Menanggapi virus ganas yang bersifat regeneratif dan akhirnya memberi warna deru operasional bus-bus dari lereng Gunung Muria, di dalam hati ini tergelitik pertanyaan, siapa pertama kali pencipta virus penyebab bus-bus Kudus-an terkesan glamour, wah dan tak ada matinya? Siapa peletak dasar standar minimal pelayanan bagi penumpang, untuk mengakomodir karakter sosial budaya masyarakat pesisir timur Jawa Tengah?
Saya tidak tahu persis jawabannya, karena tak satupun dokumen sejarah atau artefak monumental yang mencatatnya. Namun, obrolan dengan tetangga sebelah rumah yang 25 tahun silam pernah menjalani komuter Rembang-Jakarta, bisa sedikit mendatangkan pencerahan.
Teman saya bercerita, awal tahun 80-an jalur Kudus-Jakarta masih kategori sepi. Bukan karena sepi penumpang, – karena waktu itu sudah banyak warga yang merantau ke ibukota – tapi sepi armada. Justru yang ramai adalah jalur jarak jauh, Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Malang. Imbasnya, calon penumpang harus “lari” ke Semarang, bila hendak ke Jakarta, karena jumlah bus sangatlah terbatas. Begitu pun sebaliknya.
Pelan tapi pasti, peluang ini diendus oleh salah seorang pengusaha dari Lasem, bernama Bing Soenarso. Pengusaha etnis Tiongha ini mendirikan PO yang dilabeli nama Artha Jaya, yang artinya uang (dikonotasikan rejeki) yang akan terus berjaya. Membuka bus malam dengan trayek Lasem-Jakarta dan Cepu-Jakarta. Bekal Om Bing sendiri adalah modal pengalaman mengelola bisnis transportasi angkutan ekspedisi barang.
Awalnya, Artha Jaya hanya menyediakan bis malam non AC, dengan mesin Mercedes Benz mesin depan (seri OF) berkaroseri Morodadi. Namun, penyediaan armada seperti ini kurang mendapat respon positif dari pasar, karena aspek sosio-cultural masyarakat Jawa Tengah bagian timur yang maunya kelihatan begaya saat pulang kampung atau balik ke Jakarta, termasuk pula dalam urusan armada yang akan dinaikinya.
Akhirnya, era mesin depan diakhiri dan digantikan mesin belakang (OH Prima), dilengkapi pendingin udara dan toilet, serta urusan karoseri tetap mempercayakan pihak Morodadi. Livery-nya pun masih gampang diingat sampai sekarang, berupa garis-garis tegas berwarna coklat tua dikombinasikan coklat muda, dengan background warna aurora white. Logo Artha Jaya mirip logo maskapai penerbangan Singapura, SIA.
Inilah era dimulainya bus malam Kudus-an bermesin belakang, produk Eropa dengan fasilitas AC dan toilet, dengan busana dari karoseri berkelas dan corak body mesti goodlooking.
Sohib saya juga menuturkan, dulu, soal attitude, driver-driver Artha Jaya tak kalah pamor bila head to head dengan penguasa jalur Jakarta-Surabaya, PO Lorena. Mereka berani adu kencang, bahkan meladeni setiap aksi penuh kecepatan PO yang melegenda tersebut. Toh, soal mesin dan karoseri tak kalah. Hasilnya, selalu tiba di tempat sebelum matahari terbit, baik saat di Jakarta atau di Rembang. Bahkan kabarnya Artha Jaya cukup disegani di jalan, sebagai raja kecil dari Lasem. Style driver yang suka ngebut pun tak lepas dari “kompor meleduk” para penumpang, yang tak ingin busnnya kalah bersaing dengan bus jarak jauh.
Inilah poin kedua, yang meninggalkan warisan bagi sopir-sopir generasi berikutnya bahwa bus Kudus-an kudu banter dan siap untuk adu kebolehan keterampilan di jalan raya.
Dan tambahan terakhir dari teman saya, PO Artha Jaya adalah PO yang terbaik dalam menjunjung service kepada penumpang. Selain perlengkapan armada berupa bantal dan selimut tebal, diberikan juga snack saat perjalanan. Layanan makan malamnya juga bagus, nikmat dan lengkap. Dan rumah makannya tetap lestari hingga sekarang, dan dipakai sampai saat ini oleh Tri Sumber Urip, yakni RM Kota Sari, Gringsing. Bahkan saat PO Artha Jaya berulang tahun, pada hari H diadakan acara kecil-kecilan, penumpang diberikan jamuan makan “cuma-cuma” dan diseling pembagian doorprize. Mirip acara ultah Nusantara ke-40 di RM Sari Rasa yang saya hadiri dua tahun silam.
Jaringan agennya hingga ke Kota Cepu dan Blora, dengan disediakan kendaraan feeder, mikro bus, yang akan menjemput dan mengantar penumpang. Penumpang cukup terbantu, apalagi saat itu masih jarang angkutan yang beroperasi di jalur Rembang-Blora-Cepu.
Inilah karakter virus ketiga yang akhirnya menjadi standar pelayanan minimal yang selanjutnya dianut PO-PO Kudus-an yang eksis sekarang.
