Srambang (3)

Posted on Updated on


Perjalanan ke Srambang Ngawi (3)

Saat Tekad dan Aksi Nekat Berjabat Erat

 

Baru beberapa langkah…

 

Subhanallah…gambaran alam nan eksotik menghampar di depan mata. Hutan pinus, kabut tipis, udara dingin, ladang ketela, kampuang nan jauh di mato dan semburat tipis cahaya siang menembus mendung di atas langit Srambang menggenapkan kesempurnaan “masterpiece” ciptaan-Nya. Terucap syukur dan tafakur-ku sembari kususuri setiap sisi lereng Lawu, berharap air terjun terlihat dari tempatku berdiri. Nihil, hanya vegetasi hutan tropis yang merajai.

31

 

Kulangkahkan kaki menuruni jalan terjal dan berbatu. Terlihat sepasang muda mudi bersiap pulang. Nuansa Srambang saat itu sangat sepi dari hiruk pikuk kehidupan manusia, hanya terdengar lengkingan serangga hutan dan gemericik air bening di hilir sungai, sesekali diiringi gelegar petir. Tampak sebuah loket di kejauhan, dan dari sanalah sebenarnya kawasan wisata air terjun Srambang ini dimulai. Rute kembali menanjak menuju loket masuk, di sela-sela hutan pinus yang lebat dan tinggi menjulang. Akupun terengah-engah, tak beda saat hiking naik gunung Gede tahun 2002 silam. Semula aku kira posisi air terjun tak jauh dari loket, namun tak terdengar debur air menghujam. Dugaanku meleset.

 

“Pak, mau masuk ke air terjun!”, kataku kepada penjaga loket

“Berapa orang Mas?”

“Cuma satu Pak”

“Berapa Mas?”

“Cuma satu.”

 

Duh, aku ini dianggap orang mencurigakan atau gimana sih, lha wong cuma sendirian masak ngga percaya. Atau dinilai orang aneh, hujan-hujan malah nekat ke air terjun.

 

“Berapa jauh ke lokasi Pak?”

“Kira-kira 1 km Mas”

 

Ha??? 1 km??? Kalau 1 km di kota itu dekat. Lha ini, menjelajah daerah baru dan asing dalam rimba belantara, 1 km serasa 10 km. Hmmkok sesusah ini cuma untuk melihat air terjun. Loket masuk Tawangmangu dan air terjun yang berjarak 300 m bagiku sudah menyiksa, apalagi ini…

 

Ah…sudah kepalang tanggung. Setelah menebus dengan Rp2.500,00, kususuri jalan setapak di bibir jurang yang dalam. Jalannya licin dan berbatu, sehingga perlu ekstra kehati-hatian. Tidak banyak pengunjung, sunyi, serasa hidup di kota mati. Langkah demi langkah kutapak, sambil melambungkan asa, banyak pengunjung yang memiliki rencana sama denganku,  mendaratkan kaki di area air terjun.

 

Namun, tak satupun pelancong kutemui. Padahal aku sudah “menebar” ratusan langkah. Tampak dua atau tiga penjual makanan dan minuman yang membuka lapak di tengah jalan, mencoba mengadu nasib, menjemput jatah rejeki.

 

“Maaf Mas, air terjun masih jauh?”, tanyaku pada salah seorang pedagang

“Masih Mas.”

 

Kok aku jadi pengecut begini ya? Mengapa aku mulai ragu untuk menembus lebatnya hutan Srambang. Ah…aku tak boleh kalah dengan perasaan yang menghantuiku.

 

Kulanjutkan langkah kembali. Lonely road, serasa berjalan di tengah areal pemakaman. Andai muncul  hewan buas, atau diganggu hantu penunggu hutan Srambang, atau kena tuah negatif yang Mbahurekso kawasan ini, ihh…seram membuatku bergidik. Bismillah (telat ya bacanya!) …aku tak boleh menyerah.

 

Pohon-pohon tua berusia ratusan tahun, batu-batu raksasa, sungai kecil berkelok-kelok, dan kabut tipis seakan menjadi pagar ayu yang menyambut kedatanganku. Berkali-kali rute setapak tak selamanya mulus. Ketika terhalang batu besar atau batang pohon tumbang, terpaksa menyeberang sungai, yang airnya deras mengalir, dengan menapak di batu-batu alam yang licin serta konon banyak pacet (lintah) hidup berkoloni di dalam sungai. Hi…jijik!

4

 

“Mas, mau ke air terjun ya?”.

Aku kaget ketika seorang ibu-ibu dengan bakul dagangan yang tengah turun dari atas membuyarkan lamunanku.

