Latest Event Updates

Escape From Comfort Zone (3)

Posted on


“Ayo berangkat, sudah jam-nya. Kalau ngga dateng, ditinggal saja…” warning kenek kepada agen setelah dua “tangkapannya” tak jua datang.

“Tolonglah, tunggu sebentar…” pintanya.

“Ya sudah, disuruh cepetan tuh. Kita tunggu di luar terminal,” pungkas asisten sopir itu dengan tak sabar.

Melihat gelagat kru, betul apa yang dibilang Mas Indra, bahwa Garuda Mas adalah bus yang paling menghargai jam keberangkatan, anti permisif terhadap keterlambatan. Terlihat dari sikap cekat-ceket, tak mau buang waktu, dan bertele-tele dalam urusan penataan penumpang. Mungkin, inilah nilai positif sistem engkel dari pengoperasionalan bus.

Moda berpaspor B 7355 IS pun menunggu telaters di mulut pintu keluar. Sempat petugas mengusirnya karena menghalangi bus lain yang hendak meninggalkan terminal.

Menapak ruas Pati – Kudus, driver benar-benar all out memamerkan determinasinya. Ngotot serta trengginas. Apakah dia hendak pamer taring di hadapan user-nya, bahwa karakter “bus tamu” tak kalah dengan habit tuan rumah?

Terlebih dikipas-kipasi akting panggung nan seronok dari biduanita OM Romansa, yang tak kalah heboh dengan goyangan Lisa Geboy cs. Dengan irama dangdut koplo yang nge-beat dan menghentak-hentak, benar-benar membangkitkan gen speedy Hino RG.

Dua pasukan Ombak Biru, B 7189 X serta K 1596 B harus rela dikebiri dari sisi jalan tanah, saat lalu lintas di daerah Terban tersendat. Debu-debu beterbangan, seakan menjadi saksi monumental, meski single player, semata wayang, tanpa teman atau saudara di jalur timur, kekuatan kibasan sayap Garuda tak bisa disepelekan. Masih membayang saat Intercooler Kupu-Kupu yang aku naiki ngos-ngosan menguber Si Ijo di ruas Demak-Semarang. Benar – benar fight kinerja the man behind steering wheel-nya…

BG 7185 AU, PO Wisata dari Palembang, Talenta Muda, meski dengan susah payah, juga diasapi menjelang pertigaan Ngembal Kulon. Ah, apa sang nahkoda akan konsisten dengan laku mayak-mayak sepanjang malam, mengingat mahdzab beginian membutuhkan konsentrasi tinggi serta menguras energi?

Di stanplat Jati Kudus, adegan di Terminal Pati lebih sempurna terulang. Satu penumpang terpaksa ditinggal, karena menjelang detik-detik take-off tak tampak batang hidungnya. Beruntung, saat itu mendapat subtitutornya, seorang penumpang yang nekat go show di saat musim ramai.

17.36

Dengan status kloter pertama, Neo Travego ini meninggalkan kota kretek. Selepas Jembatan Tanggul Angin, barulah eco-driving mengambang ke permukaan. Menyadari tanpa tandem, driver pun “memusingkan” roda bus pada skala kecepatan aman. Daya gedor pun dikendorkan, meski gereget sebagai penjinak jarak 550 km tak serta merta surut.

Di daerah Gajah, tampak PO Gumarang Jaya berbodi Tri Sakti berhenti di agen penjualan tiket. Semakin semarak saja lintas Pati-Sumatra setelah PO dari Muntilan, Putra Remaja, juga ikut bergumul meramaikan pasar gemuk ini menjelang bulan puasa kemarin.

Sebelum Pasar Jebor, Demak, kendaraan menumpuk akibat proyek peninggian badan jalan. Posisi busku menguntit bus plesiran, Gunung Sari. Berdasarkan pelat nomor asal — K 1545 F — serta livery, dugaanku Gunung Sari adalah sempalan dari PO Era Trans, Purwodadi. Dari hasil pengamatanku selama merasai atmosfer Pantura, kongsi Era Trans sepertinya (di)pecah menjadi tiga, yaitu Era Trans, Era Prima dan Gunung Sari. Apakah pemisahan ini untuk memetakan segmnetasi ceruk penumpang yang hendak disasar? Era Trans untuk line Purwodadi-Jakarta, Era Prima melayani Purwodadi-Sumatra dan Gunung Sari didedikasikan buat pariwisata.

Meski dengan lari pas-pasan, di ringroad kota wali, bus dengan izin trayek untuk Tayu-Pati-Pulogadung-Kalideres ini mencetak hattrick, dengan menghempaskan perlawanan bus beregistrasi K 1683 B, serta dua bus Sido Rukun, masing – masing model Setra Morodadi Prima H 1671 BA serta Laksana Comfort H 1467 BA.

Melewati kantor Polantas Demak, terlihat Sinar Mandiri “Bateh” membujur tak berdaya, hampir dua minggu teralineasi dari kerasnya trek Pantura Timur. Melihat kondisi body yang utuh tanpa cacat, masalah hukum yang menyeretnya pastilah melibatkan motor atau pejalan kaki.

Wuss…tanpa dinyana, dari sebelah kiri melesat dengan deras Scorpion King dari Lasem, saat Garuda Mas menginjak areal Sayung. Selain gaya menyalipnya yang cantik, aku sangat terkesan dengan balutan grafis minimalis yang menempel pada dinding samping. Hanya mengandalkan baluran cat hitam, putih serta abu-abu, tetapi paduan tri-warna ini benar-benar simpel dan membumi. Menilik tatto tubuh, inilah armada Tri Sumber Urip favoritku, di antara kemajemukan corak Raja Kalajengking yang dipunya Koh Paryono.

Sialnya, pesona kombinasi kerlap-kerlip lampu sein dan brake lamp yang diperagakan bokong semok K 1668 BD  mesti berakhir, setelah Hino RK8 itu menepi sehabis membayar retribusi tol di gerbang Muktiharjo.

Sesaat melaju dalam kesendirian, persis di atas simpang susun Jatingaleh, bus-ku bertemu dua kawan sejenis. Memanfaatkan bahu jalan, dua bus jurusan Purwodadi-Jakarta, yaitu Era Trans Non AC K 1761 BF serta Garuda Mas Concerto E 7624 HA ditumbangkan.

Krapyak, meeting point jalur timur, tenggara dan selatan.

Ajang balas dendam dilancarkan oleh Era Trans, memanfaatkan celah kiri yang lebih lengang. Sementara, Hinomaru keluaran 2004 ini hanya mampu menyalip bus wisata B 7432 BW, sebelum dihadang kemacetan, gara-gara bus Sumber Larees dengan papan jurusan Purwodadi-Jakarta berhenti mengeruk penumpang, meski letak bus masih berada di lajur 2.

“Sopir kalau jarang bawa Jakarta-an ya gini,” gerutu pemegang setir kemudi dengan aksen Sunda, sambil menyalakkan corong terompet dengan kerasnya.

Rapor biru kembali ditorehkan mesin seri J08C kapasitas 7961 cc di atas jalan lingkar Kaliwungu. Adalah PO Ezri dengan blazer model Nucleus 3, bernomor lambung 12, yang terpaksa menutup hidung menahan pengapnya semburan residu dengan tingkatan Euro 2 ini.

Di sentra penjualan tiket bus Cepiring, Kendal, secara “betina” mendahului PO Armada Jaya Perkasa yang tengah wajib lapor lantaran agen dapat menjaring penumpang tambahan. Aku pun haqqul yakin, armada Galaxy Coach AJP tersebut adalah lungsuran PO Shantika. Coretan air brush di bodi ala bus-bus official partner Piala Dunia 2006 Jerman, yang membenarkan tebakanku.

