“Budi Kecil” Itu Berkelahi dengan Waktu (Bagian Ke-2)

Posted on


“Pak, bisa nyarkawi?” tanyaku pada seseorang berkemeja kelir merah putih, dengan tulisan “Aku Cinta Indonesia” di lengannya, yang berdiri di sampingku.

Aku sudah putus asa dan tak mampu berpikir bening di saat kepepet. Sarkawi adalah langkah terbaik dibanding aku urung berangkat karena kelangkaan tiket. Aku bukanlah busmania suci yang bisa benar-benar terbebas dari jejaring “benalu transportasi” itu.

Orientasiku sekarang bukan lagi nyari bus nyaman, berburu jet darat, ataupun menggaungkan kalimat “say no to sarkawi”, melainkan bagaimana aku tiba di seberang propinsi esok pagi dengan cara dan metode apapun. Biarlah aku dicap “Jarkoni”, iso ujar ora biso nglakoni (bisa menasehati, tetapi tidak bisa menjalankan), terkait isu sarkawi.

“Tinggal depan toilet Mas, bagaimana?” sambutnya.

Aku hanya menggeleng. Incaranku bangku CB atau sarang macan. Menurutku, ruang di depan toilet terlarang dan tidaklah manusiawi, sangat menggangu kebebasan penumpang yang ingin menggunakan fasilitas tersebut. Sudah ilegal, masih juga mengusik hak orang lain. Demikian teguran nuraniku. Lebih-lebih, wilayah di sekitarnya (maaf) rawan terkena najis.

“Hei Mas, ikut bus-ku saja?” ajak seseorang sambil menunjuk bus dengan slogan di kaca samping “your smile is our happines”. “CB masih kosong.” imbuhnya. Sepertinya, tadi dia nguping pembicaraanku.

“Jurusan mana dulu, Pak?” aku meminta kejelasan.
“Poris, Mas”

Aku bergeming, dengan isyarat tangan kutolak tawarannya. Batinku mengingatkan “Jangan dulu, masih ada Tri Sumber Urip, sang dewa sapu jagat”.

“Betul…betul…betul…” jawab pikiranku yang latah meniru vokal bicara si Ipin.

Panjang umur!!! Baru saja dirasani, jasad Tri Sumber Urip, “The Doctor”, Hino RG eks properti PO Efisiensi, melenggang masuk.

Kucoba mengirim pesan lagi kepada Mas Ferdhi yang saat itu memanduku dari rumahnya, menanyakan stock tiket untuk busnya Bah Do tersebut.

“TSU sami mawon telas Mas. Cobi kulo nembe telepon konco-konco sopir mbok menawi CD/ CB taksih kosong” (TSU sama saja habis, Mas. Coba saya telepon teman-teman sopir siapa tahu CD/ CB masih ada yang kosong)

Arghh…pupus harapanku.

Kutuju mushola Nurul Iman di pojok barat terminal. Kerepotan mencari selembar tiket nyaris melupakan kewajibanku untuk menunaikan shalat ashar. Di akhir doa, kutinggalkan permohonan agar dalam kesempitan ini, Dia Yang Maha Pemurah sudi memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang terlunta-lunta tak tentu nasib ini.

“Pak, Budi Jaya sampun mlebet?” tanyaku sebelum berjingkat pergi pada Bapak penjaga mushola. Entah ada angin dari mana, tiba-tiba aku teringat, di halaman “masjid mini” inilah sering dijadikan “peristirahatan sementara” PO tersebut. (Budi Jaya sudah masuk, Pak?)

“Dereng Mas”. (Belum, Mas)

Yup…PO Budi Jaya adalah kesempatanku terakhir. Andaikan luput juga, aku pun bersiap jinjing koper, balik badan ke Rembang, menunda bepergian sampai besok pagi. Dengan konsekuensi, aku bolos kerja di Hari Senin. Tak apalah, ke-karutmarut-an yang terjadi di luar kuasaku.

Eh, tak dinyana, aku menatap seraut wajah “bule Eropa” dengan kulitnya yang legam terbakar matahari, tengah berlari-lari hendak masuk ke dalam bus Pahala Kencana. Dialah Mas Mirza Amran Halim, salah satu penghuni armada N 7442 UA yang akan membawanya ke Bandung. Setelah bertegur sapa, dia pun nangkring di atas “sofa”nya nan nyaman, sementara hatiku semakin teriris oleh kecemburuan. Coba kalau aku tak menempuh rencana seperti ini, niscaya aku telah duduk manis di kursi NS-39 atau Pahala Kencana “Euro 3”, seperti Si Aam, panggilan akrabnya.

“Ayo…ayo…penumpang Budi Jaya. Busnya sudah datang!” seru Mas Agen membuyarkan lamunanku.

