang nangkring di atas gelagar chasis OH 1518 benar-benar powerfull. Akselerasi begitu enteng dan dari deheman vokalnya, jelas menandakan bahwa unit dapur pacu benar-benar terawat. Shahihlah apa kata Mas Indra, bahwa PO-PO Kudus-an acung jempol kepada Selamet, yang jago mendayagunakan mesin-mesin tua untuk dipekerjakan sebagai alat pencetak uang.

Mulai depan jalan akses menuju situs purbakala Pati Ayam, barisan truk-truk jumbo merayap gara-gara tertahan oleh satu truk gandeng yang ogah-ogahan berlari. Pak Shantiko pun berancang-ancang, memainkan percepatan dan satu persatu didahuluinya. Menjelang jembatan Jekulo, dengan trek agak menikung dan merupakan blind spot area, bus yang dikendalikannya coba diarahkan kembali ke kiri. Namun, monster-monster Pantura itu tak ada yang mengalah, justru jarak antar mereka semakin dirapatkan.

Teettt…teett…teet…terompet menyalak kencang dan tak ada pilihan lain, paham spekulasi dipakai. Bus berbasis model selendang Setra ini terus menganeksasi jalur kanan seakan intuisi perangnya mengatakan bahwa arah berlawanan sepi.

Tak dinyana, dari depan muncul Honda CRV berwarna putih yang terlihat syok dan langsung buang badan ke jalan tanah. Di belakangnya, truk tronton bermarga Fuso dengan kondisi kosongan tak kalah kaget. Sopirnya gedandapan dan secara refleks mengikuti “arahan” mobil kelas SUV tersebut, terhempas, minggir dan menyerah.

Aku dibuat terhenyak, dan menahan nafas. Jangan-jangan inilah pengejawantahan makna “Barbar Kids”, yang acapkali didengungkan di mimbar terminal-an Pati.

Aduh!

Di depan pasar Bareng, kemacetan kecil terjadi karena adanya proyek kanalisasi sistem drainase jalan Pantura. Busku hanya mengekor pergerakan armada wisata Sindoro Satria Mas kode 121.

Pak Wisnu, selaku pemilik abadi bangku CB, kemudian mengambil keping VCD untuk di-run, demi membuktikan apa yang tertulis di sampul tiket, bahwa bus dilengkapi fasilitas VCD dan Tape.

Ah, siapa tahu dari balik layar TV 21’ akan muncul aksi panggung kelompok orkes melayu asal Krembung, Sidoarjo, Monata. Gendang telinga ini sudah terlampau lama menahan gatal dibelai desah merayu suara emas para biduanita semacam Ratna Antika, Anjar Agustin, Nena Fernanda, Citra Marcelina atau Rhena KDI.

“Terlambat sudah, kau datang padaku
Setelah kudapatkan penggantimu”

Yaelah…album Panjaitan Bersaudara (Panbers), ngga nendang babar blas. Bukannya aku pilih-pilih aliran musik, namun di tengah suasana bersiap diri untuk mengayunkan gagang cangkul keesokan hari, kok rasa-rasanya irama lagu begituan malah menidurkan kembali semangat bekerja.

Pasrah, memang semuanya serba djadoel. Komplit, plit…mulai busnya, mesinnya, penggawa-penggawanya, penumpangnya maupun hiburannya.

Berbekal short messages dari Mas Wahyu Nugroho serta Mas Fathur, yang mengabarkan bahwa malam itu ada delapan anggota Lenong (Mas Bagus, Mas Kiki, Mas Nano, Mas Rully, Mbak Astari, Mas Hadi, Mbak Asti plus satu penggemar Luragung Jaya “Gunung Siang”) yang akan “live” di atas Haryanto “The Gold”, aku pun berencana menemui mereka di Terminal Kudus.

Namun, sebelum Selamet berhenti di parkiran, Pak Kenek mewanti-wanti kepada penumpang.

“Pak…Ibu…tidak usah turun ya, cuma sebentar ambil penumpang. Nanti langsung berangkat!”

Yo wis…

Tak sampai lima menit, lekas-lekas bus bersiap melenggang kembali ke lintasan Pantura. Aku hanya menyaksikan Kopral berpangkat Gold masih mematung, menyelinap di antara jajaran line-up armada Pak Kaji yang akan berlaga, menunggu para sewa berkumpul.

Semoga nanti bisa bertemu muka mereka di jalan atau rumah makan, harapku.

