Almost Unreal (2)

Posted on Updated on


Almost Unreal (2)

When Pahala Kencana Trapped into Alas Bonggan, Todanan 

Segera kupacu roda empat berdapur pacu 1,3 liter membelah keriuhan truk-truk yang melaju lambat di atas trek Pantura. Kira-kira 10 menit berlalu, sampailah kami di pertigaan Tambak Omben, Kaliori, dan segera kuarahkan kemudi menyimpang ke kiri dari jalan besar.

Hamparan tambak berhektar-hektar menyejajari jalan Desa Dresi Kulon. Petani garam tengah sibuk dengan prakaryanya, mengolah air laut menjadi butiran ‘emas putih’ yang bernilai jual. Hasil kerja merekalah yang memberi warna perekonomian bagi kabupaten miskin di ujung timur Jawa Tengah, sehingga tanah kelahiranku diidentikan dengan sebutan kota garam.

Mengarungi wilayah Kaliori bagian selatan hingga memasuki distrik Sumber, tak ada lagi pemandangan tambak-tambak garam. Gelaran alam menjelma jadi ladang dan persawahan yang keadaan tanahnya berangsur kering, merana, nelo-nelo (pecah-pecah), dipapar terik mentari.

Dua kilometer menjelang ‘ibukota’ Kecamatan Sumber, mobil MPV 7 seaters pun berbelok, merangkaki connecting road perekat Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati. Setelah berjibaku dengan kerusakan jalan yang masif lantaran acapkali kendaraan berat  menindihnya sebagai imbas ‘perselingkuhan’ dari jalur utama, sampailah kami di pinggir Desa Jaken, Kec. Jaken, Kab. Pati.

Dari titik inilah, kami akan mengawali simulasi sekaligus napak tilas, bagaimana Pahala Kencana jurusan Madura itu ‘kehilangan navigasi’ sehingga melenceng jauh dari ‘alur pelayaran’ yang semestinya.

Mulanya, dari jalur Juwana-Ngebruk-Jakenan-Sidomukti-Jaken — sebagai posisi awal perjalanan bus Pahala Kencana dari barat/ Jakarta –, sampailah kami di simpang tiga Jaken. Rambu petunjuk yang berdiri menjulang, serta papan darurat yang tertempel pada badan drum yang diletakkan persis di tengah pertigaan, terlihat sangat kentara. Tanda panah ke kiri mengarahkan kendaraan ke Batangan, dan sebaliknya, ke kanan menunjukkan tujuan Blora.

Jaken-20120707-01300

Jaken-20120707-01303

Asumsi kami, driver bus berkaroseri model Setra Royal Coach E tersebut ingin menghindari Batangan, karena biasanya, daerah tersebut belum sepenuhnya terbebas dari kemacetan.  Arah yang kemudian diambil oleh Pahala Kencana divisi Jakarta tersebut adalah berbelok kanan, menyusuri jalan perbatasan dua desa, yakni Jaken dan Sidoluhur.

Dirintisnya percobaan kedua dalam usaha  kembali ke medan Pantura, yakni via Sumber. Jalan alternatif ini bisa menembus Kaliori ataupun Rembang, dua daerah yang sudah jauh dari simpul kekarut-marutan lalu lintas, efek dari pengecoran jalan di ruas Batangan-Juwana. Atau bagi yang familiar, dapat memanfaatkan shortcut Sumber-Sulang-Banyu Urip-Jape Rejo hingga berujung di Kota Kecamatan Lasem, tanpa melewati Rembang Kota.

Sumber-20120707-01305

Karena minimnya lampu penerangan serta petunjuk arah yang dipasang, – maklum setiap ada proyek yang melibatkan beberapa pihak, selalu muncul kurangnya koordinasi antar bagian terkait– sesampai di persimpangan Desa Sidoluhur, seharusnya ‘moda raksasa’ tersebut mengarahkan moncongnya ke kiri, yang merupakan jalan urat nadi penghubung Kabupaten Pati dan Kabupaten Rembang.

Memang sih, ada dua handicap yang menghadang para pelintas rute ini. Terlebih bagi kendaraan besar semisal bus atau truk. Selain dibutuhkan ketrampilan dan kejelian memanfaatkan ruang sempit, dituntut pula nyali serta keberanian.

Ada dua jembatan kecil yang jauh dari kata layak untuk dibebani kendaraan di atas 7 ton. Yakni Jembatan Sri Katon, yang membentang di atas Sungai Randu Gunting, sekaligus batas alam antara wilayah Pati dan Rembang. Bangunan peninggalan penjajah Belanda ini masih melestarikan bentuk asli berupa bridge barrier (penghalang samping) dengan ciri beraksen lengkung khas Eropa, serta buk (aproach barrier) yang fisiknya tampak tebal, kekar lagi kokoh.

