Sssttt…Tarif Kencan “Dara” Cuma 130 Ribu Semalam. Mau!? (Eps 4)

Posted on Updated on


Season of Dating 

“49… 49…” instruksi dari kenek menyeru  pada penumpang.

Bergegas aku dan seorang Bapak yang mengaku pelanggan setia Tunggal Dara Putera (TDP) memanjat tangga singgasana peninggalan Restu Ibu, yang dirancang-bangun beberapa tahun silam.

Dalam temaram lampu kabin, kucari bangku nomor 7.

”Lo, kok sudah berpenghuni?”aku setengah terperanjat.

“Mas, nyuwun sewu, pindah ke nomor 6 ya!” bujuk Mas Kenek, dengan sopan lagi ramah.

Kurebahkan punggung, kuatur badan dan kaki agar selaras dengan posisi nyaman. Tas kutaruh di bawah jok , sembari kuinvestigasi, jok buatan mana yang dipakai. Ah, casing penutup tuas reclining menghilang, jadi tak kuasa kuidentifikasi mereknya. Tapi, secara model, aku yakin, 40 buah kursi yang ditanam itu hasil kerajinan industri Karya Logam.

Kulit busanya pun kusam, senada dengan warna merah kecoklat-coklatan, menandakan “lapak punggung” sudah cukup berumur. Beruntung, dari segi keempukan, masih bersahabat dengan anggota tubuh bagian belakang.

Cess…cess…nggrrengg…nggrrengg…

Deru mesin dipadu siulan air brake system tak bisa membohongi feelingku bahwa armada ini termasuk silsilah keluarga Mercedes Benz.  Tanpa ba-bi-bu, hanya perlu tempo dua menit untuk berhenti, bus yang mengorbit di lintasan Ngadirojo-Wonogiri-Solo-Cibitung-Lebakbulus memulai foreplay.

Kulirik sebelahku. Dari cahaya lampu kota yang menembus dinding kaca, sinaran remangnya mampu menyapu permukaan kulit wajahnya. Ops…ayu plus bening. Kuperhatikan kulitnya yang putih bersih. Inikah mutiara yang tergolong kriteria “makhluk halus”?

Dia sangat-sangat pulas, sembari memeluk jaket, meringkuk dalam peraduan.

Sayang, mengapa saat ini yang duduk di sebelahnya justru aku, bukan Lek Ponirin, misalnya? Pasti, yang lajang akan berbunga-bunga, setidaknya ada kans untuk mengenalnya, mengakrabinya, tukar nocan atau foto dan selanjutnya…terserah anda.

Bukan faseku lagi untuk berpikir “Bagaimana menikahi orang yang aku cintai” namun kini sudah pada tahapan “Bagaimana (selamanya) mencintai orang yang aku nikahi”.

Jadi sebenarnya, aku duduk di sini, di malam ini, adalah sebuah keterlambatan yang amat sangat. Mestinya belasan tahun yang lalu momen ini terjadi. Hehe…

Ah, malah ngelantur.

Menggilas permadani hitam jalan tol, bus yang mengkalim diri berkelas Bisnis AC itu langsung mengasapi Sri Mulyo, AD 1735 AA.

Menyusuri turunan panjang Jatingaleh, driver yang bernama Pak Ruslan terkesan hati-hati, sesekali memainkan pedal rem dan mengoptimalkan peran engine brake dalam membimbing kendaraan berbobot 11 ton agar dapat meluncur terkendali.

Menapak simpang susun Jatingaleh, yang merupakan noktah pertemuan dengan jalur timur, bersualah dengan Selamet Scorpion King yang seolah mengajaknya untuk berlari. Namun tak pelak, OH 1113 lawan OH 1526 bukanlah lawan sepadan, beda generasi, beda kekuatan. Bus yang ditukangi Haji Aris itu menghilang dari pandangan.

Di tanjakan Manyaran, nafas pun ngos-ngosan, dan jalannya mulai tertatih-tatih. Imbasnya, duet Ramayana “Sang Penari”, masing-masing Setra dan New Travego, mempermalukannya.

Pertigaan Krapyak macet panjang. Lantaran telat mengoper gigi, space kecil di depan antrian diserobot oleh Sri Mulyo berbodi Skania.

Pak No (CMIIW), joki kedua yang saat itu memposisikan diri sebagai navigator, memandu Pak Ruslan. The man behind steering wheel ternyata belum lama jalan malam Jakarta-an, sehingga masih perlu arahan serta tutorial.

“Ayo, ambil tengah. Yak…kiri masuk, tahan, tunggu sampai lampu merah tinggal 15 detik, baru gas…”

Itulah salah satu perintah dari sopir senior itu.