Syahwat itu merambat naik ke ubun-ubun tatkala duduk di kursi tweenty one, salah satu dari lapak yang disediakan armada Nusantara HS 214 saat aku mengamalkan ritual mulih ndeso, pada Hari Jumat di minggu terakhir Bulan Februari silam.

Kesempatan bersetubuh dengan Selamet menghampar luas. Minggu sore lusa, sebelum balik meladang ke Jakarta, aku mesti bertemu dengan Mas Indra sebab ada satu hal yang ingin kubicarakan dengannya.

“Sudah kepalang nyebur di Terminal Pati, mengapa tak sekalian mencoba PO Selamet?” batinku menghasut.

Terlebih, selama bulan ke-2 tahun Masehi ini, aku masih mengantongi rekor cleansheet alias tak pernah datang telat. Misalkan saja perjalanan nanti berujung keterlambatan, kantor masih bersedia menolerir, tanpa ada potongan ini dan itu. Alasan tambahan itulah yang menyokong kenekatan untuk mengeksekusi cita-cita usangku.

Saat tapak roda bus berkode jurusan NS-57 — pemberangkatan pagi jurusan Pulogadung- Jepara — menyisir daerah Demak Bintoro, kukirim SMS kepada pentolan BMC Muria Raya itu..

“Mas, kalau plan ngga berubah, Minggu sore aku berangkat dari Pati. Pripun Selamet, kita-kira jatah armada Pulogadung apa?”

Tak menyalahi hukum kan andai aku berangan-angan berjodoh dengan Evobus-nya? Hehe…

Tak lama berselang,

“Oke, siap Mas. Minggu jam 3-an saya kabari dapat armadanya apa. Ini langsung saya pesankan tiket ke agennya.”

Great!!!…Itulah nilai plus geng Muria, selalu quick respon menuruti permintaan calon pelancong yang hendak sowan ke Kesultanan Pesantenan.

Minggu sore.

Di dalam kamar hunian tipe Nucleus 3, kepunyaan PO Indonesia L 7015 UV, nan super duper leletnya minta ampun, yang membawaku menuju kota kelahiran putri keduaku, telepon genggamku mewartakan rentetan pesan dari Mas Indra.

“Info terakhir Terminal Pati. PO Selamet berangkat dengan armada-armada lama karena yang baru dipakai wisata”

“Sampeyan dapat Mercy lawas. Maaf ya, ngga bisa ngasih bus bagus. Jangan ada perasaan buruk di hati ke PO Selamet ya, Mas!”

“Apa ganti aku pesankan Tri Sumber Urip (TSU) Scorpion King, Mas? Tapi ngga seat depan.”

Sepertinya Mas Indra sendiri dibayangi keresahan, ke-tidakpede-an jikalau PO Selamet gagal memanifestasikan ekspektasiku. Makanya, dia setengah hati merelakan armada kebanggaan wong Pati itu untuk ku-assestment tentang performanya.

Padahal aku ini orangnya simpel, tak banyak menuntut, kurang aware bab gengsi serta selera dan tentu, bukanlah speedmania. Sudah tujuh tahun berkecimpung di komunitas wira-wiri, sudah cukup nrimo lan legowo dipasangkan dengan model armada apa dan bagaimana pun polahnya. Bukankah itu – meminjam moto Pahala Kencana – “Art of Travelling”? (Hayah…gayamu Dik! Diplekotho Old Butterfly saja sampai curhat!)

Kubalas tawaran dadakannya itu,

“Wis, ngga usah ngga enak sama aku, Mas. Aku bosan naik bus-bus baru terus. Tapi ngomong sama kru ya, jam 7 kudu masuk Pulogadung. Haha…– Kompor Mode : On – “

Tiba di Stanplat Pati, aku disambut wadyabala Muria Raya. Di samping Mas Indra, turut memeriahkan Mas Hafiz, Mas Ferdhi, Mas Bayu, Mas Dimas, Mas Ipin, serta Mas Iwan, agen TSU.

Belasan bus yang sedang pamer kemegahan di pelataran terminal – pun umpama saja dilengkapi umbrella girls — tak akan memburamkan pandanganku agar sedia berpaling. Tak jua membuat kepalaku cenat-cenut gara-gara dibakar api kedengkian menatap rumput garasi tetangga yang lebih hijau dan lebat.

Kali ini, Selamet adalah harga mati…Titik!

Setelah merampungkan rembukan “satu hal yang tak penting” di Warung Mak Ni, dan jangkah kaki sang waktu mulai merambah ke jarum angka 5, Mas Indra mengajakku mendekat ke agen sekaligus mengintip bus seuzur apakah yang akan berjodoh denganku.

