Sssttt…Tarif Kencan “Dara” Cuma 130 Ribu Semalam. Mau!? (Eps. 3)

Posted on


Pre-Season

Kuisi amunisi bagi tubuh di sebuah warung di dalam kompleks BanyumanikBus Port, dan setelahnya kuayunkan kaki menuju jalur penurunan penumpang di luar terminal.

Ingin kunikmati view sore berikut aktivitas warga di atas jalan penghubung antara kantornya Pak Bibit Waluyo dengan kotanya Pak Jokowi serta keratonnya Sri Sultan, sembari menghabiskan waktu dua jam menanti bus yang kuimpikan datang.

Tapi, kian lama jarum menit seakan berotasi sangat lambat.  Bus-bus yang bersliweran datang dan pergi, mendidihkan darah ke-busmanian-ku. Maju Makmur, Sumeh, Wolu, Sumber Waras, Safari, Sumber Kencono, Ramayana, Tri Sulatama, Nita, Patas Nusantara, Patas Rajawali, Damri, Immanuel, serta Taruna seolah ngawe-awe, merayu-rayu agar aku tak hanya berdiam diri di tempat. Mereka berkonspirasi membangkitkan hasratku untuk setidaknya melakukan trip jarak pendek.

Tapi kemana?

“Banyumanik, yang kota…yang kota siap turun…” lantang suara kondektur PO Safari saat bus AC jurusan Solo-Semarang H 1543 AB itu akan berhenti.

Tiba-tiba menyeruak ide untuk TTM aka Turing Tanpa Maksud dengan rute Banyumanik-Terboyo PP. Daripada ke Ungaran atau tengah kota semisal Simpang Lima-Tugu Muda, khawatir ancaman crwoded di saat jam pulang kerja.

Tanpa banyak cingcong dan pilah-pilih, kunaiki bus berdaya 250 tenaga kuda dalam balutan gaun Setra Adi Putro itu, meski sebenarnya monoton juga dengan apa yang aku putuskan. Seringkali NS-39 langgananku dilayani OM-906LA, tapi kok tak ada bosan-bosannya nangkring di atas chasis OH-1525. Sesudah menebus nominal tiga ribu rupiah, dibawanya aku menikmati efek bodi limbung di atas jok bermerek Perfect di ruas Tol Tembalang-Jatingaleh-Kaligawe.

IMG00173-20120409-1508

Sesampai di Terboyo, aku pun menimbang-nimbang kembali, dengan bus apa aku kembali ke tempat semula.

Eh, mengapa tak membidik yang berspesies unik binti jadoel saja?

“Jogja…Jogja…Magelang…terakhir…terakhir…”

Sebuah bus Sumber Waras Putra menghampiri dan yang aku suka, bidang selongsong chasisnya yang pendek lagi mungil. “Ini pasti barang langka,” tebakku.

Segera kumelompat  ke dalam kabin dan mengambil duduk di baris kedua. Shahih, Mercy OF dengan simbol “kijing kuburan” di samping ruang kemudi. Di ujung tongkat persneling masih   jelas terlihat skema shift up/down, yang melambangkan bahwa bus ini hanya memiliki empat gigi maju dan satu  mundur.

IMG00174-20120409-1534

 Bagaimana performanya dalam upaya pendakian perbukitan Jatingaleh?

Bus dengan slogan “Hilang Naluri” ini langsung unjuk nafas tua di atas jalan tol. Attitude sang juru hela sepertinya sudah sejiwa, selahir dan sebatin dengan karakter mesin lama.

Baru sebentar, deru raungan knalpot OF-1113 (CMIIW) itu melesakkan prestasi setimpal. Dikombigaya mengemudi yang visioner dan reaksioner, keperkasaan Delman Bavaria angkatan 80-an itu sungguh-sunggu perkasa.

Empat bus yang lebih muda seolah digurui bagaimana memaksimalkan kemampuan dapur pacu yang telah renta. Adalah PO Safari bermesin OH Prima H 1477 AB berikut kompatriotnya H 1701 AB, PO Damri dengan papan trayek Lampung-Blitar-Malang-Banyuwangi serta PO Muncul Patas Semarang-Solo berjubah Celcius ala Suryana yang bertindak sebagai murid bagi AB 7104 JN itu.

“Terminal Banyumanik, Mas” request-ku saat kuserahkan tiga lembar kertas seribuan.

“Ngga bisa turun situ, Sukun bisanya…” jawabnya ketus sembari merenggut uang dariku, merefleksikan perasaan tak senang dengan kehadiran penumpang jarak pendek.

Ah, tebal muka saja, sudah acapkali menerima perlakuan tak santun dari kru, meski sekedar pelecehan yang bersifat verbal saja.  

