Menjinakkan Arus Liar Citarik

Posted on Updated on


 

 

Di era serba modern seperti sekarang ini, refreshing tak bisa dipisahkan dari kebutuhan dasar warga perkotaan. Terutama bagi sebagian orang yang larut dalam hiruk pikuk  dunia kerja. Rutinitas harian yang “itu-itu saja” dan pressing beban pekerjaan yang menghimpit  lama-lama membuat kinerja otak  mampet dan otot tubuh kian menegang. Bila kondisi psikis berada pada titik kulminasi kejenuhan, efeknya para pekerja  akan dihinggapi penurunan produktivitas, demotivasi, kepenatan yang amat sangat  dan matinya ide dan kreativitas untuk menunjang bidang pekerjaannya.

 

Berangkat dari pemikiran di atas, pada tanggal 04 April 2009 kemarin, divisi teknik perusahaan tempatku bekerja mengadakan acara outing rafting (arung jeram). Selain untuk menjernihkan pikiran, sekaligus dijadikan sarana mempererat tali pertemanan dan menambah kesolidan teamwork bila nanti bekerja kembali.

 

Dengan pertimbangan sebelumnya pernah merasai jeram Sungai Citatih, maka panitia merencanakan mencari lokasi arung jeram yang baru. Akhirnya satu yang dipilih adalah Sungai Citarik, Sukabumi. Event Organizer (EO)-nya dipercayakan kepada Caldera, yang berkantor pusat di Menteng, Jakarta. Konon, bagi kalangan adventurer, sungai yang berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun ini memiliki trek yang lebih menantang, memacu adrenalin dan jeram-jeramnya lebih terjal dibanding Sungai Citatih. Selain itu view yang mengapit kanan kiri Sungai Citarik lebih indah serta airnya  terbebas dari polusi limbah buangan industri dan rumah tangga.   

 

Berhubung rencana arung jeram diperkiraan berlangsung dalam masa peralihan musim, berdasar voting terbanyak, maka arung jeram akan dilaksanakan pada pagi hari untuk menghindari kondisi cuaca yang tidak menentu.  Mengingat jarak kantor dengan daerah lokasi rafting cukup jauh, dan terlebih jalur mulai Ciawi hingga Cicurug rawan kemacetan, maka aku bersama dua puluh lima orang karyawan teknik yang lain memilih untuk menginap di Resort Caldera River di daerah Cikidang.

 

Setelah menempuh perjalanan melelahkan hampir 5 jam lamanya, kamipun sampai di tempat yang dituju. Bermalam di tepian Sungai Citarik menghadirkan nuansa alam pedesaan Sunda yang khas. Debur riak air sungai yang tercipta oleh halangan batu-batu besar, suasana kampung yang sepi jauh dari hingar bingar keramaian, hanya suara serangga-serangga hutan serta hawa sejuk khas pegunungan memberi tambahan semangat baru, bahwa besok kami semua akan melakukan kegiatan menantang penuh resiko. Setelah menikmati jamuan barbeque, kami mengistirahatkan diri di saung ala Pulau Lombok. Yakni bangunan tradisional model panggung dari kayu beratap ilalang, dengan dinding terbuka.   

 

Esok paginya, setelah menyantap hidangan  berupa nasi goreng ayam, kegiatan arung jeram bersiap dimulai. 25 orang dibagi menjadi lima grup plus satu instruktur. Setelah mengenakan piranti keselamatan yakni pelampung dan helm pengaman, serta dayung sebagai alat kayuh, kami dikumpulkan dan di-briefing tentang cara mengendalikan perahu serta prosedur keselamatan. Tampak wajah-wajah riang ceria dan diseling canda rekan-rekan kerjaku meski sebentar lagi kami akan menghadapi ganasnya arus liar Sungai Citarik. Mungkin, inilah trik dari rekanku yang sudah berpengalaman untuk mengubur stress dan ketegangan bagi yang baru pertama kali ikut acara rafting.

 

Ada beberapa istilah sebagai kode komando instruktur yang harus dipahami oleh rafter. Antara lain boom, yaitu posisi menunduk dengan tangan memegang ujung dayung di atas perahu, dancing, bila perahu stuck tersangkut sehingga harus digoyang-goyang agar terlepas, maju untuk mengayuh ke depan, mundur jika sebaliknya, rapat kanan/kiri untuk menyeimbangkan perahu agar tidak oleng kehilangan posisi dan stop yang berarti diam tanpa mengayuh.  

 

Pukul 9 pagi, bendera start dikibarkan dan kami bersiap mengarungi jalur Sungai Citarik sepanjang 13 km, sesuai paket yang kami ambil yakni Crocodile. Tidak lama dari titik permulaan, kami langsung dihadapkan pada jeram yang lumayan terjal sebagai test case dan menaikkan adrenalin. Namun, pengalaman berarung jeram di Citatih sebelumnya membuat kami bisa menikmati kegiatan ini tanpa perasaan was-was dan cemas yang berlebihan.

 

Uniknya, setiap jeram yang kami lalui mempunyai nama tersendiri sesuai sejarahnya dan bentuk bebatuan. Semisal jeram TVRI, karena di sini seorang pegawai TVRI pernah pingsan sewaktu berarung jeram. Jeram Hiu karena batu besar menyerupai punggung dan kepala ikan hiu menghalangi aliran air, jeram susu karena ada dua buah batu seukuran yang sejajar mirip (maaf) payudara dan jeram piramida karena terdapat sebongkah batu besar seperti  piramida mesir. Dan jeram yang paling menegangkan adalah jeram panjang, karena aliran air sangat deras ketika melewati alur sungai berbentuk huruf “Z” dengan turunan curam, sehingga pada saat menuking perahu terkadang terpelanting atau terbentur dinding tebing sungai. Itu semua tantangan yang mesti dihadapi.

 

Setelah 2 jam bergelut dengan derasnya air, bebatuan, jeram dan alur sungai, kami mampu menjinakkan ganasnya arus Sungai Citarik. Asyik, penuh challenge dan pengalaman yang mendebarkan menaklukan grade III tingkat kesulitan jeram sungai yang bermuara di pantai Pelabuhan Ratu ini.

 

Sayang, berkaca pada timku, para rafter  terkadang lebih asyik dengan sensasi arung jeram tetapi terlewat menikmati pesona alam di sekitarnya. Sejatinya, di sepanjang tepian sungai kita akan disuguhi pemandangan yang eksotis. Hamparan sawah dan ladang para petani dusun, jajaran bukit Caldera yang membentang membiru, hutan rimba yang dipenuhi vegetasi dataran tinggi dan dinding bebatuan alami sebagai tebing sungai  menciptakan pemandangan yang menyegarkan. Terkadang ditemui fauna sejenis biawak berjemur diri di atas bebatuan pinggir sungai. Kicauan dan kepakan sayang burung berpadu dengan gemuruh debit sungai menciptakan simponi alam yang merdu di telinga. Kami sempat melewati sebuah kampung di pelosok yang kehidupan warganya bersahaja dan ramah. Anak-anak kecil yang sedang mandi dan bermain-main di kali, menyapa kami dengan hangat saat perahu kami berlalu. Inilah nilai plus dari kegiatan arung jeram Citarik yang jarang diekspose.  

 

Bila kebosanan melanda dan refreshing adalah jalan keluarnya, rafting di Sungai Citarik bisa dijadikan alternatif untuk mencairkan kebekuan pikiran dari monotonitas pekerjaan.

 

Citarik, someday I’ll be back…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s