(Tak) Banyak Jalan Menuju Rembang [Bagian Ke-4]

Posted on


Kubuka mata lebar-lebar menikmati goyangan “Kupu-Kupu Malam” yang bekerja, bertarung seluruh jiwa raga untuk memuaskan pemakainya. Dikuntitnya Mercy Electrik B 7908 IW yang diampu divisi Malang membelah keheningan dinihari di rute Kudus-Pati-Juwana. Inilah kuncinya, mengapa bus bertenaga 180 HP ini begitu berdaya dan bakal mampu menembus batas setengah hari untuk perjalanan Jakarta-Rembang.

Saat menapak daerah Ngerang, kurang lebih 5 km selepas Kota Juwana, tiba-tiba saja Proteus MB OH 1525 itu melambat. Namun driver-ku memaksa menyalipnya dan terus ngeblong puluhan angkutan berat dari berbagai jenis. Tapi, aku merasakan hal aneh dan instingku mengatakan “there is something wrong”.

Kendaraan-kendaraan berukuran jumbo yang didului ternyata dalam kondisi rodanya tak bergerak. Dan lazimnya “kelakuan” bus malam, bilamana menghadapi situasi macet, sah-sah saja menyita paksa jalur berlawanan.

Tepat di belakang Lorena LE-452 yang juga “memakan” sebelah kanan, akhirnya langkah penguasa Bojonegoro-Jakarta ini terhenti. Di depanku, tampak kerumuman orang-orang mengerubuti “sesuatu yang tak jelas”, karena jarak pandang dari dalam kabin terbatas dan suasana masih remang-remang cahaya.

“Pasti ada kecelakaan…” pikirku.

“Ada apa, Bos?” tanya kenek pada sopir-sopir truk yang malah asyik ngobrol di tengah jalan.
“Tuh, gandengan di depan copot…” urainya singkat.

Aku pun “lengser tahta” untuk menyidik apa gerangan yang terjadi. Tak sampai 100 jengkal, “si trouble maker” itu terlihat. Sebuah truk trailer arah Surabaya dengan bawaan segede gaban, gandengannya lepas dari deck pivot (poros pengunci) sehingga melorot dan menimpa frame chasis kepalanya. Tak pelak, truk varian Hino SG 260 Ti itu tak bisa bergeming sama sekali lantaran tertindih muatannya sendiri. Posisinya melintang dan memenuhi ¾ badan jalan.

Mulanya, jalanan yang tersisa coba dimanfaatkan bergantian, dengan cara buka tutup. Sialnya, satu truk impor utuh dari pabrikan Nissan jenis CDA 260 yang jatahnya lewat mengalami kenaasan. Daya dukung tanah di bawah bahu jalan tak kuat lagi menyangga bobot kendaraan yang mencapai puluhan ton itu sehingga ambles. Truk bernopol D 9443 AC itupun miring 70 derajat dan nyaris terguling ke selokan di samping jalan warisan Jendral Deandels.

Alhasil, jalan Pantura yang lebarnya “masih orisinal” tersumbat total baik arah barat maupun timur, menyebabkan kendaraan bertumpuk-tumpuk tanpa ada jalur alternatif yang lain. Hanya meninggalkan space yang sempit dan cuma cukup diterobos setang sepeda motor. Dan kata saksi mata, stack ini sudah berlangsung mulai jam setengah empat pagi.

Bus-bus malam terjerembab di dalamnya. Antara lain Setra Ijo Banyuwangi B 7586 XB, OBL Mataram, kembaran bus-ku – Setra Kupu-Kupu B 7597 -, ALS Medan-Surabaya, Bandung Ekpress Bandung-Surabaya, Proteus Malang, PK Tangerang-Bojonegoro. Sedang bus bumel yang jadi “penggembira” adalah Indonesia dan Sinar Mandiri.


Di TKP, tepatnya di daerah Lengkong, Batangan, puluhan awak truk berkumpul, bekerja sama, saling membantu dan mengunggah azas tenggang rasa yang tinggi antar sesamanya untuk mencarikan jalan terbaik melepaskan truk dari gandengan yang menyiksanya. Meski beda perusahaan, tak ada egosentrisme dan cuek social menghadapi kesulitan yang dialami kawan seperjuangannya. Mereka meminjamkan peralatan yang dipunya, mulai dongrak, balok kayu, tali tambang hingga (velg) roda serep untuk mengangkat trailer yang out of position. Mereka tak kenal satu dengan yang lainnya, buktinya ada beragam logat bahasa – Batak, Jawa, Sunda dan Bali- yang terlibat pembicaraan di dalamnya, namun tak menghalangi niat murni mereka untuk tolong-menolong. Hikmah dari malapetaka di jalan rupanya bisa jadi “pupuk” untuk menyuburkan sikap empati dan kesetiakawanan antar pribadi.

Aku seakan tak mempercayai peristiwa di muka. Rasa optimisku padam dan keberuntungan kembali menjauh seiring terbitnya mentari pagi hingga sepenggalah. Apalagi tak ada tanda-tanda evakuasi ini akan cepat berakhir meski telah didatangkan tiga mobil derek dari Dishub Pati dan belasan aparat kepolisian turun berkiprah.

“Ma, aku kayaknya telat sampai rumah,” kutelepon ibunya anak-anak.
“Ini di mana, Pa? Ada apa? Kira-kira jam berapa sampai rumah?” berondong istriku dengan beragam pertanyaan.
“Batangan Ma, ada kecelakaan. Sepertinya lama, ini saja kendaraan tak bisa bergerak…”
“Ya ampun. Sudah dekat rumah masih saja ada masalah ya, Pa. Kasihan Naura, pasti kecewa…”
“Habis gimana lagi, Ma. Resiko di jalan kita tak pernah dapat menduganya. Gini aja Ma, biarkan anakmu berangkat bareng rombongan sekolah. Semoga (kemacetan) ini cepat kelar, aku nanti nyusul…”

Pendamping hidupku itu menutup telepon dengan nada kekecewaan pula. Kupasrahkan ending perjalananku pada Yang Kuasa. Man proposes, God disposes.

