Kuhapus Merahmu Untukku! (3)

Posted on


Duet bus karyawan, Arion kode 123 dan Hiba Utama 140, dilangkahi di depan Kawasan Industri Kujang Cikampek (KIKC). Aku berkesimpulan, sementara waktu bus ber-smoking room ini menihilkan peran Tol Cikampek-Jakarta, demi keperluan unloading penumpang yang bertujuan Klari.

Ruas jalan bebas hambatan sepanjang 73 km dan melewati 6 kota ini hanya dikaryakan sejauh 38 km untuk memangkas jarak antara Karawang dan Bekasi.

01.55 

Separuh okupansi telah menghilang saat “sempalan” PO Giri Indah ini berlabuh di perempatan Cempaka, tak jauh dari gate exit Tol Bekasi Timur.

Kemudian menyisir jalanan Kota Bekasi, dengan rute Jalan Inspeksi Kalimalang-Jalan Cut Metia-Perempatan Rawa Panjang-Pertigaan Pekayon-Jalan Ahmad Yani-Jalan Jendral Sudirman-Pasar Kranji-Jalan Sultan Agung- Gerbang Harapan Indah-AURI Ujung Menteng, sambil sesekali menuruti request bagi mereka yang minta di-discharge di tengah jalan.

Agra Mas rupanya menganut sistem sapu bersih untuk debarkasi para penumpang. Setelah melewati pertigaan tol Cakung, giliran kawasan Pulogadung yang disinggahi. Hanya berhenti di pertigaan Igi menurunkan seorang penghuni, sementara spot terminal malah nol peminat, sehingga tak perlu masuk jalur penurunan di dalamnya.

Lalu lintas ibukota yang sepi dan lengang seakan menyembunyikan wajah asli ibukota. Berkendara di waktu dinihari, setiap kendaraan dapat menjelma menjadi pelukis malam. Leluasa melenggang dan bebas berkreasi, bisa menjajal kemampuan maksimal “kuda pacunya”, tak perlu risau dengan hiruk pikuk pengguna jalan yang lain.

Kecepatan di atas rata-rata juga mampu dipentaskan pencangkok AC merek Thermo King ini di Jalan Perintis Kemerdekaan. Di simpang empat Cempaka Putih, haluan pun berbelok ke kanan,  melahap aspal beton Jalan Yos Sudarso dengan rakus.

Aku tersenyum kegirangan. Inilah saatnya detik-detik pemecahan rekor!!!

Area Tanjung Priok yang biasanya macet parah di siang hari, tersendat oleh aktivitas pembangunan akses tol Cilincing-Jampea, traffic-nya sangat-sangat lancar dan deras mengalir. Suasana yang cukup menunjang dan mendukung terjadinya “geger dan kehebohan” itu.

“Turun mana, Mas?” tanya kenek saat aku berkemas dan menumpang duduk di bangku depan.

“Mambo!” jawabku dengan riang.

2.40 

Itulah display waktu yang terpampang di pojok kanan atas handphone-ku, mendokumentasikan catatan manis yang baru saja teraih.

Dengan bangga dan penuh apresiasi, medali emas sebagai moda paling gasik yang mendekatkan dengan pesisir Jakarta,  aku kalungkan di leher armada 5106.

Top, takzim dan salut atas perjuangan Agra Mas. Applause for it…

Dan rasa-rasanya, kuncian jam dua lebih empat puluh menit akan menjadi rekor abadi, sesuatu hil yang mustahal bakal bisa dipertajam oleh PO lain, selama aku masih berkesempatan menekuni lakon hilir mudik mingguan Jakarta-Rembang.

3.25 

Mata ini sulit terpejam di ruang istirahat yang secara ekslusif disediakan oleh kantor bagi karyawan. Sengaja  fasilitas ini kupilih sebagai tempat merehatkan diri, sebab ada ancaman kebablasan bangun pagi andai leyeh-leyeh di indekos-an.

Masih terkenang akan adegan-adegan yang merangkai notula perjalanan satu malam, yang baru saja kugeluti. Nyandung nyrimpet tak karuan, kebahagiaan dan kenistaan teraduk menjadi larutan tanpa pola, tersaruk aral yang bernama sarkawi, meski endingnya secara sah dan meyakinkan jika dilabeli happy.

Namum, hati kecil ini terus-terusan berteriak nyaring, “Ngga fair…curang…culas…keji lakumu!”.

Argh…dilematis, but keputusan berat harus berani kujatuhkan.

Legitnya gelar numero uno yang belum satu jam direguk oleh Agra Mas dengan terpaksa aku lucuti. Tak elegan dan mencederai nilai sportifitas andai kupertahankan. Lantaran secara “syarat administrasi” —tanpa pegangan tiket resmi–, aku memang gagal dan patut terkena diskualifikasi sebagai kontestan dalam perebutan tropi siapa yang memegang best hour saat menginjak tanah Jakarta Raya. Aku tercabik-cabik oleh ulah tangan-tangan kotor sarkawi, menjerembabkan identitasku dari penumpang resmi menjadi penumpang terlarang. Aku terlibat di dalam lingkaran “sarkawi-poli”.

Kuhapus angka 2.40 yang diukir si Merah dari Guinness Book Records versi abal-abal. Aku pun me-remove capaian spektakuler itu dari daftar, dan kuanggap tidak pernah ada.

Selanjutnya, selempang juara kusematkan kembali kepada B3, anggota keluarga PO Bejeu yang pernah menerjunkan “tas punggungku” di Terminal Pulogadung pada pukul 3.50, tiga tahun silam.

Torehan  mentereng yang sejauh ini tetap aman terjaga, sebelum terusik dan tercoreng oleh sepak terjang si Merah Pemberani, Agra Mas.

IMG00412-20130228-1207

Sayang seribu sayang, aspek yuridis serta kepantasan moral kemudian membatalkannya.

T a m a T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s