Oscar dot Eleven (3)

Posted on


21.46

Menjelang persimpangan rel kereta Pejagan, lampu kabin Kramat Djati memancarkan silau, mengusik pelupuk mata para penghuninya. Rumah Makan dengan cap Kedung Roso disinggahi, sebagai tempat barter selembar kupon dengan seporsi menu makan malam. Restoran yang dijuluki Mbok Rame itu terkesan sempit dari luar, namun sebaliknya, memiliki parkiran yang amat luas di halaman belakang.

Oscar dot Eleven yang aku tumpangi mencari lokasi parkir, dan dipilihnya sebidang tanah di samping kiri PO Akas Asri, di belakang PO Lorena.

Aku seketika keheranan, mengapa Akas Asri dengan papan trayek Jakarta-Jember ‘kesasar’ di sini? Bukankah Singgalang Jaya, Losarang, adalah providernya untuk urusan men-service usus 12 jari? Ataukah warisan Pak Tingok itu sudah pindah ke lain piring? Hehe…

Terlepas dari keganjilan itu, asumsiku, bila N 7528 US ini take off dari Rawamangun jam 2-an, dipastikan waktu tempuhnya bakal molor. Delapan jam untuk memangkas jarak Rawamangun-Pejagan adalah pemborosan tempo.

Andai kemacetan Pantai Utara Jawa Barat yang membuat salah satu anggota keluarga Akas II ini terhambat, bisa jadi spekulasiku untuk menghindarinya dengan metode re-route via Bandung, tidaklah keliru.

Namun, bagaimana dengan status Lorena LE-110, yang mesinnya shut down, dengan lambung berbalut lumpur tebal?

Sepengetahuanku, bus jurusan Lampung-Banyuwangi ini adatnya jam 3 s.d jam 5 sore  sudah mendaftarkan ‘sidik jari’ di wilayah Rembang untuk mengarah ke timur. Mengapa jam segini masih di sini? Ikut terjebak dalam kerunyaman proyek perbaikan jalan Pantura kah?

Aku pun melangkah turun dan berniat menuju meja makan, tiba-tiba seorang Bapak menghampiri.

“Mas, krunya mana ya?” tanyanya.

“Sepertinya sudah pada turun, Pak,” jawabku. “Ada perlu apa, Pak?”

Gini, Mas, kalau masih ada kursi kosong, saya mau pindah bus!” harapnya. “Tujuan saya ke Surabaya. Berapa pun saya bayar nanti.”

“Lho, busnya kenapa, Pak?” aku balik menyidik bus apa yang dinaiki.

“Lorena-nya dobol (mogok-pen) itu lho, Mas! Sudah berjam-jam menunggu, tapi ngga ada kejelasan!”

Wew…jadi Si Ijo Tajur ini lagi storing?

“Bus pertama dari Lampung rusak, diganti bus ini. Ehtaunya penggantinya sama saja, payah! Geregetan saya, Mas!” ungkapnya dengan raut kekesalan.

Lorena…Lorena…kapan akan berubah? Apakah aku ini ibarat menggantang asap mengukir langit, berharap Engkau kembali disegani seperti yang dulu lagi?

Ah, sudahlah…

Minus kedua Flying Eggs mencuat. Menurut hematku, untuk ukuran strata eksekutif, kualitas menu makan yang dihidangkan chapter Bandung sangatlah minimalis. Bahkan lauk pauk utamanya cuma telur kecap!? Kalau pun ada yang perlu dikasih poin plus, ya tentu saja teh manisnya, yang hangat mengguyur kering kerongkongan.

IMG00843-20130614-2147

Saat menyantap jamuan gala dinner, datanglah mobil UGD kepunyaan Lorena berjenis Isuzu Panther yang sepertinya didatangkan dari Jakarta. Para mekanik binaan langsung dari tim Mercedes Benz tekun mencari sumber permasalahan pada armada produk 255 itu, ketika aku melangkah  hendak menuju mushala. Terdapat masalah pada bagian roda sebelah kiri depan tampaknya.