Dari tempatku termangu, kusaksikan New Travego berbalut warna kuning kenanga berhenti tepat di depan Mushola, dan tak lama berselang didekati secara berduyun-duyun para penumpang yang sedari tadi sudah tak sabar menunggu kedatangannya.

“Masih ada tiket, Mas?” tanyaku memelas, saat kudekati Mas Agen.
“Habis, Mas.” sahutnya singkat.
“R-R an juga?” masih saja aku berusaha mengais bangku yang belum laku.
“Sama Mas, di depan toilet saja ada empat.” jelasnya singkat.

“Tolong ya Mas, kalau ada cancel-an, saya dikabari…” aku benar-benar menghiba, tak berdaya. Dan Mas Agen itu berlalu, cuek, tak merespon permintaanku.

Habis sudah..no chance anymore!

“Mas, sampeyan aku tunggu di terminal ya. Aku mau balik Rembang, ngga dapat tiket. Kita nongkrong di sini dulu. Aku pulang agak malaman saja” sekali lagi aku menelepon Mas Ferdhi.

15 menit kemudian, di tengah rintik hujan yang tersisa, pemilik blog Bejeuholic itu datang. Sepertinya, “beliau” juga galau melihat aku merana tak kebagian secarik tiketpun. (Hehehe…tenang Mas Ferdhi, aku tetap salut dan berterima kasih dengan upaya sampeyan mencarikan tiket.)

Berdua kami saksikan, satu persatu armada Jakarta-an menghilang di pintu keluar, hanya menyisakan Budi Jaya yang masih sibuk menata penumpang. Keheningan petang mulai menyergap, menggantikan nuansa hiruk pikuk slottime keberangkatan bus-bus malam yang baru saja berlalu.

“Mas…Mas…” teriak Mas Agen Budi Jaya tiba-tiba, sambil tangannya ngawe-awe, sehingga mengagetkanku.

Dengan setengah berlari, kudekati dia,

“Ada apa, Mas?”, tanyaku penuh selidik.

“Ada tiket batal. Cuma tiket seratus, mahalan sedikit. Mau ngga? Soalnya…”

“Tak masalah, Mas”

Kupotong saja penjelasan mengenai alasannya, tanpa perlu berpikir panjang lagi. Tiket VIP seharga Rp100.000,00 masih murah bila disandingkan dengan kehilangan jam kerja di awal pekan.

Baru saja selesai transaksi, ada sedikit “kegaduhan kecil” sesama personel Agen Budi Jaya. Rupanya, seat yang kubeli telah dibook oleh calon penumpang Mas Agen satunya. Namun, karena pemesannya tak kunjung datang, tiket itupun dijual Mas Agen yang lain kepadaku, yang memang sudah pasti ada di tempat dan bersedia membayar “lebih” dari harga normalnya yang berada dikisaran angka 80-90ribu.

“Sudah…sudah…ini saudaraku. Lagian ini sudah malam, penumpangmu itu bikin bus telat berangkat. Kasihan yang lain…” kilah Mas Agenku mengakhiri perselisihan soal perebutan kursi.

Terserah Mas Agen lah, aku diakui sebagai saudaranya. Ya…memang saudara sih, lain bapak lain ibu. Hehehe…

Yang penting, “lembar pengakuan” sudah di tangan, (alhamdulillah) aku terbebas dari belenggu sarkawi, batal return to base ke Rembang dan aku tidak sampai mengorbankan orang lain. Bukankah karena keteledoran penumpang itu sendiri, akhirnya pesanannya dihanguskan dan diberikan kepadaku?

Dan, tentu saja ada yang lebih istimewa. Aku dientaskan oleh-Nya dari situasi terjepit dan dijodohkan dengan bus yang selama ini belum pernah aku cumbui sekalipun.

Ya…PO Budi Jaya. PO kawakan dari gugus Muria Raya yang menantang rasa penasaran dan keingintahuanku untuk mencicipi elok rupa yang disembunyikannya. Seringkali dia kuincar namun kondisi selalu tak mengizinkan. Tawaran berkali-kali teman komuterku yang Budi Jaya addict untuk mengajakku bareng se-bus, belum bisa kupenuhi sampai sekarang.

Hingga akhirnya, menjelang malam itu aku merengkuh armada Budi Jaya, yang justru berawal dari ketidaksengajaan yang tidak direncanakan. What an amazing life…

Puji syukur kepada-Mu Ya Allah, do’aku terkabul bahkan Engkau lipat gandakan.

One thought on ““Budi Kecil” Itu Berkelahi dengan Waktu (Bagian Ke-2)

    ken wibowo said:
    21 Juni 2012 pukul 2:18 pm

    akhirnya dapat juga mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s