Latest Event Updates

Maafkanlah, Bila Ceritaku Suatu Dosa… (1)

Posted on


Aku lupa kapan persisnya peristiwa itu terjadi. Namun rekaman alur kisah tragis itu masih betah bersemayam di sela-sela lipatan otakku.

***

“Bakar!!! Bakar!!! Bakar saja lembar catatan itu!” bisiknya agitatif. “Kalau kau masih was-was, satukan abunya, kemas ke dalam peti mati dan kunci rapat-rapat. Lalu tenggelamkan ke dasar lautan yang terdalam. Yakinlah, yang demikian bisa meluruhlenyapkan bercak hitam itu agar tak lagi mengotori dinding ingatanmu.”

Hasutan setan sungguh-sungguh memburamkan keberadaban dan nalar sehatku sebagai makhluk berakal, tak lama setelah babak pilu di atas panggung jalan raya teradegankan, kira-kira lima tahun silam.

Barangkali, bukan aku sendiri yang memiliki “rencana tak senonoh” seperti itu. Ada dua puluhan orang yang duduk dalam satu bus bersamaku. Bisa jadi, mereka punya pemikiran yang sama dan sepaham untuk memberedel kasus itu selamanya.

Meski dengan kadar peran yang berbeda – sebutlah ada si pelaku utama, aktor figuran maupun hanya penyaksi — namun kami secara sadar mengakui, semuanya punya andil atas terselenggaranya fragmen pencederaan nilai-nilai kemanusiaan.

We must keep this secret so tight,” demikianlah kesepakatan imajiner kami kala itu, untuk menyuci tangan dari pertanggungjawaban dunia atas tragedi keji dan amoral.

Bukan maksudku membelot dari konsensus busuk dengan membeberkan rahasia yang mesti dijaga berjamaah. Seiring melenggangnya waktu, aku tetap tak sanggup menghapus aib kehidupan itu sepenuhnya. Ada kalanya, bayang-bayang kehinaan keinsanan kami menari-nari di depan pelupuk mata, mencoreng martabat kami sebagai hamba Tuhan yang berderajat paling tinggi.

“Aku dan mereka ternyata kerdil dan picik, tak punya nurani untuk berempati terhadap sesamanya…” sesalku kini.

Jujur, tak ada kemauan hati untuk mencari siapa yang patut disalahkan, siapa dalangnya, siapa provokatornya dan siapa pula yang menjadi korban, toh…kejadian itu sudah lama berlalu. Andai hendak dikuak, tak ada lagi barang bukti yang tersisa, raib serta musnah dipetieskan guliran masa.

Sebenarnya aku juga malu menjelenterehkan jiwa-jiwa pengecut yang bersembunyi di dada kami.  Namun seberkas harapan mencuat sebelum aku berbulat hati meniatkan diri membuka borok ini. Yakni, (semoga) ada pesan dan hikmah yang bisa digali, ditadaburi dan selanjutnya dihayati, khususnya demi kebaikan diri sendiri serta entitas pengguna jalan pada umumnya.

Demikianlah mukadimah yang mendasari gerak jari-jemariku untuk berbagi cerita sarat dosa dan yang pasti, akan menuai cibiran ini.

***

“Kalibanteng…Kalibanteng…yang turun harap bersiap-siap!” seru kenek santun, menciptakan sinyal alert bagi beberapa penumpang yang memegang tiket dengan tujuan Kota Atlas.

Bergegas dua atau tiga orang melantai, setelah gerak keenam roda dikunci cengkeraman lining brake bus bervarian OH-1521, tak jauh dari bundaran Kalibanteng. Sementara sebagian yang lain terusik dari peraduannya, tersengat oleh pijar lampu ruangan yang menusuk mata. Tak terkecuali juga aku, yang bersinggasana di baris keempat sisi jendela kiri.

“Wah, hampir setengah dua. Andaikan jalanan lancar, setidaknya pas azan subuh, aku bisa menginjak tanah kelahiranku kembali…” gumamku, saat kutatap display penanda waktu di pojok kiri kabin.

Ngreeeng….ngreeeng….ngreeeng…

Deru knalpot bersenandung riang, seirama ekspresi hatiku, memecah keheningan dinihari di belahan utara ibukota Jawa Tengah. Ditapakinya jalan arteri Pelabuhan Tanjung Mas, sebagai by pass penyingkat jarak untuk menembus kawasan Semarang timur. Dinaungi hamparan langit yang berselimutkan mendung tipis, lalu lintas benar-benar sepi, tak ubahnya walk alone di kota mati. Tak perlu tempo lama, kinerja dapur pacu OM-366 LA mumpuni untuk dikonversi oleh pedal akselerasi menuju kecepatan jelajah ideal bagi moda darat lintas propinsi.

Di rentang 80-100 km/ jam, itulah rabaanku berkaca pada siulan putaran turbo mesin dan simfoni hembusan angin yang terbelah oleh efek aerodinamis tubuh Setra Selendang garapan Adi Putro.

Baru saja para penumpang hendak merapatkan selimut, meneruskan pergumulan melawan hawa dingin yang dibangun perangkat air conditioned buatan Denso, sayup-sayup terdengar raungan muffler sepeda motor yang sedang ngebut, semakin lama semakin jelas mendekat ke arah bus. Penunggang roda dua yang berposisi berlawanan arah dengan armada kami itu kemudian mengurangi kecepatan, sambil membleyer-bleyer tuas gas, menghasilkan intonasi yang memekakkan telinga. Dari suaranya, aku bisa menebak, itu bukanlah knalpot standar, melainkan bobokan layaknya motor yang dipakai buat balapan liar.

Saat aku tengah berpikir tentang keberengsekan tengah malam  itu, tiba-tiba….

“Awas…awas, Nyo!!! Awas…!!! Motor itu mau muter!” pekik lantang Mas Kenek dengan terperanjat, terbata dan tergagap menghadapi “gelagat di luar dugaan” yang terjadi di depannya.

(Nyo : Panggilan kenek kepada sopir – pen)

Bersamaan itu pula,

Mati aku!? Goblok!!! Anak ini maunya apa?” maki Pak Sopir tak kalah tercengang dan kaget. Wajahnya seketika memucat dan gerak tubuhnya merefleksikan kepanikan, meski dia sendiri berikhtiar melawannya agar tetap tenang.

Cesss…cesss….cesss….

Dengan refleks dan spontanitas, sistem pneumatic brake diforsir bekerja rodi mengurangi laju kecepatan, meski imbasnya bus ajrut-ajrutan, terhuyung-huyung dan oleng kanan-kiri kebingungan saat melakukan perlambatan dibarengi aksi ngeles, seolah berupaya menghindari tabrakan frontal.

“Ya Allah!!! Allahu Akbar!!!…Allahu Akbar!” sontak sebagian besar penumpang terbangun dan langsung meratap pasrah, menyikapi situasi yang genting serta menegangkan.

Teettt….teettt….teettttttt….

Suara klakson menyalak panjang, namun terlambat, sebelum akhirnya…

Brakkk!!!! 

Mimpi Yang Terbeli (4)

Posted on Updated on


Kawasan Kledung Pass, Desa Reco, yang merupakan busur tertinggi etape Wonosobo-Temanggung, menghamparkan panorama alam yang begitu elok. Dijepit “gunung kembar”, Sindoro dan Sumbing, dengan puncak berbentuk kerucut yang tengah merah merona memantulkan terpaan surya pagi dari cakrawala timur. Wow…magnificient Indonesia!!!