Di ruang terbuka sisi belakang, berbaring white bus berbaju Evonext bersimbolkan bintang Mercy tanpa embel-embel nama PO dan guratan livery, dengan kondisi luluh lantak. Haluan depan remuk, lapisan pelat bodi kanan kiri terkelupas.

Memoriku menerawang jauh, mengingat-ingat, bangkai siapakah ini? Hmm…apakah Lorena jurusan Purwokerto yang tempo hari terguling di tol Pejagan, dan menewaskan dua penumpangnya? Sepertinya sih, iya…

Selesai mengambil air wudu, dan baru saja telapak kaki menginjak batas suci…

Ya ampun…kondisi ‘masjid mini’ itu tak ubahnya barak pengungsian. Belasan ibu-ibu dan anak-anak tidur tak beraturan, tas-tas pembawa perbekalan berserakan, memenuhi 80% isi saf salat. Menilik wajah-wajah dan keadaan jasmaniah mereka, tampak keletihan, air muka sayu, surut harapan, serta hilang semangat berbaur menjadi satu.

“Ayo…ayo…penumpang Lorena Banyuwangi bersiap. Bus sudah jadi. Ayo…ayo…cepet!!!”

Dengan lantang kenek membangunkan dan seketika mereka semburat meninggalkan lokasi leyeh-leyeh. Oh, rupanya ‘jamaah’ LE-110 ta? Hehe…

Alangkah naif juga, berjam-jam bus dibekap trouble, sekali datang dua/ tiga engineer, durasi perbaikan tak sampai 15 menit. Bak pepatah, panas setahun dibalas hujan sehari.

22.35

Setelah dilakukan pengecekkan mesin serta tekanan ban, D 7980 AI ini melakukan restart. Medan jalan yang membujur di kabupaten penghasil bawang terlihat lengang dari parade bus-bus AKAP. Ataukah memang gerombolan pelukis malam masih tercekik di Pantura Jabar?

Wuss…

Di Klampok, secara kasar, Nusantara HS 209 mengovertake dari sisi kanan, selanjutnya dengan cekatan menggulung-gulung aspal, dan dalam hitungan menit lenyap dari pandangan. Tebakanku, bus itu adalah angkatan jam 3 sore Pulogadung, menggawangi tugas sebagai armada VIP tujuan Tayu.

Sementara dari wetan memimpin dua Jetbus Agra Mas sebagai kloter pertama dari gugus Wonogiri yang mulai mendekat garis finish.

Pemali Bridge adalah potret buram proyek perbaikan infrastruktur transportasi yang tak kunjung kelar. Masih saja dilakukan pengerjaan pada pelat-pelat baja yang berfungsi sebagai material penyusun landasan jembatan.

Oh no…perbatasan Brebes-Tegal arah Jakarta macet total. Sementara mobil sedan PJR telah standby di sebuah u-turn, menutup kans kendaraan untuk menjajah jalur lawan.

Rupanya, terjadi kecelakaan tunggal yang menimpa truk gandeng. Ekor gandengannya lepas dan menumbur bak di depannya sendiri, dengan posisi akhir heavy duty truck itu melintang di badan jalan.

Lusinan makhluk yang digilai para bismania terjebak karenanya. Entah berapa banyak pastinya, namun yang sekilas tertangkap mata adalah Armada Jaya Perkasa, bus berikon ayam — Putera Mulya –, Gajah Mungkur, Kramat Djati, Pahala Kencana Evonext dan yang tampak mendominasi adalah Laskar Kedawung, Cirebon, PO Garuda Mas.

Dibanding driver pinggir, midfielder (pemain tengah) ini lebih kalem, terkesan hati-hati dan menanggalkan image ‘bus malam harus banter’.

Bukti nyatanya, Rosalia Indah nomor lambung 325 melenggang kangkung tanpa perlawanan, seolah  dibiarkan pamer kedigdayaan.

Sementara itu, di distrik Dampyak, terpindai armada pelat K apa yang didapuk sebagai ‘amir rihlah’ bagi kontingen Muria-an yang tengah gigih bergerilya untuk memutus matahari saat tiba di ibukota. Dialah NS-46 yang didelegasikan pada armada model Setra Selendang. Lalu mengekor dengan lekat PO Sido Rukun berkaroseri Piala Mas.