“Jogja…Jogja…Magelang…”

Reffrain itu diulang lagi, kala bus menyentuh tanah Sukun. Aku tak mau larut dengan perasaan dongkol akibat tindakan “rasis” dari awak bus.

 IMG00175-20120409-1552

Everywhere, everytime, everymoment, I must positive thinking. 

Tak apalah turun di depan swalayan ADA lagi, toh aku ingat, di dekatnya ada pom bensin, yang bisa kukaryakan sebagai tempat rehat sekaligus penyedia sarana buat bersih-bersih diri.

Seconds From Dating 

Kaki-kaki sang mentari tinggal sejangkah lagi menuntaskan peredarannya. Para penjemput rezeki pun tercerai-berai di jalanan, mencari jalan pulang masing-masing demi menemui orang-orang terkasih yang seharian telah ditinggalkan.

Aku masih termangu di bawah emperan terminal, menanti calon pujaan hati yang tak kunjung tiba. Resah dan gelisah, menyikapi kenyataan sudah 30 menit  “si dia” ngaret dari waktu yang tertulis di kolom jam keberangkatan pada secarik tiket yang kupegang.

Pukul 16.55

PO Agra Mas, yang mendelegasikan pada armada merah ferrari berkode BM004, jadi pembuka gerbang terminal Banyumanik menjelang senja itu. Tunggal Daya AD 1585 DG adalah penyusulnya kemudian. Sepuluh menit berselang, datang prajurit Mangkunegaran yang lain, PO Putera Mulya, dengan tagline “Badai Pasti Berlalu”.

Parade bus malam mulai berduyun-duyun mengarah ke pintu tol. Hanya segelintir yang bersilaturahmi ke terminal yang tegak berdiri di Jalan Perintis Kemerdekaan, selebihnya “cuek bebek”. Memang, penumpang di spot mini ini tak seramai Mangkang atau Kalibanteng-Siliwangi tempo doeloe. Rata-rata bus pun tak sampai tiga menit setiap kali menaikkan penumpang atau loading paket. Harap maklum, keterbatasan lahan terminal tak memberi kesempatan berlama-lama, harus tepo seliro pada sesama lantaran yang di belakangnya lambat laun akan menyundul.

 IMG00176-20120409-1608

Teett…tettt…

Bunyi klakson lirih digaungkan PO Armada Jaya Perkasa B 7071 XA dengan armor kebesaran Marcopolo buatan Tri Sakti. Moda darat yang hendak mencapai tujuan akhir Merak itu lalu “diusir” oleh Tunggal Daya kelas Bisnis AC Panorama 2.

IMG00182-20120409-1713

Setelahnya hadir PO Gunung Mulia model Proteus AD 1450 BB.

Dari jauh terlihat kotak bongsor ber-colormark Tunggal Dara Putera. Wow…supercantik dalam balutan busana garapan sendiri, yang disemati mahkota Revolution. Semoga inilah jodohku.

Tapi, setelah mendekat, kuamati lekat pelat nomornya, AD 1472 DG. Bukan…bukan busku!

IMG00186-20120409-1736

Azan magrib sayup berkumandang, saat Putra Remaja AB 7019 AS dengan tungku bakar berkapasitas 12 liter secara sopan mengetuk pintu, diikuti koleganya Putra Remaja berbasis bentuk Avant Garde bikinan New Armada, Magelang. Tak luput juga, Laju Prima 30 Marcopolo, KD Setra Smiley, “Si Yellow Wish” New Ismo Premiere Line Service, serta Pahala Kencana VIP Wonogiri New Travego rombakan Centrium turut mengharu-biru memenuhi parkiran.

Hufft…Aku semakin cemas, geregetan dan lelah hati menunggu makhluk yang kuidam-idamkan tak jua setor muka. Setiap kali bertanya pada “Om Agen”, jawabannya selalu idem ditto, “Sabar, macet di Bawen, Mas!”

Pemain-pemain lain pun bergiliran mengisi absen kehadiran. Tercatat OBL berwajah Integra B 7722 IV, Pahala Kencana Purwantoro-Jakarta, Gunung Mulia Nucleus 3, Safari Galadong alias Galaxy odong-odong H 1583 BC serta Kramat Djati B 7479 IS.

Dan penantian itu sweet ending, tatkala tiga bus berkonvoi merapat. Adalah Tunggal Dara Putera AD 1589 DG, dikuntit Kramat Djati Marcopolo B 7249 IS dan akhirnya…balon pasangan kencanku menampakkan paras. Tunggal Dara Putera AD 1449 DG, yang selanjutnya aku panggil dengan sebutan sayang, si “Dara”, itu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s