Sumpah! Jadi Sarkawi Itu Bukan Mauku…(4)

Posted on


Dalam hitungan detik, hujan mengguyur hutan jati dengan lebatnya. Kabut tipis menyelimuti seantero Gringsing. Anomali musin di tahun ini memang di luar prakiraan pakar klimatologi. Lazimnya, bulan 10 adalah tahapan pancaroba. Tapi nyatanya, hampir tiap hari serangan peluru air dari angkasa secara masif membasahi bumi.

Sedang pw-pw-nya meringkuk dipeluk dinginnya udara yang dikreasi AC Thermo King, Mas Kenek kembali mendekat. Ada apa lagi ini?

“Mas, sebentar lagi ada kontrol. Kalau misal nanti ditanya, ngomong saja ‘Saya sopir Malino Putra, temannya Pak J**** (driver bus ini). Numpang ikut sampai Kendal’.” suruhnya laksana sutradara yang mengatur modelnya untuk casting sinetron terbaru.

Haa? Bergidik aku dibuatnya. Aku disuruh berbohong di hadapan controller? Aku jadi “boneka kebohongan” para kru? Aku dipaksa memerankan adegan pura-pura? Dan apa pula salah PO Malino Putra, sehingga namanya dicatut tanpa izin?

Duh…begini tragisnya takdir jadi “komoditas selundupan”.

Di saat itu pula, dua “penumpang tak jelas” yang sama-sama berpostur tambun bersembunyi ke belakang, ngumpet di balik tirai biru penyekat ruang istirahat pengemudi. Top, muslihat dan tipu daya yang jitu.

Rupanya, derai hujan benar-benar membantu sandiwara yang dipentaskan kru kabin. Ketika melenggang masuk halaman rumah makan yang bisa diakses dari jalan lingkar Alas Roban itu, dijauhkannya posisi bus dari check point.

Dan cara itu cukup ampuh. Mulanya, petugas kontrol keluar dari pintu kantor dan terlihat enggan masuk ke dalam bus yang bertujuan pol-pol-an hingga Kelet ini. Dari luar bus, dengan muka galaknya, dia berupaya mengamati secara seksama dari jarak yang tak memadai.

Hal ini dimanfaatkan betul oleh Mas Kenek untuk proaktif mengeksekusi modus operandinya.

“Isi delapan, tambah satu orang, sopir Malino, mau ambil storing-an di Kendal,” teriaknya kuat-kuat, agar modulasi vokalnya bisa menembus gemuruh rinai yang tak menurun juga intensitasnya.

Licik, cerdik dan brilian! Aku sampai acung jempol atas usaha Mas Kenek berkelit dari controlling yang berlapis.

Checker itu pun mendekat dan melantai ke dalam bus, hanya membubuhkan stempel dan tanda tangan di DP, lalu buru-buru turun tanpa memeriksa ulang jumlah penumpang secara teliti.

Selamet…selamet…aku tak sampai bersilat lidah jika saja tukang kontrol sempat menanyai kepentinganku di dalam bus.

Sungguh, kutukan sarkawi benar-benar mengancamku.

Ternyata bus tak berhenti lama dan meroda kembali, untuk selanjutnya justru malah mampir di Kedai Makan Sumber Rasa, Weleri. Inilah uniknya bus pagi dari Pulogadung. Tempat singgah keduanya tak lagi rumah makan rujukan bus malamnya, tetapi diserahkan kepada kebijakan kru. Dan hal itu dilakukan juga oleh “PO 5 langkah” dari rumah, Bejeu, yang saat itu diwakili armada OH 1521-nya, K 1665 BC.

Aku penasaran, bus ini jam berapa take off dari Pulogadung? Jangan-jangan, tadi di belakang bus-ku dan sekarang justru malah di depan?

Di lintasan Weleri-Semarang, prestasi bus bergambar stiker Motorcross-ers lagi bergulat di atas lumpur sedikit ternoda oleh kecekatanan the member of Black Bus Community itu. Unggul setengah menit-an saat start dari rumah makan, kemudian ditempel secara side by side dan lambat laun, armada B3 itu tanpa ampun menghabisinya tanpa bilang permisi di daerah Mangkang. Lincah dan elegan yang mengendalikannya…

Sontak, diri ini dibekap kerinduan, ingin bernostalgia naik bus ber-livery jilatan api itu. Bus yang berhomebase di Pengkol, Jepara, yang menurut subyektifitasku, masih sebagai bus banter di jajaran keluarga Muria Raya.

