Balonku Ada Lima, Rupa-Rupa Warnanya (3)

Posted on Updated on


Balonku Ada Lima, Rupa-Rupa Warnanya  (3)

Setali tiga uang, ‘pemain lapangan tengah’ pun bermain dengan irama lambat. Kalau bukan jasa dapur pacu K114 IB nan meledak-ledak, rasanya mustahil bisa melucuti langkah Ramayana E2 dan Rosalia Indah Setra Adi Putro selama menggeluti tanjakan Plelen.

Mataku terbelalak melihat satu wujud ‘keajaiban Pantura’. Pahala Kencana, rombakan Centralindo Carrosserie, memarkirkan diri di halaman rumah makan Sabana Jaya, yang notabene ‘milik’ kompetitornya di jalur Madura. Urusan perut dapat mengesampingkan soal perseteruan. Hehe…

Satu per satu, spesies lain mempereteli taring-taring tajam Lion King di ruas Banyu Putih-Subah. Dipelopori Haryanto ‘Bunga Teratai’, ulah nakal itu kemudian ditiru Ramayana eksekutif Bogor, GMS Jetbus serta Pasukan Palur 305.

23.17

Kutinggal merehatkan badan, tahu-tahu menyentuh jalan protokol di depan gedung DPR Kota Tegal. Dan episode ‘derai air mata’ belum ada tanda-tanda berkesudahan.

Sekaliber Safari bodi ‘Galaxy Setra’ hasil ketok magic sendiri, dan Tunggal Dara Revolution 7414, dengan bekal stamina yang pas-pasan buat mendorong chasis, tubuh gambot serta penumpang yang diangkutnya, nyatanya berdaulat mengerdilkannya.

Style menjajah jalur kanan kembali dipanggungkan oleh aset yang kelahirannya dibidani Pak Sutikno, mendekati lampu merah Jl. Gajahmada. Tindakan balas dendam terhadap bus-bus yang sempat mempermalukannya pun dibayar tunai.

Kavaleri ‘Plat K’, masing-masing The Black Bus Passion K 1537 BC, Sumber Harapan New Travego bikinan Tri Sakti K 1707 FA serta Ikha Selamet Putra OH King bergantian mendepaknya dari tampuk teratas di etape Kaligansa Wetan-Klampok.

Cimohong, spot macet menjelang perlintasan sepur Pejagan, lagi-lagi menunjukkan kekusutannya. Saling serobot dan rebutan posisi terjadi antar kendaraan, seolah tak cukup kesabaran untuk menunggu rangkaian dua atau tiga kereta api lewat. Tampak Santoso seri S Wonosari-Cileungsi ‘kegerahan’, membuka kap mesin di bahu jalan.

Memasuki jalan yang diarsiteki Bakrie Toll Road, disapa aksi kesetiakawanan sosial tiga armada Tajur; LB-2601 Concerto, LB-2603 Evolution dan LB-2605 Old Travego, ketika satu di antaranya mengalami trouble.

Putra Remaja pun kehilangan ‘keremajaannya’ di podium bebas hambatan. Di km 264, Sinar Jaya 12E menggagahinya.

Walah…Zlatan Ibrahimovic dikalahkah Oshin Tanokura!” batinku memprotes.

Giliran Scorpion King GMS berkode 31, Haryanto Ocean non-HD, busnya Yoges — pramudi idola anak SJM — 92VX, serta Bejeu Setra menepikan dari kerasnya tensi rivalitas. Sebelum ditutup oleh gebrakan Rosalia Indah 126 saat hendak menyerahkan nominal sebesar Rp21.500,00 kepada kasir gerbang Mertapada.

02.10

Sinaran cahaya lampu kabin menyilaukan indera penglihatan. Atas instruksi kantor pusat, Rumah Makan Singgalang Raya, yang berlokasi di Muntur, Losarang, dihampiri. Ada agenda pengecekkan penumpang yang wajib dipenuhi, sebagai upaya untuk menekan ‘muatan’ tak resmi serta meminimalkan tindak kejahatan yang kerap terjadi di atas bus.

Di sampingnya, dua poolmate, Marcopolo AB 7395 AS serta Pinguin jurusan Bumi Andalas, tengah menanti panggilan untuk menjalani proses pemeriksaan yang sama.

Bergabung kembali dengan entitas Daendels Road, bus rilisan tahun 2004 ini kembali kedodoran. Tak kurang dari Bejeu B14, Reog Ponorogo-Jaya-, Nusantara ‘Irizar Kw2’, dan Rosalia Indah ‘Comfort’ bersekongkol mengkandaskannya di lembah persaingan.

Huft…mampukah dia mencapai Kebon Jeruk, tempatku turun nanti, sebelum kemacetan Senin pagi mengurung jantung ibukota?” keluhku dengan nada pesimis.

04.20

Entry gate Dawuan.

Kupandang angkasa dari balik kaca. Bintang-bintang sanggup mengerlingkan binarnya, pertanda malam masih menaungi belahan barat Pulau Jawa.

Wow…biar tak punya lari, nyatanya bakal bisa memunggungi pagi. Meski miskin determinasi, jarak 600-an km terasa tak berarti. Jadi, mengapa aku men-tuhan-kan pemeo ‘speed is more important than matter of comfortability’?” nuraniku menyanjung lirih.

