Ndilalah kok Apes! (2)

Posted on Updated on


Kututup lembaran koran yang bersemboyan “Selalu Ada Yang Baru” tersebut. Kulempar kembali ke jok belakang, tak jadi meneruskan acara baca berita.Tanpa ragu, kupacu dan kudera “roda pedatiku” membelah keriuhan ruas jalan peninggalan Jenderal Deandels. Setelah melewati gerbang dan pos penjagaan, langsung kutuju kamar tahahan, tempat penitipan tersangka dalam kasus kecelakaan lalu lintas. Beruntung, aku sedikit paham layout bangunan berikut fungsinya di kompleks Satlantas Rembang, karena aku pernah mengalami hal yang hampir serupa dengan apa yang sedang menyiksa Mas Kun. Dari pengalaman pernah “berurusan” dengan Polantas, aku juga sedikit tahu juga cara-cara penyelesaian masalah pasca laka.

Tak jauh dari lokasi parkir kendaraanku, semakin terlihat jelas armada HS 150 yang tengah menjadi pesakitan. Sayang memang, belum sempat aku mencicipi “makhluk kloningan” irizar, kini bus berwarna biru donker dengan ciri “jidat jenong”nya terkapar menunggu bantuan.

Kudekati dan kulongok ruang penjara yang terdiri dari dua sel berukuran 2X3 m, tapi kok kosong melompong. Benar tidak Mas Kun disel?

Eh, rupanya ada seseorang yang tengah meringkuk bermalas-malasan di emperan penjara. Entah siapa dan keperluannya apa tidur-tiduran di situ, aku bersikap masa bodoh.

“Mas, orang Nusantara-nya mana?” tanyaku sok optimis bahwa kru bus ada di dalamnya.
“Mas pengurusnya?” balasnya balik bertanya.
“Bukan Mas, hanya teman dan pengin menengok.”
“Itu Mas…” sambil tangannya menunjuk jauh ke luar sana.

Kulihat dia…oh, itu kenek NS-19. Meski aku tak kenal namanya, tapi aku hafal betul wajahnya. Kuhampiri dia.

“Mas, kru Nusantara kan?” aku berbasa-basi.
“Iya Mas. Hmm…saya sering melihat Mas, tapi tak tahu namanya. Mas penumpang agen Rembang, kan?” dia berusaha mengingat-ingat tentang aku.
“Benar Mas. Mas Kun-nya mana?”
“Lagi di ruang penyidik, Mas”

Tak salah dugaanku, Mas Kun kini harus menjalani serangkaian penyidikan panjang karena kecelakaan ini pasti disangkakan sebagai human error.

“Mas, kita ngobrol di teras penjara aja ya, sambil nunggu Mas Kun selesai disidik…” ajak Mas Katno, nama asisten driver bus nahas tersebut.

Di ruang yang panas, pengap dan berdebu, kukorek kronologis musibah dari perspektif Mas Katno.

“Itu pintu sebelah mana yang menghantam korban, Mas?” tanyaku penuh selidik.
“Berita itu sebenarnya kurang pas Mas. Yang njeblak (lepas dari penguncinya), pintu tangki solar Mas,”
“Lho, yang nutup tangki solar? Yang kecil di samping pintu kiri depan itu, Mas?”
“Iya Mas, kalau punya Scania kan memang kecil tapi memanjang ke bawah. Ukuran lebar panjangnya 30X50 centi-an lah, Mas”

Kubayangkan sesaat, rasanya muskil barang sekecil itu bisa mendatangkan petaka.

“Ceritanya sesungguhnya gimana, Mas?” kurayu eks pegawai PO Tunggal Dara, Wonogiri, itu agar membeberkannya.

Mas Katno mengambil napas panjang sebelum mulai bercerita.

“Terakhir, bus ini isi solar di SPBU Kudus Mas, sekitar jam 5 pagi. Saya sempat membuka dan mengunci kembali pintu itu. Sebelumnya juga tidak ada masalah.

Pas mau kejadian, saya duduk di kursi kenek. Penumpang tinggal empat, dua Rembang dan dua lagi Lasem. Tiba-tiba, saya mendengar bunyi “dakkk…”, seperti ada sesuatu yang lepas. Saya intip dari kaca spion kiri, tahu-tahu di bahu jalan ada bapak dan anaknya tersungkur dari motor. Saya tambah kaget, melihat pintu tangki solar terpental di pinggir jalan. Pasti barang itu yang menghantam motor tadi.

