Rest Your Wings, Old Butterfly! (5)

Posted on


Dunia Cepat Berbalik

Perjuangan nan luar biasa dalam “membinasakan” jalur pendakian Muria menyulut euforia di palung jiwaku. Aku yakin, kalau sekedar jalan Pantura barat minus Alas Roban, yang mayoritas berkontur rata serta datar, HT 718 bakalan jauh lebih ngedap-ngedapi (mengkilap), seperti yang telah ditunjukkan di etape pertama, Rembang-Juwana.

Namun, saat menyusuri jalan menurun sejauh 18 km antara Colo-Kudus, harapan itu sirna. Pak Eko membuka selubung kegelisahan akan kondisi mesin tuanya. Dengan lirih, beliau berucap pesan kepada pemilik kekal bangku CB,

“Wis, mlaku saktitahe, sing penting sesuk tekan Pulogadung.” (Kita berjalan sekemampuan saja, yang penting besok sampai Pulogadung).

Sebuah isyarat halus bahwa bus tak lagi berorientasi masa tempuh, melainkan asal sampai tujuan.

Saat mampir di pool, bus dengan trayek Bangilan-Senori-Jatirogo-Pamotan-Lasem-Pulogadung ini laksana anak tiri di antara anak-anak emas Pahala Kencana, Kudus. Sudah bus paling merana, justru diberangkatkan paling akhir dibanding saudara-saudaranya. Terlebih lagi, nanti kudu mampir di agen Cipto, Semarang, menghampiri satu orang penumpang.

Kru sempat menego pengurus. Dengan dalih “engkel”, penumpang tersebut diminta dititipkan bus lain ke agen Siliwangi, biar tidak memakan waktu karena mesti menyusuri jalan-jalan Kota Semarang. Namun, penghibaan tidak digubris.

Dan “sabda keramat” penggenggam setir kemudi memang terbukti. Dunia berbalik 180 derajat.

Jam 19.15, bus berpendingan udara Thermo King memulai kisah gerilya malamnya. Determinasi tinggi tak lagi tampak. Kobar semangat, gairah serta greget pembawaan, berikut ulah mayak-mayak di atas karpet hitam memadam. Dan lagi, negative habit bus-bus Pahala Kencana sektor Kota Kretek menyeruak.

Bus hanya pelan melaju — di kisaran angka 50-70 km/ jam — dikendalikan dalam kecepatan serta putaran mesin yang aman dan ekonomis. Semua dilakukan demi berempati dengan keterbatasan ketahanan mesin bervolume 5600 cc dan telah berumur 15 tahun-an, yang vitalitasnya jauh menurun, setelah habis-habisan dicaplok keganasan rute Gembong-Colo.

Di Karang Tengah, Demak, Haryanto Phoebus B 7889 VGA tertulis sebagai bus pertama yang “mempermalukannya”.

Setelah menjelajahi jalan-jalan protokol Kota Atlas, Krapyak pun jadi saksi aksi pecah telur sekaligus catatan positif yang pertama sekaligus terakhir bagi “Kandang Ayam”. Mulyo Indah Antero Coach di-skak mat.

Selebihnya, bus yang berportal di http://www.pahalakencana.com hanya jadi bulan-bulanan makhluk sebangsanya.

Dari Mangkang hingga Gringsing, disalip oleh poolmatenya B 7589 WV, Muji Jaya Renault K 1408 CC, serta Bogor Indah model Skania.

Lepas dari tempat persinggahannya di Rumah Makan Sendang Wungu, semakin banyak yang menyungkurkannya. Di trek Alas Roban, Harta Sanjaya Panorama 3, Bogor Indah Galaxy Coach, Harta Sanjaya AD 1476 CE, Budi Jaya OH 1526 K 1408 H, serta Rosalia Indah 230 Laksana Comfort jadi pendepaknya.

“Tujuan Jakarta-nya kemana, Bu”, tanyaku pada penumpang sebelah yang terlihat asyik menikmati gawe bepergiannya, meski hatinya tengah dihujani kekecewaan atas kekurangberuntungan dalam mendapatkan armada jodohannya.

