Muria-Raya United (1)

Posted on


Kalau bukan sebab dering telepon di siang itu, entah berapa lama lagi perhelatan tradisi akhir pekan dengan sedikit wah ini betah bersemayam dalam angan-angan.

Adalah perayaan ritual sakral yang merdeka dalam segalanya, tak terjajah aturan dan norma-norma. Saatnya pesta pora, hura-hura dan foya-foya menikmati kebebasan pulang ngetan, tanpa pening soal budgeting, tidak acuh perihal batasan waktu tempuh, dan tak terkurung oleh  jeruji PO-PO tambatan. Pengkondisian yang sengaja kuniatkan untuk mencari nuansa dan romantika baru dalam lakon mingguan; me-remove kejenuhan wira-wiri yang masih terus membelenggu.

“Pa, tadi malam keluarga Paklik M***** bersilaturahmi ke rumah,” istriku membagi warta lewat piranti komunikasi nirkabel.

“Bawa kabar apa, Ma?”

“Hari Minggu besok anaknya married, dapat arek Suroboyo,” ujar wanita yang hampir sembilan tahun menjabat sebagai ibu negara.”Kita diminta ikut iring-iring temanten!”

Surabaya! Ah, mana mungkin cukup waktu untuk melawat ke kota pemilik kosakata j*nc*k, jika hanya menggantungkan spacetime dua hari on weekend.

“Papa ambil cuti lah!” pintanya, meski aku juga sedang berpikir ke arah sana.

Tentu tetap kululuskan permintaan yang akan mengusik my workdays itu. Mengingat sosok ‘Bapak Cilik’ begitu lekat dalam kehidupan rumah tanggaku. Dia yang menghalalkan hubungan dengan calon pendampingku kala itu, dalam ikatan resmi yang bernama pernikahan. Beliaulah yang didapuk sebagai penghulu, host acara ijab kabul nan agung lagi suci bagi kami berdua.

Sekecil apapun bantuan yang diminta, pasti tak akan kutampik selama aku mampu. Demikian tekad yang kugaungkan sebagai wujud darma bakti kepadanya.

“Baik, Ma, aku cuti saja barang dua atau tiga hari.” pungkasku.

Kamis, 14 Februari 2013

16.16

“Kepada penumpang Raya non AC yang bernama Didik Edhi, mohon segera naik ke armadanya. Bus siap diberangkatkan!”

Baru saja aku kelar melunasi hutang salat asar di mushola pool, panggilan lewat pengeras suara itu terdengar menggema.

Ya ampun, baru seperempat jam lepas dari pukul empat, mengapa sudah diuber-uber untuk bersiap. Batinku memprotes.

Aku pun bergegas melapor pada seorang ticketing girl di bagian help desk, melakukan boarding pass untuk tiket yang kupermanenkan sehari sebelumnya. “Mbak, ini Didik Edhi.”

“Langsung naik ya, Pak. Busnya persis di samping kiri kantor.“ instruksinya dengan ramah.

IMG00308-20130214-1606

 “Mas turun mana?” tiba-tiba laki-laki muda mendekat dan kemudian menyapa.

“Semarang, Mas!” jelasku singkat. Rupanya, dia kenek bus yang akan menjadi transporter pembawa ragaku menuju kota pemproduksi kue lunpia.

“Eh, Mas, kalau mau lanjut ke Terboyo, enaknya turun mana ya?” selidikku, mengingat ini kali pertama aku menciptakan rute baru, menyimpang dari alur pelayaran lama untuk menuju kampuang nan jauh di mato.

“Kalau turun Krapyak, Mas kudu naksi. Kalau mau nge-bus, ya turun Sukun apa Banyumanik!” paparnya gamblang. “Jam dua-an sudah ada kok yang ke Terboyo!”

Catet…

Kurang semenit dari setengah lima teng, Si Nona (akronim dari non AC) itu menonaktifkan tuas pengunci parking brake.

IMG00323-20130214-1621

Meninggalkan teman dengan grade di atasnya, di antaranya gerombolan eksekutif AD 1503 AG, AD 1497 AG, AD 1511 AG, AD 1430 AG dan AD 1509 AG.

IMG00310-20130214-1612

Tak lupa pula bilang “Aku duluan ya!” pada pasangan strata Super Top, Legacy SR-1 dan  Comfort, yang masih kerasan berhabitat di markas Pulogadung.

IMG00315-20130214-1616

Gerakan agresif ditunjukkan dengan memotong paksa arus kendaraan yang menyemut di jalan protokol penghubung Pulogadung-Bekasi.

Mantap…walau hanya bersenjatakan ‘kavaleri’ tahun emisi 80-an, OH 1113 masih menyalak garang, menuruti karakter trengginas sang juru mudi.

Sayang, kesemrawutan yang berpangkal di pertigaan Igi hingga ujung Pasar Cakung memangkas tempo banter yang coba dirancang. Sementara ulah PO Setia Negara ‘Shely’, B 7377 WB, yang menginfiltrasi jalur motor kian menahbiskan premis bahwa Laskar Cirebonan adalah penganut paham “ora ngedan ora keduman”.

IMG00332-20130214-1651

16.56

Belum berselang lama usai menuntaskan transaksi di Gerbang Entry Cakung, anak kecil yang duduk di baris kedua muntah berulang.

Aku pun memaklumi, bus tanpa pendingin udara, identik dengan angkutan ‘orang udik’ yang jarang melakukan perjalanan jarak jauh. Wajah-wajah yang berdiam di atas ketiga puluh enam seat yang terpancang di kabin melambangkan warga dusun pelosok. Adalah hal yang lumrah, biasa lagi jamak, mabuk darat berteman akrab dengan modanya kau jelata. Aku harus kuat menahan jijik dan geli andai ada yang sukses mengotori geladak dengan lontaran cairan dari dalam perut.

