“Budi Kecil” Itu Berkelahi dengan Waktu (Bagian Ke-4)

Posted on


Jam 21.20, saat pramudi tengah menyuksesi pucuk singgasana driver pinggir. Baru pasang kuda-kuda, menghimpun energi sebelum memulai pelayaran tengah malam, tanpa ba-bi-bu dihempaskan oleh armada H-Deck berbalur warna hijau tua, K 1736 CC kepunyaan Muji Jaya. Sepertinya line Bandung.

Setelah memberi kesempatan para penumpang untuk mengisi lambung pencernaan, kini gantian penumpang yang merelakan waktunya terpangkas demi memenuhi aspirasi tangki bahan bakar Si Budi. Di SPBU Weleri, 100 sekian liter solar ditenggak, sebagai pasokan cairan kimia yang nantinya dikonversi dapur pacu menjadi energi gerak. Saat melakukan pitstop, berlalulah arus kecil bus malam yang mengarah ke ibukota, diwakili Gajah Temanggung AA 1661 JE yang beriringan dengan Shantika DSA Jepara-Pulogadung.

Lagi ancang-ancang untuk mendaki tanjakan Plelen, dengan arogannya Nusantara HS 174 memamerkan kemelimpahruahan output batang torak sebesar 250 HP. Sementara busku harus rajin shift up maupun shift down mengelola rasio gigi transmisi, membimbing rpm dan torsi agar tak kehabisan stamina. Laun tapi pasti, puncak setinggi 200 m dpal mampu ditaklukannya. Sementara itu terlihat Santoso seri J rusak sebelum portal alas Roban, yang merupakan tabir penghalang agar kendaraan besar tak melewati turunan curam Plelen.

Di ruas Banyuputih-Subah-Batang, bus yang berlivery grafis jilatan api ini lumayan mengganas. Kobaran fireball-nya berhasil melumerkan keuletan para legenda bus bumi pertiwi, yakni Pahala Kencana K 1599 B dan Kramat Djati D 7571 AD serta mengasapi Putra Remaja New Travego New Armada, AB 7181 AK. Meski akhirnya rapor sempurnanya “dibata merah” oleh ngacirnya laju Sari Mustika Golden Dragon. Kuacung jempol terhadap performa bus Pati-Sumatra tersebut. Banter banget dan hanya dalam beberapa kedipan mata, bus yang berkandang di Kota Lunpia itu lenyap di telan kegelapan yang menyelimuti salah satu jalur tengkorak di tanah Jawa ini.

Dan virus penyuka turing berupa halusinasi alam sadar itu datang. Zzz…zzz…zzz…

Aku sempat terjaga dari tidur saat bus digeber pada kecepatan tinggi di daerah Dampyak, Tegal. Ternyata, tungganganku berupaya menempel duo armada Pahala Kencana, masing-masing berpendorong Hino RK8JSKA dan kakaknya, RG1JSKA. Luar biasa memang, meski hanya dibekali ruang silinder bervolume 4.249 cc, tak ada rasa minder untuk unjuk gigi, meladeni kapasitas mesin yang hampir dua kali lipat besarnya dari spesies XBC-1518 ini. Hukum alam tak dapat dilawan. Mengutip judul lagu salah satu grup band favoritku — Five Minutes — “Semakin Kukejar Semakin Jauh”, demikian gambaran ketidakseimbangan yang terjadi. Kolaborasi ombak biru New Travego Adi Putro dan New Travego rombakan Tri Jaya Union semakin deras mengalir, dan “supervan”ku pun keteteran dibuatnya.

Kota Brebes.

Kemacetan kembali terjadi di sisi barat mengarah Jakarta. Lalu lintas berjubel, semrawut akibat ulah main serobot. Belasan intercity night bus terjerembab di dalamnya. Gara-gara tak sabar dengan nomor urut antrian, dengan mengekor Garuda Mas Evolution E 7938 HA, jalur berlawanan pun dirampas. Rupanya, sumber kekusutan adalah truk pengangkut petikemas yang tengah mengalami gangguan teknis.

Hambatan belum juga sirna. Mulai stasiun kereta api hingga Alun-Alun Kota Bawang Merah, arus kendaraan tak kalah ruwet. Dengan space sempit di sebelah kanan, bus yang emisinya ramah lingkungan ini memaksa menyusup di antara deretan pengguna jalan, melengserkan posisi Ramayana Seri A, kompatriotnya – Budi Jaya K 1678 GA, GMS model Skania, Rosalia Indah Concerto 275 serta Pahala Kencana make over-an Triun.

