Gajah Kebayoran On The Move… (Bagian ke-2)

Posted on


“Kepada satu lagi penumpang OBL tujuan Denpasar atas nama Bapak A***, dimohon segera naik armadanya karena armada akan segera diberangkatkan!”

Itulah “olah vokal” petugas lewat corong TOA, seakan jadi “nyanyian” penyambut kedatanganku saat menginjak pelataran Terminal Rawamangun.

Wah, OBL mau take off? Duh, aku harus cepat-cepat kalau tak ingin buruanku terlepas. Tak kugubris lagi binar kemolekan Pahala Kencana Marcopolo Denpasar, Kramat Djati Malang ber-air suspension atau Lorena OH 1525 Banyuwangi.

OBL, Safari Dharma Raya dan Gajah Kebayoran. Hanya nama-nama itu yang mengerucut dalam benakku. Mumpung dia masih di sini, sedapat mungkin aku harus bisa menangkapnya. Tak kutimbang-timbang lagi dapat “jenis”nya seperti apa, yang penting Gajah. Itu saja. Titik…

Mengapa harus bus itu, sih?

Kubuka selubung saja. Salah satu PO yang selalu menggoda untuk kubidik sekaligus jadi “targetman”adalah Safari Dharma Raya, menyisihkan legenda-legenda yang lain semacam Pahala Kencana, Kramat Djati atau Lorena.

Alasannya, “kerajaan otobus” yang dikomandoi Pak Hendro Darmoyuwono adalah PO “kaya” dan “dinamis”. Tentu bukan semata kaya modal dan armada, melainkan pula kaya akan ragam mesin, model karoseri, hal-hal yang berbau modifikasi, dan tentu saja, selalu terdepan dalam meng-update jajaran line-up nya.

Yang bergelayut di benak pikiranku; Mercy, MAN, Scania, Hino, Sprinter, Neoplan, Legacy, New Celcius, Integra, B 7168 VK, B 7168 IS, Allison Automatic Transmission, V-engine, Yuchai, Wechai, Kinglong, Tessy, Yongki, Johny, Denpasar, Mataram hingga angkutan TKI Indonesia Timur adalah sederet variabel yang menggambarkan keunikan keluarga Gajah Kebayoran.

Jadi, setiap kali jam 2-an aku telah berdiri di “showroom bus” yang berlokasi di Jalan Perserikatan, seringnya OBL yang kutempatkan di rack pertama pilihanku. Karena, kemungkinan kecil aku bakal mendapatkan “spesies gajah” yang sama dengan yang telah kunaiki sebelumnya, karena saking “kaya”nya PO yang lahir di lembah Sindoro-Sumbing tersebut.

Apalagi, dengar-dengar OBL mendandani 7 unit OH 1526 dengan “jubah” terbaru dari 7 karoseri yang berbeda, kian menebalkan niat pencarianku. Siapa tahu, salah satu dari mereka, hari ini ditugaskan mengantarkan “tamu” ke kampung I Nyoman dan Ni Ketut.

“Mas, boleh ikut OBL?” sesaat setelah kudekati dua “Mas Agen” berdresscode batik OBL yang tengah berjalan berdampingan.
“Tujuan mana, Mas?” balas salah satunya.
“Rembang.”
“Mau?? Tapi tiket agak mahal, Mas!” cegahnya skeptis bahwa aku bakalan mau.
“Ga papa Mas, lha wong saya pengin naik OBL.” aku hanya tertawa kecil dalam hati.
“Alhamdulillah. Terima kasih Mas, ini rejeki saya hari ini….” papar singkatnya penuh bijak.

Hmm…baru kali ini aku menemui personel agen yang seketika mengucap kata syukur di depan penumpang yang sukses dijaringnya.

“Ayo, ke loket Mas…” ajaknya sembari memberi kode temannya, agar bus ditunda dulu keberangkatannya.

Sip, aku berjodoh dengan obyek incaranku.

“Berapa, Mbak?” tanyaku setelah diserahkan kepada Mbak Agen di ruang loket No. 10.
“165 Mas. Mau no 1 apa 2? Kosong dua-duanya…”
“2 saja Mbak.”

