Tentang Hijau; Layu, Menguning, Royo-Royo Kemudian (2)

Posted on


Off Target

“Sepengetahuanku, Safari Group terdiri dari tiga manajemen yang berbeda. Blue Star untuk divisi wisata, Royal Safari yang membawahi bumel/ AC Lux Semarang-Solo serta Safari AKAP, yang lumrah dijuluki Safari Hijau (Ijo).”

Begitulah sekelumit ilmu tentang per-Safari-an yang dijelenterehkan Mas Doni Prast lewat Blackberry Messenger untuk membantuku menyingkap tabir PO besar yang babar di Kota Salatiga itu.

“Sayang, untuk bus malamnya sama sekali tidak rekomen. Saya yang sekampung aja kapok, emoh naik lagi, Mas. Cukup sekali saja dan itu pun sudah lima tahun silam!”

What!? Now, am  I on the right time but on the wrong bus?

“Oh iya, Mas. Royal Safari belum lama ini juga merintis Jakarta-an. Pelayanannya lumayan bagus. Berdoa saja, semoga dapat yang Royal Safari, bukan Safari Ijo!” petuahnya sedikit menenteramkan.”Untuk membedakannya gampang, simak saja livery-nya.” paparnya lagi.

Meski probabilitas Royal versus Hijau pada rasio 50%-50%, tak kuasa nyali merambat gentar membayangkan umpama Si Ijo adalah persembahan dewi fortuna untukku. Aku memburu pagi, bertekad mengolok-olok mesin absensi, mencoba merubah image negatif sebagai karyawan telatan, tapi jikalau ‘kuda perang’ku saja kelabu, jadi samsak pem-bully-an, punya elektabilitas rendah, dipandang sebelah mata, apa yang aku harapkan darinya?

18.20

“Ayo, penumpang Safari bersiap! Bus sudah datang!” seru Mbak Agen.

Kurang dari 10 menit dari waktu kick off yang semestinya, di antara guyuran pendar sinar lampu yang menerangi kawasan Terminal Banyumanik, munculah sosok yang akan menentukan nasib pertaruhanku.

And then…

Duh…getir rasanya seusai menyaksikan spesies dengan model bodi gado-gado, hasil transplantasi tambal sulam, datang menghampiri. Entah garapan tangan-tangan siapa, yang terang secara kasat mata kurang memenuhi nilai estetika, kegagahan dan eleganitas sebuah bus malam. Dimensi bangunan karoseri kurang proporsional dengan panjang sasis. Terkesan bantet. Dan yang menambah sayatan luka perasaan ini, kelir yang mejeng di dinding lambung,  colormark khas Safari Ijo.

Alamak

Aku bakal merajut kisah satu malam dengan bus yang diblacklist oleh pemangku area Tingkir sekaligus ‘tetangga lima langkah’ dari markas besarnya, Mas Doni Prast.

Sebenarnya, apa sih yang membuat Safari Ijo termarginalkan dari daftar referensi dan list rujukan para traveller jalur Solo-an ini? Aku pun kian penasaran untuk membuktikannya dengan indera tubuh sendiri.

Bismillah…aku kudu jadi pejantan tangguh, tak boleh cengeng, bersikap inferior, terlepas sepahit apapun alur cerita yang akan terangkai selama belasan jam ke muka.

Selesai mendaki undakan pintu depan, asaku seketika layu melirik ruang kokpit yang lusuh, kusam, buluk dan tak ada nuansa rapi sedikitpun. Melihat setir segede tampah, dengan panel-panel dashboard yang buram, dan beberapa utas kabel yang menjuntai keluar dari casing-nya, kian menegaskan kerentaan dan ke-jablai-an armada ini.

“Eh, Pir, mana tanggung jawabmu? Kursiku ditempatin orang, double, dan sekarang seenaknya saja kenekmu nyuruh-nyuruh pindah belakang!” tiba-tiba terdengar dampratan keras dari seorang bapak-bapak  yang ditujukan kepada kru.

Lha, adanya yang kosong itu, Pak, ditempatin aja!” jawab sopir dengan ketus tanpa terbebani sangsi moral dari rasa berdosa.

Mbok kalau ngomong dipikir dulu! Aku ini beli tiketnya beneran, jangan seenaknya kamu memperlakukan penumpang!” sergah lelaki itu semakin naik pitam.

“Mestinya Bapak itu protes ke agen, jangan ke saya!” respon si pengemudi tak kalah sengit.

“Bodoh amat dengan kamu semua! Kembalikan uangku atau kamu aku laporin ke polisi!” bentaknya tak kalah gertak.

Mati aku! Kesan pertama yang kutangkup, betapa amburadulnya pengaturan bangku, manajemen konflik di lapangan, serta attitude para penggawa PO Safari kepada manusia-manusia yang sejatinya menafkahi hidup dan keluarganya.

Lantas mereka berdua turun untuk menyelesaikan masalah, sementara aku terus menelusuri lorong remang-remang dan sumpek, menyongsong singgasana. Kucacah label penomoran yang tertempel asal-asalan pada rack roof.

Alah!

Kok posisi seat 41-42 tertanam di rel sebelah kanan, tak cocok dengan denah konfigurasi yang ditunjukkan agen!? Dan keterkejutanku kian bertambah, sudah ada orang yang ngejogrok di atasnya.

“Maaf, kursi Bapak nomor berapa?”