Ini namanya apes, Mas. Biarlah saya dianggap ceroboh, tapi siapa sangka, pintu yang awalnya tidak kenapa-kenapa, ndilalah membuka dengan sendirinya. Sepertinya, posisi jalan yang sedikit menikung dan tak rata menjelang TKP, jadi penyebabnya, Mas.”

Aku hanya terpekur mendengar alur keterangannya.

“Mas, aku antar ke ruang penyidik ketemu Mas Kun, yuk…” ajaknya lagi.
“Apa ngga mengganggu, Mas?”
“Ngga papa Mas, biar Mas Kun tahu ada orang yang mencarinya. Toh, dia juga sudah lama di dalam…”

Aku pun mengiringi ayunan kaki Mas Katno, menuju ruang penyidik.

“Mas Edhi…!” sambut Mas Kun yang tengah santai menjalani proses investigasi dengan sedikit kaget.
“Mas Kun…,” aku pun meminta izin masuk kepada Pak Penyidik, lalu berjabat tangan dengan Mas Kun.
“Mas, tunggu ya. Ini tinggal sebentar lagi…” bisiknya.

Mas Katno dan aku pun kembali ke teras sel tahanan. Dan dalam hitungan menit, Mas Kun menyusul kami.

“Kok tahu saya di sini, Mas?” tanya Mas Kun penuh keheranan.

Akhirnya kubuka selubung bagaimana jasa Pak Dahlan Iskan lewat media cetaknya melambungkan nama Mas Kun menjadi figur sentral di Radar Rembang hari ini.

Kami bertiga pun larut dalam obrolan ringan serta informal meski tak bisa mengusir kedukaan yang tengah menyelimuti Mas Kun dan Mas Katno.

Penggawa PO Nusantara yang kerap dipanggil “Sinyo” di kalangan para kru memulai poin cerita, “Iya Mas. Kalau saya protes, salah saya apa? Tidak ada rambu yang dilanggar, saya nyetir juga pakai etika, namun gara-gara pintu solar lepas, saya jadi tahanan. Saya memang apes…”

“Awalnya…” Mas Kun meneruskan mengumbar perasaannya yang sedang galau. “Saya jalan dari barat, tidak kencang kok Mas. Hampir jam 7 pagi, jalan mulai ramai dan banyak anak sekolah, mana bisa ngebut. Dari arah timur, 100 m di depan bus ini, saya lihat seorang kakek memboncengkan dua cucunya. Satu duduk di depan dan satu lagi di belakang.

Kok ya ndilalah, kakek itu menyeberang jalan, terus turun di bahu jalan dan berjalan pelan berlawanan dengan bus ini di sisi kiri. Dan tak dinyana…”dakkk”, saya bisa merasakan bodi bis menyenggol dia, meski hitungan saya bus aman melenggang di samping motornya. Sejurus kemudian saya lihat spion kiri.

Ya ampun, pintu tangki solar terbuka dan ibarat senjata tajam, menyabet kepala anak kecil yang duduk di depan, kemudian merembet menghantam lengan kakeknya. Motor pun langsung ambruk.”

Terlihat ekspresi kesedihan mendalam terpancar di wajah Mas Kun.

“Saya sempat berhenti Mas. Namun, saya khawatir ada tindakan massa yang tidak diinginkan. Tahu sendiri daerah pesisir, orang-orangnya panasan Mas. Saya berketetapan jalan kembali dan berhenti di depan SMA Rembang (1,5 km dari TKP), karena di sana banyak polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Saya menyerahkan diri. Kemudian, bus digiring ke Polres dan sekitar jam sembilan saya dapat kabar, bahwa si anak tersebut akhirnya meninggal setelah dirawat di RSU Rembang”

Kami pun terdiam. Atmosfer siang mendadak hening dan senyap.

Itulah kerasnya kehidupan di atas roda. Selain berada di lingkungan yang berstatus high risk accident, momok menakutkan yang berjuluk keapesan seringkali jadi penentu nasib buruk pengguna jalan. Keapesan sanggup memberangus nilai kehati-hatian, kewaspadaan serta kesantunan di jalan raya, menjadikannya tak berarti. Meaningless…

“Setidaknya, beberapa hari ke depan masih trauma untuk membawa bus lagi ya, Mas?” aku bertanya lagi untuk menghidupkan kebisuan.

