Dari Pulogadung, “Mendaki” Dieng (1)

Posted on


Poniman Plan

Menapak usianya di tahun ketiga, keberadaan berikut “tingkah polah” BMC (BisMania Community) secara tak langsung menyentuh pula kehidupan orang-orang yang awalnya tidak tahu menahu tentang the largest Indonesian bismania community ini. Beragam aktifitas yang digulirkan BMC secara intens rupanya mendatangkan berkah tersendiri bagi mereka, sehingga simbiosis mutualisme pun tercipta untuk menjembatani hubungan demand and supply antar keduanya.

Salah satu khalayak yang kecipratan untung adalah Pak Poniman. Pria kelahiran Delanggu, Klaten, 52 tahun silam semakin intim dengan member BMC dan seakan telah resmi menjadi bagian dari keluarga BMC itu sendiri.

Kakek dua cucu yang mengaku Harta Sanjaya Holic, menyumbangkan tikar lesehannya untuk dijadikan tempat cangkrukan favorit saat perhelatan kopi darat (kopdar), baik Kopdar Mingguan maupun Kopdar Pulang Kerja (KPK) di Terminal Pulogadung.

Sambil menikmati sajian menu yang dijajakan Pak Poniman, letak warung yang strategis, yakni di lokasi perpal-an dan menghadap area debarkasi, mengkreasi lanskap nan eksotis saat memandang jajaran serta hilir mudik bus yang sedang bergumul pamer “jatidiri” agar tetap survive di tengah tensi persaingan moda transportasi darat yang meninggi.

Meski jarang bisa “melebur” dalam setiap agenda yang diadakan BMC, namun ajang temu muka pada pertengahan Juni di lapak non permanen yang lebih dikenal sebagai Warung Sate Pak Poniman, penulis rasakan begitu istimewa. Dari sekedar obrolan ringan hingga berat, santai berujung serius, membicarakan never ending story yang dijalin oleh “kotak besi beroda enam”, tercetuslah ide dari Eko Prihantoro untuk mengadakan turing bareng ke Dieng.

Itulah hebatnya seorang yang berjuluk Hans SJM (Sinar Jaya Mania) beserta kroni-kroninya, antara lain Mas Adit, Mas Pamuji dan Mas Bugi Kurnia. Api kompor mereka begitu panasnya melumerkan “keengganan” penulis setiap kali di-invite untuk mengikuti gawe BMC yang digelar pada akhir pekan. Dengan pertimbangan Dataran Tinggi Dieng merupakan obyek wisata yang belum kesampaian dikunjungi, adanya hasrat laten untuk mencicipi atmosfer jalur selatan Purwokerto-Bandung-Jakarta serta adanya sedikit keleluasaan waktu dari urusan rumah tangga, tanpa berpikir panjang lagi, penulis menyanggupi gagasan tersebut.

Setelah mematangkan rencana dan finalisasi rundown acara tour ke Dieng di kesempatan KPK berikutnya, beberapa simpatisan BMC dan (tentu saja) penulis bersetuju bulat meng-eksekusinya di minggu ketiga bulan Juli, tepatnya tanggal 23-24 Juli 2010. Dan sifat acara ini terbuka untuk umum, dengan satu syarat, yang berminat ikut serta telah mengukir tiga huruf sakral secara berderet, “B-M-C-”, di lubuk hatinya. (Kena virus lebay deh…)

Dari cuap-cuap kecil di sudut terminal Pulogadung, lalu gaungnya menggema di ruang milis, akhirnya kami menelurkan kesepakatan bersama yang dinamai Poniman Plan (Rencana Poniman) berupa rencana menggelar hajatan informal BMC bertajuk “ Touring Batavia Goes To Dieng”.

The Advanture Begins

Selanjutnya, mungkin timbul pertanyaan, mengapa acara ini berlabel “Batavia”?

Nah, salah satu keputusan lain di dalam Poniman Plan adalah bab tentang bus yang akan membantu menuntaskan etape pertama pendakian Dieng, yakni rute Pulogadung-Wonosobo. Dan “Batavia” adalah pilihan aklamasi kami. (Sebenarnya ini untuk menutupi kenyataan, bahwa Si Hans lah yang memaksa kami naik bus kesayangannya ini…)

Kata “Batavia” berasal dari penggalan nama “Batavia Express”, tagline dari armada Sinar Jaya berkode lambung 18 J, kelas ekonomi, dengan trayek Pulogadung-Purwokerto-Wonosobo untuk jam keberangkatan 20.00 malam. Alias bus sapu jagat-nya Sinar Jaya di jalur Wonosobo, pemberangkatan dari Pulogadung.

Dan homonim dari Batavia yang lain, bisa juga berarti “lambang area” bahwa host turing kali ini adalah anggota BMC lingkup Jabodetabek.

Dalih sederhana mengapa kudu “Batavia”, terjawab sudah.

Jumat malam, 23 Juli.

Gulita mulai menyergap setiap penjuru Terminal Pulogadung. Malam menampakkan taringnya, menggantikan siang yang tengah lelap dalam peraduan. Lampu-lampu penerangan ratusan watt berkonspirasi untuk menghalau gelap, menyuguhkan nuansa remang-remang cahaya sebagai bukti keringat perjuangan. Lalu lalang para penjemput rejeki telah menyurut, seiring menjauhnya puncak kesibukan penghuni kota tatkala pulang kerja.