Malu-maluin ibumu saja, Nduk…Nduk…!” damprat si ibu sembari membersihkan isi lambung yang berceceran di lantai.

Beberapa penumpang di sekitarnya menutup hidung, mungkin sembari mengomel mengapa orang tuanya tidak tanggap darurat dengan ‘kebencanaan’ seperti ini.

Sementara asisten driver dengan cekatan mengulurkan pertolongan. Bantuan yang berwujud kain lap dan kain kresek sebagai media antisipatif, diberikan. Inilah sikap positif yang dilanggengkan para kru sehingga PO Raya begitu dicintai penggemarnya. Nguwongke uwong, pepatahnya.

Dibarengi penampilan apik suara penyanyi Ratih Purwasih yang diputar melalui rekaman MP3, bus yang cuma punya semburan hulu ledak setara 130 tenaga kuda berinisiasi membangkitkan sisa-sisa nafasnya.

Kupandangi panel-panel yang terbenam di dashboard. Masih lumayan terbaca, mulai indikator water temperature, jarum skala rpm, serta penunjuk tekanan angin. Hanya speedometer yang mogok kerja, sama sekali jarumnya tak mau bergerak untuk menghitung seberapa cepat pusingan roda.

Tapi di mana pusat kontrol perangkat AC-nya? Ops…aku lupa kalau ini minus penyejuk ruangan. Hehe…

IMG00319-20130214-1617

Pantas saja nangkring sebiji kipas angin mini sebagai penyegar lapisan kulit Pak Sopir di kala didera kepanasan.

Wuss…wuss…

Hembusan angin yang cukup telak menyusup melalui sela-sela kaca geser yang terbuka ketika ‘Grobogan EpiZentrum’ TZ-25, K 1677 DF, meng-overtake secara barbar dari samping kanan, di Km. 49 JORR Cacing.

IMG00337-20130214-1709

Wow…kebisingan dan keriuhan udara mistis Pantura lebih bisa dirasai dengan bis non AC.

Di Interchange Cikunir, bersualah dengan salah seekor member of Haryanto Group. HR-04, demikian kode yang dicantumkan.

Hal itu mengundang decak kagum ibu-ibu yang duduk di sebelahku.

“Bus Lor (utara) sae-sae ya, Mas!” pujinya jujur dan mangkus.”Saya paling suka kalau lihat Shantika.”

Weleh…weleh…ternyata lumayan melek bab dunia per-bus-an. Dari tutur cerita selanjutnya, beliau adalah pengguna setia Raya dari tahun 1980 hingga sekarang. Tak sekalipun pernah berpaling dari PO lain, bahkan untuk trip kali ini, beliau gratis tis hasil barter 10 tiket yang dikumpulkan sebelumnya.

Dalam kemampatan lalu lintas, Damri berbodi Magneto B 7111 TAA serta Mayasari Bhakti B0904 mencuri derapnya. Sementara HR-04 tercecer di belakang karena terhalang ratusan obyek perintang.

Lepas dari area Cibitung, energi gedor mulai meluap-luap. Output mesin yang full untuk menggerakkan flywheel tanpa digandoli tali kipas penggerak kompressor AC, benar-benar membuatnya meroket untuk ukuran bus tua.

Bus karyawan, PO Parahyangan B 7273 IS serta Restu N 7710 UG dikandaskan. Meski untuk urusan top speed di lintasan sepi masih dikalahkan oleh Sahabat ‘Robet’ dan Sinar Jaya 73DX.

Wuss…wussde javu, dan terjadi lagi hempasan angin mengibarkan gorden-gorden pelindung kabin dari sengatan cahaya mentari.

Kini giliran HR-04 dengan tagline ‘Bara Tangguh’, menyejajari. Dari balik kaca, pramudi MB OH 1526 itu memberi kode da-da-da-da. Driver Raya yang secara senioritas sepertinya lebih unggul membunyikan klakson dan mempersilahkannya untuk mendului. Sebuah persahabatan kental dan erat antarsesama abdi jalanan.

IMG00341-20130214-1734

Menjelang gate otomatis Cikarang, Gunung Mulia Proteus dan 73 DX kembali tertinggal karena bus yang menancapkan kaca depan model two pieces ini menang dalam pemilihan jalur yang lebih steril.

Sembari menikmati snack gratisan, kupandangi tarian HR-04 nan super eksotis.

IMG00326-20130214-1640

IMG00330-20130214-1645

Meliuk kanan kiri, membelah sirkuit, mengiris kepadatan, memamerkan lampu rem yang terus berkedip-kedip, menjunjung nama kehormatan sebagai the new alap-alap.

Namun sayang, sessnya bus langganan itu tak serta merta membikinku untuk selalu stay tune, beristikamah mereguk kehandalannya. Ada kalanya muncul aspirasi bosan dan jemu lantaran tiap saat dicekoki racun speedy. Itulah alasanku mengapa memilih Raya sebagai wahana perselingkuhan dari artis-artis papan atas pelat K. Ingin kugali dan kurasai sendiri, benarkah bus yang dikalungi medali dangerously comfortable coach bisa disatukan dengan DNA Muria-an yang mengalir di dalam nadiku? 

Aku pengin menyelenggarakan perkawinan multi-etnik  antara unsur Muria dan zat Raya. Muria-Raya United, demikian aku mengistilahkan. Bisakah klop dalam persenyawaan heterogen antarkeduanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s