Dengan tiket VIP senilai Rp85.000,00 include jamuan gala dinner, dipadu armada yang lumayan berumur, akankah menghadirkan sensasi yang berbeda dalam perjalanan perdanaku bersama kereta “Kyai Selamet” ini?

Hmm…let’s see, what will happen on 12 hours towards?

“Mas, coba aku selidiki siapa krunya, kelakuannya di jalan. Biar sampeyan dapat gambaran, gimana larinya bus ini?” gagas Mas Ferdhi saat injury time sebelum take-off.

Berbekal bocoran dari Mas Topeng, personel agen Selamet, Sang Bejeuholic itu membuka tabir rahasia.

“Mas, jangan kaget dan nyesel ya. Sebutan armada sampeyan itu “Per Gerobak”!”

Olala…habis kandang pithik (ayam), sekarang ketemu istilah baru lagi,
“Per Gerobak”.

“Maksudnya, Mas?” aku dibuat termangu.
“Pernya keras, bukan bawaan Mercy lagi. Sudah diganti sama punya gerobak kali, Mas.”

Waduh…failed customized?

“Tapi jangan khawatir, Mas. Krunya sippp! Kata agen, di terminal-an, krunya dijuluki “Barbar Kids”,” lanjut Mas Ferdhi.
“Barbar Kids?!? Artinya apa lagi itu, Mas? Kok kesannya serem…” tanyaku semakin bingung
“Pokok-e anak-anak barbar Mas, nguyek ae (tak mau minggir, bakal digasak).” terangnya singkat.

Hahaha…aku pun tertawa ngakak. Aneh-aneh dan seenaknya saja warga lempeng Muriaterania memberi gelar pada bus-bus yang unik berikut krunya yang eksentrik.

Benarkah kolaborasi “Per Gerobak” feat “Barbar Kids” bakal segokil dan segarang penamaannya?

Ekspresi hati berupa rasa kesengsem ini sebenarnya sudah lama bermula. Mungkin tiga atau empat semester yang lalu. Kalau saja bukan di-makcomblang-i sedulur BMC Muria Raya, belum menjamin aku bakal dibuat takjub terkesima olehnya. Tetapi, nyatanya kini, relung kalbuku tak sungkan menembangkan langgam kekaguman serta lirik puja puji akan sosok keberadaannya.

Kala itu, berkat uluran tangan hangat Mas Indra Walls dkk, dikenalkannya pada “si dia” yang akhirnya benar-benar mencuri perhatianku. Diperlihatkannya aku sebuah rumah besar dengan halaman luas, tergolek di pinggir jalan propinsi penghubung Kota Pati dan Kecamatan Tayu. Dipertemukannya aku dengan seorang “bapak asuh” nan agamis, berwibawa namun supel, yang tak lelah merawat dan membesarkan “si dia” dengan sepenuh kasih sayang. Dan betapa mulianya kami, selaku pelawat diizinkan menjelajahi setiap sudut “tangsi kebesaran”nya, berakrab ria dengan “prajurit-prajurit” yang tengah sibuk merawat penampilan “si dia” sebelum berkarya melanglang buana.

Tentulah gampang ditebak, siapa tokoh di balik layar prolog di atas. Yup, “si dia” itu merujuk PO Selamet, dan “bapak asuh” tersebut akrab dipanggil Pak Aris.

Maksud diri hendak bersilaturahmi, sembari menyerahkan piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi terhadap PO Selamet yang telah mendukung acara BMC Goes to Laksana, serta ingin sedikit mengorek tentang company profil yang dikelolanya, alih-alih yang kami dapatkan bukan itu semata.

Justru yang belia-belia ini disirami petuah bijak; semisal pemaknaan hakikat ikhtiar dan doa, cara menghindar dari goda nafsu dunia serta beragam wejangan agar kami lebih siap mental dalam menghadapi hidup. Sungguh-sungguh mauidhoh hasanah di siang bolong, yang menohok kejemawaan darah muda kami. Hehehe…

Ada rangkaian tutur kalimat yang meninggalkan jejak mendalam di ingatan kami, yang sekaligus bisa menyimpulkan bagaimana mahdzab beliau bersama Pak Heri (kakak kandungnya) dalam memimpin PO yang diwariskan mendiang ayahanda mereka berdua, Bapak Soekarno Lilik.