Keenakan melaju, tanpa disangka-sangka, muncul dari sisi kiri bus reyot dengan eksterior yang minim estetika, PO Usaha Jaya. Bumel, kucel, sarat dempulan, tanpa AC pula. Dan seperti Sumber Larees, bus yang biasanya merumput di jalur Semarang-Purwodadi ini banting setir, mengusung para perantau kembali ke ibukota. Menurutku, inilah bus-bus siluman, yang nongol pas Lebaran, setelahnya ngumpet ke orbit masing-masing.

19.50

Angkutan massal yang dilengkapi fitur toilet on the road ini “meluruskan punggung” sementara waktu di Rumah Makan Mekar Sari, Kendal. Seolah ingin mencari kehangatan, bus diparkir terjepit di tengah-tengah celah yang dibangun PO Madjoe Utama AE 7087 UB serta Garuda Mas New Travego, B 7384 IZ.

Aku pun harus me-manage langkah pengiritan kembali. Perbekalan ransum yang disiapkan istri kubongkar, menyiasati ketiadaan service makan malam untuk kelas ekonominya Garuda Mas. Tentu apple to watermelon bila dibandingkan pelayanan eksekutif yang memanjakan perut dengan kebijakan loss nasi dan sayur. Meski ada secuil ironi juga, dengan adanya penjatahan lauk yang tersirat dari amar “Maaf, ambil satu potong”.

“Sing sareh (yang lapang dada), Dik, bukankah hemat pangkal kaya, nikmat pangkal paha…” guyon akal pikirku. Hehe… 

Escape From Comfort Zone (2)

Posted on Updated on


“Hati-hati ya, Pa!” pesan mamanya anak-anak saat melepasku seraya mencium punggung tanganku, tak lama setelah motor kami mendarat di depan kantor Perhutani Kabupaten Rembang.

“Duh istriku, masih terbayang jelas saat kali pertama engkau mengantar kepergianku ke ibukota, dengan status kita berdua sebagai pengantin baru. Air kesedihan yang berkaca-kaca di pelupuk matamu saat mengiringi jangkah kakiku menapak kabin Lorena LE-381, tak bisa membohongi nuranimu, bahwa engkau pun sebenarnya terkaget-kaget dengan “model pernikahan aneh” yang bakal kita tempuh.

Perasaan sama itu pula yang membelengguku, ketika kusadari bahwa long distance relationship bukanlah perkara mudah dan ideal bagi sebuah keluarga. Tapi, teringat akan kata-katamu “jangan selalu dibayangkan karena akan terasa berat, langkahkan kaki dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya, yakinlah, jalinan cinta dua hati bakal lebih ringan dijalani”, membuat diri ini kuat mental dan tahan banting menyikapi kehidupan wira-wiri yang keras dan penuh aral.    

Tujuh tahun sudah guliran waktu menajamkan naluri keibuanmu. Meski acapkali ditinggal pendampingmu meladang nan jauh dari rumah, justru menegakkan ketegaranmu, tak jadi pribadi yang cengeng dan pemanja, selalu mandiri serta berdikari, urusan rumah tangga kau ampu sekuasamu. Dan semoga, di kelak kemudian hari, engkau menjadi ibu yang  dibanggakan buah hati kita.

Ketangguhanmu selangit, tak sepadan disandingkan dengan suamimu, meski aku bagian dari klan lelaki yang senantiasa bangga akan bekal kekuatan raga yang tercipta.”   

“Pati…Pati…Kudus…Semarang!!!” teriak lantang kenek PO Sinar Mandiri Mulia (SMM), membuyarkan lamunanku.

14.53

Segera kunaiki angkutan AKAP bertrayek Bungurasih – Terboyo, sebagai armada feeder yang menghantarkanku ke Terminal Pati. Ada keuntungan kecil yang kugenggam, yakni berjodoh dengan bus besutan Restu Group itu. Dibanding Jaya Utama, Widji Lestari maupun Indonesia, SMM lebih menantang adrenalin, lebih menonjol style alap-alapnya dibanding kompetitornya.

Naluriku tak meleset. Pengusung mesin varian AK8 E3 itu langsung melesat, membabat satu persatu perintang, khususnya truk-truk raksasa penghancur aspal Pantura. Jalan dua lajur, dengan lebar nge-press 6 meter yang membujur dari  Tambak Omben hingga Juwana, menjelma menjadi sirkuit yang menantang kecakapan skill penghelanya, dipadu unjuk keterampilan menyeser penumpang. Beberapa kali nyaris kres dengan mobil lain dari arah berlawanan, hingga moncong bus harus berkelit dengan menempel tipis pantat kendaraan di depannya.

Melihat sosok sang joki yang gaul dan funky habis, rambut disemir dengan dandanan eksentrik, seakan mempermanis tampilan model New Proteus yang dicambuknya. Apalagi saat kulirik jempol tangan kiri, dengan kukunya yang dipiara memanjang, seakan meneguhkan mitos bahwa ciri inilah petunjuk tersembunyi bahwa driver tersebut bergenre ngejoss.

Bus dengan label “Hunter Mania” ini mencatatkan skor di papan kemenangan saat mencundangi Pahala Kencana Setra Butterfly B 7599 XB di Kaliori. Aksi kejar-kejaran pun mengemuka selepas Tugu Sukun Kota Bandeng, ketika Sinar Mandiri N 7035 UG kelas bumel mulai tersusul. Sopir sempat ngomel-ngomel, lantaran kesal kompatriotnya tak bisa menjaga slah dengan bus berikutnya. Pantas saja, di Kota Bandeng ini, N 7726 UG nihil mendapatkan rezeki.

Setelah menggasaknya, tampak buritan poolmate yang lain, Patas Panda. Sepertinya, sopir Jetbus itu memancing permainan saat membiarkan busku hampir separuh bodi menyalipnya. Ternyata, binatang ikon negeri tirai bambu itu juga kian menambah kecepatan. Alhasil, dua raja jalanan saling sejajar beradu cepat, mengangkangi area beton Juana-Pati yang tengah sepi dari pengguna jalan, menahbiskan diri siapa yang lebih ngebut. Sayang, “drag race” mesti berakhir dengan bersulang klakson, saat N 7733 UG itu lebih memilih jalan lingkar, sementara ATB-ku mengarah ke Gemeces.

Wah…mantap, mukadimah turing nan memukau.

15.44

Terminal yang berlokasi di seberang pemancar radio kepunyaan paranormal kondang Bos Edi, Harbos FM, sore itu masih terlihat sunyi dalam jumlah kehadiran armada. Yang sedang lego jangkar hanya Nusantara, Bejeu, dua PO Selamet serta Pahala Kencana. Sementara, konsentrasi penumpang sudah memadati teras di depan loket-loket bus.

Setelah kutinggal sejenak menggugurkan shalat asar, barulah berlabuh kabilah yang lain. Tercatat, Muji Jaya, Shantika, Bayu Megah, Haryanto, Sido Rukun, Budi Jaya serta satu bus “extra ordinary” yang khusus diperuntukkan buatku, Garuda Mas.

“Langsung naik ya Mas, busnya segera berangkat,” kata Mbak Agen sesaat setelah aku melakukan check-in.

DSC00146 (1)

16.15

Kabin terkesan penuh sesak oleh para penduduk. Dimensi ruang yang “hanya” 11 m X 2.5 m, dipangkas luasan untuk smoking area, sungguh-sungguh sempit dijejali 50 seat. Tampak penumpang sedikit tersiksa dengan posisi dengkul mepet, dan antar bahu saling bersinggungan, memenuhi konfigurasi bangku 2-3.