Menghabiskan sisa-sisa rute, lagi-lagi tak ada obralisasi vitalitas raga maupun semburan deras bahan bakar yang dipasok saluran injector ke kompartemen tungku pijar. Bahkan, bagiku, separuh dari horse power maksimal cukup untuk mematok kecepatan jelajah di skala 60-80 km/jam.

Hasilnya?

Tol Cikampek-Jakarta, di bentang km 68 – km 47, dipenuhi goresan tinta merah. Daftar isian dijubeli nama Ramayana AA 1614 AB, Dedy Jaya ‘Mapan’, Ikha Selamet Putra K 1449 CA, Ramayana AA 1606 AB, Kramat Djati Setra, white bus; Bina Transport, Shantika H 1725 BE, Shantika Masterbus, Ramayana Selendang, trio Dedy Jaya; ‘Gilang’, ‘Jibless’ dan ‘EvolutionX’, kompatriotnya; Putra Remaja AB 7395 AS, Shantika Merah Euro 3, Nusantara HS 153, Raya nomor lambung 13, DMI kaca geser alias kasta ekonomi, Rosalia Indah 148, Dedy Jaya G 1637 GG, Sumber Alam ‘Proteus’, Sinar Jaya ‘Comfort’, kawan semarga; Shantika 20 ‘si Kebo’ serta Bogor Indah B 7114 PD.

Tak satupun torehan positif dibukukan PO yang sebelum hijrah ke Jogja bermarkas di ‘sebelah’ istana PO Ramayana, Muntilan, itu. Justru ‘jaring gawangnya’ jadi lumbung gol bagi lusinan striker yang tak lelah menggedor benteng pertahanan nan longgar.

Look at my note!

Shantika H 1743 BG, Sumber Alam ‘Lapendoz’, Muji Jaya K 1524 BC, Rosalia Indah 228, Prima Jaya Bandung-Kalideres, Warga Baru 408, Laju Prima Marcopolo, Jaya Nucleus 3, Laskar Pelangi 49S, dan Kurnia Jaya 21 menghiasi halaman media ‘the scorers’.

20 km lagi menjangkau tol dalam kota, kembali dipecundangi oleh Pahala Kencana ‘Nano-Nano’ B 7798 IX, Handoyo Setra New Armada, Kramat Djati B 7443 IS serta ditutup langganan baruku, Haryanto HM 19 batangan Pak Topo dan Pak Tris.

Ya ampun…dicukur gundul!?

Apa aku salah bila menyindirnya dengan pepatah ‘singa bercangkang keong’?

05.25

“Pak, saged mandap Jatibening?” aku berspekulasi, menghiba kemurahan hati kru. Rasa-rasanyanya, apabila aku kekeuh dengan tujuan semula — turun di depan studio RCTI –, pasti bakal tambah sengsara untuk menggapai lahan pencaharianku. Ini Senin pagi, Fren! (Pak, bisa turun Jatibeing?)

“Hmm…ningali keadaan nggih, Mas. Mbok bilih mboten wonten PJR, monggo kemawon” jawab Pak Sopir dengan ramah. (Hmm…lihat keadaan ya, Mas. Kalau tak ada PJR, silahkan saja)

Ups…serta merta aku merasa bersalah. Terlalu underestimate, menjudge Putra Remaja sebagai transporter lelet dan menjemukan. Keramahan punggawa kabin ternyata lebih diunggulkan sebagai instrumen kelas eksekutif, ketimbang lari buru-buru mengejar waktu. Kebaikan dan hospitality mereka seketika membungkam dahagaku akan bus yang trengginas, ngotot dan ‘haus darah’.

Aku pun melantai di ‘terminal bayangan’ Jatibening. Dan tentu saja, tinggal menyiapkan ongkos empat ribu sebagai tarif langsiran yang dibanderol Warga Baru, Agra Mas ataupun Walet Biru, saat nanti mengestafetkan flight-ku menuju areal ladang di pesisir utara Jakarta.

***

Saat iseng, acapkali kubuka program aplikasi memo pad di gadget usang, tempatku bercorat-coret perihal rekaman penting dari berbagai touring yang pernah kulakoni. Tak terkecuali perjalanan bertemakan ‘goes to the west with Putra Remaja’.

Namun, sungguh naif ketika di dalamnya terselip ‘setetes noda’ yang terus-menerus mengganjal akal pikirku.

Mengapa pada kolom ‘gol kemasukan’, baru kali ini tercatat begitu berjejalnya list ‘kotak besi beroda enam’ yang sukses mengasapi bus yang kucumbui.

Yang membikin hati tak terima dan dada ini sumpek, ‘kejadian luar biasa’ tersebut terjadi ketika aku menunggangi salah satu big bus dengan volume ruang bakar paling raksasa dari semua varian engine yang pernah beredar di tanah air. Sebuah teknologi ‘jet darat’ yang high-tech di zamannya, berfitur mahal lagi canggih, sistem yang rumit dan multicomplicated, unitnya berharga selangit, serta hanya PO-PO mentereng yang berani memiaranya.

Dialah Scania, Griffin tanah Skandinavia!

IMG00388-20120513-2021

Barangkali akan sama halnya andai primadonaku, klub Arsenal, dengan sekompi pasukan young guns yang ngedap-ngedapi, tiba-tiba terpuruk di English Premiere League. Di akhir kompetisi, anak-anak asuh Arsene Wenger tersungkur di dasar klasemen dan mesti turun satu trap ke divisi yang lebih rendah.

Bagaimana aku bisa legowo mempercayai kenyataan pahit seperti itu?

T – a – m – a – t

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s