Punggung jalan yang berubah menurun, dikombi tikungan tajam kiri-kanan, jadi ajang driver show off ketrampilannya. Bus yang punya 25 kapling bangku itu “terbang” cepat. Jalanan sempit tak merepotkan langkahnya dalam menepikan mikro bus Barito di chicane Kewadungan Jurang, dan berlanjut menggeser posisi PO Cebong Jaya di Paponan.

Parakan. Kotanya Mas Yeremia Adi.

Suasana pagi begitu cerah. Geliat kehidupan kecamatan kecil di lereng Sumbing itu mulai terasa. Aktivitas warga  ramai memeriahkan sudut-sudut pasar tradisional Parakan. Busku hanya berlari-lari kecil mengitari kota plural namun sejuk, damai dan toleran. Menjelang tugu ikon Kota Parakan, bertemu muka dengan Handoyo AA 1453 DA. Aku menebak,  New Celcius itu adalah delegasi jurusan Malang-Purwokerto.

Tiba-tiba, awang-awang dipenuhi lautan awan putih yang bergulung-gulung. Karena “tak ada pilihan lain”, Rejeki Baru pun gagah berani menabraknya. Rupanya kabut tebal turun. Dalam hitungan menit, cuaca berubah drastis. Langit seketika redup, matahari seakan ditelan kepekatan halimun. Jarak penglihatan ke depan hanya sekitar 50 meter-an, itupun sudah disokong penyalaan lampu besar serta foglamp. Dinding kaca luar berembun masif, pandangan tak lagi leluasa diedarkan. Untuk melihat deretan rumah di pinggir jalan aku tak kuasa.

5.45

Bahkan, pusat kota Temanggung pun tak bisa kukenali lantaran “mega putih” masih mengurung. Hanya jam yang bisa kucatat saat menggeluti kota sentra tembakau nasional itu.

Kabut berangsur sirna di daerah Kranggan. Meski tinggal sejengkal lagi, rasa kantuk tak kuasa kulawan. Aku pun tidur-tidur ayam, dan terbangun di daerah Payaman.

06.28

Setelah “ngeblong” kiri lampu merah yang  “mengawinkan” jalan lingkar Soekarno-Hatta dan arah kota, bus berlivery tribal tanaman bersulur menerobos pintu keluar sub Terminal Kebonpolo, Magelang. Dan itulah penanda garis finish perjalanan interprovince bus Rejeki Baru, sekaligus titik langsiran untuk penumpang  Jogja serta Magelang Kota.

“Ibu/ Bapak mau kemana?” satu persatu sewa ditanya oleh petugas kantor cabang Magelang untuk mengetahui tujuan akhir mereka.

“Mas mau kemana?” giliranku “kena investigasi”.

“Jogja,”

“Silahkan naik mobil hitam ya, Mas.”

“Hmm…Diantar sampai tempat kan, Mas?”

“Rumah Mas daerah mana?”

“Seputaran Jl. Kaliurang Km.11”

“Saged (bisa) Mas, nanti bilang sama sopir, ya!”

Dengan hati setengah ikhlas, kutinggalkan memorable bus yang telah berjibaku sepanjang jarak 500-an km, dan menguras waktu tempuh selama 13 jam. PO wisata yang meninggikan service, kenyamanan serta feel excitement dalam memuliakan para “pelaku acara darmawisata” yang diemongnya.

Aku pun jadi maklum, mengerti dan kemudian mengamini, mengapa Lek Ponirin Similikithi dengan kesadaraan tinggi dan faktor kesengajaan, menenggerkan Rejeki Baru di pucuk pimpinan klasemen Liga Super Eksekutif (SE) yang tengah digelar. Memang undebatable lah…Hehe…

Sambil menanti estafet paket antara big bus dengan kendaraan feeder, kuhirup dalam-dalam udara hangat alam Magelang. Kukendorkan otot-otot raga yang semalaman terkungkung di dalam “penjara mewah” eklusifitas sebuah  armada travel.

Hmm…andaikan tak ada pembatalan tiket, nyaris saja aku gagal mengejawantahkan ” iming-iming” tentang cerita manis mereka dalam mengecap layanan super eksekutif Rejeki Baru. Keberuntungan ternyata lebih memihakku. Aku diloloskan dari lubang jarum, dan akhirnya bisa merengkuh buruan dalam mengincar spesies langka lagi unik di dalam dunia per-bus-an tanah air.

Rejeki Baru, ini baru (namanya) rejeki….

IMG00309-20120512-0602

“Mas, monggo naik, siap berangkat!” colek Mas Sopir membuyarkan lamunanku.

Kuayunkan telapak kaki mendekat Isuzu Panther ber-STNK AA 8532 QB, selaku armada limpahan.

IMG00315-20120512-0607

Kuungkit handle pintu tengah untuk mengangkangi “tahta anyar”, seraya batinku bergumam riang, “Mbah Kung, I’m coming….”

-Setengah Tamat-

Mimpi Yang Terbeli (3)

Posted on Updated on


Byar…

Pendar cahaya deretan lampu LED yang menempel di langit-langit menyentil kelopak mata.

Olala…ternyata dalam jarak “sehasta” dari Pananjung, Rejeki Baru menepi. Handbrake diaktifkan saat tapak roda menginjak parkiran rumah makan yang terletak di sisi kanan jalan.

Dari baliho, tertera nama “Ampera” dan disertakan alamat Jl. Bandung-Tasikmalaya Km 47, Limbangan, Garut.

IMG00307-20120511-2145

Kesan pertama, sebuah restoran yang tidak terlalu besar, dengan daya tampung ± 100 tamu.  Identitas bangunan berasitektur Sunda terlihat dari model atap julang ngapak, dengan daun kawung (enau) sebagai gentengnya. Di belakang ruang utama, terdapat saung-saung yang “mengapung” di atas kolam ikan.

Soal kebersihan, aroma masakan, landscape taman, keramahan pramusaji, layanan prasmanan, serta tata ruang cukup menggelorakan selera makan.

IMG00304-20120511-2139

Kuracik menu nasi putih, sayur asem, bakwan jagung, sambal goreng kentang mustofa, pepes ikan mas, sambal bajak plus lalapan, serta teh tawar sebagai penyedia nutrisi tubuh malam itu.

IMG00303-20120511-2131

“Semuanya Rp19.500,00, Mas.” kata Bapak bagian kasir, setelah mengaudit apa-apa saja yang aku comot.

22.10

45 menit berlalu, para penumpang telah siaga kembali di tempat muasal. Bus yang menjunjung slogan “melayani lebih sungguh” mengangkat kait jangkar. Tak lama setelah menapak jalan nasional, langsung mengekor bus wisata PO Efisiensi AA 1441 CM serta PO Damri 3383.

Bertiga berparade di antara rombongan truk dan mobil kecil, bahkan bergotong-royong dalam mengasapi bus Budiman Cikarang-Tasik di wilayah Cibatu, Kersamanah.

Bila aku komparasi, traffic pantai selatan tak seramai pantai utara. Namun lebar jalan yang tak seberapa membuat usaha menyalip sebuah motor pun butuh upaya keras.

Pangkalan, Citeras, tepatnya di rumah makan Rahayu 2, terlihat Doa Ibu Setra Adi Putro sedang mengakomodir  para sewa dalam menunaikan rutinitas mengisi perut.

