Hendri Mulyadi “Ad-Dhakil”, Sang Pendobrak…

Posted on Updated on


Dari balik layar kaca, terlihat menit pertandingan menapak masa injury time. Papan skor masih mempertontonkan angka 2-1 untuk keunggulan Oman atas Laskar Merah Putih. Ibarat kata, hanya mukjizat dari langit yang bisa menyulap skor sementara tersebut, menjelmakan kemenangan bagi Indonesia. Hasil imbang pun tak banyak menolong, pintu peluang lolos ke final Piala Asia 2011 praktis tertutup. Dari empat pertandingan yang paripurna dijalani, skuad racikan Benny Dolo hanya mampu meraup nilai tiga, hasil tiga kali seri dan sekali mencatat kekalahan.

Di sisi luar lapangan, puluhan ribu suporter yang menjejali tribune serentak gusar, risau serta harap-harap cemas. Bayangan kegagalan Bambang Pamungkas cs melenggang ke fase berikutnya jadi momok menakutkan yang menyergap atap Senayan. Capaian spektakuler, yakni tradisi lolos ke babak final gelaran sepakbola paling bergengsi di tingkat Asia ini, semenjak keikutsertaan timnas pada tahun 1996, terancam ternoda oleh hasil minimalis pertandingan yang lagi dihelat.

Peluit panjang tinggal menghitung detik. Wasit asal Malaysia, Muhammad Saleh Subkhidin, sesekali melirik jam tangan penghitung waktu mundur, agar laga selesai on time.

Tiba-tiba secara mengejutkan, dari salah satu sektor tribune stadion menyeruak seorang fans ke tengah lapangan. Bagaimana dia bisa menembus barikade keamaman, tak banyak yang tahu. Karena sorot mata “hadirin” concern tertuju pada sodoran-sodoran bola di atas lapangan, berharap masih ada kans bagi Tim Garuda untuk mencetak gol.

Permainan otomotis terhenti oleh atraksi nekatnya. Si penyusup itu kemudian melakukan steal si kulit bundar dari kaki pemain Oman. Dan bak seorang pemain profesional, pemain ke-12 timnas itu kemudian menggiring bola solorun ke depan gawang Oman. Saat tinggal berhadapan one by one dengan kiper Ali Al-Habsi, dia berupaya memasukkan bola ke gawang. Tapi sayang, kegesitan kiper yang membela klub Inggris, Bolton Wanderers, menggagalkan tendangannya.

Sontak, pihak keamanan kelabakan dibuatnya. Belasan orang, yang terdiri dari polisi dan panitia pertandingan menyerbu untuk menghentikan tindakannya. Sang infiltrator itu menyerah, dan tampak pasrah dibekap tangan-tangan kekar mereka. Setelah lapangan steril, pertandingan dilanjutkan kembali. Dan kedudukan tetap tak berubah. Nasib timnas meradang, posisinya karam di dasar klasemen. Dan tragisnya, masuk kotak secara prematur.

Kecewakah para suporter fanatik timnas?

Bila melihat hasil akhir, tak bisa dibantah pasti berujung kesedihan. Nestapa bangsa di awal tahun. Karena baru tahap Piala Asia inilah timnas kita mampu pamer kiprah di hadapan dunia. Merasai FIFA World Cup hanyalah angan-angan kosong, retorika semata, pertanyaan tanpa pernah ada jawaban.

Tapi, kekecewaan massal itu sejenak terlupakan, terhibur oleh ulah konyol seorang suporter gokil tersebut. Yang jelas, aksi itu meledakkan gelak tawa sesaat, meneduhkan hati yang sedang terluka menyaksikan kenyataan pahit Ponaryo Astaman dkk “wajib” angkat koper pagi-pagi.

Namun, tidak demikian dengan pikiran spontanitas-ku (dan mungkin saja yang sependapat). Malah beda suara menyikapi adegan jenaka lagi langka di dunia olahraga. Kata-kata serapah, “konyol”, “memalukan”, “psikopat”, “wong edan”, “ngawur”, “menginjak-injak nilai sportivitas”, “cari perhatian”, “unjuk sensasi”, “mencoreng muka bangsa” hingga “enemy of the state”, menunggu untuk diluapkan.

Mengapa kalau sekedar mencari ketenaran instan dengan cara menjijikkan? Walaupun hanya pertandingan regional benua, sejatinya nama dan citra negara sedang dipertaruhkan. Jangankan kejadian di atas, lemparan gelas air mineral ke lapangan adalah dosa besar di mata internasional.

Mengapa hanya demi sensasi murahan mesti mencoreng wajah ibu pertiwi? Bukankah it’s just a game, kalah menang adalah keniscayaan? Gara-gara satu orang gila, tercoreng wajah Sabang sampai Merauke, gerutuku.

Tak sabar menelusuri jejak si penyusup dan dalih apa yang mendasarinya, kukorek-korek beritanya. Dan malam harinya kudapatkan seputar pemberitaannya.

“Saya melakukan itu karena kecewa atas prestasi timnas Indonesia yang tak pernah menang. Selalu kalah, bahkan selalu seri. Saya minta maaf atas ulah saya ini, kepada seluruh masyarat sepakbola tanah air. Dikira gila? Saya pasrah saja biar masyarakat yang menilai, jujur saya kecewa sama timnas Indonesia yang nggak bisa menang,” ungkapnya jujur saat ditanya para wartawan di ruang interogasi di kompleks Stadion Gelora Bung Karno.

