Berujung Nelangsa (Bagian Ke-4)

Posted on


Derap putaran roda sebagai output kerja batang torak mesin Mitsubishi FE 135 PS tertahan oleh kepadatan pengguna jalan. Banyaknya warga yang mengisi aktifitas menguber rezeki menahan driver untuk menginjak gasnya lebih dalam.

Sukasari-Kalijati-Cipeundeuy-Sadang, bagiku, jarak serta waktu tempuhnya begitu panjang dan lama. Barangkali, diri ini sudah dibebat perasaan buru-buru agar cepat sampai tempat kerja. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, perjalanan bersama Bejeu A5 akan berakhir memilukan seperti ini.

08. 05

“Sadang…Sadang…” teriak kenek membuyarkan lamunanku.

Aku bergegas turun dan menyeberang perempatan Sadang, karena di sana telah bercokol dua bus arah Jakarta. Sayang, yang ngetem Warga Baru Subang-Kampung Rambutan dan Budiman Tasik-Cikarang. Duh, berapa lama lagi mesti menunggu yang ke Tanjung Priok?

“Kemana, Mas?” tanya seseorang, yang sepertinya penggawa lapangan PO Warga Baru.
“Priok…”
“Ayo naik saja, nanti oper di pos kontrol km. 42.” rayunya. “Sama-sama Warga Baru dan tak perlu bayar lagi…”

Aku percaya saja dan mengiyakan naik armada AC bernomor urut 471, dengan kofigurasi bangku 2-3. Sebagai balas budi atas tarif senilai Rp.13.000,00, aku “diantarkan” T 7558 DC menuju rest area km. 42 Tol Jakarta-Cikampek.

“Sebagai bukti saya penumpang operan, apa Pak?” kuminta kejelasan kepada kondektur sesaat sebelum turun di kantor Controlling.

“Nanti Mas diberi tiket oleh petugas kontrol.” terangnya lagi.

08.40

Tak sampai 5 menit, datang bus Warga Baru lain yang kubidik, dengan jurusan Cikampek-Tanjung Priok. Dengan modal selembar kertas sebagai tanda “penumpang titipan”, diikutkan armada ekonomi non AC, aku meneruskan metode estafet menuju ujung utara ibukota.

Biarpun armada lawas, Hino AK Ranger (kalau tidak salah terka), serta Pak Kusirnya sudah kelewat sepuh (sering dipanggil “aki” oleh yang lain), larinya bus jangan diremehkan. Lumayan ngebut.

Bukti bahwa aku kesiangan semakin nyata, saat tak banyak kutemui bus-bus malam dari “Jawa”. Tercatat cuma parade “Keong Ijo” yang diasapi bus berkode WB 9707 ini, masing-masing KE-416 Bojonegoro, LE-423 Malang dan LE-351 Ponorogo. Jadi semakin tak meragukan, PO apa yang paling lelet, kan?

Untunglah, yang tersisa dari kekusutan lalu lintas Senin pagi di ruas tol yang diresmikan penggunaannya pada tahun 1988 ini hanyalah mobil-mobil non niaga alias mobil kantoran. Inilah yang sedikit menyumbang kelancaran tugas Warga Baru saat mendekatkan simpul antara km 42 Tol Cikampek dengan km 13 Tol Cawang-Tanjung Priok, jalan keluar dari tol yang terdekat dengan lapak harianku.

10.25

“Thank you…”

Ringtone mesin absensi kantorku “bernyanyi” sesaat sesudah ujung jari jempolku menyentuh sensor pembaca sidik jari. Bunyi itu pula yang kudapuk sebagai lonceng akhir ritual “Ke Jakarta aku kan kembali” yang terjal dan penuh liku, yang baru saja kulakoni.

Kucoba membuang jauh hasutan setan untuk terus meratapi kesengsaraan ini. Aku tak boleh berandai-andai ini dan itu. Aku tak boleh menyesali kekalahanku atas perburuan waktu. Semuanya telah terjadi.

Aku harus tetap bersyukur, diberkahi keselamatan hingga sampai di tempat tujuan. Karena, poin itulah harga termahal dari ending perjalanan.

Kisah yang terangkai semakin menebalkan anggapanku, bahwa luck tetap jadi the first factor yang memberi warna dominan bagi ketepatan waktu perjalanan bus lintas kota lintas propinsi. Bukanlah bus banter, mesin baru, driver balap, ataupun loss solar. Serta bukan pula jalan nan mulus. Sederet variabel itu sekedar bumbu-bumbu pelengkap.

Terima kasih atas laporan dari Sdr. Ferdhi. Kami, manajemen PO Bejeu meminta maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan perjalanan anda. Untuk ke depannya, kita akan cek lagi mesin armada kami supaya tidak terjadi mogok di jalan. Terima kasih. – Manajemen Bejeu –

Tanggapan dari pihak PO Bejeu via Mas Ferdhi, kuterima sore harinya sebagai respon atas keluhanku. Sebuah sikap gentlemen, berani mengakui kekurangan dan semoga, “keberatan yang disampaikan penumpang” diambil manfaat positifnya, sebagai umpan balik bagi manajemen untuk semakin intens membenahi peng-operasional-an armadanya.

Kuputar ulang peristiwa Senin pagi, di pertengahan Bulan November ini.

Lagi dan lagi, Bejeu A5 bertindak sebagai sutradara ulung yang mensetting cerita mengesankan dalam lingkaran perjalananku, sekaligus merangkap peran sebagai aktor utamanya. Tiga kali bersamanya, tiga kali pula lahir fragmen manis yang dirajutnya, meskipun dalam episode pemuncak, dia membuatku nelangsa.

Ya…berujung nelangsa.

3 thoughts on “Berujung Nelangsa (Bagian Ke-4)

    wawan said:
    26 November 2010 pukul 2:50 pm

    seneng nih…kalo mas didik mulai rajin nulis lagi

    beno said:
    29 November 2010 pukul 2:03 pm

    semua ada hikmahnya…….

    Bawor said:
    13 Desember 2010 pukul 11:38 pm

    tulisan bulan desembernya mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s