“Biarlah PO-PO sebelah jor-joran dengan armada dan mesin baru, Mas. Selamet ya tetap Selamet yang seperti ini. Saya tak akan gegabah, panas kemudian pengin ikut-ikutan. Kelangsungan usaha ini bukan untuk hari ini thok, tapi sebisa mungkin langgeng selamanya.

Tak jadi apa bila kata orang bus-bus Selamet itu tua dan jelek. Tapi saya bertekad, walaupun cuma satu armada, namun setiap hari harus tetap ada yang jalan, agar nama Selamet tak hilang, akan selalu diingat orang.

Jujur Mas, tidak gampang mengurusi armada dengan puluhan kru Menguras pikiran, tenaga dan waktu. Mudah bagi saya andai melepas PO ini, toh tanpa Selamet pun, untuk sekedar hidup saya masih bisa. Tapi, saat melihat karyawan-karyawan itu, saya teringat, di belakang mereka ada anak istri yang butuh dinafkahi. Itu yang membuat saya semangat, memegang teguh amanat Bapak saya dalam meneruskan tinggalan ini. “

Serasa mendapat guyuran embun penyejuk, aku pun menganulir anggapanku selama ini bahwa bisnis PO hanyalah hitung-hitungan untung dan rugi, soal mesin dan karoseri, ngopeni isu tentang kesejahteraan kru, urusan trayek serta tetek-bengek yang bersifat administratif-birokratif, berikut intrik-intrik dalam memenangkan persaingan. Ternyata ada kepekaan terhadap sisi filosofis-humanis, yang mempertimbangkan aspek-aspek kemanusiaan sebagai sandaran dalam pengambilan keputusan sebuah perusahaan otobus.

Itulah yang dicontohkan Pak Aris, seorang big boss yang layak pula diposisikan sebagai guru spiritual bagi siapapun juga.

Buah dari ke-zuhud-an Pak Aris, menurut slentingan, armada-armada PO Selamet telah “dikontrak mati” oleh Pemkab Rembang, Pemkab Blora serta Pemkab Purwodadi sebagai angkutan jamaah haji, baik untuk keperluan pemberangkatan maupun kepulangan para tamu Allah itu.

Benarlah akan satu nasihat, rezeki jalannya dari mana saja dan selalu tak terduga bagi hamba-Nya yang mengabdikan hidup demi kemashlahatan sesama.

Sejak itulah, aku terperdaya oleh kesederhanaan serta kebersahajaan Selamet. Meski tergolong kawakan, namun buku sejarah akan mencatatnya sebagai PO dengan predikat awet, senantiasa survive dan tahan pukul di tengah pusaran kompetisi transportasi darat yang selalu ketat dan membara.

Berkali-kali kuungkapkan keinginanku kepada Wakil Bupati Muria Raya untuk merasai tuah Pak Aris dengan menaiki armada PO Selamet. Namun, bagi perjalananku yang menempatkan orientasi waktu sebagai panglima, memelototi aset-aset PO Selamet yang terkesan “ala kadarnya” dan “biasa-biasa saja”, bahkan diklasifikasikan sebagai “club 90’s”, keraguan kerapkali membekap niatanku. Aku belum punya nyali untuk mendobrak ke-sok ekslusif-anku itu.

Bahkan, aku sempat dipermalukan oleh “keberanian” ayahku tercinta, sewaktu turing terakhir beliau ke ibukota yang lebih meng-klik Selamet, menyisihkan PO-PO papan atas yang lain. Barangkali, beliau memiliki kedekatan geo-historis dengan Selamet, yakni sama-sama lahir di bumi minatani, sehingga lebih mempercayakan acara bepergian kepada PO yang cikal bakalnya bernama Ikha Jaya itu.

“Bis-e penak kok Le. Masio tuo, mlakune banter, nyaman, sewengi aku yo iso istirahat…”
(Busnya enak. Biarpun tua, jalannya cepat, nyaman, semalaman aku bisa istirahat)

Begitu testimoni beliau saat aku menjemputnya di Pulogadung, sesaat setelah turun dari armada ijo PO Selamet, berkaroseri Restu Ibu dengan gambar Si Puppy alias anak kucing.

Ah, kapankah aku mewujudkan slogan “buktikan merahmu”? Hampir tiap akhir pekan mengembara, ada sehari dalam seminggu aku habiskan “mengkonsumsi” aspal pantura, hingga beragam citarasa PO sudah aku jilati, tapi mengapa, untuk mengecup PO Selamet saja aku masih segan serta enggan?

Tak henti bisikan nurani ini meledek kebergeminganku.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.