Sayang…kantuk tak dapat ditolak, melek tak dapat diraih. Aku tundukkan hasrat diri untuk meng-cooling down otot raga dan sendi-sendi tubuh. Memejamkan mata, mengademkan tensi, menyandarkan letih, menghimpun tenaga buat mengisi aktifitas esok hari.

Zzz…zzz…zzz…

04.26

Ya ampun…

Tiba-tiba aku melonjak dari posisi tidur enak karena perasaan berbicara bahwa I was sleeping so beauty sehingga secara tak sadar Kota Rembang telah terlewati. Dengan nyawa baru terkumpul seperempat, kupandangi sisi luar kaca yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu kota. Daerah manakah ini?

Raungan mesin ber-cc 7,7 liter ini terdengar pelan menelusup ke sela-sela kabin saat mendului bus bumel dari semenanjung Muria, Pulung Sari. Inilah yang jadi petunjuk dan sekaligus kelegaan bahwa aku masih aman dan terlindungi, belum sampai di mana aku seharusnya turun. Kiranya, Kramat Djati baru menginjak tanah Margorejo, Pati.

Disempurnakan lagi dengan pemandangan pantat PO Selamet K 1698 FA di depan, dengan baju gado-gado antara corak Setra dan Evobus, kian teredamlah ketidakkeruanku.

O.11 tetap melestarikan  woles style-nya. Tetap duku cilik cilik alias mlaku thimik-thimik, tak serampangan untuk memaksimalkan potensi kekuatan 260 energi kuda.

Dia bukan pemuja berhala yang bernama speed, bukan profil alat angkut yang rakus menghisap bahan bakar, dan bukan pula pengikut mahzab aggressive driving. Comfortability is numbero uno…

PO Selamet ber-engine OH King tak sampai membangkitkan birahi untuk dikangkangi, hingga ‘kavaleri’ milik Kaji Aris itu mengasup solar di SPBU Ngebruk, Juwana.

Di sebuah masjid daerah Batangan, terparkir Hino RK8 milik PO Surya Bali yang sedang menjatah kesempatan bagi penumpang untuk beribadah dua rakaat. Dan itulah secuil barang bukti bahwa  pada dinihari itu, Tambakboyo, Tuban, sedang jadi tuan rumah yang berbaik hati bagi para pelintasnya.

05.05

“Pantura lancar ya, Pak?” basa-basiku kepada Bapak Sopir saat bersiap touch down.

“Iya, Mas, lumayan lancar!” sahutnya seraya mengecilkan volume head unit yang sedang memutar lagu-lagu remix.

Gaul dan penyuka musik dugem juga nih, Bapak! Hehe…

“Turun di mana, Mas?” beliau bertanya balik.

“Taman Kartini depan ya, Pak! Hmm…masih berapa lama lagi perjalanan ke Denpasar, Pak?”

“Ya…kira-kira jam 8 malam baru sampai, Mas!” jelasnya sembari men-down grade kecepatan hingga menyentuh skala 0 km/ jam, sebelum aku benar-benar menjangkah keluar dari singgasana satu malam.

My beloved city, I’m coming…

DSC00472

“Thank you for being ‘sun breaker’, Oscar dot Eleven!” bisik lisanku lirih, dan kemudian luruh terbawa angin pesisir yang bertiup sepoi-sepoi.

 

T – a – m – a – T

 

2 thoughts on “Oscar dot Eleven (3)

    simon bae' said:
    24 Juni 2013 pukul 7:00 am

    horeee..mas didik nulis caper lagi, kangen rasanya dengan gaya penulisan&olah bahasanya Mas, sipp g ono tandingan lah pujangga rembang ini..hehehehe
    Kemacetan Pantura memeng kian menjadijadi y Mas, sampe2 mesti re-route lwt bandung, tapi sedap lah, sampe nyenyak tidurnya di buai mbak KD, untung g mBablas nyampe Denpasar ya mas, salam kenal mas dariyg punya kawasan pulo gebang, cedak terminak baru.

    Sangalang said:
    8 November 2013 pukul 11:10 pm

    Iyo e..ancen hebat mas Didik …top deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s