Friday The 13th, Really Really Nightmare

Posted on Updated on


Selama ini, dalam kamus hidupku tak ada kata-kata hantu-berikut derivasi-nya-, arwah gentayangan, roh jahat, demit, mistik, wingit, angker ataupun keramat. Menurutku, itu hanyalah halusinasi alam pikiran, yang telah menjadi korban ketakutan berlebihan, sehingga mengubur logika dan akal sehat manusia.  Aku hanya yakin tentang alam ghaib, sebuah kawasan teritorial yang tidak mungkin terjangkau oleh indra manusia namun sejatinya ada. 

 

Jujur saja, acapkali aku juga merinding bulu roma bila menginjak di satu daerah yang asing, atau berada di tempat yang konon dipercaya beraura negatif. Terlebih hidup di tanah jawa yang masih kental nuansa klenik, ilmu santet atau persekongkolan jahat manusia dan jin untuk tujuan tertentu, membuat nyali keberanian gampang menciut. Sehingga terbesit bahwa memang ada sosok-sosok menyeramkan di kanan kiri kita, yang hendak menampakkan diri untuk menakut-nakuti kita, bersiap mengelincirkan nilai keimanan.  

 

Inilah yang kadang menjadi meracuni jiwa, seakan-akan dunia supranatural memang nyata adanya. Namun sejauh ini aku masih bisa menguasai diri, phasmophobia yang membelenggu diri harus kulawan. Aku tidak boleh kalah pada hal yang jelas-jelas tiada.

 

Demikian pula istilah Friday The 13th. Hanyalah legenda sejarah asal Eropa sono mengenai keramatnya Hari Jumat jika bertepatan dengan tanggal kalender menunjuk di angka 13. Buat apa aku mempercayai kebenarannya.

 

Namun terrible incident saat Jumat dinihari, 13 Maret 2009, sempat membuat goyah pendirianku. Entah kebetulan semata, kena tuah Friday The 13th, ataukah aku digoda setan untuk membenarkan mitos yang aku anggap sesat sebelumnya.

 

Ceritanya diawali pada Kamis malam ketika aku bersiap pulang kantor. Aku melihat teman kerjaku (sebut saja Pak Joko) masih asyik ngenet di meja kerjanya. Kondisi kantorku sendiri sudah sepi senyap karena semua karyawan telah kembali ke rumah masing-masing. Kulihat jam dinding di atas dinding ruanganku, jarum jam menyimbolkan huruf V, jam 22.10. Segera kukemasi alat tulis kantor, kurapikan berkas-berkas di meja tugas dan kumatikan komputer.

 

Kupamiti Pak Joko, yang wajahnya masih terlihat muda meski usianya jauh di atasku.

 

“Pak Joko belum pulang?”, tanyaku berbasa-basi

Ngga Ed, aku lagi males. Mendung di selatan Jakarta. Nanti malah kehujanan kalau nekat.”

 

Memang, rumah Pak Joko sendiri hampir 30 km jauhnya. Jadi aku maklum, dia berniat numpang tidur di kantor.

 

“Kalau begitu saya balik dulu ya Pak!”

“Eh Ed…temenin aku ya. Nginep saja di sini!”

 

Duh…sempat bimbang meluluskan pintanya. Tapi karena aku juga sedang  “home alone”, dan rasa iba melihat Pak Joko hanya sendirian, akhirnya kubatalkan rencana pulang.

 

“Baiklah Pak. Kalau begitu, saya ke belakang dulu ya Pak. Saya sudah ngantuk, mau tidur duluan”.

 

Beruntung di bagian belakang kantor tersedia ruang istirahat. Biasanya kalau siang menjadi tempat BBS teman-teman kantor untuk sejenak melepas penat. Hanyalah ruang yang tak begitu besar, kira-kira berdimensi 5 X 5 m. Tersedia tikar dan bantal, sehingga memang layak dijadikan lapak untuk rebahan. 