 

“Iya Bu, kemana lagi!”

“Buat apa Mas, masih jauh. Sepi di atas dan sekarang lagi hujan Mas. Hati-hati Mas, rawan longsor. Baiknya balik saja Mas”, ingatnya.

Ah, ngga Bu, pengen sekali ke air terjun”

 

Siapa dia ya? Jangan-jangan dia jelmaan peri Srambang? Eh, kok malah menghayal.Hehehe…

 

Kembali aku teringat dengan papan peringatan di dekat loket masuk. “Dilarang Masuk ketika Hujan, Rawan Longsor”.  Ah…aku sudah maju sejauh ini, masak harus mundur kembali. “Lanjut Gan!!!”, hardik kata hatiku.

 

Langkah demi langkah kugulirkan kembali. Semakin dalam, semakin jauh arah yang susuri. Sampai akhirnya di satu tempat yang redup sinarnya, karena kanan kiri diapit oleh tebing tinggi, setinggi hampir 50 m. Duh…bergidik bulu roma ini, andai yang aku khawatirkan terjadi longsor, tamat riwayat perjalananku di sini. “Ya Allah, lindungilah aku dalam perjalanan ini. Hidup dan matiku ada di kuasa-Mu.” , terucap doa tulus sebagai pengakuan aku ini hamba yang lemah, hanya noktah kecil di luasnya jagad raya.

 

Alhamdullilah, doaku langsung terkabul. Di titik ini kutemui lima anak muda yang hendak menuju air terjun. Lumayan, ada temannya. Kalau sekiranya terjadi apa-apa dan aku butuh bantuan, aku bisa menyandarkan bantuan kepada mereka.

 

Mulai dari sini, rute jalan sudah tak ramah lagi. Batu-batu besar, aliran air yang deras dan tebing di kanan kiri tanpa menyisakan jalan setapak di pinggir kali. Kita perlu berjalan di tengah sungai dengan menapak batu-batu hitam yang seolah telah tersusun rapi secara alami. Gemuruh air sayup-saypu terdengar, pertanda air terjun sudah dekat. Kuikuti jejak para anak-anak muda di depanku, meski aku tidak sampai bertegur sapa. Mereka asyik bercengkerama dan bercanda dengan temannya, tak mengindahkan ada orang lain yang sebenarnya butuh teman untuk menemani dalam perjalanan. Hehehe…

 

Akhirnya, tampak di depan mata air terjun deras mengalir dari ketinggian. Meski harus bersusah payah menaiki tangga kayu buatan agar bisa mendekat ke air terjun, tapi tak akan sia-sia pengorbanan, tekat dan aksi nekad, memuaskan dahaga penasaran untuk melihat air terjun kebanggaan Ngawi ini. Rasa khawatir, takut, terasing dan merinding terbayar sudah melihat keelokan pemandangan air di sisi utara lereng Lawu. So amazing, so exciting, so exotic… tak ada ibarat yang dapat melukiskannya. Aku yakin, air terjun ini pesona nan amat sangat mahal, karena tak mudah untuk menggapainya. Hanya orang yang teguh baja dan bermental kuat yang bisa mencumbuinya.

 

Kupuaskan hasil perjuangan dengan mengabadikan keindahan air terjun Srambang. Setiap sudut jangan sampai terlewatkan. Namun, tampias air terjun menghalang lensa kameraku. Tidak banyak gambar bagus yang bisa kurekam. Tak apalah, yang penting aku punya bukti bahwa aku pernah menaklukkan Srambang.

5

 

Kutadabur-i gemilang karya Yang Kuasa yang digoreskan di kanvas lereng Lawu. “Tuhan, sebagian keindahan alam abadi-Mu kau hadirkan dunia. Seakan engkau menyajikan iming-iming kepada umat-Mu, bahwa ada puncak kesempurnaan keindahan di arsy-Mu. Engkau telah menunjukkan jalan untuk meraihnya. Karena engkau begitu menyanyangi hamba-Mu. Semoga kelak, aku menjadi salah satu insan yang engkau ijinkan meraihnya. Amin…”

 

Hari beranjak sore. Kabut tebal mulai turun dan hujan semakin deras membahasi bumi Srambang. Secepatnya kutinggalkan air terjun, menyusuri kembali jalan tempatku mendaki. Aku tak mau terlambat tiba kembali di Kota Ngawi, pasti istri dan anakku sudah tak sabar menanti kedatanganku.

 

Terima kasih Srambang, untuk elok alammu dan pelajaran tentang kehidupan yang telah kau ajarkan. Bila ada ruang waktu, akan kutengok kembali pesonamu…    

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s