IMG00542-20120714-1605

Satu lagi adalah Jembatan Sekarsari, yang diampu Desa Sekarsari, Kec. Sumber, Kab. Rembang. Jembatan ‘ala kadar’nya ini bahkan jauh lebih berbahaya, karena lebarnya sedikit di atas 2.50 meter. Bus yang nekat melewatinya harus bersiap diri, tubuhnya bakal tergores sayap jembatan bila kurang titis (akurat) dan waspada. Sementara, titik sambung antara jembatan dan badan jalan mulai ambles dan tebing sekitarnya rawan longsor, dilintasi puluhan kendaraan per hari dengan tonase di atas batas kemampuan gelagar jembatan.

IMG00544-20120714-1608

Belum lama, saat perjalanan pulang jalan-jalan bersama keluarga dari Kudus dan memilih opsi jalan kelas III ini, aku dituntut bersabar saat antri bergiliran melintasi jembatan mini. Aku pun jadi saksi mata bagaimana saat dua bus Nusantara — NS-39 dan NS-29 –, dua Pahala Kencana Bojonegoro serta empat bus wisata Akas NNR dari timur, begitu pelan berjibaku saat meloloskan diri dari tantangan berat ini.

Faktanya, keberadaan jalan pintas ini tak berhasil diendus driver Pahala Kencana. Lantaran tak ada petunjuk jalan yang memadai ditambah buta jalur, bus bermesin Hino varian RG1J yang seharusnya membelok ke kiri, akhirnya bablas, lurus menuju ‘negeri antah berantah’.

Jaken-20120707-01304

Awalnya, kondisi medan cukup menipu.  Jalanan relatif mulus, aspal terpelihara dengan baik dan lebarnya masih memungkinkan andai saja berpas-pasan dengan roda empat yang lain. Mobil yang kutanggangi pun sanggup berlari di angka 50 km/ jam, tanpa takut penumpang bagian belakang terguncang oleh body roll kendaraan nan hebat.

IMG-20120707-01243

Kanan kiri jalan didominasi hamparan bulak (areal persawahan nan lapang) yang kini berubah fungsi menjadi ladang. Lantaran sawah tadah hujan, selama kemarau dikaryakan para petani penggarapnya untuk budidaya palawija.

Sekilas tanaman cabai, jagung, kacang tanah, tembakau, tebu serta kebun jati milik warga setempat mewarnai alam di pinggiran hutan yang cenderung berpartikel tanah lempung.

Di penghujung wilayah Sidoluhur, berdiri meraksasa empat pohon trembesi yang di mata kami cukup unik dan eksotik. Kuartet tumbuhan peneduh berumur ratusan tahun, dengan jarak tanam yang simetris, menaungi badan jalan. Seakan-akan konfigurasi dahan-dahan yang menjuntai memberi ucapan selamat datang nan ramah kepada kami.

Sumber-20120707-01296

Namun, itu tidak disepahami oleh Si Agus. Dia berucap lirih, “Mas, hati-hati. Kita mulai masuk kerajaan gaib yang besar dan megah. Ini adalah pintu gerbangnya!”

Ups… kami langsung terdiam. Sebagai ordinary people, toh, apa yang ada di sekeliling kami adalah ruang hampa, tak ada makhluk lain yang tampak dan bisa dirasakan kehadirannya.

But…well, the show must go on…

Kian masuk ke dalam, jalanan semakin rusak, bergelombang dan aspalnya mengelupas merata. Kendaraan kecil tak bisa lagi dipacu dan laju kami kalah dengan roda dua yang sesekali melintas.

Setelah ditemani kebun tebu yang cukup luas, diseling vegetasi pohon-pohon jati hasil reboisasi, menyusuri jalanan yang sepi, dan sebelumnya melewati jembatan yang sempit, kami tiba di suatu ‘kompleks pemukiman’ yang lumayan ramai. Desa Ronggo, namanya.

Sumber-20120707-01294

Kami pun membelah desa terpencil di wilayah tenggara Pati, yang dihimpit Desa Ronggo Mulyo, Kec. Sumber, Kab. Rembang serta Desa Kedung Bacin, Kec. Todanan, Kab. Blora.

Saat melintasi pasar Ronggo, dan sesekali memandang wajah-wajah innocent warga dusun, ada semacam ke-kurangwelcome-an yang kami terima. Entahlah itu perasaaanku saja ataukah benar adanya. Seakan mereka melihat kami dengan tatapan mata yang nanar, penuh curiga, tidak seperti penduduk desa-desa lain di Pulau Jawa yang habitnya ramah. Mungkin saja, adanya mobil asing yang melintas di pelosok kampung adalah sesuatu yang mereka anggap aneh dan menimbulkan tanda tanya besar.