Dan ada satu momen lain yang selalu kutunggu, yakni memandang defile kavaleri roda enam yang bertolak menuju ibukota saat berhamburan di permukaan jalan raya.

Menjelang petang itu, berdasar urutan dari terdepan, pawai “kendaraan hias” dimeriahkan oleh Purwo Widodo, Puspa Jaya, Tunggal Dara, Tunggal Daya, Purwo Putro, Gunung Mulia, Sedya Mulya, Sumba Putra, Putra Mulya, dua Garuda Mas, Tunggal Daya, Gunung Mulia, Garuda Mas, Putra Mulya, Aneka Jaya dan tiga Garuda Mas.

Kesimpulan nisbiku, setiap sore, kloter pertama “penerbangan” Semarang-Jakarta didominasi oleh Si Ijo dari Kedaung, Cirebon, jawara jalur Purwodadi dan sekitarnya, Maskapai Garuda Mas.

Pukul 19.05, cengkeraman “Sarkawi” pun lepas saat kakiku merumput di pojok Kota Kudus. “The Five Star Bus” yang kutumpangi itu kian menghilang ditelan cahaya remang-remang lampu kota. Bagaimana aku mengucapkan terima kasih padanya, sementara kolaborasi rasa senang dan sedih bercampur aduk mencarut-maruti suasana sanubari?

Berbinar-binar itu pasti, karena 90% rentang jarak telah dipangkas, yang artinya, kediamanku berdiri tak jauh lagi. Sedangkan di bilik yang lain, batin ini meronta. Mengapa untuk tujuan kebahagiaan, aku harus menggapainya dengan sepak terjang yang kotor, terjaring dalam jeruji sarkawi?

Di atas bus Sinar Mandiri Mulia Nucleus 3 bertagname “Sexy” yang memanggulku menuju tanah kelahiran, Rembang, kugali pelajaran dari babak kelam ini.

Aku berpikir positif saja. Bisa jadi, Sang Pencipta memang “sengaja” menggiringku terjerumus ke dalam kubangan sarkawi. Dia ingin memperluas cakrawala ke-busmanian-ku dengan menghadirkan sensasi perjalanan yang baru dan berbeda, saat melakoni ritual wira-wiri mingguan.

Dia berkehendak menghiburku agar tak selalu monoton menikmati turing wajib dengan menyandang status penumpang halal, namun sesekali pula merasakan pahitnya “kenekatan” seorang begundal berlabel sarkawi.

Sekaligus, Dia pun menguji seberapa “kekuatan ikrar”-ku untuk memegang teguh fatwa “katakan tidak untuk sarkawi”, meskipun aku kandas melewati audisi ini.

Dan kini, setelah aku mencicipi kembali kenistaan jadi penyusup gelap, Dia pun memberikan tambahan suntikan moral agar aku lebih lantang lagi mendengungkan kalimat sakral “say no to sarkawi” bagi diriku sendiri.

Semoga sederet hikmah itu yang bisa kurengkuh…

Kick sarkawism out of our land!

T – a – m – a – t

Iklan

5 respons untuk ‘Sumpah! Jadi Sarkawi Itu Bukan Mauku…(4)

    beno said:
    26 Oktober 2010 pukul 11:08 am

    salam kenal mas didik…saya salah satu penggemar tulisan jenengan…

    wawan said:
    26 Oktober 2010 pukul 5:53 pm

    another great story from mas Didik, ditunggu caper” selanjutnya…

    Bawor said:
    27 Oktober 2010 pukul 1:51 pm

    Jd merasa bersalah ya mas?

    sangalang said:
    27 Oktober 2010 pukul 9:39 pm

    Ingin menikmati indahnya perjalanan Jakarta – Rembang bersama mas Didik…wah..pasti mengasyikkan…

    metthiu said:
    16 Juni 2011 pukul 3:32 pm

    yg diphoto itu bukan OH 1521 tapi OH 1525…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s