Gereget dan fighting spirit pramudi tengah muncul ke permukaan. Cabikan kaki kanan dalam memainkan pedal gas mendorong reaktor dari marga RK8 menyuguhkan performa apiknya. Aset “pelat merah” R 1564 AD jurusan Jakarta-Cilacap dipaksa melempar handuk di  Cipatik.

Sayang, mataku tak bisa diajak kompromi untuk lebih lama mencumbui eksotisme tlatah Priangan Timur. Tak bisa dipungkiri, sebenarnya kenyamanan armada adalah seteru penggiat turing, hanya jadi pemindah kasur empuk di rumah ke atas roda, menurunkan value of travelling lantaran niatan menikmati ragam  kehidupan di sekeliling jalan raya terpangkas kegiatan tidur.

Malangbong hingga puncak Gentong, masih sempat kurasai level kesulitannya, di tengah kesadaran yang menyurut.

Sebelum akhirnya aku terlelap dalam buaian lima lapis bilah semi elliptical leaf spring, komponen penyusun sistem shock absorber.

00.46

“Bapak…Ibu…Monggo, bagi yang ingin ke belakang, kami persilahkan!” sayup-sayup suara dari Mas Kenek mengusik aksi meremku.

Kuamati kanan kiri, banyak “penduduk” mulai meninggalkan tahtanya, sementara bus rehat di sebuah areal SPBU di daerah Wangon.

Kendala bagi bus yang tidak menyediakan fasilitas toilet built in, sehingga ada acara time out di tengah perjalanan, memberi kesempatan kepada penumpang menyelesaikan hajat biologis mereka.

Break selama 10 menit, bus yang ditukangi taipan dari negeri Magelang itu mengaspal kembali. Silver Class berusaha mendekati Gapuraning Rahayu Evolution yang diintip dari kejauhan. Entah berapa lama gerakan approaching ke buritan Z 7991 TA itu diperagakan, hingga aku terkantuk-kantuk dan selanjutnya meneruskan mimpi.

04.38

Lirih kumandang azan subuh menelusup dinding telinga. Segera kubuka mata, mengedarkan pandangan ke sekitar. Hari masih berselimutkan gelap, sementara bus sedang berhenti di pojok pertigaan jalan nan sepi. Kru sibuk membongkar sebagian isi bagasi.

Samar kulihat plang toko obat “Bethesda”, Jl. Bhayangkara, yang ternyata adalah kantor chapter Kota Wonosobo.  

Huft…hampir empat jam aku melewatkan momem-momen indah  perjalanan. Rugi…padahal aku belum kenal mendalam jalur selatan Jabar dan jalur tengah Jateng. Kapan lagi aku berkesempatan mengembara ke rute yang sama sekali tak menyinggung peta PJKA yang kulakoni tiap pekan?

Sepertiga kursi telah ditinggalkan penghuninya, termasuk ibu-ibu yang duduk di sebelahku, sebelum produk Jepang itu melanjutkan sisa tripnya.

Menggilas jalanan kota kabupaten pemangku Dieng Plateau, melewati Terminal Mendolo yang lagi memajang Damri bergaun Skania jahitan Restu Ibu di “teras depan”, suksesor Marcopolo OH-1525 yang telah ditake over PO Haryanto itu, bersiap kerja rodi.

Yes… it’s showtime, ready for maiden voyage jalur Wonosobo-Temanggung-Magelang. Itulah pasal numero uno mengapa aku lebih memilih Rejeki Baru, memadamkan komporan Koh Hary Cendana Intercooler untuk menggagahi armada Evonext, duta baru Pahala Kencana line Jogja.

Hiking track Kertek-Kledung sepanjang 12 km jadi special stage untuk menguji durability mesin diesel empat langkah yang disangga enam silinder in line. Momen puntir sebesar 76 kgm pada putaran 1500 rpm pun terengah-terengah menjinakannya.

Lintasan berat berupa tanjakan landai memanjang berdaulat mendongkrak tingkat kebisingan di dalam kabin oleh raungan engine 7.684 cc yang menderu hebat.

Yang membuat takjub, setelah menyalip medium bus bertagline Jamaica, tampak di muka iring-iringan dua truk trailer yang hanya berkonfigurasi empat sumbu roda menggendong kontainer 40 feet. Ck…ck….ck…

Aku pun membayangkan kondisi bus bumel Purwokerto-Semarang yang ala kadarnya, minim perawatan dan malas meremajakan armada-armadanya, sementara tiap hari mesti berperang dengan medan yang penuh aral lagi maut. Benar-benar gede nyali dan nekat tingkat tinggi…

Pantas saja, untuk lajur yang mengarah ke barat disediakan wahana penyelamat, sebagai antisipasi bagi kendaraan yang mengalami braking failure. “Akal-akalan” yang persis sama diterapkan Jasa Marga Cabang Semarang dalam melindungi pengguna jasanya saat menuruni tol Jatingaleh-Muktiharjo.

Mimpi Yang Terbeli (2)

Posted on Updated on


17.16

Tak lama setelah “kuevakuasi” tas backpacker di bawah jok, moda travel dengan arrangement seat sekelas bus super eksekutif itu memulai regular flight menuju bumi Ngayogyakarta Hadiningrat.

Wajah-wajah gedongan serta kaum borjuis angkatan 50-60an hampir memenuhi isi kabin. Sekelompok masyarakat yang tak pening dengan persoalan budget perjalanan, tak perlu jelimet menghitung mengapa pentarifan bus travel ini mahal, ataupun risau dengan sentimen negatif pasar yang bisa melambungkan harga minyak dunia.

Kusadari kini, aku turut berjejal di dalamnya lantaran dihinggapi penyakit kejiwaan akut yang berjuluk “sok tajir”. Hehe…

Urusan perut langsung diunggulkan sebagai prioritas pertama, dengan didistribusikannya snack yang terdiri dari roti coklat merek “Home Made” plus Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) volume 600 ml.

Tak ketinggalan, pemanjaan indera penglihatan dan pendengaran diunggah. Lagu-lagu western oldies diputar tayang, memanfaatkan piranti LCD TV Samsung 26’ berikut “pasukan pelengkapnya”, enam unit LCD TV CRV 9’.

IMG00301-20120511-1710

Untuk singgasana tiap penumpang, sofa yang dirancang benar-benar ergonomis, wah dan empuk, dalam balutan kulit berbahan semi sintesis. Terlebih disematkan fitur legrest dengan kontur mencekung, yang fit mencengkeram kedua betis, niscaya membuat penghuninya lupa berdiri jikalau sudah duduk. Hmm…

Pelan tapi pasti, disusurinya rute Gading-Goro-Kampus Ungu-Pedongkelan-Persimpangan Cempaka Mas, sebelum merangsek masuk tol dalam kota via gate Cempaka Putih. Kemacetan seketika menghalang di atas jalan layang Wiyoto Wiyono. Haryanto HM 51 Redbull serta Nusantara HS173 “mengulurkan tangan”, menemani, sebelum akhirnya say goodbye lantaran keluar gelanggang untuk mengarah ke Jalan Pemuda, Rawamangun. Tinggalah Dedy Jaya Dewa, pemberangkatan dari Muara Angke, yang jadi kawan seiring dalam menuntaskan jalan prabayar senilai Rp6.500,00 tersebut.

Di pangkal Tol Jakarta-Cikampek, moda beregistrasi samsat AA 1616 EM itu mulai mengembangkan daya jelajah. Kecepatan ditahan pada skala ekonomis, disiplin berlalu lintas ditegakkan, gelinding roda diborder oleh marka pembatas lajur 2 s.d 3. Tak ada acara ngebut, sruntulan atau agressive driving, karena kenyamanan serta taste kerasan para “peserta wisata di dalamnya ditempatkan sebagai panglima.

