Dari Pulogadung, “Mendaki” Dieng (2)

Posted on Updated on


Anomali Spesies “Keong”

Salah satu poin mengapa kami pasrah menyerahkan diri pada 18 J adalah faktor the man behind steering wheel. Mengacu iklan promosi para SJM, Mas Agung –pengemudi batangan 18 J- adalah sosok anomali di keluarga besar PO terbaik se-Indonesia ini. Mantan driver bus kota PAC 26 Bekasi-Grogol seolah memutarbalikkan olok-olok sosial bahwa bus Sinar Jaya tak ubahnya keong sedang melangkah alias “Keong Stroke”, untuk menggambarkan saking pelannya bus Sinar Jaya saat berjalan.

Bukti kecil tentang kelihaian tangan dan kaki Mas Agung memang nyata saat menyusuri ruas Pulogadung-Cakung. Menurut penulis, Mas Agung adalah etalase ideal seorang pengendara kendaraan besar. Halus cara pembawaanya, mahir mengharmonisasikan kerja pedal akselerasi, tuas kopling, piranti pengereman serta me-manuver-kan roda-roda bus saat menyibak kepadatan lalu lintas.

Hal demikian bisa penulis rasakan saat mulai meninggalkan apron terminal. Boleh dibilang, bus nyaris tanpa hentakan ketika posisi stop and go, pengeremannya pun lembut dan pandai me-menej rpm di kala shift-up maupun shift down.

“Ah, itu semua belum cukup memadai,” batin penulis. “I believe when I see it on Pantura…”

Menginjak aspal jalan tol Cakung-Jatibening-Cikampek, meluaplah karakter asli Mas Agung dibalik kemudi. Pembawaannya kalem, tak ada kesan grusa grusu dan jauh dari sikap agresifitas yang bar-bar. Biarpun hanya membawa armada ekonomi, Mas Agung begitu menjaga kenyamanan para penumpang fanatiknya.

Ketenangannya itu terlihat saat di Km. 10 ketika di-overtake Gunung Mulia Panorama DX dan Menara Jaya cap Thoyibah di lajur empat. Dia tetap aja cool sambil terus membejek gas secara smooth, dikuntitnya kedua bus tersebut dan ketika speed sudah mumpuni, aksi balas pun dilakukan.

Di SPBU Bekasi Timur, bus ber-jersey Travego Panorama 2 hasil tempaan Mpu Laksana ini singgah untuk keperluan kontrol dan meminum asupan gizi, bersamaan dengan belasan Sinar Jaya dan DMI yang lain.


Lepas dari Km. 19, kinerja mesin RG1JSKA generasi pertama ini terus dioptimalkan. Setingan mesin dan karakter pribadi Mas Agung memang duet yang klop. Apalagi saat itu, Mas Chandra (adik kandung Mas Himawan), tukang seting RG Built Up ini, turut serta di dalamnya. Sepertinya dia ingin mengobservasi hasil pekerjaannya sendiri sembari menjalankan tugas kantor untuk menangani armada Sinar Jaya yang lagi storing di Banjarnegara.

Yang membuat penulis heran, bus-bus AKAP tak terlihat sama sekali, termasuk bus-bus Sinar Jaya dan DMI yang berangkat lebih dulu. Apakah memang malam ini, koloni keong itu menjelma menjadi sekawanan cheetah, gesit dan cepat dalam berlari?

Hiburan audio non visual diperdengarkan untuk membunuh “kesunyian” di dalam kabin, sekaligus membangkitan spirit touring para Dieng-ers. Tembang-tembang western semi oldies macam I Want to Break Free, Hotel California, You’re All I Need, Heaven, Temple of The King, Zombie, You Give Love A Bad Name dll bergantian menyapa lembut sensor pendengaran. Serasa kami naik bus double decker buatan Jepang yang sedang melaju di highway US Route 93, Nevada, Amrik. Hehe…

Barulah di Km. 47, pemandangan menarik terlihat. Tanpa perlu ngotot, Gunung Mulia 61 dan tiga chasis gelondongan MB OH 1526 direnggut posisinya.