Apalagi saat kami berpas-pasan dengan beberapa laki-laki bersepeda motor, yang hebatnya sambil menjinjing bongkahan kayu jati persegi ukuran 12 cm X 12 cm X 250 cm secara sendirian, semakin antipati saja mereka melirik kami.

“Orang sini tampangnya seram-seram ya, Mas?” ujar Mas Ponirin mengungkapkan keawamannya.

Aku hanya bisa berbisik dalam hati, inilah yang kumaksud lorong gelap di awal tulisan ini. Dan (semoga saja tidak) bisa berpotensi untuk mendatangkan ‘penyakit’ bagi kami. Ada sebuah rahasia yang saat turing waktu itupun tidak aku bongkar kepada Bayu dkk.

Hidup di tengah lingkungan yang keras, ditempa panasnya alam untuk sekadar mencari sesuap nasi, dikelilingi kawasan hutan yang angker, — dan seringkali terjadi ‘rebutan lahan’ antara masyarakat dengan Perhutani –, kondisi sosio-ekonomi yang termarginalkan, serta jauh dari hingar bingar kehidupan kota, melahirkan sosok-sosok manusia yang tahan banting, jiwa-jiwa pemberani, darah kesatria, bermental baja, gampang tersulut, rentan, anti kompromi, labil serta tak kenal kata berdamai dengan segala urusan yang tak cocok di hati mereka.

Maka lahirlah pendekar-pendekar pribumi yang kesaktiannya cukup moncer hingga ke desa-desa tetangga.

Ada beberapa dusun yang cukup ditakuti serta disegani terkait  sepak terjang para jagoan-jagoannya. Pagak, Sobo, Keso serta Ronggo adalah beberapa di antaranya. Dahulu, setiap ada tawuran massal, keributan di pentas hiburan, atau gesekan antar geng kampung, hampir selalu di antara pemuda-pemuda dari dusun-dusun ini terlibat di dalamnya. Tak jarang, akhir dari keonaran-keonaran dipungkasi dengan tetesan darah, atau istilahnya Maduranya-nya carok.

Konon katanya, gali-gali (gabungan anak liar) itu sengaja ‘diternak’ oleh penguasa Orde Baru dengan tujuan politis, untuk mengalihkan isu-isu tingkat lokal maupun regional. Meski kini tingkat kerawanannya tak seperti dulu, tapi sisa-sisa dan bahaya laten muncul kembalinya premanisme dan laku barbar tetap wajib dicermati.

Yang lebih membelalakkan mata, dari bocoran artikel yang pernah kubaca dari website Perum Perhutani Jawa Tengah, Desa Ronggo disinyalir sebagai pasar kayu curian terbesar di Pulau Jawa. Para cukong dan mafia illegal logging banyak yang bermain, memanfaatkan masyarakat di sekitar hutan dalam menggerakkan modus operandi mereka. Siapa yang tak tergiur dengan keuntungan yang sangat besar, seiring kian mahalnya harga bahan baku kayu? Apalagi, menurut klaim kartel perkayuan, kualitas kayu jati daerah Blora adalah highest grade. Nomor wahid. Tak mengherankan, sewaktu Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dibangun, sebagian besar kayu pembuat anjungan-anjungan rumah adat, materialnya didatangkan dari daerah ini.

Karena bukanlah bisnis resmi, tentu saja, orang-orang yang kepalang terjun ke dunia kriminal ini berbekalkan bondo nekat, sehingga perlu bermodal olah kanuragan atau ilmu bela diri sebagai tameng perlindungan serta memupuk kepercayaan diri.

Dari berita yang aku dengar, berkali-kali Desa Ronggo ini disweeping pihak Kepolisian bekerjasama dengan Perhutani untuk memutus mata rantai jaringan kayu ilegal. Namun, sekian kali itu pula gagal. Bahkan aparat negara terkesan kapok setelah mendapatkan perlawanan masyarakat di pinggir hutan, lalu angkat tangan, dan akhirnya membiarkan aksi pembalakan liar.

Namun, secara alamiah, susutnya jumlah pohon jati dengan sendirinya menyusutkan pula bisnis kayu gelap ini.

Barangkali, dengan pengalaman pahit dan hubungan yang kurang harmonis dengan para penegak hukum, masyarakat Ronggo terkesan tertutup, high resist serta low permissive terhadap kedatangan orang lain yang kebetulan melintas.

“Siapa saja yang lewat sini, patut dicurigai sebagai intel-intel yang sedang mengintai kami”. Mungkin demikian yang terpatri di benak mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s