Jangan memandang sebelah mata pada yang kecil… Barangkali, itulah ungkapan yang terunggah di benak anggota keluarga Mercedez Bens ini.

Tak tahan diserang kantuk kembali, aksi pejam mata jilid II kuselenggarakan dengan “khusyuk”.

Tatkala membuntuti PO Dewi Sri besutan Karoseri Equator, aku terbangun kembali. Kutengok samping kanan kiri, hmm…daerah yang asing bagiku. Pada satu papan nama di depan suatu instansi pemerintahan, lamat-lamat kubaca nama Jatiwangi, Majalengka. Terbakanku, pasti ini jalan alternatif, demi menghindar dari kubangan neraka pantai utara Jawa Barat.

Saat melenggak-lenggok di rute yang lebarnya kurang lebih hanya 5 m, kusadari, ternyata bus-ku berempat sedang berkonvoi. Selain Dewi Sri, ada Shantika Oranye, dan pemimpin parade dinihari itu adalah Laju Prima New Marcopolo. Tak bisa dipungkiri, menaklukan etape tengah tanah Pasundan cukup merepotkan. Nafas Budi Kecil terengah-engah dan tarikan pun jadi boyo, susah bersaing dengan bus dengan kapasitas cc yang lebih mumpuni. Terlebih ditambah postur tubuh yang gempal sekaligus bobot bodi yang cukup membebani. Bisa menjaga jarak dengan Dewi Sri di depannya, bagiku sudah merupakan capaian yang perlu diapresiasi.

Di daerah Subang, bus yang berkekuatan torsi hingga mencapai 675 Nm ini berhenti untuk aplusan sopir. Kinerja mesin sempat diposisikan idle relatif lama. Sepertinya, kru menyediakan masa istirahat setelah armada bekerja keras menggulung jalan sepanjang hampir 400 km, sembari mengecek kesiapan unit penggeraknya.

Berbondong-bondonglah arak-arakan model-model cantik yang biasa menari-nari di atas catwalk Pantura. Kontestannya terdiri dari Tri Sumber Urip Setra Morodadi Prima, Nusantara CN Old Travego, Sido Rukun sentuhan Piala Mas, GMS Setra Adi Putro, Sido Rukun bodi Laksana, serta Nusantara HS 150. Mereka bersatu padu menyimpang dari track utamanya.

Masuk entry gate Sadang, fajar baru saja menyingsing. Hatiku seketika bersemburat harapan bahwa Senin Pagi ini aku bakal “mempermalukan” mesin absensi di lobi kantorku. Kali ini, I’m The Champion dan tepatlah pilihanku menyandarkan terminal Pati sebagai “penjinak ranjau” kerusakan sirkuit peninggalan Belanda era GubJen Daendels.

Terlebih, performa bus yang berpendingin Nippon Denso di jalan bebas hambatan Cikampek-Jakarta cukuplah spektakuler. Tercatat olehku, armada-armada yang menepi oleh pemaksimalan kemampuan jelajahnya antara lain Safari berjahitkan Laksana, Sumber Alam Panorama DX, Gunung Mulia Proteus 04, Setia Negara 27, Gege Trans AB 7360 AS, Purwo Widodo 06, Lorena berkasta Bisnis jurusan Purwokerto, Lorena LB-463 Purwodadi, Raya 26, serta poolmatenya, Raya 18. Bahkan Bejeu K 1665 BC dan Pahala Kencana B 7189 WV yang terus menguber dengan memeragakan atraksi goyang patah-patah, terobos kanan tusuk kiri, hingga nekat menerjang bahu jalan tetap tak berdaya untuk melampaui seribu langkah “Bocah Pesantenan” ini.

Sayang…kemudian mimpi manis dan keyakinanku pupus. Aku pun hanya bisa pasrah, menatap penyakit kronis di depan pelupuk mata. Mulai Km. 18 Cibitung, meski jarum jam masih menunjuk angka 06.15, jalan penghubung kawasan satelit dengan ibukota telah dilanda traffic jam. Dan kemacetan ultra parah di Senin Pagi tiada putus hingga interchange Cawang, dan tak pelak menyita masa perjalanan. Akhirnya jerih payah dan perjuangan Budi Kecil kandas, menghadapi karang yang berwujud arogansi sebagian warga-nya Bang Foke, yang lebih suka menjejali wilayah Jakarta yang sudah sempit dengan kendaraan pribadi, ketimbang merelakan diri bercapai dan berpeluh ria naik angkutan massal.