Warga Baru 484 jadi kontestan pertama yang mengirimi kepulan residu hitam. Sementara di bahu jalan, terjadi duel sengit antar sesama bus kota P9A Bekasi-Senen. Laga big match antara B0902 versus B1007.

Biarpun nyantai, bus dengan izin pariwisata ini ternyata punya tuah, dengan menyalip P9BC jurusan Cikarang-Kampung Rambutan serta Handoyo bodi Panorama 3 di km 17. Bahkan Pahala Kencana Proteus yang menggawangi trayek Kalideres-Purwodadi-Blora serta Sinar Jaya berbungkus busana New Celcius juga mencicipi sengat the blues.

Rest area km 52 jadi mampiran sementara. Ada dua “PR” yang mesti digarap, yakni mengasup cairan solar serta menjemput dua sewa pemilik bangku 2B-2C.

Melenggang di sisa belasan kilometer untuk mencapai simpang Cipularang, Hino varian R260 kembali harus mengalah. Posisinya dirampas korps hijau abu-abu, Budiman New Travego serta Budiman Comfort, Bekasi-Karangpucung.

19.24

Berganti ruas tol yang didominasi trek menanjak, Rejeki Baru pasang ancang-ancang. Tetap dengan habit “yang santun”, ketenangannya berhasil menenggelamkan Vista Touristama Old Travego serta SPA Trans (Surya  Putra Adipradana), saat dua PO wisata dari Bandung “mengejan” kepayahan merangkaki undakan Jatiluhur.

Tanjakan Ciganea adalah neraka kecil. Yang jadi korban adalah Budiman Non AC, Pangandaran-Bekasi, storing di tepi jalan. Semburan daya maksimal 260 HP pada putaran 2.500 rpm pun serasa kerdil untuk menaklukannya. Busku tertatih-tatih saat mendaki.

Memasuki km 89, rambu alert terpampang besar di median tol, bertuliskan “Hati-hati di km 90 hingga km 100 sering terjadi kecelakaan fatal”. Papan peringatan yang dipasang pasca kecelakaan maut yang merenggut nyawa istri pedangdut Syaiful Jamil.  Konon, adanya turbulensi

 angin serta efek fatamorgana di spot yang diapit dua bukit turut berkontribusi atas insiden serta accident yang kerap terjadi.

Sementara itu, di atas bentang langit Cianting, tampak mencolok letter sign Djarum Super yang diklaim terbesar di dunia oleh Guinness Book of World Record. Dengan dimensi tinggi 23 m dan panjang 117 m, media branding perusahaan rokok itu bisa dipandang jelas dari radius 3 km. Sangat-sangat gigantik…

Satu per satu, bidak-bidak PO elite Primajasa unjuk taring serta pamer kelincahan di “sirkuit pribadinya”. B  7023 YV Bekasi-Bandung, B 7335 XZ Cikarang-Bandung, Old Travego ala Mayasari Utama Lebakbulus-Garut, serta serikatnya, shuttle Bekasi Blue Plaza-Bandung, melakukan “tackling” terhadap Jetbus HD Diamond Glass garapan Adi Putro.

Saat melewati radar pemantau kecepatan yang dipancang di pinggir tol, putaran keenam roda tubeless ring 22.5 digdaya membukukan catatan di angka 86 km/ jam. Cukup mengkilap untuk ukuran angkutan wisata.

Di km 114, alhasil mampu meng-overtake Sinar Jaya 67B, dilanjutkan penorehkan prestasi atas Primajasa Lebak Bulus-Bandung di km 118.

Sepanjang penggal Padaleunyi, aksi balas dendam terhadap geng Primajasa menuai hasil positif. Ini lantaran “blunder” yang mereka lakukan sendiri, gara-gara seringkali menurunkan penumpang di sepanjang jalan tol.

Hanya satu pertarungan jantan ketika menggusur armada Budiman bernomor jersey HP163 di dekat rest area Republik Telo km 147. Dan nyaris saja menyodok Sinar Jaya Celcius 49 DX sebelum gate out Cileunyi menahan ikhtiarnya.

20.35

Menyusuri jalan arteri Bandung-Garut, laju pun melambat disebabkan padatnya arus lalu-lintas.

Di salah satu pusat oleh-oleh daerah Cipacing, Rancaekek, kujumpai si kembar biru polos, HS 227 dan HS 228 sedang belanja. Mantap…diangsur satu persatu, armada simpanan Nusantara mulai dikeluarkan dari kandang. Meski baru melayani kepentingan wisata, siapa tahu itu hanyalah inreyen sebelum dikaryawakan untuk AKAP.

PO Saluyu Prima Setra Adi Putro kuasa dilancangi di teritorial Dangdeur, sebelum disalip secara serampangan dari kiri oleh PO Pakar Utama, D 7622 AA, di km 25, Ciburelang.

Akhirnya kerja keras tanpa henti berbuah kemenangan.

Sinar Jaya 49 DX Bekasi-Jogja, yang ngeyel disalip selama melahap ruas Padalarang-Cileunyi, dibuat kelabakan tatkala dipressing ketat. Dan naga-naganya, merelakan pole positionnya diambil Royal Coach E di bypass Cicalengka.

Dari balik kaca, tampak dua armada kempling Scorpion King PO Menggala mendamparkan diri di area pujasera Citaman.

Mengakrabi kawasan Nagrek, bus yang baru berumur tujuh bulan itu dengan cekatan melakukan manuver descending. Etape yang berliku-liku diseling turunan curam seolah jadi menu harian, sehingga driver begitu hapal ciri dan karakter salah satu dangerous road yang diampu jalan lintas selatan Jawa Barat.

Sayang, adanya truk tronton yang ngos-ngosan menjinakkan punggung terjal Andir Kulon, memaksa busku jadi penguntit setia untuk beberapa saat.

Saat meniti Limbangan, yang membentang di km 46 Bandung-Tasikmalaya, pandangan mataku menatap satu rumah makan yang tak asing. Pananjung, disebutnya. Itulah kedai yang disinggahi PO Budiman 3E21 Tasik-Kampung Rambutan, yang aku naiki bersama Mas Adit dan Mas Asep, sepulangnya dari plesiran ke Dieng.

Membayangkan menu yang disajikan, air liur rasanya ingin menetes,. Lantaran lidah ini sudah in dengan masakan istimewa tatar Sunda. Tak sabar rasanya untuk memenuhi rongga lambung yang mulai keroncongan dipapar hawa dingin buangan louver AC.

Tapi yang aku herankan, mengapa sudah “larut malam” begini, bus berpaspor Kebumen ini tak jua berhenti? Rumah makan apa yang hendak dipilih? Di daerah mana? Perlu masa berapa lama lagi?

Sederet pertanyaan dari orang awam dan baru pertama kenal Rejeki Baru sepertiku ini, mengemuka.

Mimpi Yang Terbeli (1)

Posted on Updated on


“Apalah arti sebuah mimpi?”

Bagi mereka yang apatis, mimpi dipandang sebagai perkara lumrah, remeh dan ngga penting banget. Mimpi sekadar kembang-kembang tidur, hanyalah lukisan tingkah-polah manusia di alam bawah sadar.