Menjelang exit Dawuan, lagi-lagi bus lain dilangkahi. Jaya Mulya Utama dengan lambung berhiaskan gambar burung, kompatriot 18 J, Sinar Jaya Proteus jurusan Pekalongan serta lagi, dua chasis Mercedes Benz terbaru mesti mengalah memberi jalan.

Cikampek. Inilah sesungguhnya ujian buat Mas Agung. Dengan lincah, dia mencari celah kosong di tengah keramaian truk-truk angkutan berat yang bergerak lambat. Sempat mendapat perlawanan alot saat hendak mendahului bus Damri ber-ID number 3450, AB 7333 AK, yang malam itu tampak perkasa, meski berbekal armada lawas.

Menyusul berikutnya SJ 8 Y Panorama 2, Bhineka Ragil, dan Harta Sanjaya AD 1409 CE dilempar dari persaingan.

Dan penulis mendapat satu catatan positif lagi. Cara Mas Agung berbicara dengan pengemudi lain lewat bahasa lampu, cukup ciamik. Lampu sein, hazzard, dim difungsikan sebagaimana konsensus antar pengemudi bus malam tentang penggunaan kode lampu untuk berkomunikasi. Sampai-sampai penulis yakin, jikalau ada kendaraan di belakang membuntuti 18 J ini, akan dipandu sepenuhnya oleh Mas Agung, tanpa perlu khawatir bakal terjerumus.

Di depan, kemacetan Sukamandi menghadang. Rupanya, “peningkatan” jalan di daerah Subang ini masih berpotensi menjadi bom waktu, yang siap-siap meledak dan melumpuhkan jalur Pantura. Lautan night bus terjerembab di dalamnya. Di antaranya Sinar Jaya 27 VX berbodi Concerto, Nusantara Courier Service, DMI 13 A, Dedy Jaya G 1429 GR, dan bus Mataram-Septi Jaya EA 7264 XA.

Dua bus lain, Damri Wonosobo 3132 dengan tulisan “Merpati” di kaca belakang dan Sahabat Esa pemberangkatan Lebak Bulus nekat menerjang bahu jalan.

Mas Agung pun hanya bisa mengekor kendaraan di muka dan sempat mencicipi lajur pinggir, sebelum akhirnya kembali ke posisi aman, setelah merasakan goyangan bus yang tak nyaman bagi penumpang saat menjejak jalan tanah.

Setelah 30 menit-an terdampar dalam traffic jam, bus bernopol B 7534 XB kembali dihela dengan kekuatan jelajahnya. Tak terdengar mesin meraung keras, meski kecepatan dipacu di kisaran 80-100 km/ jam. Tak ada demo “transmisi netral” atau kalkulasi njlimet soal penggunaan bahan bakar. Sepertinya, semuanya let it flow saja.

Menyandang gelar “sapu jagat”, bus harus fight dalam memangkas waktu. Meski dikategorikan bus cepat, menurut obrolan dengan Mas Agung, setiap kali PP, dia masih bisa menge-save lebihan dana solar, tak kalah dengan sopir-sopir lain yang memilih karakter keong untuk mengirit uang jalan. Mas Agung kaya akan trik dan tips bagaimana bus bisa berlari tanpa banyak menenggak cairan solar. Satu lagi tipikal Mas Agung mengemuka, economical driving. Ternyata, banter tak selalu identik dengan boros.

Fakta itu semakin kuat, saat Mas Agung membuka selubung. Ketika training mengemudi sebagai wakil Mayasari Bhakti di workshop Hino Jatake, dia adalah lulusan terbaik dalam hal the most economical for fuel usage.

Kembali on track, satu lagi bus dipecundangi tepat di atas fly over Pamanukan, yaitu Dewi Sri berjudul Janur Kuning.

