Berdamai dengan “Sapu Jagat” (3)

Posted on


Greg…tiba-tiba bus mendadak shutdown sesaat akan go setelah lampu hijau di traffic light pertigaan Genuk, Semarang, menyala. Saat kunci starter berkali-kali dihidupkan, tetap tak mau on. Deretan kendaraan di belakangnya mulai mengular, tersumbat mogoknya bus ini di lajur tengah.

“Mas, tulung ewangi nyurung…”, pinta kenek seolah tanpa dosa pada penumpang. (Mas, bantu dorong)

Belasan laki-laki berbaik budi membantu mendorong bus ini. Sebagai warga sekampung dengan TSU, aku jadi malu menyaksikan PO kebanggaan wong Rembang didorong bergotong royong. Jadi lahan proyek padat karya para penumpang. (Pripun niki Mas Hary?)

Setelah melahap tol Kaligawe-Jatingaleh-Krapyak, sapu jagat ini kembali tertatih-tatih menyusuri trully pantura circuit. Serasa tidak ada pemandangan menarik bagiku, karena hati mulai dibekap kegondokan.

Lewat kompleks rumah makan, semuanya hampir sama, tinggal acara cuci priring karena selesai melayani hajat dinner penumpang. Sari Rasa, Sendang Wungu, Gerbang Elok, Jaya Giri dan Bukit Indah nyaris kosong melompong.

Selesai menjamu makan malam di RM Kota Sari, Gringsing, bus bersiap mendaki tanjakkan Plelen di bawah kendali sopir kedua. Bus yang nge-line Tuban-Jakarta ini mulai dihela. Lumayan…

Puluhan bus malam dari Jakarta berparade, memberi sejuta warna pesona jalan Deandeles. Sementara lonceng waktu mewartakan jam 23.30. Hitung-hitunganku, tak bakalan tercapai target waktuku.

Sialnya, kondisi headlamp semakin mengkhawatirkan. Kian lemah cahayanya dan sopir hanya mengandalkan lampu penerang jalan umum dan sorot lampu kendaraan dari depan. Di luar itu, terlihat kalau Marcopolo buatan Tri Sakti ini berjalan dalam kebutaan. Jelas driver meraba-meraba posisi jalan dengan melambatkan putaran mesin OM 366 LA ini. Lampu kabin semuanya dipadamkan, seakan ada penghematan energi.

Aku mulai tak tenang bila memejamkan kelopak mata. Retina ini kubuka paksa, mewaspadai setiap guliran detik dengan kengerian yang diciptakan, menaklukan keganasan Alas Roban dalam kegelapan. Aku mulai mencari jawab, mengapa bus ini kehilangan tegangan untuk memijarkan bohlam lampu flight-nya? Dugaanku, dinamo ampere tak mau men-charge bateray kembali. Tapi mengapa, sejauh perjalan Rembang hingga Batang, accu-nya tak juga tekor, tetap saja sanggup menyuplai strum kelistrikan bus ini?

Musuh biologis yang berbentuk uapan kantuk tak bisa aku lawan. Tanpa kusadari, aku tertidur. Zzz…

Terbangun kala bus berhenti dan mesin kembali dimatikan menjelang ringroad kota Pemalang. Aku pun turun untuk menyidik apa gerangan yang terjadi. Jam di HP-ku terpampang angka 01.32

“Ada apa Mas, kok berhenti?”, tanyaku pada drivernya.
“Lampunya mati Mas, dinamonya ngga mau ngisi…”, terangnya.
“Rusak apa fan beltnya yang putus?”
“Fan beltnya kendor Mas. Biar ngisi, bus harus berjalan pelan, karena rantai fanbelt akan menegang dan bisa memutar pulley alternator. Kalau bus kenceng, fanbeltnya ngga mau nyantol. Tapi kalau begini, bisa jam berapa sampai Jakarta?” jelasnya dalam kebingungan juga
“Ngga bawa v-belt cadangan Mas?”
“Ngga Mas”

“Mata saya pedas dan lelah Mas, melototin jalan terus,” curhat driver yang rautnya sekilas mirip ikon Orkes Melayu Sera, Cak Brodin, “Makanya, bus ini istirahat dulu…”

Sembari ngaso, kru menyuruh tukang tambal ban di dekat lokasi pemberhentian untuk membersihkan filter udara dan menyemprot ruang mesin dengan hembusan angin yang dihasilkan kompressor. Apa hubungannya coba, toh masalah bukan di dapur pacu, tapi di kelistrikan?

Dipaksa untuk jalan lagi, dan sekali lagi bus didorong ramai-ramai.

Entah berapa kali sopir gedandapan (tergagap-gagap) karena buram melihat kondisi jalan. Bahkan, sempat akan menyium bak truk gandeng di ruas jalan yang sedikit penerangan, hingga kenek member aba-aba keras kepada sopir.

“Hey…hey…awas….awas…!!!”

Kemudian, entah berapa sering pula celutukan serta celometan penumpang yang menjelek-jelekkan kru maupun bus. Sudah tahu bus dalam kondisi tidak fit, tapi diperkosa untuk jalan, itulah yang membuat mereka tidak habis pikir.

Defile bus-bus jurusan Banyuwangi, Jember, dan Malang satu persatu mengasapi nafas muda bodi tua bus ini. Kulanjutkan tidur-tidur ayamku meski masih diliputi perasaan was-was.

Hawa pengap kabin kembali menyadarkanku dari peraduan. Bus berhenti kembali di daerah Tanjung, Brebes. Dan sesuai perkiraanku, waktu sudah menjelang Shubuh, jam 03.35. Demi menghirup udara segar, kulangkahkan kaki keluar dari Sprinter yang bukan jago sprint ini. Terlihat sopir dan kenek belanja kabel di toko onderdil “Roda Maju” (kalau tidak salah) yang buka 24 jam.