Sayang, kejayaan PO Artha Jaya runtuh di akhir tahun 90-an. Bukan karena missmanagement dan ditinggal pelanggannya, namun tiada generasi penerus Om Bing yang mau melanjutkan usaha PO-nya, di saat Om Bing ingin pensiun menikmati hari tuanya. At last, PO Artha Jaya dijual kepada Tri Sumber Urip, yang ownernya masih punya hubungan saudara dengan Om Bing.
Namun, berkat kesuksesannya, Om Bing (panggilan akrabnya) berhasil menyekolahkan ketiga anaknya di perguruan tinggi di luar negeri. Dan setelah lulus, ketiganya memutuskan tinggal di luar negeri. Sekarang ini, “hanya” bisnis ekspedisi dan bengkel sparepart yang masih dijalankan.
Sekali kali tulisan ini bukan jawaban yang tepat atas pertanyaan “siapa pencipta virus muria”, ini hanya konklusi pribadi berdasar wawancara dengan seorang narasumber, mantan loyalis PO Artha Jaya.

Silahkan kalau ada yang berpendapat beda…
akhirnya saya dapat info untuk Bis yang satu ini, sebagai pengguna jalan dipantura pada era 90-an memang untuk “artha jaya” tidak diragukan lagi drivernya….bisa meliuk2 bagaikan ular yang bisa lolos walaupun celah sempit……
mohon dong diposting untuk foto bis diera tsb…..
salam,
shasan
Mas Hasan, saya jadi traveling reguler Rembang-Jakarta setelah PO Artha Jaya redup, tidak pernah menikmati masa keemasan dan jaya-jayanya dulu.
Jadi maaf Mas, saya tidak memiliki dokumentasi PO Artha Jaya tempo doeloe…
sedikit menambahkan, dulu Artha Jaya pernah masuk Blora-Cepu. Dikarenakan penumpang tidak terlalu banyak bis besar hanya menunggu di rembang sedangkan penumpang blora-cepu dijemput feeder, bahkan menurut bapak feedernya pun menjemputnya dan mengantarkan sampai depan rumah
Terima kasih atas penggalian sejarah Artha Jaya Mas.
Sayang ya, PO sebesar Artha Jaya akhirnya redup. Guliran roda zaman tak mampu dilawannya.
Wah,,dulu jaman masih SD (tahun 90-an) ini bus langganan saya, jurusan jakarta-lasem turun di juwana. Yang saya tahu dulu agen tiketnya di depan toko terang-juwana. kalau dari juwana ke jakarta sekitar jam 6-an sore, ikut bus dari lasem/rembang. Dulu saya lebih milih bus ini karena di zaman itu bus-bus lain jurusan yg sama cuma sampai pati & ga mau sampai juwana, padahal tiketnya tertulis juwana, sampai tujuan siang pula. pengalaman naik artha jaya dulu seinget saya belum pernah tiba di tujuan setelah matahari terbit, tapi pernah juga sekali mogok tepat didepan matahari kudus sekitar jam 3 pagi. Terakhir sebelum ganti livery warna pink seperti diatas, sempat punya livery warna hijau juga kalau ga salah.
salam,
abe
iyah mas posting foto bus artha jaya yg dulu dong
Saya ingat sekali dulu ke jakarta naik artha jaya dari toko terang juwana.mohon di share foto po.artha jaya jaman livery coklat-hijau…terima kasih…saya merindukan kenangan bersama bus ini
Dulu saya penggemar berat artha jaya Jakarta Pati. saya punya gantungan kunci artha jaya. tas artha jaya. sama suka tuker 10 tiket gratis. mau tanya nih ? apa artha jaya masih jalan. catnya warna apa dan dimana agennya. dulu catnya coklat ada garis plus logo yang mirip Singapore Airlines. Tidak ada yang mampu mengalahkan kecepatanya saat itu. Bus yang paling ditakuti saat itu Lorena pun gak mampu manandingi. Sekarang saya kalo ke pati gak punya pilihan tetap. Kadang Nu3tara, Bejeu atau PK Bojonegoro serta Budi jaya.
kangen ma bis satu ini walau saya baru 3x naik bis ini jakarta pati.salah satu bis legendaris indonesia n pantura.kapan ya ARTHA JAYA bisa ada lg.?????????
saya juga pelangan artha jaya di era 90-an…
saya merindukan sekali artha jaya yang warna coklat dengan unsur elegant-nya..
pada saat itu saya benar merasakaan di jembatan di daerah berebes,,,bis artha jaya yang saya tunggangi,,sedang salip-salipan dengan bis lorena(ini nyata saya alami)..
pada saat itu penumpang yang tertidur pulas-punbangun,,karena bis yang saya tunggangi tsb saling salip-menyalip,,tapi akhirnya bis lorena tersebut ketinggalan jauh oleh bis artha jaya.
walaupun agen tiket di rembang di depan toko roti matahari-rembang,,yang juga terdapat agen resmi pahala kencana,,saya tetap setia dengan bis artha jaya……
saya selalu merindukanya..
saya pun terpaksa jika ingin pulang ke rembang naik bus po.tri sumber urip/pahala kencana.
Dear Artha jaya lover…..
Mohon……bagi yang punya foto jadoel “ArthaJaya” bisa dishare…….dong……please……..