Budi Yang Tak Beranjak Gede (4)

Posted on


05.10

Drettt…drettt…drettt… 

Vibrate mode dari gadget usang ‘memanggil’. Kusudahi tidurku, kurenggut dari saku, dan terpampang lah nicknamemama-e anak2ku’ di display monitor .

“Iya, Ma,”

“Sampai mana, Pa?”

Aduh…kota mana ini? Nyawaku yang belum ‘penuh’, menyulitkan menentukan koordinat posisi. Dalam keremangan ambang pagi, kupandangi toko-toko yang berjajar dari balik kaca. Sampai ketika mata menyudut pada satu outlet suku cadang motor, tertera alamat ‘Jl.  Diponegoro No. xx, Brebes’.

“Brebes, Ma.”

“Apa!? Brebes!?”

Istriku kaget setengah tak percaya.

“Numpak opo!?” intonasinya semakin meninggi. (Naik apa?)

“Budi Jaya,”

“Papa sih…demennya sama bekakas-bekakas (barang-barang) ngga jelas kaya gitu.” semprotnya keras menghakimiku.

Aku terdiam, mati gaya, salting dan kemudian mafhum, jika ‘yayangku’ itu secara blak-blakan melecehkan obyek yang disuka bus lovers dengan julukan sarkatif ‘bekakas’. Salahku juga sih, tak mampu mencetaknya menjadi seorang bismaniatun.

“Doain saja, Ma, perjalanan Brebes-Rembang lancar…” nasihatku menyetop kemarahannya. Toh saat ini bukan waktu yang tepat menjelaskan apa dan mengapa ‘selingkuh’ dari bus-bus yang telah kuakui kehandalannya.

Ck…ckck…Kota Bawang, baru separuh perjalanan. Hari ini bakalan panjang, berliku serta menjemukan.

Pahit…aku hanya bisa menelan ludah.

10.23 

Mendekati Mangkang, tepatnya di depan TPK Gambilangu, lalu-lintas tersendat oleh proyek pelebaran jalan. Sebelah-menyebelah dengan Legacy Sky Subur Jaya, bus berlogo pesawat yang tengah mengorbit, berusaha meloloskan diri dari kepungan truk-truk angkutan berat.

Setelah membayar retribusi, tampak dua patas Solo-Semarang, yakni  PO Mucul OH Prima serta Rajawali AK 215, yang dikerahkan untuk meramaikan ‘sepinya’ terminal yang mencaplok biaya 46.5 milyar untuk pembangunannya itu.

Di daerah Tugu, sempat mendului Trans Semarang berbodi Nucleus 3 dan terlihat armada Tri Sumber Urip K 1631 AD line Sumatra-an tengah terbelit masalah kerusakan mesin.

Saat membelok untuk mengarah Tol Manyaran, sapu jagat Mangkunegaran, Gaya Putra Old Travego tengah ‘melangsir’ penumpang, untuk diumpankan PO Rajawali. Gambaran pola transportasi yang terpadu serta terintegrasi. Hehe… 

Tak ada lagi view yang membuatku tertarik memaknai perjalanan. Meski mampu melancangi Nusantara ATB, K 1523 BK, di daerah Jebor, Kudus, tak lantas dapat mencegah akal pendekku ini untuk meratapi kejamnya hari.

12.05 

“Pati habis…Pati habis…yang Tayu, Ndari oper bis mini depan. Langsung naik, tak perlu bayar!“ aba-aba dari kenek terdengar lantang, saat bus yang punya bisnis sampingan angkutan travel “Putra Berlian” itu kecapaian, dan akhirnya memutuskan untuk langsung pulang garasi tanpa meneruskan perjalanan menuju wilayah Pati Utara.

Ngrengg…ngrengg…

Vokal serak-serak kasar yang dilantunkan baby mercy itu menggema di angkasa. Lampu ‘smiley’ yang tertancap di lempeng buritan bermetamorfosis jadi ‘emoticon’, melambangkan senyum penghibaan, agar aku memaafkan ulah ngeselin yang diperbuatnya semalaman suntuk.

Sayang…aku terlanjur menorehkan catatan hitam dalam diary wira-wiriku. Bahwa pernah ada satu hari dalam hidupku, aku ‘diplekotho’ oleh ulah duet bocah yang sama-sama bernama Budi, ‘Budi gede’ dan ‘Budi kecil’.

12.11 

“Tuban…Boyo…Boyo…” ajak kondektur PO Widji Lestari saat melihat banyak ‘penunggu’ tengah bernaung di bawah halte terminal lama Pati.

Bergegas kumelantai ke dalam kabin bus ekonomi jarak jauh itu. Selembar duit bergambar pahlawan Tuanku Imam Bonjol kubarter dengan ‘layanan terbang rute pendek’ Pati-Rembang.

Tanpa pakai acara tem-teman di Gemeces, setra hasil prakarya tangan-tangan New Armada seketika ngibrit kesetanan. Erangan mesin keluarga front engine dari imperium Hino begitu menyayat-nyayat gendang telinga para penumpang, termasuk aku yang duduk di shaft belakang.

Nguikk…nguikk…

Suara sepatu rem berdecit, saat menemui buntut kemacetan yang panjang mengular ketika  mendekati Tugu Sukun, Juana.

Huft…ada apa lagi di depan, sehingga tumben, traffic jam segini panjang?

Di depan SPBU Mbagu, Mintomulyo, moda darat berkewarganegaraan Lampongan tanpa ba-bi-bu membabat jalur berlawanan. Ikhtiarnya terhitung sukses, sebelum pasar buah kota bandeng benar-benar menahannya dan membuatnya stag, terkalang carut-marut ratusan kendaraan dan motor.