Menatap raut muka “tetangga-tetangga Mas Anees” ini, tak bisa dipungkiri menyimbolkan sosok rakyat kecil, orang dusun, serta pekerja informal-an. Dan yang begitu kentara, cuek soal penampilan diri. Lugu, polos dan apa adanya, nyaris tanpa kontaminasi life style modern.  Really really economical taste…

Sebuah planet yang asing bagiku, namun sekaligus menjewer ke-sok ekslusifan-ku yang terjerembab dalam jeruji citra kenyamanan bus eksekutif. Ternyata aku ini wong ndeso yang lupa daratan, hampir menanggalkan kejelataanku sebelum akhirnya cekikan harga tiket menyadarkanku. Sebenarnya, aku tak jauh berbeda dengan mereka. Lahir, tumbuh dan besar di lingkungan pada strata masyarakat menengah ke bawah. Ada masanya, aku termasuk dalam golongan mereka, yang lebih mementingkan budget daripada comfortabilty sebuah perjalanan.

Terima kasih Garuda Mas atas “murahnya” biaya perjalanan serta reminder sosialmu. Aku harus berlapang dada menerima segala keterbatasan yang melekat pada bus ekonomi.

Saat duduk di baris kedua sisi jendela kiri, kucoba menghayati cerita mingguan yang pasti tak bakalan sama dengan fragmen-fragmen sebelumnya.

Yup… Barangkali, Garuda Mas (GM) ini bisa dijadikan potret buram penegas tuah kutukan belantara Muria yang ganas dan liar bagi pemburu-pemburu dari manca negara. “Tambang emas” di pesisir timur ini hanya prospek bila yang  mengeksploitasi adalah “pendulang setempat”.

Sejarah menulis, PO elite sekaliber Lorena, Kramat Djati, serta Gajah Asri Raya babak belur dihadang “persekongkolan jahat” pemain-pemain lokal. Apalagi tanpa dukungan finansial dan armada yang memadai semacam Setia Bhakti dan Agung Bhakti. Diakui sebagai “anak bawang” sudah merupakan prestasi bagus, meski akhirnya juga kembang kempis ditelan putaran zaman.

Tinggalah Garuda Mas dan Lorena yang konsisten beroperasi, “rajin masuk” setiap hari. Menurut Pak Alan, kru senior GM, Si Ijo dari Cirebon itu memang tak bakalan meninggalkan bumi Tayu dan Jepara, meski hanya menyisakan satu armada sekali pun.

“Itu lahan hoki bagi bos kita, Mas,” ujar beliau saat itu, ketika aku turut busnya dalam perjalanan Pulogadung – Blora.

Ternyata, di balik supremasi kepak sayap Garuda Mas yang begitu perkasa memeluk tampuk tlatah tenggara Jawa Tengah, justru kisah kesuksesan PO yang berbasis di Kedawung ini babar dari tanah Jepara. Lantaran stagnan mengelola jalur Pekalongan-Cirebon-Jakarta, rupanya jadi trigger bagi pemilik untuk memutar akal mengembangkan usahanya. Dan di awal tahun 1980-an, dipilihlah kota ukir sebagai jajahan baru.

Sayang, legitnya sirup manis bumi Kartini tak lama direguk. Setelah menetas PO pribumi, Muji Jaya, — terlebih karakter laskar Kalinyamat sebagai (maaf) penganut primordialisme sempit serta menjunjung tinggi fanatisme kedaerahan —  Garuda Mas pun sedikit demi sedikit terdesak. Dan GM-01 kala itu, kembali harus bergerak cepat kalau tak ingin terhempas. Intuisinya berbicara dan sungguhlah tepat, melirik ranah Purwodadi yang masih sepi pemain. Apalagi di tengah kocar kacirnya kondisi PO penguasa saat itu, PO Marga Mulia (CMIIW), Garuda Mas pun berkembang pesat serta ekspansif. Tak urung, di era kekinian, dengan prediket the best dalam urusan service, membawa nama Garuda Mas dinobatkan sebagai penguasa tunggal wilayah Grobogan dan sekitarnya.

“Tanpa masuk Jepara, kita tak akan merasai sukses di Purwodadi, Mas,” imbuh pemegang armada Jetbus Eksekutif itu.

Hasil kerja keras dan buah perjuangan yang patut diacungi empat jempol. 

Escape From Comfort Zone (1)

Posted on


“Ah, nasib…nasib…Mengapa dunia begitu sentimen pada  pelaku ‘cinta berat diongkos’ sepertiku ini!!!”

Tak terbendung lagi batinku melisankan umpatan. Seakan tak kenal dosa saja diri ini mengutuk hari. Hilang sudah kearifan budi untuk menjauhi sifat keluh kesah, tatkala disuguhi aksi profit taking  nan super gila-gilaan yang di-aktor utama-i oleh secarik tiket bus.

Bagaimana tidak?

Saat mengintip trip fare Rembang-Jakarta untuk keberangkatan Hari Minggu 11 September, dua agen yang kujadikan tolok ukur mewartakan “sesuatu” yang jelas-jelas mengusik ketenangan neraca moneter. Pahala Kencana pajang angka Rp305.000,00, sementara manajemen tempat The Phoenix, The Destroyer dan The Titans bernaung me-launching nominal Rp280.000,00. Padahal, saat normal season, fluktuasinya takkan bergeser dari range 80.000 s.d 140.000.

“Edan…edan…bea oneway  merongrong alokasi dana sekali PP!!!”   

Yang lebih mengiris hati, baru kali ini “durasi keanomalian” berlangsung lebih panjang lagi lama. Dan ini bisa jadi preseden buruk, kekacauan penerapan tarif pascalebaran akan menjadi bahaya laten yang terus menghantui alam Plat K. Setahun yang dulu, seingatku, lepas H +7, bus-bus tak lagi berani mematok mahal, setinggi-tingginya “cuma” 50% dari banderol resmi. Tapi faktanya sekarang? Hingga dua pekan sesudah hari raya, masih di-upping hingga hampir tiga kali lipat!

Bencana kedompetan bagi penumpang — wabilkhusus pemudik mingguan tentunya –, sebaliknya musim panen bagi perusahaan-perusahaan otobus.

Analisisku, inilah multiplier effect atas tutupnya layar PO Senja Furnindo pada akhir 2010 silam. Belasan bus milik imperium Senang Jati Furniture Indonesia yang kehilangan pekerjaan, menyumbang andil atas susutnya ketersediaan 400-an kursi per hari selama rentang arus mudik – arus balik tahun ini. Di sisi lain, demand akan jasa moda darat itu kian menjulang, supply tak mampu lagi mengimbangi permintaan. Finally, hukum ekonomi yang berdaulat, melegitimasi si “empunya harga” untuk bertindak semena-mena.

What will I do to eliminate this case?

“Mas Indra, tiket buat Minggu sore nanti berapaan?” kucoba mengorek bursa tiket di Terminal Pati, saat kulihat status Yahoo Messanger sesepuh BMC Muria Raya itu online, empat hari sebelum perjalanan balik ke Jakarta kutunaikan.

“Rata-rata masih di atas 200-an, Mas. Nusantara jual 260 ribu, TSU (Tri Sumber Urip) dan Selamet 240 ribu. Itu pun masih bisa naik.” jawabnya.

Duh…duh…tak terlalu signifikan untuk menunjang langkah pengiritan.

“Kalau ekonomi, Mas?” tiba-tiba aku menemukan solusi jitu, meski untuk itu, aku harus siap-siap angkat koper, melarikan diri dari zona nyaman yang selama ini diselenggarakan armada-armada kelas VIP ke atas.

Tak mengapa, busmania kok alergi terhadap bus berjenjang rendahan itu? Demikian nyanyian soul of my advanture menohok keangkuhanku yang terbiasa keenakan dibui fasilitas wah dan meninabobokan.

“Garuda Mas 180 ribu. Bayu Megah kayaknya juga segitu…”

Bajigur…mahal juga ternyata, kukira di level 150-an.