Aku pun jarang berpikir serius tentang mimpi-mimpi yang kualami, apalagi memusingkannya. Namun, satu mimpi aneh di tengah malam membangunkanku dari peraduan. Bulu kuduk berdiri, badan seketika merinding mengingatnya. Something stupid yang justru membikinku mengernyitkan dahi untuk menafsirkannya, mencari makna implisit di baliknya.

Tiba-tiba saja, mendiang kakek datang melalui lorong gelap yang bernama mimpi. Yang membuatku pucat pasi, bukan senyum keramahan khas “abdi dalem” Jogja yang beliau tampakkan, melainkan raut wajah yang menyimbolkan ekspresi duko (marah).

Almarhum melayangkan “somasi” lewat pitutur sederhana tapi sungguh-sungguh menohok kealpaanku.

“Kowe iki njur kepriye, wis suwe ora dolan mrene. Opo wis lali mring keluarga kene? Eling tho Dik, ibumu, simbah-simbahmu, leluhur-leluhurmu kuwi “priyayi” Jogja. Ojo pisan-pisan mutus bab bebrayan paseduluran.” (Kamu itu bagaimana, sudah lama tak main ke sini. Apa sudah lupa dengan keluarga di sini? Ingat Dik, ibumu, simbah-simbahmu, leluhur-leluhurmu itu orang Jogja. Jangan sekali-kali memutus soal ikatan persaudaraan)

Masya Allah…Bagiku, itu bukanlah mimpi sembarang mimpi. Meski cuma adegan abstrak di layar semu, sejatinya mengandung hakikat serta nasihat tentang keluhuran budi pekerti. Apalagi yang menghadirkannya adalah special one yang begitu istimewa di mataku, seseorang yang pernah mewarnai lembaran hayatku.

Dialah yang aku resapi petuah-petuah bijak serta aku teladani laku agungnya. Laki-laki super yang selama setengah windu jadi pembimbing, pendidik, pengayom dan pengawal hari-hariku selama menimba ilmu di kota pelajar. Beliaulah yang membentengi jiwa labilku saat menapak fase remaja agar tak berkembang liar, tetap pada koridor sebagai anak muda yang baik lagi manis. Betapa beruntungnya aku dibanding cucu-cucu yang lain. Walaupun singkat, sempat merasai cucuran kasih sayang yang melimpah, bahkan cenderung dimanjakan.

Aku begitu dekat serta lekat dengannya, baik lahir maupun batin.

Masih senantiasa kuingat, saat aku pamit berpisah untuk mencari penghidupan seusai kurampungkan tugas belajar. Pelupuk mata yang berkaca-kaca serta air muka bermuram durja merefleksikan bahwa beliau begitu berat melepasku.

Selang tiga tahun kemudian, kakek berpulang. Kesedihan tak terperi, di saat aku belum bisa menunjukkan bakti dan membalas budi, beliau paripurna memungkasi titah sebagai hamba-Nya.

Aku pun serta merta berikrar pada diri sendiri. Setidaknya setahun sekali akan tetap akan sowan, nyekar ke tempat peristirahatan terakhir beliau, sekaligus menguatkan simpul-simpul silaturahmi dengan keluarga besar Jogja, sebagai bentuk penghormatanku.

Bodohnya, sepanjang tahun 2011 bergulir, aku benar-benar khilaf dan teledor atas janjiku. Tak sekalipun kupijak tanah Ngaglik, Sleman, kampung halaman almarhumah ibuku tercinta. Entah bagaimana perasaan pakde, paklik, mas, mbak, saudara serta kerabat dekat, melihat aku terkesan “puasa tandang”, hampir dua tahun tanpa mengetuk pintu  rumah kediaman mereka.

Lebaran yang lalu, aku “mangkir” beranjangsana, lantaran pendampingku tengah hamil tua. Pun saat menerima undangan pernikahan sepupuku yang akan menghelat acara resepsi tepat di momen spesial, tanggal 11 bulan 11 tahun 11. Aku kembali berhalangan hadir, sebab cuma berselang dua hari dari kelahiran Binar Mentari, putri ketigaku.

Semestinya, setelah tak ada lagi urgensi kepentingan rumah tangga, aku menyempatkan diri “membesuk” bumi Mataram. Tapi hal itu tak kulakukan jua.

“Nanti-nanti aja ah, toh hari raya juga sebentar lagi,” demikian hasutan setan yang berdiri di atas sifat jelekku, yang acapkali menunda-nunda hajat.

Barangkali, kemalasanku mengobarkan “obor persaudaraan” yang menginisiasi Simbah Kakung menjewer kebandelanku. Dan pertimbangan alasan itulah – barangkali pula -, beliau membingkai teguran lewat panggung ilusi.

“Inggih, sendiko dhawuh, Simbah. Ingkang wayah saestu wangsul Jogja,” tanpa kutawar-tawar, kubangun lagi ketaatanku dengan sikap sami’na waatha’na. (Baik Simbah. Cucumu pasti pulang ke Jogja)

Senin, 7 Mei ; 14.15

Dengan roman muka berseri-seri, kumasuki lobi sebuah ruko perwakilan biro travel yang berlokasi di kompleks pertokoan Pulo Mas.

IMG00298-20120509-1304

“Mbak, pesan tiket buat hari Jumat ya!” requestku pada karyawati bagian helpdesk.

“Maaf Mas, sudah penuh. Biasa Mas, para langganan sudah booking duluan.” jawabnya sembari menunjukkan sketsa bangku yang kolom-kolomnya telah berisi nama dan nocan.

Aduh…estimasiku akhir pekan ini bukanlah musim panen, tapi mengapa travellers tak menyusut populasinya.

“Ngga bisa usaha satu, Mbak? Mosok Mbak ngga bisa bantu saya yang pengin ngerasain Rejeki Baru,” ibaku sekali lagi, berharap dia lumer dan berbaik hati menyisakan satu kursi yang berharga buatku.

“Hmm…begini saja. Mas tinggalin nomor telepon, kalau ada cancel-an, nanti saya hubungi,“ ujarnya dengan bahasa yang halus.”Paling lambat, hari Rabu saya kabari, Mas.”

Rejeki Baru…Rejeki Baru…mau paceklik kek, mau minggu tenang kek, mau peak season kek, tetap aja ludes. Rasanya butuh perjuangan berat untuk bisa menelusup di antara jajaran pelanggan abadi Jumat sore.

Sempat terpikir olehku untuk “melabrak” Terminal Pulogadung, mengamankan satu tiket PO Ramayana E3, yang kugadang-gadang sebagai eksekutor plan B.

Ah…tak usahlah, style yakin saja. Minggu depan adalah long long weekend, masak tak satupun dari frequent flyers Rejeki Baru yang menggeser agenda pulang ngetan ke hari Rabu depan?

Selasa, 8 Mei ; 10.20

Drett…drett…drett…

Kulirik gadget genggam yang tergeletak di samping netbook kerja, kutatap monitornya menelisik siapa gerangan yang memanggil.

“ID Caller : 021 4700791”

Wow…sontak aku kegirangan. Dua digit depan (47) penanda kode area Jakarta Timur. Pasti dan pasti…nomor telepon Rejeki Baru

“Siang Pak, dengan Bapak Didik Edhi?”

“Benar, Mbak”.

“Pak, ini batalan untuk hari Jumat. Nomor 4C. Pripun?”

“Oke, Mbak. Sore ini apa besok saya ambil tiketnya ke kantor.”