Di sudut belakang terminal, para Dieng-ers (penulis menyebutnya demikian) telah berkumpul di lapak usaha Pak Poniman, dengan perbekalan layaknya petualang backpackers. Penulis, Mas Adit, Mas Rifki, Mas Hans, Kang Asep, Mbak Agustina Setyawati aka Tya, Mas Hadi beserta couple setianya, Mbak Asti, dan Mas Himawan telah mengisi absen kehadiran.

Dan sangat disayangkan, saat injury time, kami menerima kabar kurang menggembirakan. Salah dua penggagasnya, Mas Bugi dan Mas Pamuji ter-diskualifikasi. Hiks…

Mas Bugi menjalankan dinas kantor ke Manado dan Mas Pamuji mendapat panggilan mendadak untuk job interview di Tangerang. (Okay guys, no matters, your future is your first priority…)

Wis gapapa, berapapun Dieng-ers… the show must go on.

Mas Bob Andi dan Mas Prima pun menyempatkan diri datang. Tugasnya tak lebih dari pemandu sorak, tim da-da-da-da yang akan melepas kepergian kami. (Maaf ya Mas Andi dan Mas Prima, selera kami rendahan, naiknya bukan bus kinyis-kinyis…). — Hehe…j/k –

Waktu take off sempat tertunda 20 menit, lantaran menunggu Mas Riko yang masih terjebak macet di Matraman. Beruntung, kru bus dapat memaklumi.

Perlahan, bus “1/6 sewaan” kami keluar dari persembunyiannya, di pojok belakang terminal AKAP tertua di Jakarta. Disebut 1/6 sewaan karena kami memang bukan menyewa bus secara utuh, melainkan “menumpang” operasional reguler Batavia Express. Berdasarkan kapasitas penuh mencapai 60 seat, dengan perhitungan 1/6-nya, kami dilegalkan menguasai 10 kursi sebagai hak milik.

Di bawah kendali Mas Agung Kurniawan, 18 J langsung membelah kerumunan bus-bus Tegal-an, Cirebon-an serta kloter terakhir Solo-an di pelataran embarkasi dan mulut terminal untuk mencapai jalan raya Bekasi. Bis tanpa ngetem, dan sepertinya, hanya kami bersepuluh yang nantinya membayar jasa atas kerja lelah bus ber-livery pelangi ini.

Hal ini membuat kecele dan kaget Mas Andi serta Mas Prima yang mengira bus akan mengantri di jalur keberangkatan. Berdua bergegas turun dari bus. Khususon Mas Andi, tampaknya dia sedang mencari “feel” bagaimana naik bus ekonomi itu bisa “enjoy”. (Hehe…piss ah, Mas.)

“Sobo…sobo…kerto…kerto…marang…marang…solo…solo…” teriakan sarat sindiran yang dialamatkan pada bus sapu jagat terlontar dari lisan Mas Agus, navigator 18 J, menyeruak di antara deru kendaraan yang menyemut, saat berupaya mengais calon penumpang di sepanjang Pulogadung-gate entry Cakung.

“Semarang…Boyolali…Rampung nggoyang…Ojo lali…” imbuhnya. Kami pung tertawa ngakak menertawai gaya gokil, kocak dan heboh Mas Agus sehingga membuat semuanya terhibur sepanjang perjalanan.

Lumayan juga, beberapa pemudik bisa dijumput untuk menambah perbendaharaan jumlah penumpang.

Di mata penulis, ada kesamaan unik antara 18 J dengan The Phoenix Haryanto. Keduanya sama-sama mengkaryakan seorang pramugari, yang ber-jobdesk melayani keperluan penumpang, dan duduknya mendampingi driver selama bekerja. Sayangnya, pramugari 18 J ini kurang tampil cantik, karena tidak mengenakan pakaian wanita, tetapi malah berdandan gaya cowok. (Hayo Hans, ngga boleh protes…)

Menjelang bangjo Pasar Cakung, kemacetan panjang terjadi. Kami akhirnya bisa merasai fasilitas ekslusif yang disediakan bus kelas SE (Super Ekonomi) non AC, berupa mandi sauna. Jaket tebal ditanggalkan, kaca samping model geser dibuka lebar-lebar dan terlihat Mbak Tya mengeluarkan senjata konvensional, kipas angin manual, untuk mengusir hawa panas di sekelilingnya. (Mestinya Hans yang bertanggung jawab karena telah menyiksa perjalanan Mbak Tya nih…)

Sebelum memasuki gerbang Cakung, bus berhenti kembali untuk menaikkan belasan “sewa” yang telah mem-booking sebelumnya. Separuh kapasitas tempat duduk terisi, yang berarti, tiap penumpang mendapatkan bonus tambahan berupa satu seat kosong. Ujar Mas Agus, 18 J tak perlu singgah di pool Cibitung, sehingga tak ada lagi tambahan penumpang.

“Ini nih sejatinya bus SE 1-2, satu penumpang dapat dua kursi..” seloroh Mas Adit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s