 

Namun, menurut cerita getok tular dari mulut ke mulut, kantorku sendiri ditahbiskan sebagai tempat yang menyeramkan. Konon, tempat kantorku berdiri adalah bekas area pemakaman, yang kemudian digusur demi pembangunan perusahaan. Seringkali kudengar kisah-kisah ganjil dari para satpam yang pernah mendapat jatah bertugas standby di ruanganku. Mulai munculnya bunyi-bungi aneh, kuntilanak, genderuwo atau riuh anak-anak kecil bermain-main di dalam ruangan. Makanya tak heran, satpam malam sekarang enggan stay di ruanganku, lebih memilih berkumpul dengan satpam lainnya di pos jaga depan.  Tapi sekali lagi, aku kurang concern dengan masalah beginian, sehingga aku boleh dibilang cuek tentang keangkeran kantorku.

 

 

Tak perlu butuh waktu lama, akupun tertidur karena capai yang amat sangat didera rutinitas pekerjaan.

 

Dalam peraduan nyenyakku, tiba-tiba…

 

Agh…agh…aghhhh…

Agh…agh…aghhhh…

 

Jeritan lemah seseorang membahama, membelah kesunyian malam. Kondisi ruangannya sendiri remang-remang, hanya diterangi sinaran lampu dari luar jendela. Suaranya lirih menyayat hati, layaknya orang merintih kesakitan dihimpit ketakutan. Temponya lambat, ritmenya mengalun pelan terus meninggi. Sontak aku terbangun sebab kaget dibuatnya. Yang membuatku terperanjat setengah mati, warna suaranya bukan mirip Pak Joko. Tapi lebih menyerupai suara hantu dalam tayangan film-film produksi anak-anak negri. Darimana suara ini gerangan, padahal hanya aku dan Pak Joko di dalam ruangan ini?

 

Kulihat Pak Joko tidur pulas tak jauh di sampingku.  Yang membuat aku keder, badannya telentang membujur kaku, kakinya rapat dan kedua tangannya dilipat di atas dada, seperti mayat yang belum dikafani. Tapi, ya Allah…mulutnya komat-kamit mengeluarkan suara menyeramkan berulang-ulang.

 

Agh…agh…aghhhh…

Agh…agh…aghhhh…

 

 

Pasti Pak Joko sedang mengalami mimpi buruk hingga mengigau (hereup-hereup istilah bahasa sundanya). Tapi kok suaranya lain, bukan milik Pak Joko? Bergegas kubangunkan, kugoyang-goyang pundaknya. Bukannya bagun, tapi malah mengeluarkan suara lebih keras.

 

Agh…agh…aghhhh…

Agh…agh…aghhhh…

 

Shit…aku serasa berada di dunia yang asing. Kucoba kukuasai diri. Ah…aku harus membantu Pak Joko agar tersadar dan bangun dari mimpinya.

 

Kugoncangkan lebih keras lagi badannya, sambil kupanggil-panggil namanya.

 

“Pak Joko, bangun Pak. Bapak mimpi buruk. Bangun Pak…”

 

Sejurus kemudian, dia merespon dan beranjak bangun lalu membalikkan tubuh ke arahku. Bukannya sadar, dia malah berulah seperti macan buas yang bersiap menyerang musuhnya. Suara erangannyapun tak kunjung berhenti meski matanya sudah terbuka lebar. Masya Allah…wajah yang kulihat bukan wajah Pak Joko lagi. Justru yang aku tangkap wajah menyeramkan, bola matanya berubah merah dan mulutnya menyeringai, seolah bentuk muka setan laknat yang hendak menyergap seteru abadinya, manusia.

 

Jari-jari tangannya melebar, tak ubahnya seekor harimau hendak memangsa rusa dengan penuh nafsu. Gigi-giginya gemeretak siap melumat buruannya. Nafasnya tak beraturan memburu. Astaghfirullah…aku yakin dia kesurupan, bukan mimpi buruk. Entah makhluk apa yang masuk ke dalam raganya?