“Satu…dua…tiga…yak, maju…horee…”, sorak sorai orang-orang kegirangan seolah dimabuk kemenangan. Dan bunyi itu berasal dari para sopir setelah berhasil menyelamatkan kepala truk yang terhimpit gandengan dan meminggirkannya, tepat pada pukul 06.45. Berarti, dua jam “The Butterfly” dkk menikmati gerakan diam diri ini.

Finally, satu persatu lautan pengguna jalan yang terjebak dapat terurai. Bus-ku pun menyodok masuk di kloter pertama yang diperbolehkan lewat. Saat perpas-pasan dengan barisan kendaraan dari timur, termasuk di dalamnya Muji Jaya Denpasar, Septi Jaya Bima-Jakarta, dua patas Jaya Utama dan lima armada Symphonie Nusantara, buntut kemacetannya hampir mencapai Tugu Selamat Datang Kota Rembang, yang berarti mendekati 7 km panjang antriannya. Luar biasa memang, jalur sevital Pantura langsung lumpuh hanya gara-gara insiden remeh.

Setengah delapan pagi, setelah diantar tukang ojek dari perempatan Sulang, akhirnya jalan terjal yang mesti kulalui berakhir dan aku lolos dari lubang jarum. I’m lucky laki…

“Na, tuh Papa pulang. Ayo, bareng Papa saja…”, teriak istriku pada anakku yang tengah bersiap ikut rombongan, saat aku tiba di rumah menjelang detik-detik keberangkatannya.

Tanpa mandi, ganti kostum, sarapan pagi dan persiapan yang lain, lantaran khawatir terlambat, bergegas kuantar buah hati pertamaku menuju sitihinggil Kecamatan Bulu yang berjarak sekitar 10 km dari rumah, yang lokasinya tak jauh dari pusara pahlawan emansipasi wanita, RA Kartini.

Dari balik kemudi, kuputar ulang “kotak hitam” perjalananku semalam. Dan kuhayati betapa kisah yang terjadi laksana sandiwara belaka. Skenario alam benar-benar mempermainkan dan mengombang-ambingkan nasib dan pengharapanku di atas panggung kehidupan, ketika adegan kemujuran dan babak keapesan mengaduk-aduk langkah 600 km-ku untuk menggapai pertemuan nan indah, berbagi kebahagiaan bersama keluarga tercinta.

Life is not always what it seems, people are not always true at heart. Life will always be a mystery…

6 thoughts on “(Tak) Banyak Jalan Menuju Rembang [Bagian Ke-4]

    Anank said:
    20 Juli 2010 pukul 7:39 pm

    Salam kenal mas, saya benar-benar tersentuh membaca tulisan-tulisan mas didik, ternyata di dunia yang selama ini dianggap orang awam seperti saya adalah dunia yang keras, egois dan mengedepankan ‘blong-blong-an’ ada falsafah hidup yang sebenarnya dapat dijadikan makna sejati dari hidup itu sendiri, semangat terus menulisnya mas, semoga orang-orang yang ‘setengah melek tentang arti hidup’ seperti saya dapat tercerahkan dari ‘secuil’ pengalaman mas didik dari jalanan, terima kasih

    Olis said:
    27 Juli 2010 pukul 12:45 am

    Ajib….! Salam kenal mas didik saya selalu membaca tulisan tentang catatan perjalanan anda kapan nulis lagi,saya juga penggemar bis tapi tidak tahu caranya.

    ardhian said:
    29 Juli 2010 pukul 1:35 am

    wah,mas tulisannya bagus..selain detil yg mbaca jg dibikin seakan2 ikut di dalam perjalanannya..
    sy jg hobi naek bis sejak kecil mas..
    tp akhir2 ni agak jrg krn blm ad wktu dan kesempatan bwt jln2 lg..
    ditunggu tulisan yg baru lg mas..hehe..

    salam dari jogja..

    didiksalambanu responded:
    29 Juli 2010 pukul 7:26 am

    Salam kenal kembali Mas Ardian…

    Untuk bersua teman-teman sehobi, silahkan bergabung ke milis bismania@yahoogroups.com. Mas Ardian akan menemukan dunia yang baru dan mencengangkan di sana. Hehehe…
    Di jogja pun, juga banyak bismania-nya lho Mas.

    Saya tunggu keikutsertaannya.🙂

    didiksalambanu responded:
    29 Juli 2010 pukul 7:35 am

    Salam kenal kembali Mas Olis…

    Wah, sudah ada yang nunggu kelanjutan cerita saya naik bus. Hehehe…
    Mas Olis bisa bergabung ke milis bismania@yahoogroups.com. Nanti kita bisa share dari A-Z tentang dunia bus Indonesia bersama bismania yang lain.

    Saya tunggu di sana ya, Mas…

    didiksalambanu responded:
    29 Juli 2010 pukul 7:40 am

    Salam kenal kembali Mas Anank, dan terima kasih pula atas pujiannya.

    Betul banget Mas, sebuah bus pun dapat menjadi guru kehidupan kita. Ada banyak pembelajaran makna hidup di dalamnya. Itulah yang membuat saya terpacu dan bersemangat untuk menulis kisah-kisah perjalanan di atas bus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s