“Ke Senen, Mas. Mau ke tempat keponakan saya,” jawabnya.

“Ada acara apa, Bu?” tanyaku lagi. Ketimbang muka kecut gara-gara diasapi bus lain, ada baiknya mengalihkan fokus turingku. Lebih bijak menjalin keakraban sesama penumpang.

“Ini Mas, nganter pesanan. Sepasang burung emprit,” dia tersenyum sembari memperlihatkan kotak kecil yang diletakkan di bawah kursi.

“Lho?!? Lebih mahal ongkos busnya dari harga burungnya ya, Bu?” aku bingung, seakan tak percaya.

“Ya iya Mas. Ini belinya juga ngga sampai 50 ribu. Buat pulang pergi naik bus paling ngga 300-an. Tapi gpp, demi keponakan,” ungkapnya dengan nada datar.

Duh, betapa sayangnya “tante” itu kepada keponakannya.

Kadang, alasan orang bepergian itu sepele dan remeh temeh, tak sebanding dengan ongkos perjalanan yang dikeluarkan.

Back on track…Babak-babak yang menyesakkan dada terulang kembali.

Menjejak kota Batang hingga Pekalongan, berturut-turut Safari Setra Adi Putro H 1521 AB, Muji Jaya H-deck Ijo K 1736 CC, Raya 26 Panorama DX serta Langsung Jaya AD 1480 AF melengserkeprabonkan-nya dari persaingan, sebelum racun busmania berupa kantuk itu datang.

Akhirnya, cahaya terang di pagi hari benar-benar membelalakkan indra penglihatanku. Jam 06.30, member of Blue Waves baru menapak daerah Patrol, Indramayu. Entah busnya yang lelet, ataukah telat karena semalam macet, itu tak penting. Tetap saja, mukjizat tak lagi bisa diharap.

Raut wajah Pak Eko masih saja menyorotkan kebugaran, meski telah 18 jam duduk di belakang kemudi. Hebatnya, tanpa doping rokok! Beliau begitu santai, tenang, tidak ngoyo, tidak grusa-grusu dalam memutar roda-roda busnya. Toh, baginya, mendarat di Pulogadung adalah prestasi spektakuler, mengingat nilai busnya yang berada “di bawah standar”. Tak jadi masalah besar, saat armada-armada kesiangan mendahuluinya; Raya Panorama DX, Rosalia Indah Concerto, Handoyo Comfort, Haryanto Madura Advant Garde, Selamet “Einstein”, Sumber Alam “Jeng Any”, Gunung Mulia Bogor-Solo AD 1452 BB, dan Rosalia Indah 326.

Berkelana di jalan tak ada indah-indahnya kalau cuma jadi sangsak blong-blongan.

Setali tiga uang saat menyusuri daerah Jatisari, Subang. PO Madu Kismo serta Tri Sumber Galaxy yang mengangkut rombongan wisata, Nusantara NS 81, Sumber Alam 306219, Pahala Kencana Centrium B 7589 XB, Harapan Jaya New Travego Smiley serta Lorena LE-251 ramai-ramai memakzulkannya sebelum masuk SPBU Km 52 Tol Cikampek untuk kepentingan kontrol dan menambah asupan solar.

Dan menurut checker, busku ini jadi armada terakhir yang masuk Jakarta, di antara gerombolan Pahala Kencana Bojonegoro, Lasem, Jogja serta Wonogiri.

Kalaupun ada yang bisa dinarsiskan, B 7279 WV ini sanggup mencampakkan Lorena Old Travego, Santoso Ekonomi, Family Raya Ceria Marcopolo, SJLU Setra Adi Putro, serta Sedya Mulya gubahan Tri Sakti. Namun, bus-bus itu dipayungi satu nasib, mogok dan perpal di jalan, kandas terdampar di ruas penghubung antara Patrol dan Jomin.