Usai menyeberang jembatan Cipunegara, tertangkap mata buritan Dewi Sri yang lain. Setelah saling berdekatan, kedua bus pun mempertontonkan laku solidaritas dan gotong royong saat roda menggelinding. Soal permainan kode lampu, bus yang berhomebase di Tegal dan mengusung slogan “Bule Pulang Kampung” tak kalah elegan. Lampu sein, lampu segitiga dan lampu dim berkedip bergantian, membimbing Batavia Express agar tak perlu melotot memantau kondisi lalu lintas dari depan akibat ruang pandang terbatas. Cukup mengawasi isyarat sinar lampu, niscaya akan terbantu meski bus dalam kondisi kecepatan tinggi.

Melihat “kebaikan” Dewi Sri varian Intercooler itu, 18 J pun mengacungkan jempol. Tak ada niat untuk menyalip, hanya menempel dari jarak yang aman atau menyejajarkan diri saat jalanan kosong. Mas Agung juga tak terlihat egois dan maunya menang sendiri. Bahkan, dia terlihat merajut pertemanan dengan kawan senasib sepenanggungan. Sopan di jalan, bakal banyak teman. Itulah prinsip pria kelahiran kulon, Banten, itu.

Pantas saja, Mas Hans dan Mas Hadi memonopoli kursi CD dan CB. Ternyata memang mengasyikan menjadi saksi mata show off Mas Agung yang agung itu.

Sayang, proyek “pengrusakan” jalan di Pusakanagara menghentikan keindahan aspek humanis di jalan raya. 18 J perlahan ke depan, sementara Dewi Sri G 1431 GR itu tertahan di sisi kanan. Tampak bus-bus lain sedang mengantri memasuki jalur arah Jakarta yang difungsikan untuk dua arah. Terlihat Sinar Jaya 75 DX, bus wisata Gunung Harta Hino Setra RG dan Sumber Alam 306209.

Jarum jam menunjuk angka 00.35 saat tiba di Rumah Makan Taman Selera, Losarang. Halamannya nan luas dijejali skuad Sinar Jaya dan DMI. Hal ini semakin meneguhkan realita bahwa populasi bus AKAP terbanyak di lintasan Pantura tetap lestari dipegang Sinar Jaya Group.

Kesempatan makan malam kami digunakan untuk mengakrabkan diri sesama Dieng-ers. Maklum, baru kali mengadakan trip bersama. Tema utama obrolan tetap seputar Mas Agung, Dieng, Mas Agung dan Dieng kembali. Hehehe…

“Hey, ayo…berangkat!!!” perintah Bruno (nama panggilan Mas Agus), memecah keasyikan paguyuban kami, yang tanpa disadari sudah melebihi ambang waktu istirahat bus.

Selepas Rumah Makan, steering wheel tetap dicengkeram Mas Agung, karena Sinar Jaya memberlakukan sistem engkel untuk jurusan Wonosobo. Penulis sempat menyaksikan sebentar keanggunan persahabatan sesama bus malam yang terulang kembali. Kali ini dengan teman satu garasi, 49 E. Jalan ceritanya mirip Sinar jaya-Dewi Sri yang belum lama berselang. Namun, karena daya tempel 18 J begitu lekatnya, driver 49 E pun menyerah. Mungkin takut tekor solar, diberikannya jalan buat Batavia Express untuk ke depan.

Sejak itu pula, kantuk berat mendera. Karena pagi harinya sederet acara masih menunggu, penulis rebahkan diri di jok sebelah kanan, mengangkangi tiga kursi untuk menyelonjorkan badan.

Masih terdengar guyonan antara Mas Adit, Mas Rifki, Mas Hans, Mas Himawan dan Mas Hadi, dan sebenarnya masih ada keinginan penulis untuk terus bergabung, namun energi ini sudah habis untuk melek. Tak kuasa…Zzz…zzz…zzz…

“Penumpang Bumiayu siap-siap…” teriak kenek yang mantan driver Dahlia Indah, kepada para penumpang tujuan Bumiayu, sekaligus membangunkan tidur nyenyak penulis.