“Kalau memang repot, nanti bayarnya pas mau berangkat saja, Pak. Ngga apa-apa, kok!” terangnya. “Oh iya, bus berangkat jam 5 sore. Kami tunggu kedatangannya.”

Wah…salut dan acung jempol dengan layanan off board Rejeki Baru. Begitu tinggi kepercayaan mereka pada penumpang, meski statusnya sebatas calon pengguna jasa travel Jakarta-Jogja untuk kali pertama.

Jumat,  11 Mei ; 17.10

Timer countdown lampu merah perempatan Kelapa Gading begitu lama menuju detik ke-0. Dari atas jok roda dua berboncengan dengan pengantarku, dengan perasaan cemas kusaksikan armada Silver Class beringsut dari posisi parkir, bersiap take off.

IMG00308-20120511-2146

Sementara personel sekuriti mulai membuka lebar-lebar gerbang pagar yang menghadap Jalan Perintis Kemerdekaan.

Ah, mana mungkin berani ninggal penumpang, sementara selembar tiket sudah aku barter dengan dua lembar kepingan seratus ribu pada Rabu sebelumnya.

Saat traffic light hijau berpijar, kugeber habis-habisan motor matic 100 cc membelah riuhnya kendaraan.

“Aduh Mas, hampir saja ditinggal. Habis ditelepon berkali-kali, tak diangkat.” rajuk si Mbak yang kemarin melayani proses ticketing-ku, setibanya aku di pelataran.

“Maaf Mbak, macet. Saya tadi lagi bawa motor, jadi tak bisa terima telepon.” permohonan maaf kuhaturkan.

Really…really on time!

Gara-gara aku seorang, para end user Rejeki Baru terkena getahnya. So, sorry…

Balonku Ada Lima, Rupa-Rupa Warnanya (3)

Posted on Updated on


Balonku Ada Lima, Rupa-Rupa Warnanya  (3)

Setali tiga uang, ‘pemain lapangan tengah’ pun bermain dengan irama lambat. Kalau bukan jasa dapur pacu K114 IB nan meledak-ledak, rasanya mustahil bisa melucuti langkah Ramayana E2 dan Rosalia Indah Setra Adi Putro selama menggeluti tanjakan Plelen.

Mataku terbelalak melihat satu wujud ‘keajaiban Pantura’. Pahala Kencana, rombakan Centralindo Carrosserie, memarkirkan diri di halaman rumah makan Sabana Jaya, yang notabene ‘milik’ kompetitornya di jalur Madura. Urusan perut dapat mengesampingkan soal perseteruan. Hehe…

Satu per satu, spesies lain mempereteli taring-taring tajam Lion King di ruas Banyu Putih-Subah. Dipelopori Haryanto ‘Bunga Teratai’, ulah nakal itu kemudian ditiru Ramayana eksekutif Bogor, GMS Jetbus serta Pasukan Palur 305.

23.17

Kutinggal merehatkan badan, tahu-tahu menyentuh jalan protokol di depan gedung DPR Kota Tegal. Dan episode ‘derai air mata’ belum ada tanda-tanda berkesudahan.

Sekaliber Safari bodi ‘Galaxy Setra’ hasil ketok magic sendiri, dan Tunggal Dara Revolution 7414, dengan bekal stamina yang pas-pasan buat mendorong chasis, tubuh gambot serta penumpang yang diangkutnya, nyatanya berdaulat mengerdilkannya.

Style menjajah jalur kanan kembali dipanggungkan oleh aset yang kelahirannya dibidani Pak Sutikno, mendekati lampu merah Jl. Gajahmada. Tindakan balas dendam terhadap bus-bus yang sempat mempermalukannya pun dibayar tunai.

Kavaleri ‘Plat K’, masing-masing The Black Bus Passion K 1537 BC, Sumber Harapan New Travego bikinan Tri Sakti K 1707 FA serta Ikha Selamet Putra OH King bergantian mendepaknya dari tampuk teratas di etape Kaligansa Wetan-Klampok.

Cimohong, spot macet menjelang perlintasan sepur Pejagan, lagi-lagi menunjukkan kekusutannya. Saling serobot dan rebutan posisi terjadi antar kendaraan, seolah tak cukup kesabaran untuk menunggu rangkaian dua atau tiga kereta api lewat. Tampak Santoso seri S Wonosari-Cileungsi ‘kegerahan’, membuka kap mesin di bahu jalan.

Memasuki jalan yang diarsiteki Bakrie Toll Road, disapa aksi kesetiakawanan sosial tiga armada Tajur; LB-2601 Concerto, LB-2603 Evolution dan LB-2605 Old Travego, ketika satu di antaranya mengalami trouble.

Putra Remaja pun kehilangan ‘keremajaannya’ di podium bebas hambatan. Di km 264, Sinar Jaya 12E menggagahinya.

Walah…Zlatan Ibrahimovic dikalahkah Oshin Tanokura!” batinku memprotes.

Giliran Scorpion King GMS berkode 31, Haryanto Ocean non-HD, busnya Yoges — pramudi idola anak SJM — 92VX, serta Bejeu Setra menepikan dari kerasnya tensi rivalitas. Sebelum ditutup oleh gebrakan Rosalia Indah 126 saat hendak menyerahkan nominal sebesar Rp21.500,00 kepada kasir gerbang Mertapada.

02.10

Sinaran cahaya lampu kabin menyilaukan indera penglihatan. Atas instruksi kantor pusat, Rumah Makan Singgalang Raya, yang berlokasi di Muntur, Losarang, dihampiri. Ada agenda pengecekkan penumpang yang wajib dipenuhi, sebagai upaya untuk menekan ‘muatan’ tak resmi serta meminimalkan tindak kejahatan yang kerap terjadi di atas bus.

Di sampingnya, dua poolmate, Marcopolo AB 7395 AS serta Pinguin jurusan Bumi Andalas, tengah menanti panggilan untuk menjalani proses pemeriksaan yang sama.

Bergabung kembali dengan entitas Daendels Road, bus rilisan tahun 2004 ini kembali kedodoran. Tak kurang dari Bejeu B14, Reog Ponorogo-Jaya-, Nusantara ‘Irizar Kw2’, dan Rosalia Indah ‘Comfort’ bersekongkol mengkandaskannya di lembah persaingan.

Huft…mampukah dia mencapai Kebon Jeruk, tempatku turun nanti, sebelum kemacetan Senin pagi mengurung jantung ibukota?” keluhku dengan nada pesimis.

04.20

Entry gate Dawuan.

Kupandang angkasa dari balik kaca. Bintang-bintang sanggup mengerlingkan binarnya, pertanda malam masih menaungi belahan barat Pulau Jawa.

Wow…biar tak punya lari, nyatanya bakal bisa memunggungi pagi. Meski miskin determinasi, jarak 600-an km terasa tak berarti. Jadi, mengapa aku men-tuhan-kan pemeo ‘speed is more important than matter of comfortability’?” nuraniku menyanjung lirih.

Menghabiskan sisa-sisa rute, lagi-lagi tak ada obralisasi vitalitas raga maupun semburan deras bahan bakar yang dipasok saluran injector ke kompartemen tungku pijar. Bahkan, bagiku, separuh dari horse power maksimal cukup untuk mematok kecepatan jelajah di skala 60-80 km/jam.

Hasilnya?