Apa yang mesti diperbuat lagi? Sebuah kesalahan kolektif yang mau tak mau, ikhlas tidak ikhlas, bersama-sama kita harus menanggung akibatnya. Benang kusut pengelolaan lalu lintas serta transportasi ibukota membikin jatah umur habis dan tua di jalan.

Pukul 08.15, Budi Jaya menurunkanku di Terminal Pulogadung. Yang berarti pula, aku disungkurkkan lagi oleh sang waktu…

Tapi, kekecewaan dan rasa frustasi tak pantas kualamatkan pada Budi Kecil. Dia sudah habis-habisan dengan segala daya upaya memenangkan pergumulan melawan kejemawaan waktu. Kalaupun akhirnya kalah, itu bukan karena aspek dari dalam, melainkan faktor luar yang terlalu tangguh untuk dibinasakan, bahkan oleh hari kiamat kurang dua detik pun.

Itulah yang membuatku terkesan atas penampilan impresif Budi Jaya selama hampir 15 jam di atas “permadani hitam”.

Aku optimis, selama Budi Kecil konsisten dengan top perform-nya, selalu “istiqomah” mengusung cruising spirit-nya, dan senantiasa menjaga high determination-nya, seperti yang telah diteladankan sepanjang malam, kegagalan hari itu hanyalah benih kemenangan yang sedang ditanam, sekedar menunda sejenak tentang kisah kesuksesan.

Bukan begitu?

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal

(Sore Tugu Pancoran – Iwan Fals)

— T a m a t —

12 thoughts on ““Budi Kecil” Itu Berkelahi dengan Waktu (Bagian Ke-4)

    edy purwanto said:
    13 Januari 2011 pukul 5:04 pm

    Akhirnya…. kutunggu-tunggu…. lahir juga edisi januari. Selamat berjuang Budi Kecil, selamat berjuang juga buat empunya blog..

    purwatiwidiastuti said:
    14 Januari 2011 pukul 8:23 am
    wawan said:
    14 Januari 2011 pukul 10:01 am

    another great stories from ‘penyair rembang”, thanks sudah berbagi cerita…

    sangalang said:
    19 Januari 2011 pukul 5:49 pm

    Mudah-mudahan aku bisa segera sebangku dengan mas Didik untuk Jakarta-Rembang……ingin menikmati kembali tidur di taman kartini, di pojok alun-alun, di masjid Lasem dan tempat-tempat tak terlupakan bagiku

    Anank said:
    19 Januari 2011 pukul 11:09 pm

    Mas Didik yang baik, mau tanya nih, kalo mau ke Malang dari Banten, tapi transit di Kudus, baiknya naik bis apa ya? di Kudus lokasi menunggu bis ke Surabaya/Malang yang ‘aman’ dimana ya mas? trims penjelasannya, dan ditunggu ‘cerita jalanannya’ mas … semoga selalu diberi-Nya kekuatan untuk membagi pengalamannya…

    Bawor said:
    20 Januari 2011 pukul 2:09 am

    bulan desember ga bikin tulisan apa mas?

    Maya Karina said:
    22 Januari 2011 pukul 8:32 pm

    Siip…ceritanya asyik banget…

    beno said:
    24 Januari 2011 pukul 9:30 am

    salam kenal mas didik….kalau bus jakarta-denpasar yang recomended apa mas?mohon infonya.matur sembah nuwun

    Jhon Abdul said:
    1 Februari 2011 pukul 5:20 pm

    Mas Didik, cerita Budinya keren euy. terimakasih sudah nulis lagi, Mas. tetep rajin yah. saya siap baca semua tulisan Mas Didik. soalnya, selain hiburan, tulisan Mas Didik juga bisa menambah wawasan.

    Mas, saya boleh tahu nick Mas Didik di http://www.bismania.com? soalnya saya mau menunjukkan sesuatu (gambar) ke Mas Didik.

    terimakasih, Mas.

    Bravo Bismania!

    Firmankoga_s7 said:
    10 Februari 2011 pukul 10:36 pm

    4 jempol dah !!!

    ken wibowo said:
    25 Desember 2012 pukul 12:12 pm

    mantap mas ceritanya

    didiksalambanu responded:
    7 Februari 2013 pukul 10:36 am

    Terima kasih atas kunjungannya, Mas Ken.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s