“Ada apalagi Mas?”, tanyaku saat sopir kembali ke armadanya.
“Gara-gara saya kebut, akinya tekor Mas. Semua lampu sudah padam, klakson tak bunyi, sein tak fungsi. Saya tak berani jalan lagi Mas, benar-benar tak tahu jalan. Keselamatan penumpang yang saya pikirkan. Daripada terjadi apa-apa, malah saya yang dituduh melakukan kesalahan berat”

“Terus bagaimana Mas?”
“Ini coba diakali, di”bandrek”, strum diambil dari dinamo AC. Kali aja mau nyala…”

Saat perbaikan, tiba-tiba satu warga Soloensis, PO Gaya Putra AD 1514 CF ikut berhenti. Pura-pura ikut membantu, tapi ada muslihat tersembunyi. Kru merayu penumpang TSU untuk oper ke busnya. Beberapa penumpang termakan iklan iming-iming dari kepandaian kenek bus yang berhomebase di Karanganyar tersebut dalam bersilat lidah. Padahal mereka menanggung sendiri biaya tambahan, tanpa ada kompensasi dari pihak TSU.

Sopir-ku pun naik pitam. Tapi apa daya, itu kemauan penumpang sendiri.

“Kalau saat ini bos menelepon untuk mengoper penumpang ke bus lain, saya malah lega Mas. Tapi kalau seperti ini, terus ada yang komplain ke kantor, saya pasti dimarahi sama Mbah Do. Coba nanti, aku balas bus kupret tersebut. Siapa yang akan duluan masuk Pulogadung”, tantang sopir.

Dalam batinku, “Modalmu apa Pak Sopir?”. Sesama sapu jagat dilarang saling mendahului. Hehehe…

Selesai merekayasa sistem elektrikal, bus dijalankan kembali dengan start awal didorong lagi.

“Ora sisan disurung tekan Jakarta Pir…!!!’, umpat salah seorang penumpang. (Tidak sekalian didorong sampai Jakarta, Pir)

Tapi hasilnya nihil, no result. Baru 2 km berjalan, bus berhenti lagi. Kemungkinan salah instalasi kabel.

“Bus baru-barunya ke mana, Mas?”, kucoba lagi untuk mengakrabkan diri dengan kru.
“Pokoke Mas, yang diurusi juragan ya wisatanya. Bus ini juga bukan batangan saya. Di pool ngga ada bis lagi, tinggal bus remek ini. Kalau sampeyan nanti dapat bus ini atau yang warna biru, tak usah naik Mas. Itu bus ra nggenah semuanya,” nasehatnya sambil menahan geram.

Aku pun tertawa, karena aku pun pernah tersiksa di dalam armada biru TSU.

“Sore nanti jalan ke timur lagi Mas? Dari Lebakbulus ya?”, tanyaku kembali.
“Walah Mas, mana mau penumpang Bulus dikasih beginian. Pulogadung saja belum tentu laku…”, bebernya.

Di sisi lain, kekesalan penumpang makin menjadi-jadi. Kru seakan menjadi sangsak hidup cemoohan, makian dan caci maki dari mereka.

Tapi yang aku salut, sopir kedua tampak tenang dan tidak terpancing emosi. Padahal, kalau dilihat dari garis wajahnya, masih terbilang muda. Dibalasnya aksi tak terpuji penghujatnya dengan tutur lembut dan permohonan maaf.

“Pak, silahkan merendahkan saya atau Tri Sumber Urip. Saya terima kok, memang begitu kenyataannya. Baiknya, Bapak-Bapak jangan hanya menyalahkan saya. Saya cuma babu, bekerja sesuai perintah bos. Kalau ditugaskan berangkat…ya saya berangkat. Soal busnya layak apa enggak, itu wewenang mandor. Kalau mau lapor, silahkan saja biar besok-besok ada pembenahan. Maaf ya Pak, bukannya saya membela diri, Bapak-Bapak juga harus ngerti posisi saya”, ujarnya kalem.

Sopir pertama yang mulai dari Gringsing hanya molor, sekarang turut membantu mengutak atik trouble yang terjadi. Eh, ndilalah kok ya teratasi. Entah bagaimana caranya, fan beltnya bisa di-adjust kembali kekencangannya. Strum kembali bisa mengisi. Lha kok jurus ini tidak dikeluarkan dari awal saat penyakit itu muncul?

Tapi sayang, yang dikorbankan adalah air conditioning-nya. Bus mematikan pendingin udara, karena lebih mementingkan power mesin untuk berlari, bukan untuk menunjang kesejukan kabin. Yes already, no what what…kalau keadaan darurat, sebagai penumpang ya mesti mengalah.

Unit bus yang produknya telah diskontinyu ini didorong lagi dan artinya sudah empat kali dibantu tangan-tangan manusia saat proses starting.

3 thoughts on “Berdamai dengan “Sapu Jagat” (3)

    kolomkiri said:
    9 Juni 2010 pukul 9:17 pm

    apa arti sapu jagat yang sebenarnya…???

    Septian said:
    11 Juni 2010 pukul 3:45 pm

    Wah laporanya asyik banget mas, salut sama njenengan yang tidak ikut2an emosi seperti penumpang lainya. \
    Aku juga pernah dimintain tolong sama kru bis untuk mendorong, dan aku sih ok-ok aja. Dasare suka sama bis. heheh
    Salam Kenal,

    didiksalambanu responded:
    29 Juli 2010 pukul 7:59 am

    Hehe…jadi pernah memiliki jalan cerita yang hampir sama di atas bus ya Mas?

    Ya, namanya resiko di jalan Mas. Dinikmati saja…

    Salam kenal kembali Mas Septian,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s