Alhasil, Sari Lorena Concerto, Bogor Indah B 7849 XB, Selamet Tayu-Jakarta, serta Laju Prima 49 ditelikungnya.

Rupanya, causa prima keruwetan lalu lintas adalah mogoknya truk bermuatan besi di tengah-tengah pertigaan Jrakah.

Sepanjang ruas Jrakah-Mangkang, PO yang bernaung di bawah PT Tunggal Dara Indoensia (TDI) ini berjalan seiring seirama dengan PO Sumber Harapan K 1509 FA, sebelum terminal Mangkang memutus persahabatan mereka.

19.20

Naiklah 8-10 penumpang tambahan dan yang luar biasa, ada satu lagi bidadari cantik yang melabuhkan harapannya kepada bus lawas ini.

“Bus kaya begini digandrungi para bidadari?” aku hanya tersenyum kecut sambil geleng-geleng kepala.

Di lingkar Kaliwungu, “Dara” pun jadi bulan-bulanan Era Trans bernomor punggung 067 serta Haryanto Kopi Susu B 7788 VGA. Kemudian, insiden hangat terjadi di depan, ketika Pahala Kencana New Travego make over-an bodybuilder Tri Sakti mencium pantat truk boks, yang menyebabkan Fuso Canter 120 PS itu hilang arah dan menghantam median jalan.

Busku melaju kembali, dengan kecepatan fluktuatif antara 60-80 kph. Minim gereget, tak ada aksi banter-banteran atau memforsir kerja enam batang silinder demi mengejar fajar sampai ibukota.

Hembusan AC yang hanya sepoi-sepoi sedikit mengurangi nilai kenyamanan. Saat kusebar pandangan ke seisi bus, nyaris tak ada yang menjulurkan selimut. Bahkan, jarang ada yang mengenakan jaket sebagai penangkal hawa dingin yang diproduksi mesin Thermo King model Trapesium.

Riting kiri dinyalakan, saat baliho besar bertuliskan “Sari Rasa” begitu dominan memayungi jalan.

Cakep! Semenjak mencampakkan bus berkode HS-xxx sebagai armada langganan Minggu sore dua tahun silam, aku tak pernah lagi merasai layanan makan malam di kedai yang berdiri di kawasan Jenarsari, Kendal. Kinilah saatnya bernostalgia.

Tapi apa daya, keinginanku itu pupus, saat….

“Pak, Ibu…jangan turun ya, bus ini cuma kontrol, nanti makannya di sana.” cegah Mas Ambon, nickname dari kru 3 Tunggal Dara Putera.

Tak sampai lima menit, bus diberangkatkan kembali. Tapi nahas, saat akan menjejak aspal Pantura, mesin mendadak mati. Switch AC dimatikan, saklar lampu-lampu di-off-kan agar accu tak keberatan saat starting.

Cukup mendebarkan bagiku, lantaran OH Prima sedikit melintang di jalan besar. Terlebih, dua kali kontak starter dinyalakan, mesin tetap ngadat. Barulah, di percobaan ketiga, proses penyalaan kembali itu membuahkan hasil.

“Elegi bus tua…, ” keluhku.

Bus bernomor punggung 20 ini memilih jalur lama Weleri, karena stasiun pengisian solar rujukan terletak di sana. Terekam sebanyak 70.000 cc digelontorkan ke dalam silinder penampungan solar yang terbenam di dalam badannya.

Menjelang pertigaan Gringsing, kembali Gunung Mulia AD 1632 AB memaksa “Dara” “memungut bola dari gawangnya”. Bus yang aku kencani cuma jadi sansak hidup. Hiks… 

Dari deretan rumah makan, Sendang Wungu, Bukit Indah, Kota Sari, Indorasa, Telaga Asri, dan Raos Eco, ternyata yang bontotlah yang dipercaya menyajikan service makan malam bagi penumpang.

Yang unik di sini, sesaat setelah menyerahkan kupon makan, pramusaji menyodorkan piring yang telah diisi sepotong ayam. Bagaimana coba cara meloloskan potongan ayam yang lain ke dalam wadah kita? Serahkan pada ahlinya. (Colek penduduk Lasem wannabe, ah. Haha…)

Soal citarasa menurutkan lumayan santun di indera pengecap, better than Bukit Indah, yang hampir tiap penghujung pekan tak terlewatkan kukudap hidangannya.

Saat menanti re-start, ada pemandangan aneh, yakni hidupnya arwah Dwi Jaya. Bus yang konon sudah almarhum itu tiba-tiba masuk ke parkiran dengan tingkat okupansi mencapai 100%. Kecurigaanku, jangan-jangan embel-embel Sari Giri setelah nama Dwi Jaya lah yang me-re live keberadaan bus yang pernah jadi favorit warga Surokarto itu. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s