Langsung saja kubayar tunai, toh, nominal itu pula yang dibebankan padaku saat naik Sprinter B 7168 XT beberapa bulan yang lalu. Bahkan kali ini, aku dapat satu kursi ekstra.

“Busnya di jalur 3 paling depan ya, Mas!” imbuhnya sebagai pemungkas transaksi.

Dengan setengah berlari, kucari gajah-gajah yang seringkali jadi pemicu perselingkuhanku. Armada apa yang akan “kugauli” kini? Degup jantung ini semakin tak menentu dibuat penasaran olehnya.

Eng…ing…eng…

Mpfuh…rupanya bus ini, yang dahulu (kalau tidak salah) direnggut keperawanannya oleh BMCers ketika assestment armada kinclong ke Anyer. Hii…dapat barang bekas. Hehe…

“Hei, buat apa mengeluh? Beda jauh lho rasa road test sama ngelen?Mana ada macam-macam PO berbarengan ngetes armada baru, terus memeragakan aksi blong-blongan di jalan?Itu adanya di dunia bus malam.” hiburku mencari pembelaan diri.

Benar juga!

Kucoba menelisik hasil rancang bangun tangan-tangan terampil Morodadi Prima dalam membungkus kemutakhiran teknologi “adik Mercy Elektrik” ini. Tiga kali ini aku nge-klik engine varian terbaru Mercedes Benz, masing-masing Red Phoenix Haryanto B 7689 VGA,

Garuda Mas E 7552 HA

dan Budiman 3E 21,

semuanya “handmade” Adi Putro. Sore ini, tampil dalam balutan baju bikinan “tukang jahit” yang lain.

Bicara sisi luar, aku layak acungi jempol. Mengusung genre H-deck, dengan minor change di sektor buritan dan haluan, membenamkan hi-beam original Travego, benar-benar membuat maskulin, kekar dan berwibawa. Menurutku, dibanding saat masih menggunakan lampu depan model Marcopolo atau Smiley, inilah produk New Travego karya anak bangsa yang nyaris mirip versi eropa-nya sono.

Terlebih, corak livery coklat susu yang dilukis di permukaan lambungnya benar-benar fresh, keluar dari jalur pakem OBL yang berbackground gradasi warna biru langit dan putih dihiasi tarikan garis merah-biru. Hanya menyisakan kesamaan berupa sekawanan gajah yang sedang menjalani kehidupan yang rukun, akur dan bersinergi dalam berkomunitas. Kita patut belajar dari mereka ya? Hehe…

Soal interior pun tak kalah sentuhan. Langit-langit terlihat wah dengan permainan lekuk atap kabin dan penataan cahaya dari lampu-lampu ruangan. Ditambah panel-panel bermotif wooden panel di dashboard dan sudut-sudut atas, menambah keekslusifan moda B 7799 TK ini.

Tema bus jangkung benar-benar ditunjukkan. Beda altitude dudukan seat pengemudi dan penumpang cukup lumayan, sekitar 40-50 cm. Penumpang yang duduk tampak menjulang hingga kepala “mendekat” pada louver AC. Harus bersiap terpapar tiupan hawa dingin Nippon Denso yang nangkring di luar sebagai kreatornya.

Kejulangan ini “didukung” juga fasilitas reclining seat yang hanya mampu berputar 30 degree dari posisi tegak. Dan menurutku, inilah salah satu kelemahan yang perlu dikritisi sebab mengurangi keergonomisan jok merek Hai ini. Susah mendapatkan mode PW saat rebahan.

Sekali lagi, ini penilaian subyektifku. Sah-sah saja, kan?

2 thoughts on “Gajah Kebayoran On The Move… (Bagian ke-2)

    Eko Yulianto said:
    14 Desember 2010 pukul 12:30 pm

    Gimana rasanya goyangan OBL MP 1526 ini mas ? mantaf kah ??

    Drs9086@ovi.com said:
    26 Desember 2011 pukul 7:59 pm

    Banyakin gambarnya dong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s