 

Karena ada gelagat tidak baik, akupun pasang kuda-kuda. Andai dia menyentuh kulitku, aku bertekat akan kupukul dia. Tak peduli dia teman kerjaku, bagiku dia telah dikuasai kekuatan di luar dirinya. Sambil terus kupanggil namanya dan meminta dia untuk beristighfar, siapa tahu dengan begitu akan menyadarkannya.

 

“Pak Joko, ini aku Pak. Pak, nyebut Pak, sadar Pak…”, kataku berulang-ulang.

 

Dia lalu terdiam, meski nafasnya masih terengah-engah. Tatapan nanarnya kubalas dengan pandangan tajam mataku. Meski aku mulai gentar, tapi aku tak boleh menyerah. Kepalan tanganku siap kuhujamkan andai terjadi hal yang di luar dugaan. Akan “kuladeni” ulahnya, hingga dia kembali “normal” seperti semula.

 

Kemudian…

“Masya Allah…”, Pak Jokopun tersadar. Amarahnya langsung padam. Sedetik berlalu, dia langsung merebahkan diri, tidur kembali dan tak lama kemudian mendengkur. Aneh dan aneh…

 

Aku hanya terpaku di tempatku. Kaki ini susah digerakkan meski hanya untuk menggeser sedikit posisiku. Cerita-cerita horor dan kisah mula berdirinya kantorku berloncatan dalam benakku. Campur aduk rasa di hati, takut, merinding, deg-degan, cemas, khawatir hingga mati bicara. Aku ngeri, kalau-kalau aku tertular kesurupannya. Suasana ruangan langsung mencekam.

 

Kuraih HP yang tergolek di sampingku. Jam 02.29. Hmm…1/3 malam yang terakhir. Degup jantungku berlarian cepat, pikiran tambah kacau dan peristiwa yang baru saja terjadi terus menghantui. Mata ini sudah susah diajak tidur kembali. Hendak pindah tempat, ke mana? Mau pulang ke rumah, jam segini. Andai aku memaksa tidur, terus Pak Joko kesurupan kembali dan menyerangku, bisa babak belur tubuhku. Sudahlah…kuputuskan aku tetap di sini hingga pagi menjelang. Aku harus terus siaga mengawasi setiap gerak-gerik Pak Joko. Akhirnya, baru jam 05.00  aku bisa memejamkan mata, membayar jatah tidur malamku yang berkurang.

 

Pagi harinya, kuberanikan diri untuk bertanya,

“Pak Joko mimpi buruk ya tadi malam?”, pancingku dengan halus agar dia membuka cerita.

Masak Ed, aku ngga ingat apa-apa tuh? Semalaman hanya tidur saja kok!”

 

Ha??? Kejadian luar biasa semalam di luar kendali alam sadarnya?

 

Seringkali peristiwa malam Jumat silam menggangu otakku untuk membuka tanya, misteri apa yang sebenarnya terjadi di hari Friday The 13th itu? Namun, sampai sekarang aku tak tahu jawabnya…

Iklan

5 respons untuk ‘Friday The 13th, Really Really Nightmare

    Ki Dhalang Sulang said:
    4 April 2009 pukul 9:41 pm

    Dunia gaib, misteri, mistik dan apalagi namanya! wow, kita harus percaya, meski nalar kadang tak njangkau. Inilah salah satu wilayah prerogatif Alloh aza wazala. Wallohu a’lam, Mas.

    Ki Dhalang Sulang said:
    4 April 2009 pukul 9:43 pm

    Eh! lupa. Salam kenal buat Pak Joko, nggih. hi hi hi hiiii…………..

    cah pasar said:
    5 April 2009 pukul 4:23 pm

    jadi ingat acara pemburu hantu 😀

    didiksalambanu responded:
    26 Mei 2009 pukul 8:22 am

    @Pak Jup

    100% setuju dengan Pak Jup. Ada dunia luar di luar dunia kita.

    Salam buat Pak Joko akan saya sampaikan Pak Jup. xixixi…

    didiksalambanu responded:
    26 Mei 2009 pukul 8:23 am

    @cah pasar

    Hehehe…saya tidak berburu hantu Mas, malah hantu yang berburu mencari saya. Hii…serem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s