“Soal trauma, sih tidak begitu jadi masalah, Mas. Saya dulu juga pernah sekali terlibat kecelakaan, adu kambing dengan truk di Karawang, persis di depan pool Warga Baru. Gara-gara truk sayur itu nekat menyalip truk gandeng, sementara jarak dengan bus saya sudah dekat. Saya habis-habisan membanting setir ke kiri dan alhasil, meskipun muka bus selamat namun truk menabrak sisi kanan bus mulai depan hingga belakang. Sopir truk meninggal seketika, Mas,” kenangnya. “Saya diskors dua bulan tak bawa bus. Namun, saat kembali nyetir, rasanya biasa saja kok, seolah tak pernah terjadi apa-apa…”

“Justru, ada yang lebih membuat saya shock dari kejadian di Rembang ini, Mas?” imbuhnya.
“Karena korbannya anak kecil ya, Mas?”
“Itu yang pertama, Mas, dan yang kedua…” lidah Mas Kun seakan tercekat.

“Apa itu, Mas?” tanyaku dengan tak sabar.
“Lha kok ndilalah…”
“Maksudnya “ndilalah ?”

Sejurus kemudian, Mas Kun mengedarkan pandangan kosong ke sekeliling.

“Nama korban kok ndilalah persis nama anak saya…”

Kulirik kembali Radar Rembang yang mengabarkan kabar pilu tersebut, yang tadi kubawa dan kini teronggok di sampingku. “Berliana Tewas Terserempet Pintu”.

“Berliana ya, Mas?”
“Iya Mas, Berliana. Itu juga nama anak saya. Bagaimana nanti ya, apa saya tidak akan selalu terbayang-bayang wajah korban, setiap kali memanggil anak saya sendiri?” jawabnya sarat nada ketidakpercayaan dan ketidakmengertian.

Masya Allah. Di dunia memang ada beberapa sebab-akibat terjadinya peristiwa yang berbau kebetulan atau ndilalah. Kalau yang satu ini, memang ndilalah yang sendilalah-ndilalahnya.

Kudengar derap langkah kaki mendekati kami.

“Pak Kunardi, dipanggil Pak Kanit Laka. Mohon sekarang menghadap…” perintah salah satu anggota korps seragam coklat.

“Siap Pak…”

Lantas, aku pun segera berpamitan dengan Mas Kun dan Mas Katno, karena di sana, istriku pasti resah gelisah, lantaran penjemputnya belum juga menampakkan diri. Tak lupa kutinggalkan doa, semoga Mas Kun dan Mas Katno dipermudah urusannya, diberikan ketegaran menempuh ujian dari-Nya dan dapat segera kembali berkarya.

Saat berjalan menuju area parkiran, kucoba mengabadikan armada HS 150 yang tengah murung dan merana menunggu kejelasan nasibnya.

Namun, kok ndilalah…batere gadget usang ini juga meregang nyawa, mati suri. Apes…

Arghh…memang apes hidup di negeri ndilalah ini.

NB : Turut berbela sungkawa atas meninggalnya Adinda Berliana. Kamu bakal tenang di sisi-Nya, Dik…

*Disarikan dari perbincangan off board antara penumpang dan kru Nusantara di “paviliun” rumah tahanan Satlantas Polres Rembang.

4 thoughts on “Ndilalah kok Apes! (2)

    Dadik Santosa said:
    27 Agustus 2010 pukul 10:14 am

    Nmr hp njenengan brapa mas?.

    callme : 0856 4004 5111

    Jhon Abdul said:
    28 Agustus 2010 pukul 11:11 am

    Ndilalah. Saya linu baca yang ini euy. Kasihan sama si Bocah dan sama Mas Kun-nya juga. Harus selalu baca Bismillah nih biar Insya Allah tidak ndilalah.

    didiksalambanu responded:
    6 September 2010 pukul 12:02 am

    Benar Mas, itulah hikmah yang bisa dipetik dari musibah ini…

    sangalang said:
    7 September 2010 pukul 5:38 pm

    Innalillahi wa ina ilaihi roji’un…
    Turut berduka cita..
    ini yg masuk berita TV itu ya mas..?
    kabarnya…ada lagi yg meninggal 2 orang habis pulang nonton kecelakaan, tp malah ketabrak bis
    Harusnya sopir tuh dapat gaji yg layak, soale kerja + tanggung jawabnya berat..tp upah sedikit, shg terpaksa cari ” sarkawi “…
    kok gak adil rasanya, yg kerja berat gajinya sedikit, yg kerja enak dan gak cape gajinya segunung..PNS misalnya..
    sampean kok kenal semua sopir bus ya..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s