“Mas, ada yang sedikit lebih murah. Mau?” bujuk Mas Indra.

“Bus apa, Mas?” aku terheran-heran.

“Tri Sumber Urip,”

“Ha? TSU punya ekonomi juga? Berapa harganya?” aku semakin penasaran.

Info dari Mas Iwan (agen TSU Pati), khusus Minggu, Bah Do menjalankan bus ekonomi,” terang founding father Warung Mak Ni Community ini. “Sekitar 170 ribu, tapi kemungkinan bisa kurang, Mas. Saya usahakan dapat seat depan”.

“Jangan-jangan pakai armada bumel Lasem-Semarang, Mas?” candaku.

“Haha…dijamin bus anyar Mas, yang biasa buat wisata,”

“Boleh Mas, booking aja ya…” akupun mengiyakan. Gimana lagi, no hope no choice, tiada tiket yang lebih bersahabat dari bilangan 170.000.

“Siap-siap ah, menikmati sajian eco-vaganza rute Pati-Jakarta untuk kali pertama! Sekalian lepas kangen, sudah 30-an purnama tak mencumbui PO sekampung halaman denganku itu.” hiburku membulatkan tekat.

Tapi sayang sejuta sayang, rencana itu teranulir kala Mas Indra gantian mencolekku lewat ruang bincang-bincang yang difasilitasi Yahoo Inc. itu, dua hari sesudah chat part I.

“Maaf Mas, karena satu lain hal, TSU tak jadi memberangkatkan ekonomi.”

“Aduh…gimana Mas, ada alternatif lain ngga?” aku mulai dibayangi kegalauan.

“Garuda Mas saja ya Mas, ini ada seat no. 6, harga 180 ribu. Cuma agen minta, paling telat Hari Sabtu tiket sudah diambil,” gamblangnya. “Dan jangan lupa, Garuda itu paling on time jadwalnya, jam 16.00 harus kumpul.”

Hmm…tak apalah. Tri Sumber Urip versus Garuda Mas, setali tiga uang, sama-sama pengusung formasi 2-3, sama-sama pencipta damai di bilik saku yang tengah meradang. Hehe…

“Siap Mas. Kebetulan lusa ada acara ke Pati, nanti sekalian saya mampir ke terminal.” ucapku dengan nada lega. “Sekali lagi, terima kasih atas kerepotannya.”

Sabtu siang nan terik…

Sambil menunggu jadwal praktik dokter kandungan di Keluarga Sehat Hospital buka, dilanjutkan acara silaturahmi ke tempat Mas Indra serta teman komuter di seputaran Pati, kusambangi Pesantenan Busport  untuk melunasi selembar bukti legalitas sebagai sewa PO Garuda Mas. Yang unik, menurut sharing obrolan dengan Mas Iwan yang saat itu kutemui di terminal, semua loket bus hanya melayani penebusan tiket, tak ada lagi transaksi penjualan untuk Sabtu sore, semuanya ludes, tak ada yang tak laku.

“Berapa armada TSU yang ngelen, Mas?” tanyaku kepada shohib Mas Indra itu, untuk mengecek seberapa jauh tingkat kehiruk-pikukan sore nanti.

“Delapan Mas, tapi sudah tak ada kursi sisa…”

Sahih, calon penumpang terus saja membludak. Itu baru “klub medioker” selevel TSU. Belum lagi amunisi Pahala Kencana, Shantika, Haryanto, atau Nusantara. Berapa banyak lagi isi gudang peluru yang mereka kerahkan?

Mimpi kali yee…berharap harga sebiji kursi bakalan murah. 

S (c) A N (i a) J A Y A (4)

Posted on


Hari Ke- 30, Bulan Ke-9

“Jrakah …Krapyak…Kalibanteng…bagi yang mau turun, tolong siap-siap!”

“Kicauan pagi” dari asisten driver sontak membuyarkan lelapku. Wah…mulai menelusup pusat Kota Atlas, saat pendulum waktu mengabarkan pukul 04.05 dinihari. Berarti empat jam sudah aku menyia-nyiakan sajian istimewa berselera, berupa “Battle of Pantura”.   

Masih malas ah, kuremidi lagi ritual pejam mata.

Wuss…wuss…hembusan suara angin yang terbelah akibat efek aerodimanis bodi bongsor bus menyadarkanku kembali. Fajar merah jingga di ufuk timur seakan jadi saksi saat armada yang bersekutu dengan AM Shantika, Shantika Abadi serta Shantika “polos” ini tengah kerja rodi mengejar lampu pistol yang melekat pada pantat Lorena, di lingkar Demak. Cukup ulet dan liat juga aset Ibu Eka Sari itu, tak gampang menyerah meski beda tenaganya menyentuh takaran 150 HP. Berdua kompak saat menyalip Kramat Djati Madura B 7674 XA dan kemudian perwira bintang lima Tajur mementaskan kelihaian menari-nari dengan backing dancer truk-truk barang, di panggung jalan nasional yang saat itu tersita dua lajur untuk proses peninggian serta pengerasan.

Singa bermahkota kok dilawan?

Dan pemeo itu tak bisa diganggu gugat. Di Desa Wonoketingal, Si Ijo berkode jurusan LE-450 Banyuwangi “lempar handuk”, tak mau lagi meladeni sengatan Kalajengking yang dulu menetas di Kota Apel ini.

05.10

“Monggo Pak, Bu, yang mau subuh-an dulu…”

Reminder dari kru sesaat setelah rem parkir diaktifkan, di depan sebuah mushola kecil, tak jauh dari seberang pul Nusantara, Karanganyar. Tak lama berselang, ditemani oleh kompatriotnya se-casing, Scorpion King, H 1713 BC, yang tadi malam di-voor waktu 30 menit-an saat green flag dikibarkan.

Tersusul pula Masterbus itu, yang corak grafisnya mengingatkan pada kereta dinas timnas Brazilia di Piala Dunia 2006, Jerman.

Tak terbantahkan lagi,  produk Swedia ini lagi berjaya!

20 menit kemudian…

Kudus…kudus…terakhir, tak lewat kota…!!!

Demikianlah bunyi syair perpisahan, penanda berakhirnya 10 jam kelekatanku dengan PO yang mengobarkan visi “Concept Transportation” itu.

Adios Scania!!!

***

Seperempat jam sudah aku dibekap rasa bosan menunggu moda penerus langkah menuju bumi pertiwi kecil, Rembang.

Duh, mengapa kalau pas lagi ngga perlu, Sinar Mandiri, Indonesia, Jaya Utama, Widji Lestari, Jawa Indah atau Akas IV terlihat begitu banyak bersliweran di jalanan? Tapi,  giliran butuh, kurasakan headway-nya begitu panjang dan lama, tak beda dengan interval antar Trans Jakarta di waktu pagi. Terakhir kali kulihat PO Widji Lestari berjalan ke timur saat Shantika-ku menunaikan hajat religiusitasnya.

Finally…dari jauh, tampak siluet warna hijau mendekat yang sekilas adalah sosok armada Sinar Mandiri. Namun, semakin detail kuamati, ternyata bukan.

Ah, itu mah identifying object, yang sering kulihat “nyampe” di Terminal Pulogadung lepas isya, setelah mengembara di atas 700 km menuntaskan trek Surabaya-Jakarta. Dialah PO Sanjaya, the other besutan of Restu Group.

“Boyo…boyo…” teriak kenek, dan bus perlahan-lahan berhenti.

Hadeh…nyeser ta?” pikirku.

Hanya satu sewa yang naik, tak sebanding dengan jumlah penumpang yang lumayan berjubel di depan Terminal Jati, Kudus.

Tak puas dengan hasil tangkapannya, dicobanya trik yang lain lagi.