Hans pun mundur dari singgasana dan menghibahkan tempatnya kepada penulis. Di ruas Bumiayu-Purwokerto, penulis bertambah takjub dengan style Mas Agung. Bagaimana metode dia mengambil tipis sang legenda, Lorena B 7646 WB kelas bisnis jurusan Purwokerto, sembari melahap tikungan. Begitupun saat memundurkan Sinar Jaya 20 AC dan 38 VX di daerah Paguyangan serta 55 B menjelang Ajibarang, yang merupakan jalur sempit dan hanya safe untuk kres-kresan kendaraan kecil saat melaju kencang.

Penulis menghidupkan waktu dengan berbincang ringan bersama Mas Agung saat 18 J menyusuri kota-kota Cilongok, Purwokerto, Sokaraja, Bojong, Purbalingga hingga Banjarnegara. Yang tersisa dan masih sadar cuma Mas Adit, sedangkan yang lainnya meringkuk dalam kehangatan bus ekonomi. Dari obrolan akrab, lama kelamaan penulis pun tahu bahwa Mas Agung ternyata pribadi yang terbuka, supel dan menyenangkan. Semua persoalan tentang dunia bus yang dia ketahui, dibeberkan. Hal ini tentu menambah wawasan dan ilmu seorang bismania.

Raja siang mulai bersolek menampakkan diri. Hawa dingin menerobos kaca jendela bus yang terbuka, memberi kesejukan pada kulit ketika bersinggungan. Pemandangan di luar sungguh elok. Di sisi kiri, tampak Sungai Serayu mengalirkan berjuta kubik air, dengan batu-batu besar sebagai penghalangnya. Dedaunan dan sawah yang menghijau, laksana permadani alam yang dibentangkan Penguasa Jagat Raya, agar hamba-Nya pandai men-tadabur-inya. Sementara, di kejauhan puncak Gunung Sindoro berwarna keemasan, terkena sorot cahaya mentari pagi. Betapa indahnya pagi ini…

Di rute pamungkas, Banjarnegara-Leksono-Selomerto-Wonosobo, kondisi jalan didominasi dengan tanjakan panjang dan berkelok-kelok. Hampir 9 jam Mas Agung duduk di belakang kemudi, namun kebugaran dan konsentrasi tinggi masih tergambar jelas di raut mukanya.

Dicambuknya mesin bus yang kuasa menyemburkan daya hingga 240 HP ini menaklukan jalur berat menuju tujuan akhir perjalanan kami. Tapi sekali lagi, tak ada pemforsiran putaran mesin, tak ada bunyi ngeden atau over running. Seakan serba “auto pilot”, kapan waktunya gas ditekan dan kapan bus butuh torsi – tambah gigi ataupun turun gigi -, semua bekerja secara otomatis.

“Orang itu kalau sehati sama kendaraanya, bakal punya feeling tajam, Mas. Tidak perlu lihat rpm mesin di spedometer, kita bisa merasai kapan tenaga mesin “berkumpul” dan kapan mengatur rasio presneling…” terangnya bijak, sesaat setelah menyalip Sinar Jaya jurusan Wonosobo yang lain, 13 D.

Sementara itu, jalanan semakin ramai, dan kanan kiri didominasi bangunan-bangunan beton sebagai penanda telah masuk kawasan kota. Wonosobo pun menyambut para Dieng-ers dengan segala pesonanya. Di pinggir jalan, dipenuhi baliho dan spanduk kampanye calon bupati dan wakil bupati periode 2010-2015, yang akan beradu nasib pada Pilkada tanggal 2 Agustus nanti.

Pukul 05.35, 24 Juli 2010, etape pertama pendakian menuju Dieng paripurna di Terminal Mendolo, Wonosobo. Rangkaian kisah semalam sungguh mengesankan, terutama tentang attitude driver 18 J, Mas Agung. Bagaimana defensive driving, safety driving, polite driving dan economical driving secara komplit berpadu dalam diri, determinasi serta keterampilannya saat di belakang lingkar setir.

Tak diragukan lagi, jika SJM berani memasang sticker “This Bus is Fully Recommended” di kaca depan armada ini.

18 J adalah sebuah anomali spesies keong…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s