Tol Cikampek-Jakarta, di bentang km 68 – km 47, dipenuhi goresan tinta merah. Daftar isian dijubeli nama Ramayana AA 1614 AB, Dedy Jaya ‘Mapan’, Ikha Selamet Putra K 1449 CA, Ramayana AA 1606 AB, Kramat Djati Setra, white bus; Bina Transport, Shantika H 1725 BE, Shantika Masterbus, Ramayana Selendang, trio Dedy Jaya; ‘Gilang’, ‘Jibless’ dan ‘EvolutionX’, kompatriotnya; Putra Remaja AB 7395 AS, Shantika Merah Euro 3, Nusantara HS 153, Raya nomor lambung 13, DMI kaca geser alias kasta ekonomi, Rosalia Indah 148, Dedy Jaya G 1637 GG, Sumber Alam ‘Proteus’, Sinar Jaya ‘Comfort’, kawan semarga; Shantika 20 ‘si Kebo’ serta Bogor Indah B 7114 PD.

Tak satupun torehan positif dibukukan PO yang sebelum hijrah ke Jogja bermarkas di ‘sebelah’ istana PO Ramayana, Muntilan, itu. Justru ‘jaring gawangnya’ jadi lumbung gol bagi lusinan striker yang tak lelah menggedor benteng pertahanan nan longgar.

Look at my note!

Shantika H 1743 BG, Sumber Alam ‘Lapendoz’, Muji Jaya K 1524 BC, Rosalia Indah 228, Prima Jaya Bandung-Kalideres, Warga Baru 408, Laju Prima Marcopolo, Jaya Nucleus 3, Laskar Pelangi 49S, dan Kurnia Jaya 21 menghiasi halaman media ‘the scorers’.

20 km lagi menjangkau tol dalam kota, kembali dipecundangi oleh Pahala Kencana ‘Nano-Nano’ B 7798 IX, Handoyo Setra New Armada, Kramat Djati B 7443 IS serta ditutup langganan baruku, Haryanto HM 19 batangan Pak Topo dan Pak Tris.

Ya ampun…dicukur gundul!?

Apa aku salah bila menyindirnya dengan pepatah ‘singa bercangkang keong’?

05.25

“Pak, saged mandap Jatibening?” aku berspekulasi, menghiba kemurahan hati kru. Rasa-rasanyanya, apabila aku kekeuh dengan tujuan semula — turun di depan studio RCTI –, pasti bakal tambah sengsara untuk menggapai lahan pencaharianku. Ini Senin pagi, Fren! (Pak, bisa turun Jatibeing?)

“Hmm…ningali keadaan nggih, Mas. Mbok bilih mboten wonten PJR, monggo kemawon” jawab Pak Sopir dengan ramah. (Hmm…lihat keadaan ya, Mas. Kalau tak ada PJR, silahkan saja)

Ups…serta merta aku merasa bersalah. Terlalu underestimate, menjudge Putra Remaja sebagai transporter lelet dan menjemukan. Keramahan punggawa kabin ternyata lebih diunggulkan sebagai instrumen kelas eksekutif, ketimbang lari buru-buru mengejar waktu. Kebaikan dan hospitality mereka seketika membungkam dahagaku akan bus yang trengginas, ngotot dan ‘haus darah’.

Aku pun melantai di ‘terminal bayangan’ Jatibening. Dan tentu saja, tinggal menyiapkan ongkos empat ribu sebagai tarif langsiran yang dibanderol Warga Baru, Agra Mas ataupun Walet Biru, saat nanti mengestafetkan flight-ku menuju areal ladang di pesisir utara Jakarta.

***

Saat iseng, acapkali kubuka program aplikasi memo pad di gadget usang, tempatku bercorat-coret perihal rekaman penting dari berbagai touring yang pernah kulakoni. Tak terkecuali perjalanan bertemakan ‘goes to the west with Putra Remaja’.

Namun, sungguh naif ketika di dalamnya terselip ‘setetes noda’ yang terus-menerus mengganjal akal pikirku.

Mengapa pada kolom ‘gol kemasukan’, baru kali ini tercatat begitu berjejalnya list ‘kotak besi beroda enam’ yang sukses mengasapi bus yang kucumbui.

Yang membikin hati tak terima dan dada ini sumpek, ‘kejadian luar biasa’ tersebut terjadi ketika aku menunggangi salah satu big bus dengan volume ruang bakar paling raksasa dari semua varian engine yang pernah beredar di tanah air. Sebuah teknologi ‘jet darat’ yang high-tech di zamannya, berfitur mahal lagi canggih, sistem yang rumit dan multi-complicated, unitnya berharga selangit, serta hanya PO-PO mentereng yang berani memiaranya.

Dialah Scania, Griffin tanah Skandinavia!

IMG00388-20120513-2021

Barangkali akan sama halnya andai primadonaku, klub Arsenal, dengan sekompi pasukan young guns yang ngedap-ngedapi, tiba-tiba terpuruk di English Premiere League. Di akhir kompetisi, anak-anak asuh Arsene Wenger tersungkur di dasar klasemen dan mesti turun satu trap ke divisi yang lebih rendah.

Bagaimana aku bisa legowo mempercayai kenyataan pahit seperti itu?

T – a – m – a – t

Balonku Ada Lima, Rupa-Rupa Warnanya (2)

Posted on Updated on


Balonku Ada Lima, Rupa-Rupa Warnanya  (2)

Beda nasib dengan Krasak Bridge, Jembatan Pabelan yang dulu roboh dihantam banjir bandang material vulkanik,  kini telah difungsikan kembali seusai operasi rekonstruksi.

Saat melintas, bus yang menanam jok ‘Kiel’ buatan Alldila sebagai perabot interiornya, menempel laju Ramayana ‘Shohib DW’, berlanjut hingga menggapai wilayah Mertoyudan.

15.46

Terminal Magelang pun disinggahi, mengkaryakan beberapa lapak kosong dari 35 unit yang tersedia. Ditemani serikatnya, berbaju Avant Garde dengan kaca belakang bertuliskan nama bus legendaris, Continental, berdua menjalani tugas serupa.

Di Jalan Urip Sumoharjo, muncul ‘penampakkan aneh’ saat menyalip sebuah truk tronton dengan bak open rack. Muatannya berupa empat atau lima unit mobil berlambangkan logo esemka. Jangan-jangan…’masterpiece’ rintisan anak-anak SMK telah diproduksi massal?

‘Nuansa’ pelan itu disulap lagi, dengan ngeblong kanan saat meniti jalan dua lajur yang membujur di ring Jambewangi hingga Payaman. Puluhan kendaraan pribadi dibikin bertekuk lutut oleh semburan daya mesin tipe D12 nan melimpah ruah.

Terlihat ‘satria pemanah’ berkode jurusan C leyeh-leyeh menunggu calon penumpang di agen Grogol, Secang.

Great!!! Ramayana memang mendominasi serta menghegemoni pasar gemuk antara Bawen dan Giwangan.

Dangerous road Secang-Ambarawa menyilang di depan pelupuk mata.

Hiking track Krincing menyambut. Bus berlivery ‘lima buah balon udara dengan rupa-rupa warna’ ngos-ngosan karena tak berkutik dihalang truk pasir. Lalu-lintas tersendat akibat maraknya para pengguna jalan. Nglarangan-Pringsurat-Pingit-Ngipik tak satupun ada momen menyalip. Barulah menjelang tugu batas Kab. Semarang, peluang itu dihidupkan. Di antaranya kuasa meminggirkan Maju Makmur ‘Mamamia’.