“Tuban…Tuban…” 

Not bad, dua atau tiga orang tergiur bujukannya.

“Rembang…Pati…biasa…biasa…” pekiknya sekali lagi, setelah disadari, lebih banyak komuter jarak pendek yang bersiap untuk dikeruk.

Wuih, sahih nih.

Bergegas kudaki tangga pintu depan, lalu berbondong-bondong diekori belasan penumpang lain. Beruntung, aku langsung disuguhi kursi Super Eksekutif 1-2. Tak ingin membuang waktu, segera kududuki lahan itu, persis di belakang singgasana “sopir kiri”.  Sedikit unik memang, melihat realitas baris kedua hingga kesepuluh berformasi 2-2, justru hotseat-nya dikurangi sebiji, menjelma menjadi 1-2. Tentu mudah ditebak, karena sebagian tergusur “areal makam” yang mengubur gelondong mesin Hino AK3R di bawahnya.

Setali tiga uang dengan habit driver-driver imperium Restu, bus berbody coach Panorama 3 tempaan Laksana langsung menunjukkan tajinya. Nafas tua tapi tetap gahar menantang guliran zaman.

“Widji depan sudah jauh?” tanya pengemudi kepada pedagang asongan yang asyik berjualan, yang kerap didapuk sebagai agen mata-mata bagi kru untuk mengintip  posisi “musuh-musuh” terdekatnya.

“Sudah, Bos, 20 menitan…” timpalnya.

“Untung kita, Cak. Widji 65 belakang kita lagi storing, Sinar Mandiri juga masih jauh!” bilang Pak Sopir, yang raut wajah dan logat kocaknya mirip Cak Bagio, partner pelawak kondang asal Nganjuk, Cak Kirun, membagi berita gembira pada koleganya.

Ajaib juga. Bagaimana “orang di luar link” tahu betul slah antar bus berikut armada serta jam-jam operasional angkutan Semarang-Surabaya.

Di perempatan Tanjung, Kudus, dengan bebas dan leluasa, tanpa perlu takut dipelototi yang punya trayek, beberapa penumpang didapat kembali. Inilah berkah yang dinikmati kendaraan eks bus malam Mandala Sari ini.

Dengan semangat juang yang meletup-letup, para kru berjibaku memecah kepadatan lalu lintas di pagi hari. Driver dengan lincah memainkan lingkar kemudi, sementara kenek tak kenal lelah memberi aba-aba navigasi agar laju bus melenggang mulus.  Sempat kres dan chat singkat dengan bus Sari Indah yang mengarah ke ibukota, di depan Pasar Bareng.

“Kemana, Mas?” colek kondektur di pundakku.

“Rembang, Pak!” sembari kuserahkan selembar duit nominal Rp10.000,00.

Ternyata dugaanku meleset. Bus ini jauh-jauh membuang praktik sarkawi, dengan memberikan reward berupa tiket bergaris coretan pada titik awal dan tujuan akhir yang hendak dimaui penumpang.

Setelah sekian detik menunggu, ternyata tak ada uang kembalian. Tak apalah, beda dua ribu dengan ATB atau bumel. Dari amatanku, N 7058 UG ini boleh dibilang “kelas bisnis”, seat 2-2.  Sangat amat murah dibanding patasnya Jaya Utama atau Sinar Mandiri yang menetapkan tarif Kudus-Rembang di kisaran 25-30 ribu. Apalagi ditambahi hawa AC yang begitu sejuk menerpa kulit plus jok penumpang yang menurutku adalah bikinan Karya Logam, yang empuk, nyaman dan ergonomis. “Selendang clurit” ini jauh lebih mengobral harga.

Dus, ini pengalaman pertama menyetubuhi PO Sanjaya, yang rasa-rasanya, dalam kerangka berpikir akal sehatku, mustahil aku bakal punya “keberanian” untuk mencicipinya. Kalau namanya jodoh, bermula dari ketidaksengajaan, endingnya pun jadian.

Ruas Klaling-Terban tampak ramai lancar, meski tengah diobrak-abrik untuk proses pengecoran badan jalan. Setelah selip-selip, dengan stick tipis-tipis, bertemu dengan rival tangguh yang memberi perlawanan hebat. Medium bus Blue Bird CCB088 serta Bandung Express D 7787 AB jurusan Bandung-Lasem. Cukup alot juga, meski akhirnya bantuan lebar jalan di seputaran Margorejo Pati membuatnya kondusif menumbangkan seteru dadakan pagi itu.

Terminal Puri, Halte Kembang Joyo, Gemeces serta Tugu Sukun Juwana jadi kantong-kantong rezeki bagi bus yang berkapasitas 47 bangku ini.

Ada kejadian menggelikan, saat seorang pelajar minta berhenti di depan SMA Batangan.

“Koen iku piye? Arek sekolah kok diunggahno sisan?” tanya sopir penuh keheranan. (Kamu itu gimana?Anak sekolah kok dinaikan juga?)

“Eling Cak, koen yo duwe arek sekolah” balas sejawatnya dengan bijak, membela diri. (Ingat Cak, kamu juga punya anak sekolah.)

“Mbayar piro?” (Bayar berapa?)

“Sewu…” (Seribu)

Cak Bagio wannabe itupun tersenyum kecut.

Hebat ya anak sekolah era sekarang. Juwana-Batangan pakai bus eksekutif, ongkos ekonomi lagi.

“BRI kiri ya, Pak!” instruksiku saat keenam roda merangsek jantung kotaku tercinta, yang konon katanya, menyimpan kekayaan harta karun dalam cakupan bibir pantai sepanjang 60 km-an ini.

07.10

Grengg…grengg…suara sumbang knalpot itu seolah mengatakan “bye..bye…”, sesaat setelah aku turun di depan bank pemerintah, yang tak jauh dari bangunan tempat istriku berkantor, lokasi di mana dia akan menanti kedatanganku.

Flashback…Hari Ke-27, Bulan Ke-9

Telepon dari permaisuri tersambung, H-2 sebelum hari kepulanganku.

“Pa, motornya jatah di-service nih. Speedo sama kilometer-nya juga mati.” rengeknya. “Kalau bisa, Jumat lah dibawa ke bengkel. Sabtu jelas ngga  bisa, karena kita bla…bla…bla…”

***

Hanya perkara remeh itukah yang jadi pembenaran dalihku untuk mempercepat sehari acara mulih ndeso kali ini?

Namun, aku bersyukur. Dibalik apapun alasanku, toh aku tetap tiada putus disuguhi keelokan dinamika alam Pantura, yang bagiku adalah “little miracle” yang kerapkali membius.

Yup…Scania nan jaya berikut Sanjaya. Pasangan gado-gado yang bersatu padu, bergotong royong, bergandeng tangan, membangun setangkup sensasi yang memorable dalam mengisi diary perjalanan mingguanku kali ini.

Ganda yang luar biasa, dan yang pasti, tak kalah heboh dengan duo Maia-Mey Chan.

180582-10150091503627459-767567458-5891802-3483702-n

Courtesy of Shantika’s Lover @ FB Group

atb-sby-jkt

 Courtesy of terminalgadang.blogspot.com

T – a – m – a — t

S (c) A N (i a) J A Y A (3)

Posted on


Menjelang Pergantian Hari

Pukul 22.09

Aku terbangun kala piranti balon udara penyusun fitur air suspension meredam gejolak jalan tanah yang tak rata, dan sedetik kemudian lampu-lampu kabin menyala terang.

Rupanya halaman rest area Barokah Indah, Patrol, say welcome dan tiba masanya menyuntikkan asupan gizi ke dalam pundi pencernaan. Dan ini adalah kunjungan pertamaku ke rumah makan yang bernaung di bawah grup Mendhosari. Terakhir kali aku naik Shantika sebelum babak baru Scania, bersama New Marcopolo Ijo Tosca Hino R-260, layanan gala dinner masih dipercayakan kepada pramusaji-pramusaji binaan Rumah Makan Taman Sari II, Pamanukan.