Dia yang kutanya malah celingak-celinguk, salah tingkah, lalu berucap lirih…

“Mboten mangertos, Mas, lha kulo nderek sopire…”

(Tidak tahu, Mas, saya ikut sopir)

Blaik, sarkawi detected!

 “Sudah, Mas, duduk saja di belakang, kalau ngga mau ya urus sendiri saja ke agen.” ultimatum Pak Kenek yang kebetulan lagi mengecek jumlah penumpang, kepadaku.

Hmm…rupanya aku jadi korban yang kesekian dari kekisruhan pembagian nomor urut kursi.

Yo wis…mending mengalah, toh, duduk di row paling buncit di belakang pintu malah menghamparkan area pitch yang amat luas dan bisa sekehendak kaki untuk selonjoran.

“Mbok yo sampun Mas, angsal kursi pun piro-piro, sing penting saged mangkat!” mendadak lembut terdengar suara ibu-ibu yang bersumber dari kandang macan, membantu meluruhkan kekecewaanku.

(Ya sudah, Mas, dapat kursi saja sudah untung, yang penting bisa berangkat!)

Ya ampun…bench buat driver pengganti itu diisi dua wanita paruh baya!? Bagaimana repotnya ibu-ibu itu saat menaiki ‘takhta daruratnya’, sementara baris paling belakang dijejali 6 kursi tanpa menyisakan ‘jalan setapak’!?

Demikianlah perkara-perkara yang memupus spektrum warna hijau kebanggaan PO Safari, menjadikannya berangsur menguning, mengartikulasikan makna bahwa PO Safari kurang pupuk, kering air, pucat merana dan terancam gagal panen untuk tumbuh di lahan persawahan bus-bus tanah Mangkunegaran.

18.35                                

Tak ingin berlama-lama delay akibat berantakannya distribusi seat, kusir Safari pun mulai mengekang tali kendalinya. Simponi yang dihasilkan exhaust manifold benar-benar gahar dan menggelegar menyelinap ke dalam ruang kabin lantaran silincer knalpot mengalami kebocoran. Lengkingan kipas turbo mencekik kuping seiring bertambahnya pancalan pedal akselerasi.

Gendeng ways langsung dipanggungkan kala menganeksasi jalur berlawanan, tergesa-gesa menyerobot traffic light pertigaan Sukun saat menyemburatkan cahaya merah. Kendaraan lain dipaksa minggir, disuruh memberi hormat kepada ‘orang tua’.

PO Sedya Mulya dengan nafas mudanya diajak berpacu sebelum gerbang Tembalang, dan terus diladeni hingga interchange Jatingaleh. Umur tak bisa berbohong. Mercy OH 1113 ini pun akhirnya kembang-kempis, kewalahan diajak lari jet darat berteknologi Hino RG.

“Turun mana, Pak/ Bu/ Mas/ Mbak?” tanya asisten sopir menyensus destinasi akhir tiap sewa, saat batangannya melaju menuntaskan bentang seksi A Jalan Tol Semarang.

“Lebak Bulus…”

“Pulogadung…”

“Mampang…”

“Palmerah…”

“Cibinong bisa!?”

“PAL Depok ya!”

Ha!? Ini mah oplosan, campur aduk, serupa dengan sapu jagat, ingkar dari keterangan agen yang menyatakan bus ini khusus melayani jurusan Pulogadung-Rawamangun. Mana nanti yang akan didroping duluan, hanya kru dan Tuhan yang tahu.

Selepas simpang Krapyak,  Si Ijo mulai unjuk taring. Dewi Sri G 1730 BE disungkurkan, meski sesudahnya harus menghibahkan jalan pada Tunggal Daya berbalut busana Legacy SR-1.

Lambaian petugas Terminal Mangkang untuk menyetor upeti di loket tak digubris, main selonong saja di hadapan mereka untuk merangsek ke lingkar Kaliwungu. Di bawah panduan Garuda Mas bergaun Celcius, ruas protokol Kota Kendal disusuri.

Proyek perbaikan petak Cepiring jadi wahana pertama melatih kesabaran juru mudi. Antrian lalu lintas mulai mengular, dan rasa-rasanya akan memanjang saat arus ke barat mencapai peak-nya menjelang tengah malam.

Langsung Jaya bertagline Anugrah jadi teman seiring sejalan merayapi kemacetan yang dipicu oleh pengecoran badan jalan yang tanggung jawabnya dipegang oleh Kementerian PU Pusat itu.

Meski armada terkesan serba defisit, ada variabel yang layak diapresiasi. Bus tanpa kelengkapan selimut dan toilet ini tak pelit dalam menciptakan kondisi lingkungan yang cozy bagi penduduknya. Kondisi full seat serta hangatnya ruang kabin bagian belakang yang terkena efek radiasi yang ditimbulkan panas mesin dilawan dengan hembusan angin AC yang amat meluap-luap. Fungsi gas freon sebagai refrigerant cukup memukai menjaga sejuknya sirkulasi udara. Bahkan menerutku cenderung mubazir, membuat sebagian penumpang perlu mengenakan pakaian lapis kedua alias jaket untuk mengeliminir suhu dingin.

Pemanjaan itulah yang membuatku terkulai dalam peraduan, meski agenda makan malam sebentar lagi bakal diselenggarakan.

Kantuk menyerang tak kenal waktu, tempat dan keadaan. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s