What??? Is it true???

Seketika pipiku tertampar keras oleh ucapan polos si pelaku, yang sebelumnya kuberi gelar “Game’s Destroyer” itu.

Bagiku, itulah ungkapan dari lubuk terdasar nurani seorang anak bangsa yang begitu dalam cintanya terhadap sepakbola nasional, yang sekaligus mewakili curahan hati yang sama seluruh rakyat Indonesia.

Apa kurang sabarnya penggila bola tanah air ini? Sekian tahun berharap torehan prestasi manis yang tak kunjung tiba, terakhir “hanya” mendapat emas di Sea Games 1991, tak serta merta menanggalkan kebanggaan mereka pada timnas. Garuda tetap di dadaku, tekat mereka. Biarpun perbaikan nasib sepakbola nasional hanya jalan di tempat, makin ditinggal “berlari” oleh negara-negara jiran di kawasan Asia Tenggara, tak menyurutkan kesetiaan mereka. –Bad or good, this is Indonesian football—

Namun, kecintaan mereka kurang direspon secara total oleh petinggi-petinggi PSSI. Justru yang terjadi, mereka terkesan men-sakralisasi dan men-delegitiminasi organisasi tertinggi yang menaungi sepakbola nasional. Seolah mendirikan rezim yang un-touchable. Kursi-kursi jabatan yang mereka diduduki sulit didongkel, demi penyegaran kepengurusan.

Manajerial yang amburadul, pola pembinaan yang tak terstruktur, carut-marut tata kelola kompetisi domestik, inkonsistensi program-program untuk pembentukan timnas, dugaan suap di ranah “pengadilan lapangan”, adu jotos para pemain di ajang pertandingan, keributan antar suporter, bahkan sempat kendali organisasi dijalankan dari balik jeruji besi, kengototan menggelar even tuan rumah Piala Dunia 2022, teguran, sangsi serta denda dari otoritas bola dunia adalah sederet galery kesuraman wajah persebakbolaan nasional.

Kadang kita berpikir pragmatis, dari 240 juta-an anak-anak bangsa, apa susahnya mencari pemain-pemain bertalenta tinggi, untuk kemudian dibina, diramu dan dicetak menjadi sebuah kesebelasan yang disegani negara lain?

Justru, tanpa ada gelar yang membanggakan, para punggawa PSSI melanggengkan “status quo”nya, tanpa ada kepekaan untuk merespon tuntutan pembenahan di tubuh PSSI. Mereka seolah lupa, PSSI bukanlah milik segelintir orang, tapi cerminan harga diri bangsa.

Kini datanglah “ad-dakhil”, sang pendobrak, Hendri Mulyadi. Dialah pahlawan kecil, berdarah merah dan berjiwa militan, yang eksplisit berani memberi pelajaran dengan menjewer kebebalan mereka selama ini.

Sebelum laga Indonesia versus Oman, dia bukan siapa-siapa, tapi kini semua pecinta bola tanah air mengenalnya. Dialah orang biasa yang tanpa takut menohok secara terang-terangan para pembesar PSSI atas ketidakbecusan mengelola olahraga yang paling dicintai rakyatnya, meski dengan cara bodoh yang diyakininya akan lebih menggema gaungnya. Justru, dialah yang sebenarnya menjadi man of the match pertandingan krusial malam itu.

Jutaan pecinta bola sudah haus tak tertahankan mereguk trofi-trofi bergengsi yang dipersembahkan sebelas orang pesebakbola terbaik tanah air. Kita rindu dengan permainan cantik yang dipentaskan Ribut Waidi, Robby Darwis, Ricky Yakobi, Nasrul Koto, Patar Tambunan, Marzuki Nyak Mad, Rully Nere, Hery Kiswanto, Azhary Rangkuti dkk, dibawah asuhan Bertje Matulapelwa, saat menerbangkan medali emas Sea Games 1987 ke langit biru Indonesia. Apakah kenangan itu sudah cukup, tanpa perlu lagi raihan juara-juara yang lain?

Kapankah kita kembali tegak berdiri dan mendongakkan kepala, membanggakan supremasi serta hegemoni timnas kita atas bangsa lain, meski tidak muluk-muluk, cukup level kawasan Asia Tenggara?

Semoga, “aksi heroik” yang telah diperlihatkan Hendri Muyadi menjadi kilas balik kebangkitan sepakbola nasional…

*aku hanyalah satu dari ratusan juta pecinta bola tanah air…

One thought on “Hendri Mulyadi “Ad-Dhakil”, Sang Pendobrak…

    Kerja Di Rumah said:
    8 Januari 2010 pukul 10:07 pm

    Kekalahan yang terus dialami timnas indonesia memang membuat siapapun yang melihatnya merasa kecewa. Apalagi ketika itu terjadi di hadapan public sendiri. Makanya wajar jika terjadi luapan emosi yang berlebihan dari para fans fanatic timnas.

    Hal ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi timnas Indonesia dan pihak-pihak yang terkait. Dimana dari masa ke masa kualitas timnas kita seolah semakin menurun dalam hal kualitas dan prestasi.
    Membuat Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s