Hmm…ternyata tanpa sengaja, aku benar-benar menikmati sleeping beauty sekeluarnya dari Tol Cikampek. Merugi, padahal dari awal take off, aku bertekat untuk melek mata semelek-meleknya, merekam jejak setiap jengkal lahan yang dilahap bus yang penjualannya di tanah air “kudu” lewat tangan United Tractor Indonesia ini. Kenyamanan armada didukung faktor kecapaian selepas kerja, berkolaborasi menghadirkan penayangan sekuel film “Bunga Tidur”  di alam mimpiku.

Saat tengah menikmati jamuan gratis yang dihidangkan, kuedarkan tatapan ke sekeliling. Dan aku baru tahu, ternyata di sini pulalah Muncul dan Damri merehatkan punggung setelah menuntaskan intermediate pertama dari rute yang bakal ditempuh, di samping PO bumi Kartini yang lain, Bejeu. Tampak kelas Big Top AD 1663 DA serta jauh di belakang sana bus-bus PO Damri dengan paras dan bentuk tubuh yang neko-neko, sedang beristirahat.

Setengah jam kemudian, bus yang cikal bakalnya lahir di Semarang selatan ini — berdasar rotasi jam kerja driver – hendak memulai sesi kedua, bertepatan dengan kedatangan Scorpion King Yudha Express, K 1422 CC, yang akan membuang sauh, berlabuh sementara waktu. Inilah “Majesty of Transportasion” yang tak bisa membendung aliran liur untuk mencumbuinya. Yang menimbulkan tanya, ini bus berangkat dari mana? Jangan-jangan betul apa yang diceritakan salah seorang teman komuterku, bahwa  “Lumba-Lumba Jepara” meningkatkan status menjadi sapu jagat klan Muria Raya. Ada kalanya antara jam 18.00-19.00 masih terlihat sibuk mengais buruan, baik di Pulogadung, Kalideres ataupun Lebakbulus.

Yang membuatku salut adalah keakraban timbal balik yang dirajut Shantika dan Yudha Express. Kemesraan yang dipertontonkan antarperusahaan sebidang dan bersinggungan di tengah pusaran “Plat K Super League” nan sengit, terasa hembusan angin sejuk dan menenteramkan. Yang demikian bisa mengoreksi sejarah yang seringkali menulis bahwa “murid-murid” jebolan Padepokan Gunung Muria demen eker-ekeran sendiri, cakar-cakaran, jegal-jegalan, gengsi gede-gedean bahkan dengan bahasa kasar, saling tikam menikam.

“Turun di mana, Mas? Semarangnya mana, Pak? Maaf Bu, nanti ngga lewat Matahari…” 

One by one, tujuan akhir para pengguna jasa diperiksa dan dicatat oleh kru 3 alias kenek, ketika bus meneruskan heading-nya. Sebuah prosedur yang kelihatan sepele, tapi menegakkan citra positif bagi PO yang menerapkannya. Selain menjalin kedekatan kru dengan “tamu yang menginap”, menjunjung unggah-ungguh serta memuliakan sewa, namun sejatinya juga meminimalisir tindak kejahatan oleh oknum yang menyamarkan diri sebagai penumpang.

“Tadi ada masalah apa, Mas?” tanyaku padanya saat kena gilir pengecekan, merujuk kejadian di Rawamangun sebelum pemberangkatan.

“Ada penumpang nggateli (menjengkelkan) Mas. Mosok, sudah bayar tiga bangku yang dipesen tapi ngga jadi berangkat. Tadi satu orang sempat datang tapi terus izin pulang, katanya dompet ketinggalan. Eh, pas mau berangkat, tak satupun  yang nongol dan HP-nya ngga bisa dihubungi.” bebernya. “Mau kita tinggal, ngga enak, mereka sudah bayar mahal. Kita tunggu, malah diomelin penumpang lain. Shantika dicap ngga tepat waktu-lah!” 

Nah loh? Jangan-jangan itu salah satu black campaign yang dirancang Mr. X untuk menjatuhkan kondite PO yang dianggap pesaing? Entahlah…

Satu dari empat spesies “Kebo” (julukan yang lumrah untuk Scania-nya Shantika) ini melanjutkan kiprah di belantika Pantura. “Sang Libero” pun meneruskan tongkat estafet kegarangan pendahulunya. Bus dengan transmisi 9 speed ini melaju lugas, tandas, trengginas dan mengganas. Always, on fire. Sayang, aku lupa mengorek siapa dua penggawa di belakang layar kaca ini.

Tak butuh lama, gocekan gesitnya menjungkalkan  Dedy Jaya yang memanggul bodi Columbus, Sinar Jaya New Celcius, PO Handoyo bergambar Macan dengan kaca dual mode. Menyusul kemudian disungkurkannya pusingan ban duet Dedy Jaya, yang dua-duanya berdandan ala New Travego, masing-masing dibangun oleh New Armada dan Tri Sakti.

Gumarang Jaya dengan “theatre glass”nya disikut dan belum puas juga, di daerah Larangan, Losari mencundangi tiga sekaligus chasis Hino AK8 “fresh from oven” yang hendak dikirim ke karoseri wetan.

Mengantongi berita terjadi kekusutan lalu lintas di daerah Tegalgubug, bus penghubung Kalideres-Jembatan Dua-Rawamangun-Jepara ini ingkar dari pakem, menyingkat tempo dengan melakukan napak tilas “jalur sutra” Deandels. Dipilihlah special stage Losarang-Cirebon via Karangampel.

Usai membayar retribusi di Terminal Sindang, Indramayu, hujan pun turun, menuntaskan dahaga para penghuni bumi yang sekian bulan hanya bisa menengadah, menanti kemurahan langit untuk menyiramkan tetes-tetes air kehidupan.

Menyusuri jalan gelap, sunyi lagi mencekam, serta tanpa kawan sejenis seiring selintasan, mengurangi serunya permainan bagus yang diumbar. Tak ada elu, tak rame..

Pesona seribu pijar cahaya lampu dari kilang minyak Balongan yang bagaikan gemerlap kehidupan malam kota metropolis, tak mampu membelalakkan mataku untuk terus on. Bulir-bulir rinai yang menganak sungai di dinding kaca, seolah mewartakan bahwa udara di luar begitu dingin beku,  berbalikan dengan “wisma satu malam” ini yang menawarkan kehangatan, kedamaian serta kesyahduan suasana.

Aku pun meringkuk dalam peraduan (lagi).

S (c) A N (i a) J A Y A (2)

Posted on


Masih…Hari Ke- 29, Bulan Ke-9

“Kepada penumpang Shantika jurusan Kudus-Jepara, diharapkan menempati tempat duduknya, karena bus siap diberangkatkan!”

Announcement dari corong speaker itulah yang memenggal obrolan tripartit dengan Mas Mulyani serta Mas Adhie Baguer, yang tak sengaja berjumpa usai aku melunasi kewajiban ibadah. Member BMC tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. Hehe…

Dengan tertib, beberapa sewa melenggang masuk ke dalam perut Raja Kalajengking, dan aku pun luruh di dalamnya. Kurebahkan letih pada sandaran jok garapan PT Rimba Kencana. Kuselonjorkan kaki bertumpu atap toilet tengah, bukan lagi pada landasan legrest. Wah…PW tenan. Tapi tak sopan ah!