IMG00385-20120513-2019

Lepas dari mulut buaya, masuk mulut harimau. Belum lama menikmati keleluasaan, terjebak kembali oleh trailer yang menyeret peti kemas milik shipping line asal Denmark, Maersk Sealand. Cukup lama dipantati truk raksasa enam sumbu tersebut, mulai trek Gemawang, Jambu, hingga Banaran. Undakan empat lajur Bedono lah yang akhirnya jadi dewa penolong dalam ‘upacara serah terima’ posisi terdepan.

Kecamatan Ambarawa menghadirkan atmosfer adem ayem. Tak sekalipun terhidang aksi menonjol di atas gelaran karpet hitam.

17.31

Terminal Bawen mengetalase bus-bus Sumatera, memajang profil Gumarang Jaya dan PM Toh. Bagasi luar tampak membukit, disarati paket oleh-oleh kaum transmigran yang hendak ‘merumput’ di pulau seberang.

Hmm…sebentar lagi ketemu lini Solo-an! Bagaimana kiprah Setra angkatan pertama garapan Adi Putro ini?” rasa penasaranku berlipat, setelah tiga jam tampil biasa-biasa saja menuntaskan etape Jombor-Bawen.

Titik sua percabangan jalur Surakarta dan jalur Yogyakarta mem-face to face-kan dengan moncong Pahala Kencana ‘Proteus’.

Huft…kuasakan fragmen seru, ternyata tak terwujud. B 7925 IW itu kian ngacir, sementara busku ogah-ogahan menaklukan tanjakan Bawen.  Bahkan, di medan mendaki Merakmati malah ditackling sepak terjang heavy duty truck.

Hatiku sedikit menyejuk menyaksikan Legacy Sky – SR1 PO Sinar Jaya tengah ready for deliver di teras gedung body builder yang baru saja mengganti lambang perusahaan. Rupanya bukan Daya Melati Indah (DMI) saja yang dipasangi pilar boomerang teranyar Laksana, ‘saudara tuanya’ pun tak mau ketinggalan.

And then…story about ‘bulan-bulanan’ begins.

Memilih lokasi syuting di lingkar kota Ungaran, Patas Ismo Solo-Semarang jadi kontestan perdana yang memamerkan keseksian lekuk buritan. Sesudahnya, berturut-turut Purwo Widodo Putra berkostum ‘Comfort’, serta dua bidak Gajah Mungkur, Fajar Eksekutif ‘Celcius’ dan Fajar VIP ‘Legacy wannabe’.

Di depan Banyumanik bus port, di tengah arak-arakan kepulangan suporter PSIS setelah menonton kesebelasan kesayangan mereka bertanding melawan PPSM Magelang, berpas-pasan dengan Rosalia Indah Pekalongan-Malang, yang mendelegasikan armadanya pada kode lambung 355.

18.16

Baru saja menapak jalan tol Semarang, tanpa tanggung-tanggung, lima biji bus hampir serentak menggembosi armada yang mengorbit di atas garis edar Jogja-Merak. Hanya hembusan angin yang dilungsurkan oleh Budiman IL 101, Mulyo Indah OH Prima, New Ismo Premium Service Line, serta duo Gajah Mungkur, AD 1516 EG dan AD 1646 EG.

Ngukkk…ngukkk…

Menuruni busur Tembalang, terasa ada something wrong pada sistem pengereman. Driver mengocok pedal decelerator secara berulang-ulang, terkesan khawatir nyeplos. Bunyi decit yang diciptakan kampas rem begitu nyaring dan mengganggu ketenangan telinga.

Jatingaleh-Kaligarang jadi sangsak hidup leg selanjutnya. Berbondong-bondong sang penjegal naik gelanggang, terdiri dari Pahala Kencana Wonogiri, Dedy Jaya Jibless, Era Prima Purwodadi-Pulogadung, GMS B 7210 PV, Langsung Jaya ‘Begawan’, serta Gunung Mulia ‘Proteus’.

Putra Remaja di-‘KO’ dari arena, dan akhirnya menelusup ke dalam rest area km. 5. Setengah jam lebih bergeming di outdoor pitstop, menunggu kru meng-adjsut kerapatan rem pada keempat sisi, yang konon katanya, setelannya terlalu dalam.

Masalah terpungkasi, dan mulai berlari-lari mengejar PO Sahabat Solo-Dumai ketika menjilati area Krapyak.

19.20

Mampir di Terminal Mangkang, persis di belakang Bejeu Scorpion King ber-engine gawean Cina. Sementara di grid sebelah sudah bersiap Haryanto HM 24 ‘I Hate Slow’. Rupanya, moda yang berportal di website www.putraremaja.com itu time line-nya mulai bersinggungan dengan Muria roster pagi Pulogadung.

Total hanya 30 kursi yang laku, tidak termasuk bangku sebelahku yang nganggur.

Sebelum bus meneruskan putaran roda, ‘pramugara’ mengingatkan penumpang agar berdoa sebelum menempuh perjalanan panjang, selalu waspada terhadap barang bawaan dan turut menjaga kebersihan bus, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Sungguh-sungguh budaya yang mengagungkan hubungan inter-personal antarmanusia.

Ada satu prestasi ciamik yang patut aku banggakan dari ‘scania stick panjang‘ ini. Lantaran bernyali melakukan late braking, di ujung lingkar Kaliwungu secara gentle menundukan Goldren Dragon dari Jepara. Meskipun tak lama kemudian, dibalas Black Bus Community dengan menjerembabkannya di daerah Brangsong.

Tampak berbaring Garuda Mas Evolution yang jadi pesakitan di ‘penjara’ Satlantas Polres Kendal. Bus ekonomi ‘hancur rupa’ tersebut diborgol lantaran terlibat kecelakaan dengan mobil pick-up yang mengangkut rombongan pengantin, sehingga menewaskan enam orang, belum lama ini.

Di jalanan Kota Kendal, Kopral ‘The Gold’, Ramayana New Travego Morodadi Prima serta Rosalia Indah 148 unjuk kecepatan. Bus yang mengusung slogan ‘Sahabat Perjalanan Anda’ hanya diam melongo, dan membiarkan sesama warga Pantura itu berlalu.

Cepiring pun bukan venue indah untuk mementaskan superioritas kedahsyatan mesin yang setara kinerja otot 360 ekor kuda itu.  Duet Subur Jaya K 1599 DM serta K 1588 BM, berikut Dewi Sri G 1627 BE melancanginya tanpa ewuh-pekewuh.

20.05

Cita-citaku kesampaian juga. Setelah ‘pisah ranjang’ dengan serdadu dari batalyon Karanganyar – Nusantara –, untuk mengejar fajar di Kota Batavia, hampir dua tahun lamanya aku tak mengecap citarasa menu yang disajikan Restoran Sari Rasa.

Dalam amatanku, hampir tak ada yang berubah dengan pernak-pernik rumah makan di seberang Terminal Bahurekso itu. Kecuali dicopotnya papan nama ‘service makan Senja Furnindo’ serta bejibunnya air minum dalam kemasan (AMDK) merek Ultra – yang pabrik pembuatnya di bawah payung Rosalia Indah Grup -, menyemarakkan dagangan kantin ruang utama.

Layanan free dinner kujabarkan dalam sepiring nasi putih, diramu sayur lodeh, lapis terong, kerupuk plus ayam goreng kecap satu potong ++. Benar-benar tanpa radar pengawasan. Pramusaji lebih menyibukkan diri mengurusi persediaan teh manis. Surga bagi penggemar daging ayam olahan dengan porsi jumbo, tentunya. Hehe…

IMG00384-20120513-2010