Escape From Comfort Zone (3)

Posted on


“Ayo berangkat, sudah jam-nya. Kalau ngga dateng, ditinggal saja…” warning kenek kepada agen setelah dua “tangkapannya” tak jua datang.

“Tolonglah, tunggu sebentar…” pintanya.

“Ya sudah, disuruh cepetan tuh. Kita tunggu di luar terminal,” pungkas asisten sopir itu dengan tak sabar.

Melihat gelagat kru, betul apa yang dibilang Mas Indra, bahwa Garuda Mas adalah bus yang paling menghargai jam keberangkatan, anti permisif terhadap keterlambatan. Terlihat dari sikap cekat-ceket, tak mau buang waktu, dan bertele-tele dalam urusan penataan penumpang. Mungkin, inilah nilai positif sistem engkel dari pengoperasionalan bus.

Moda berpaspor B 7355 IS pun menunggu telaters di mulut pintu keluar. Sempat petugas mengusirnya karena menghalangi bus lain yang hendak meninggalkan terminal.

Menapak ruas Pati – Kudus, driver benar-benar all out memamerkan determinasinya. Ngotot serta trengginas. Apakah dia hendak pamer taring di hadapan user-nya, bahwa karakter “bus tamu” tak kalah dengan habit tuan rumah?

Terlebih dikipas-kipasi akting panggung nan seronok dari biduanita OM Romansa, yang tak kalah heboh dengan goyangan Lisa Geboy cs. Dengan irama dangdut koplo yang nge-beat dan menghentak-hentak, benar-benar membangkitkan gen speedy Hino RG.

Dua pasukan Ombak Biru, B 7189 X serta K 1596 B harus rela dikebiri dari sisi jalan tanah, saat lalu lintas di daerah Terban tersendat. Debu-debu beterbangan, seakan menjadi saksi monumental, meski single player, semata wayang, tanpa teman atau saudara di jalur timur, kekuatan kibasan sayap Garuda tak bisa disepelekan. Masih membayang saat Intercooler Kupu-Kupu yang aku naiki ngos-ngosan menguber Si Ijo di ruas Demak-Semarang. Benar – benar fight kinerja the man behind steering wheel-nya…

BG 7185 AU, PO Wisata dari Palembang, Talenta Muda, meski dengan susah payah, juga diasapi menjelang pertigaan Ngembal Kulon. Ah, apa sang nahkoda akan konsisten dengan laku mayak-mayak sepanjang malam, mengingat mahdzab beginian membutuhkan konsentrasi tinggi serta menguras energi?

Di stanplat Jati Kudus, adegan di Terminal Pati lebih sempurna terulang. Satu penumpang terpaksa ditinggal, karena menjelang detik-detik take-off tak tampak batang hidungnya. Beruntung, saat itu mendapat subtitutornya, seorang penumpang yang nekat go show di saat musim ramai.

17.36

Dengan status kloter pertama, Neo Travego ini meninggalkan kota kretek. Selepas Jembatan Tanggul Angin, barulah eco-driving mengambang ke permukaan. Menyadari tanpa tandem, driver pun “memusingkan” roda bus pada skala kecepatan aman. Daya gedor pun dikendorkan, meski gereget sebagai penjinak jarak 550 km tak serta merta surut.

Di daerah Gajah, tampak PO Gumarang Jaya berbodi Tri Sakti berhenti di agen penjualan tiket. Semakin semarak saja lintas Pati-Sumatra setelah PO dari Muntilan, Putra Remaja, juga ikut bergumul meramaikan pasar gemuk ini menjelang bulan puasa kemarin.

Sebelum Pasar Jebor, Demak, kendaraan menumpuk akibat proyek peninggian badan jalan. Posisi busku menguntit bus plesiran, Gunung Sari. Berdasarkan pelat nomor asal — K 1545 F — serta livery, dugaanku Gunung Sari adalah sempalan dari PO Era Trans, Purwodadi. Dari hasil pengamatanku selama merasai atmosfer Pantura, kongsi Era Trans sepertinya (di)pecah menjadi tiga, yaitu Era Trans, Era Prima dan Gunung Sari. Apakah pemisahan ini untuk memetakan segmnetasi ceruk penumpang yang hendak disasar? Era Trans untuk line Purwodadi-Jakarta, Era Prima melayani Purwodadi-Sumatra dan Gunung Sari didedikasikan buat pariwisata.

Meski dengan lari pas-pasan, di ringroad kota wali, bus dengan izin trayek untuk Tayu-Pati-Pulogadung-Kalideres ini mencetak hattrick, dengan menghempaskan perlawanan bus beregistrasi K 1683 B, serta dua bus Sido Rukun, masing – masing model Setra Morodadi Prima H 1671 BA serta Laksana Comfort H 1467 BA.