Menyesal rasanya aku telat menggilir bus ber-cc gigantik ini, sehingga kesan wah dan ekslusif mulai layu seiring ribuan penumpang yang telah diangkutnya memangkas orisinalitas armada yang diukir pengrajin Tentrem. Geladak kabin yang bermandikan sinaran lampu LED tak lagi keunggulan estetika yang layak ditakjubi. Bukan lagi nilai kemewahan lantaran body builder lain telah mengadopsinya.

Dari balik kaca depan, kusaksikan satu persatu teman-teman setrayek beringsut, meninggalkan bekas tapak ban di pelataran terminal. Kemudian dibuntuti “Legiun Mangkunegaran”, Gunung Mulia dan Safari. Selain busku, hanya dua makhluk yang tersisa, yakni Sinar Jaya Celcius kelas ekonomi yang diperpalkan karena okupansi tak memenuhi target, serta  LE-236 line Bandung-Bukit Tinggi.

Detik demi detik tiada henti bergulir, tapi tak ada tanda-tanda  Shantika bernomor jersey 09 ini dilepas keberangkatannya. Derap kehidupan stanplat yang diampu Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur sayup-sayup menghilang, ditinggal pergi para visitor-nya.

Di menit 26 lepas dari angka 19, akhirnya kesabaran salah satu penumpang pecah, berubah wujud menjadi angkara murka. Didampratnya para “ABK” dan pengurus yang tengah berdiskusi di sekitar ruang kemudi, yang aku sendiri tidak tahu ada kesulitan apa sehingga mimik muka mereka terlihat serius.

“Eh, nunggu apa kalian ini?” gebraknya penuh geram. “Ngomongnya jam tujuh berangkat. Mana buktinya?”

“Maaf, Pak, ini ada penumpang belum datang, mohon pengertiannya,” pinta asisten sopir.

“Apa begini caranya, demi satu orang, seisi bus kalian korbankan? Ha!!!” sergahnya dengan nada meninggi.

Mereka semua membisu, dan sejurus kemudian…

“Sebenarnya bisa saja kita tinggal Pak, tapi kita ngga enak, dia sudah bayar,” sahut karyawan bagian ticketing.

“Eh, kalian jangan membantah dan macam-macam ya! Saya ini tentara, ngerti!!!” bungkam pria paruh baya tersebut, seolah masa bodoh dengan akar kecarut-marutan yang terjadi.

Duh Gusti…

Aku tak men-judge bahwa lontaran protes yang ditujukan frontal kepada kru atas buruknya pelayanan yang dirasai itu keliru. Itu hak penumpang, yang telah teken kontrak dengan membarter sekian rupiah miliknya untuk menyetujui term of condition yang akan memayungi legalitas mereka sepanjang perjalanan.

Tapi, alangkah indahnya bila nota keberatan tersebut disampaikan dengan bahasa yang santun, tindak tanduk nan elegan serta cara yang lebih nguwongke. Toh sopir, kenek, personel agen adalah orang kecil, bukan pengambil keputusan atas permasalahan yang terjadi. Tak sepatutnya caci maki dan umpatan dialamatkan kepada mereka.

Namun sangat disayangkan, di tengah amarah akibat kekecewaan, ada yang menggadaikan kegagahan profesi serta jabatan yang disandang untuk mengerdilkan pihak yang dituding bersalah. Bukankah itu sekedar properti duniawi, titipan Sang Pencipta untuk senantiasa dijaga amanah-Nya? Gampang saja bagi-Nya untuk mencabut kemudian menistakan kita di hadapan manusia.

Ah, bangsa ini memang sedang didera krisis tata krama serta tuna budi pekerti.

Entah karena teror penumpang, ataukah “manajemen kecil” telah mengetok palu untuk tak mengindahkan si pengacau jadwal, tak lama berselang, Griffin dari Dataran Skandinavia ini menggunting pita start. Angan-anganku untuk menikmati “derby Muria” pupus, muskil rasanya mengejar ketertinggalan 30 menit dari rival-rivalnya. Dapur pacu berkapasitas 12 liter tetap keteteran menembus kepadatan jalan, demi memangkas jarak dengan kloter di depannya. Dan aku setengah yakin, andai para driver nanti sungguh-sungguh memaksimalkan daya gedor hulu ledaknya, tak bakalan lagi ketemu lawan sebanding bersamaan dengan menghilangnya jamnya Kudus-an.

Saat hendak menjilati aspal fly over Wiyoto Wiyono, pun dihadiahi kemacetan panjang. Gara-garanya, menjelang gate in Pedati, bus kota P.57 Blok M-Pulogadung mogok, mencaplok satu lajur dan berandil atas merayapnya lalu lintas usai bubaran kerja di sekitar kawasan Prumpung.

“Sehasta sisa” dari ruas layang Tanjung Priok-Cawang, disambung pangkal tol Jakarta-Cikampek, sedikit menyiksa greget bus yang malam itu hanya mampu mengkaryakan 23 seat-nya. Crowded-nya pengguna jalan, serta ketersendatan akibat pembongkaran gerbang Jatibening menahan nafsu kaki-kainya untuk lari lintang pukang. Seakan tak bangga kalau hanya pamer asap di muka Putra RemajaAB 7278 AK Jambi-Jogja-Solo di km 5.

Barulah lepas dari interchange Bekasi Timur, keluarlah top performance dari semburan tungku pembakaran tipe DC 12 04 Euro 3. Determinasi begitu meluap-meluap, high power menggenang di permukaan, enam batang silinder berkonfigurasi inline benar-benar diforsir kinerjanya oleh driver pinggir. Pengereman bukanlah orientasi utama di saat terhalang kendaraan. Namun diakali dengan aksi selinap sana selinap sini, zig zag, sesekali menyabet bahu jalan, menyibak hiruk pikuk jalan bebas hambatan warisan Bapak Pembangunan kita tercinta, HM Soeharto.

Tak ayal, bus-bus dengan speed medioker bertumbangan, nyaris tanpa perlawanan. Dewi Sri Jakarta-Pekalongan yang mengenakan kemben bikinan Equator, Prima Jasa kelas Ekonomi Bekasi-Garut, Gapuraning Rahayu Z 7765 TB jurusan Kalideres-Wangon serta Sinar Jaya 33G bukanlah oposan yang sepadan untuk men-tackling karir politik Scorpion King ber-STNK H 1511 CG ini.

Meski masih setia memajang keaslian nama lahir, moda darat yang kendalinya dikekang oleh Bangun Perkasa ini kian tak terbendung, di atas angin dan unggul segala-galanya dibanding bus-bus alumnus 1900 alias “angkatan waktu isya”.  Menang dalam kapasitas reaktor scania generasi 4, penyediaan cairan nutrisi yang melimpah ruah, kecakapan pramudi dalam me-menej output 360 tenaga kuda, sera gertak sambal dari anggota korps baju doreng menjadi perangkai cambuk yang sempurna bagi pengemudi untuk menghela armada secepat-cepatnya.

Budiman line Tangerang-Pangandaran,  bus “pelat merah” Damri kode 4421 penghubung koridor Bandara Soetta-Purwakarta, Dedy Jaya G 1410 CG, angkutan karyawan Restu RA-01, satu armada pariwisata yang berkandang di Bandung, Sumber Alam berjubah Nucleus 3, Menara Jaya Grosera Cengkareng-Pekalongan, laskar Priangan Gapuraning Rahayu  Z 7896 TB, Pakar Utama Selendang Setra D 7886 AF, Dewi Sri G 1417 GE, serta PO dari Tasik, Budiman Mercy Don King DS-041 Bekasi-Pangandaran adalah sederet mangsa yang tersandung akibat tuah “stiker nyeleneh” K380 IB Series yang menampang di lambung kanan-kiri.

Meminjam jargon “dua tetangga lima langkah dari rumah”, It’s Showtime and Wheel Crazy, sungguh-sungguh diperagakan di etape Cawang-Dawuan. Hegemoni, dominasi, agregasi adalah paduan tiga kata untuk melukiskan kedigdayaan Shantika dengan prefiks “New” ini.  