5 menit…10 menit…

Nyaris seisi bus semburat keluar, tak kuat berkompromi dengan pengapnya kabin yang dipenuhi asap rokok dan panasnya iklim Laut Jawa yang memanggang kulit.

20 menit…30 menit…50 menit…

Bus yang beredar di koridor Terboyo-Bungurasih itu tak berkutik sama sekali. 90% badan jalan telah dikuasai lautan kendaraan yang mengalir ke timur, membikin runyam pergerakan lalu-lintas arah sebaliknya.

Kuhempaskan diri duduk di tangga pintu belakang. Mencari udara segar, membebaskan kesumpekan dari siksa cuaca dan derita kemacetan yang seolah tak berujung.

Aku sudah lelah hati, lunglai pikiran, jatuh mental, demotivasi, dan hilang kearifan menyikapi ‘dunia’ku hari ini. Perjalanan Pulogadung-Pati sudah apes, nyandung-nyrimpet, tertatih-tatih. Dan kini, kampung halaman yang tinggal ‘sejengkal’ lagi, tapi mengapa tiada kelapangan jalan sehingga terasa terjal untuk mencapainya?

Terbayang wajah srikandi-srikandi kecilku, Naura…Ammala…Binar…

“Nak, pasti kalian bertiga resah dan tak sabar menanti bapakmu yang sesiang ini tak jua tiba di rumah….” sesalku yang kali ini tak siap menghadapi efek psikologis sebagai konsekuensi dari hobi menjajal barang-barang dari ‘negeri antah berantah’. 

Tatapanku kosong, lidah terasa mengunyah pil pahit, otakku kram.

Entah bisikan dari mana, tiba-tiba mencuat satu tekad dan keyakinan, bahwa aku tak boleh menyerah dan kalah melawan nasib buruk. Betapa berdosanya aku, jika janji untuk mengajak anak-anakku menghabiskan libur di Sabtu sore dengan plesiran wajib di Taman Kartini atau alun-alun kota, gagal kuwujudkan.

Sejenak kutatap seorang bapak dengan rompi kuning yang membungkus jaketnya sedang nongkrong di atas jok motor, yang diparkir persis di samping Masjid Agung.

“Ojek kan, Pak?” dengan buru-buru kuhampiri.

“Iya, Mas. Mau ke mana?” telisiknya dengan gesture senang.

“Rembang bersedia, Pak?”

“Aduh…bukannya saya tak mau, Mas. Mahal, Mas. Kan lebih murah naik bus,” jawabnya merendah. Benar-benar orang yang jujur dan tak mentang-mentang ‘aji mumpung’. 

“Lihat sendiri Pak, sudah satu jam Widji mandek greg. Sampai kapan saya mesti nunggu?” dengan singkat kuutarakan alasanku. “Sudah, Bapak minta berapa?

“50 ribu ya, Mas. Ini yang dari timur juga panjang macetnya.”

“Oke lah, Pak. Ayo berangkat!”

Tanpa kutawar, kuiyakan saja harga dasar yang dibuka. Tak kupedulikan lagi meski nilainya separuh lebih dari tiket bus VIP Jakarta-Pati. Dalam situasi kepepet, uang bukan lagi ‘kehormatan’ yang harus disayang-sayang.

Dipacunya roda dua dari pabrikan Suzuki menembus barikade pengguna jalan yang tumplek blek memenuhi lebar jalan karena aksi saling serobot. Sumber utama penyebab chaos ini adalah ditutupnya ¾ bidang jalan akibat adanya penambalan aspal pada titik sambungan antara jembatan besar Juana dengan badan jalan yang terlihat bergeser dan mengangga. Sebuah indikasi bahwa salah satu jembatan penyusun urat nadi jalan nasional itu perlu tindakan ‘penyelamatan’ sesegera mungkin.

Ekor ketersendatan sudah merangsek daerah Raci, kurang lebih 6-7 km rayapannya. Dengan perut keroncongan, tenggorakan yang dicekat kehausan, fisik yang  luar binasa,  emosi yang runtuh, serta pikiran kalut, dibawanya aku menyeberangi atmosfer Pantura yang ‘setengah mendidih’ dan berangin kencang. ‘Diuapi’ polutan berat yang menyeruak dari trek gravel yang terhampar di ruas Batangan, sebagai persiapan proyek pelebaran dan pengaspalan ulang, kian menambah daftar penderitaan yang mesti kurasai.

IMG00253-20120428-1255

13.50 

“Terima kasih, Pak.” ucapku atas kebaikan tukang ojek yang telah mengantarkanku hingga depan Taman Kartini, Rembang, tempat penjemputku nanti akan menemui. 

Edan…Pulogadung-Rembang menyedot waktu 20 jam.

Selintas, sosok menjengkelkan si Budi kembali menghampiri pelupuk mata.

Budi…Budi…Gara-gara sembrono, kau buat aku merana dan nelangsa. Keteledoranmu yang menganggap enteng dan menepikan peran ban serep, seolah kau kutuk ‘binatang bundar’ itu jadi seorang perampok. 

Dialah bandit yang merampok sebagian hak-hak ketiga putriku untuk bercengkerama serta bersendau gurau dengan keterbatasan waktu yang dipunya bapaknya.   

It’s my bad day…

Dengan langkah tersaruk-saruk, kupijaki lembaran bumi di tepian pantai yang dipenuhi pasir lembut serta kerikil tajam.

Kegeramanku memuncak. Kusepak kuat-kuat serakan batu kecil yang menghiasi permukaan jalan, melampiaskan dendam kekesalan batin.

Ah…dasar kamseupay!!!       

Dan debu-debu pun berterbangan, mengotori langit pesisir nan terik lagi kerontang.

 IMG00244-20120427-2109

 T – a –  m –  a –  t

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s