Berujung Nelangsa (Bagian Ke-3)

Posted on


Meski “tak jauh” dari hingar bingar kehidupan kota metropolis, jalan kecil ini ibarat jalan mati. Biarpun hari sudah berganti pagi, tak ada bedanya dengan nuansa malam gelap. Sepi dan lengang seperti daerah tak bertuan. Hanya sesekali truk sarat muatan pasir lewat berlalu.

Tak lama kemudian, dari balik tikungan, muncul Harta Sanjaya Sragen-Jakarta, menyusul kemudian Haryanto Avant Garde Madura-Jakarta. Rupanya, satu dua bus mengambil jalur alternatif ini.

Kulongok kompartemen mesin. Volumenya begitu lapang, karena dimensi panjangnya “membengkak” lantaran gelagar chasis diextend kira-kira 40 cm. Inilah ciri khas armada A5.

Para kru sibuk berkutat dengan masalah yang ada.

“Wah, berat. Tak bisa diperbaiki…” ujar Mas kenek setengah berbisik.

Jelas terlihat, main pulley penggerak tali AC, kipas radiator dan dinamo ampere hendak terlepas dari shaft/ porosnya. Rangkaian V-belt pun tercerai berai, out of position. Spie (pasak) pengunci pulley ke shaft hilang, jatuh entah di mana, meninggalkan strecth (goresan) pada permukaan as yang memutarnya. (Mas Riyanto lebih paham mendetail soal ini)

Secara refleks, driver mengeluarkan telepon genggamnya.

“Pak, tolong kirim montir, ada trouble…bla…bla…bla…”

Beliau meminta bantuan mandor Pulogadung agar mengirimkan teknisi.

Setelahnya, dipencetnya nomor yang lain lagi.

“Pak, sampai mana? Bus-ku trouble di Cikamurang. Bisa ngga, bus-mu ke sini buat operan penumpang?”

Ternyata Bejeu di depannya dihubungi. Namun, jawaban yang diperoleh, lokasi kompatriotnya sudah berada di Sukamandi. Duh, memanggil montir atau menunggu dioper, sangatlah menyita waktu.

Apa yang mesti kulakukan? Terlambat ngantor sih bukan masalah besar. Justru yang jadi pertanyaan besar, jam berapakah aku tiba di Jakarta?

Tak dinyana, melintas bus tiger alias tiga perempat, bercorak biru gradasi dengan papan jurusan Rajagaluh-Bekasi. Di badannya bertuliskan PO Bintang Sanepa.

Lho, rute ini “jalan setapak”nya bus-bus tujuan Rajagaluh?

Cling…ide itu menyeruak. Demi obsesi agar tidak “siang-siang amat” sampai Teluk Jakarta, aku wajib pindah moda angkutan. Tak apalah merogoh kocek lebih dalam.

Menunggu Bintang Sanepa berikutnya, selanjutnya oper bus Subang-Tanjung Priok — Warga Baru atau Kramat Djati — di Sadang, itulah gambaranku.

06.10

Bergegas kuambil tas dari bagasi roof, menentengnya di punggung, sebagai persiapan untuk mengeksekusi rencanaku.

Belum sampai pamit ke kru, mendadak melambat laskar Rajagaluh yang lain. PO Widia disebutnya, dengan trayek Cikarang-Rajagaluh.

“Sepertinya sama-sama lewat Sadang,” aku kompromistis sembari berupaya menghentikannya.

Widia menyambut lambaian tanganku. Diiringi tatapan aneh penumpang Bejeu yang lain, dengan tega hati aku meninggalkan bus yang kerap mendatangkan inspirasi bagiku.

Tak apalah, kali ini aku egois serta mementingkan diri sendiri. Sudah seringkali telat di Hari Senin adalah hal yang memalukan, apalagi kalau sampai tak masuk kerja gara-gara terlalu lama menanti penanganan tanggap darurat atas “keapesan” ini. Aku harus menjatuhkan pilihan yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

“Sadang berapa A’?” tanyaku pada kondektur.

“Sepuluh ribu A’…”

Sepertinya, itu memang harga resminya. Hitunganku, dengan jarak Cikamurang-Subang 32 km plus Subang-Sadang plus minus 40 km, kurang lebih 72 km, hampir sama dengan jarak Semarang-Pati. Pengalaman naik Akas IV Patas Semarang-Banyuwangi, tiket ATB ongkosnya juga ceban.

Dengan perasaan tak menentu, kupaksakan diri untuk menikmati sisa perjalanan yang nelangsa di atas bus yang selama ini luput kuperhatikan sosok keberadaannya. PO Widia, kini yang malah jadi juru selamatku.

Aku seakan ditohok realita, bahwa pengetahuan ke-busmania-anku cuma seujung kuku dibanding luasnya dunia bus Indonesia. Kalau bukan lantaran Bejeu mogok, mana mungkin aku tahu ada bus-bus jurusan Jakarta-Rajagaluh.

Namanya bus bumel, aku mafhum saat sebentar-sebentar berhenti menaik-turunkan penumpang. Tapi, hati yang gundah gulana ini sedikit terhibur oleh kemolekan alam lintas tengah. Pegunungan yang menyembul di sisi selatan, lahan pertanian yang subur, perkebunan karet yang rindang dan sungai-sungai yang berkelok-kelok, ditambah keberhajaan masyarakat Subang menambah keindahan romantisme pagi di belahan ranah Pasundan.

45 menit kemudian, pelat Z 7440 A sampai di pusat kota Subang. Untunglah, tak masuk terminal dan tak ada istilah mangkal. Bus berID 006 itu langsung mengarah Sadang, sembari menyalip bus Warga Baru, Subang-Kampung Rambutan.

Wuss…dua Malino Putra Jakarta-Malang, masing-masing MPK 01 dan MPK 03 mendahuluinya, sebelum busku berhenti di Rumah Makan Widia Bakti, Sukasari.

Menarik, bus bumel tapi singgah di rumah makan, menyediakan waktu bagi penumpangnya untuk mengisi organ serta saluran pencernaan. Wajar memang, mengingat jarak Cikarang-Rajagaluh yang mencapai 200-an km, sedangkan armada yang melayani hanya “ban double” aka medium bus.

It’s an uniquely bus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s