S (c) A N (i a) J A Y A (1)

Posted on


Hari Ke- 29, Bulan Ke-9

“Mau kemana, Mas?” sambut seorang calo resmi berseragam PO Haryanto tergopoh-gopoh menghampiri, saat melihatku melangkah tergesa-gesa seturunnya dari taksi roda dua.

“Kudus? Jepara? Pati?” berbekal ilmu yang dipelajari dari bangku terminal, ia menjajal kapasitasnya sebagai marketing handal.

“Kelet? Bangsri? Atau Tayu?” lanjutnya seakan tanpa menyela nafas, biarpun aku meresponnya dengan sikap acuh tak acuh.

Hebat! Apakah perantara tiket itu bisa menebak bahwa bentuk serta lekuk wajahku khas ras Murianesia, sehingga aku digiring untuk duduk di dalam armada yang pantas disemati titel Appetite for Acceleration itu?

“Mobilnya baru, Mas. Dapat snack dan makan. Kalau iya, saya diskon, cukup 110 saja!” bombardirnya, berharap aku terkulai ke dalam jerat iming-imingnya.

Aku yang sedari tadi hanya sambil lalu, akhirnya tak tahan buka suara.

Busnya Pak Gi’ apa Pak Topo?” aku balik bertanya.

“Lho…kenal, Mas?”

“Mosok hampir tiap Minggu naik Haryanto, ngga tahu mereka?” balasku meredam keagresifannya.

“Pak Gi’, Mas.” ujarnya tersipu.

Jujur saja, tak ada gairah untuk bermalam di kamar VVIP The Titans, meski “nilai jual” Pak Sugiarto tetaplah lestari memikat. Silent Striker, demikianlah kalau aku boleh menjulukinya. Sosok tenang, kalem, low profile, namun diam-diam, galak dan merajalela di atas main court Pantura saat mengemban tugas sebagai goalgetter bagi skuad HR-07 yang dibelanya.

Pasalnya, andai Kamis malam itu aku turut beliau, — menghitung siklus dua harian — pas mengarah ke barat Hari Minggu nanti, kemungkinan besar akan bersua kembali dengan B 7032 VGA. Ngga ah, semesta pinggir laut Jawa begitu luas, terasa sempit kalau aku mengarunginya dengan modul penjelajah yang sama. Kutepis nama PO Haryanto sebagai nominator figuran fragmen wira-wiriku kali ini..

“Tujuan saya ke Rembang, Mas. Ini mau ke Nusantara.” tolakku mengelabuinya, walaupun aku sendiri masih menggantungkan nasib soal HS berapa yang menggawangi NS-19. Kalau misal berjodoh dengan scania usang namun terbungkus busana baru model Jetbus, bolehlah.

Bukan jajaran lapak agen yang kutuju, melainkan area ngetem yang membujur dari  lajur satu hingga tiga. Adakah selebritis baru pesisir timur yang bispak alias bisa dipakai?

Di lintasan satu, dari belakang berbaris Shantika Scania, Shantika Masterbus, kemudian di depannya hadir Muji Jaya MD-99. Di row kedua adalah bus yang aku emohi, Blue Titans, yang bumper guard-nya nyaris menyium pantat Irizar palsu, HS 151.

Dan di tengah arena, hadir Super Eksekutif 01 serta ah,…percuma! NS-19 didelegasikan kepada HS 218, New Marcopolo MB OH 1526 bersuspensi udara. Kudiskualifikasi saja, apa bedanya dengan NS-39 Pulogadung-Cepu yang lebih mudaan lagi, HS 222? Kurang nyeni ah

Kini opsi meruncing antara tiga varian chasis, OH 1525-nya Mas David Muji Jaya, OH 1526 ataukah K124 IB, keduanya punya PO Shantika?

“Sudah ah, ngapain bingung? Cepet sono gih bungkus Scania. Ngga malu apa sama status penglajo mingguan, tapi ngga pernah mengelus-elus singa melet yang dipiara Shantika?” setan ting ting yang bersemayam di nadiku angkat bicara, seraya memantik korek api lalu menyalakan sumbu kompor.

Gimana ya? Iya…enggaengga…iya…Sebentar…sebentar!

Hmm, apa balik ke pelukan bidak Pak Hans saja? Toh, tak bisa dibantah oleh hati kecilku, jalan lurusku ya tetaplah NS-19 Rawamangun-Lasem. Lebih simpel, murah, praktis, direct flight tanpa transit. Andai kuamalkan, pasti bisa! Ini bukan weekend, penumpang lazimnya sepi, kursi-kursi meradang menunggu penyewa.

Aku masih termangu di ruang tunggu.

Satu menit…dua menit…hingga lima menit kemudian, laboratorium analisisku masih bergolak hebat, menentukan mana yang lebih mendatangkan manfaat untuk kupertaruhkan.

Bingung…bingung…kumemikirnya!

“Hei, cepet!!! Nunggu apalagi? Ini hampir setengah tujuh, sebentar lagi pada berangkat! Lagian kamu juga belum salat!!!” bentaknya dengan lantang, mengagetkan kegamanganku. 

“Eh…iya…iya deh, gitu aja pake cara militer, kaya rezim Orba aja!” aku gelagapan dibuatnya.

“Tapi…, hei, turunan iblis macam apa pula kau ini! Kok ngasih nasehat kepada manusia untuk tak melalaikan Tuhan-nya! Lupa jobdesk  ya?” batinku tergelak tawa.

What “the kindly devils” say, that’s my way. Karena kebodohanku, premis itulah yang terkadang kujadikan acuan di kala bimbang menghadapi kompleksitas ragam pilihan pra-turing.  

“Oke…oke…Ana sami’na wa atha’ sama ente deh, Gan!” tundukku taklid kepada si penggoda iman itu.

Kuayunkan kaki menuju salah satu counter tiket di deretan tengah dari bus port yang relatif steril dari penjaja asongan itu.

“Ke Kudus masih ada, Bu?” tanyaku kepada ibu berkerudung lebar menjuntai, seolah merefleksikan bahwa PO yang diageninya ber-platform agamis.

“Saya kasih Scania saja ya, Mas, ini banyak yang kosong,” bimbingnya, sambil menyodorkan sket tempat duduk. Lho, dia kok tahu mauku ya?

Saat kutelisik, memang benar adanya. Hanya baris 1 s.d 4 yang dibold, selebihnya cuma segelintir contrengan di deret belakang.

“Hmm…belakang toilet saja, Bu.” request-ku, supaya pandangan meluas ke depan, disamping adanya alasan klasik, dua bangku kembar dempet (nomor 19-20) tersebut belum laku. Siapa tahu nanti sebelahku melompong, buy one get one free, asaku.

“Seratus lima puluh, Mas,” bilangnya saat menyiapkan secarik tiket sebagai bukti sah transaksi.

“Ngga boleh kurang tuh, Bu?” negoku. “Sepi nih…”

“Ya sudah Mas, 140 saja, ngga bisa kurang lagi.” Aku mengangguk, dan tercapailah kemufakatan.

 “Busnya paling belakang ya, Mas! Sleret (cat) biru, di kaca depan ada angka 09.” terangnya.

Gen kenakalanku memberontak. “Ngga usah ditunjukin detail gitu ah, Bu. Seawam-awamnya busmania seperti saya ini juga ngga bakalan susah mencari. Pak Lurah Pulogadung bisa huekkk…sorrr…lagi, kalau tahu warganya yang seringkali mangkir diundang cangkrukan di warung Pakde Poniman ini, ngga bisa bedain mana Scania mana  Mercy.  (Hehe…Piss ya Cin!)