Ujung perjalananku akhirnya berakhir di pelataran terminal yang sekaligus “homestay” Si Hans SJM, tepat ketika jam digital HP-ku menunjuk angka 10.20. Sepertinya, Pahala Kencana-ku jadi juru kunci armada Muria-an yang hari itu ditugaskan ke Pulogadung.

Pfuh…Andai bukan sebab SMS nyasar, mustahil aku bakalan tahu, perusahaan otobus sekelas Pahala Kencana masih menyimpan “spesies unik” di line-up armadanya. Dari sanalah, aku pun bisa merasai cerita dramatis tentang kehebatan kupu-kupu tua dalam usahanya mendekatkan aku dengan ladang pencaharianku di ibukota. Walaupun akhirnya, dia layu setelah berkembang, gagal total melumpuhkan kejemawaan mesin absensi kantorku.

Andai aku bisa berbicara dengannya, akan kubisikkan larik-larik nasihat basi.

“My Lovely Butterfly,

Berkaca pada perjalanan pembuka tahun yang kulakoni, sekarang adalah masa yang tepat untuk merebahkan sayapmu. Hinggaplah engkau, lalu berdiamlah di wisma kedamaianmu.

Kekagumanku padamu tak serta merta luntur, meski kau hanya ditempatkan sebagai penghuni museum keabadian. Itu lebih baik bagimu ketimbang kau memaksakan diri untuk memamerkan kepak sayapmu yang kian menua. Aku cemas hati, itu bakalan jadi bumerang yang akan menghantamku balik, karena pecintamu tak lagi dapat melihat pesona mudamu. Performamu tak seperti yang dulu, yang elok, anggun lagi perkasa.

Aku justru berbelas kasih kepada Pak Eko. Dia “penghela pedati” yang handal dan mumpuni. Sayang, menerbangkanmu, dia tak lebih dari “The Right Man on The Wrong Place…”

Ingat Butterfly, kau mesti menjaga reputasi satu PO papan atas, jangan pertaruhkan kemilau nama itu demi segilintir obsesi murahan.

Meski kau menjunjung agung semboyan “The Art of Travelling”, namun perjalanan yang memboroskan waktu, melelahkan raga, bahkan dengan jamuan armada ala kadarnya, belum bisa dimaknai sebagai “art” bagi sebagian pemujamu, termasuk diriku sendiri.

So, now it’s better to rest your wings, Old Butterfly…”

— T a m a t —

3 thoughts on “Rest Your Wings, Old Butterfly! (5)

    Bawor said:
    7 Maret 2011 pukul 10:04 pm

    Serasa ikut merasakan…deg deg serr….,

    Jhon Abdul said:
    9 Maret 2011 pukul 8:41 pm

    Wah. Mantap, Mas. Ceritanya tambah keren yang ini. Saya juga suka Pahala Kencana. Hebat yah Jurumudi kupu-kupunya. Kalau jurumudinya kurang ahli mungkin si kupu-kupu udah robek-robek tuh sayapnya. Salut buat Bapak Eko. Salut juga buat Mas Didiknya. Tulisannya bagus.

    Oh ya, Mas. Maaf, saya masih awam di dunia perkumpulan penggemar bis. Saya mau tanya, apakah ada perbedaan antara bismania.com dengan bismania.org? Saya pernah baca tulisan Mas Didik yang menyinggung tentang anak tetangga yang beda mahzab itu, saya boleh tahu arti dan maksudnya, Mas?

    Terimakasih.

    Salam,

    Jhon Abdul.

    sangalang said:
    11 Maret 2011 pukul 1:36 am

    Hebat. mas didik begitu hafal jalur2 yg jarang dilewati, semisal utara pati sampai kudus, juga sewaktu jalan alternatif cirebon lewat subang…nama2 daerahnya…seakan setiap perjalanan begitu indah dan erat terekam di ingatan…ku tak sabar menuntaskan niat pengen sebangku dengan mas didik di perjalanan Jakarta-Rembang….ingin banyak belajar menghayati sebuah perjalanan.
    Satu lagi…mas didik sekarang gak pernah ngebalas komen-komen para penggemar beratnya….why ????
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s