Melewati kantor Polantas Demak, terlihat Sinar Mandiri “Bateh” membujur tak berdaya, hampir dua minggu teralineasi dari kerasnya trek Pantura Timur. Melihat kondisi body yang utuh tanpa cacat, masalah hukum yang menyeretnya pastilah melibatkan motor atau pejalan kaki.

Wuss…tanpa dinyana, dari sebelah kiri melesat dengan deras Scorpion King dari Lasem, saat Garuda Mas menginjak areal Sayung. Selain gaya menyalipnya yang cantik, aku sangat terkesan dengan balutan grafis minimalis yang menempel pada dinding samping. Hanya mengandalkan baluran cat hitam, putih serta abu-abu, tetapi paduan tri-warna ini benar-benar simpel dan membumi. Menilik tatto tubuh, inilah armada Tri Sumber Urip favoritku, di antara kemajemukan corak Raja Kalajengking yang dipunya Koh Paryono.

Sialnya, pesona kombinasi kerlap-kerlip lampu sein dan brake lamp yang diperagakan bokong semok K 1668 BD  mesti berakhir, setelah Hino RK8 itu menepi sehabis membayar retribusi tol di gerbang Muktiharjo.

Sesaat melaju dalam kesendirian, persis di atas simpang susun Jatingaleh, bus-ku bertemu dua kawan sejenis. Memanfaatkan bahu jalan, dua bus jurusan Purwodadi-Jakarta, yaitu Era Trans Non AC K 1761 BF serta Garuda Mas Concerto E 7624 HA ditumbangkan.

Krapyak, meeting point jalur timur, tenggara dan selatan.

Ajang balas dendam dilancarkan oleh Era Trans, memanfaatkan celah kiri yang lebih lengang. Sementara, Hinomaru keluaran 2004 ini hanya mampu menyalip bus wisata B 7432 BW, sebelum dihadang kemacetan, gara-gara bus Sumber Larees dengan papan jurusan Purwodadi-Jakarta berhenti mengeruk penumpang, meski letak bus masih berada di lajur 2.

“Sopir kalau jarang bawa Jakarta-an ya gini,” gerutu pemegang setir kemudi dengan aksen Sunda, sambil menyalakkan corong terompet dengan kerasnya.

Rapor biru kembali ditorehkan mesin seri J08C kapasitas 7961 cc di atas jalan lingkar Kaliwungu. Adalah PO Ezri dengan blazer model Nucleus 3, bernomor lambung 12, yang terpaksa menutup hidung menahan pengapnya semburan residu dengan tingkatan Euro 2 ini.

Di sentra penjualan tiket bus Cepiring, Kendal, secara “betina” mendahului PO Armada Jaya Perkasa yang tengah wajib lapor lantaran agen dapat menjaring penumpang tambahan. Aku pun haqqul yakin, armada Galaxy Coach AJP tersebut adalah lungsuran PO Shantika. Coretan air brush di bodi ala bus-bus official partner Piala Dunia 2006 Jerman, yang membenarkan tebakanku.

Keenakan melaju, tanpa disangka-sangka, muncul dari sisi kiri bus reyot dengan eksterior yang minim estetika, PO Usaha Jaya. Bumel, kucel, sarat dempulan, tanpa AC pula. Dan seperti Sumber Larees, bus yang biasanya merumput di jalur Semarang-Purwodadi ini banting setir, mengusung para perantau kembali ke ibukota. Menurutku, inilah bus-bus siluman, yang nongol pas Lebaran, setelahnya ngumpet ke orbit masing-masing.

19.50

Angkutan massal yang dilengkapi fitur toilet on the road ini “meluruskan punggung” sementara waktu di Rumah Makan Mekar Sari, Kendal. Seolah ingin mencari kehangatan, bus diparkir terjepit di tengah-tengah celah yang dibangun PO Madjoe Utama AE 7087 UB serta Garuda Mas New Travego, B 7384 IZ.

Aku pun harus me-manage langkah pengiritan kembali. Perbekalan ransum yang disiapkan istri kubongkar, menyiasati ketiadaan service makan malam untuk kelas ekonominya Garuda Mas. Tentu apple to watermelon bila dibandingkan pelayanan eksekutif yang memanjakan perut dengan kebijakan loss nasi dan sayur. Meski ada secuil ironi juga, dengan adanya penjatahan lauk yang tersirat dari amar “Maaf, ambil satu potong”.

“Sing sareh (yang lapang dada), Dik, bukankah hemat pangkal kaya, nikmat pangkal paha…” guyon akal pikirku. Hehe… 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s