Denpasar Noon (1)

Posted on Updated on


02.15 WITA

“Om ini orang aneh dan kurang kerjaan!” celetuk anak muda itu memotong tutur ceritaku. ”Jauh-jauh dari Jakarta, bukan urusan bisnis, bukan berwisata, malah cuma transit untuk pulang lagi ke Jawa,” gugatnya.

Hmm…logis saja dia mengajukan pertanyaan bernada memprotes. Barangkali, melihat aku bepergian dengan tangan kosong, hanya berbekal tas punggung tipis nyaris tanpa isi ‘peralatan tempur’, serta ditambah fakta, seturunnya dari pesawat bukannya berlekas mengarah tujuan yang dirujuk, justru malah tidur-tiduran di terminal kedatangan domestik, muncul konklusi yang demikian.

IMG_1946

Namun aku bersyukur mendapatkan teman ngobrol seasyik Bli Galih (panggilan anak muda itu). Berkat hospitality-nya, airport alone yang siap-siap kulakoni berujung batal. Sudah satu jam lebih dia merecoki kesepianku dalam kesendirian, ketika di luar skenario, flight Air Asia Airbus A320 kode QZ 7520 yang sedianya pagi hari di-reschedule jadi penerbangan tengah malam karena sedang ada gawe KTT APEC sehingga membuatku keleleran di bandara menunggu pagi.

IMG_1928

“Ayo, Om, saya antar ke Kuta. Tengah malam seperti ini meriah lo. Café-café ramai!” bujuknya setengah berpromosi akan daya magnet kawasan yang terkenal akan diorama sunset-nya itu.

Aku menggeleng pelan. “Maaf, Bli, saya tidak tertarik dengan dunia malam.”

“Apa mau cari oleh-oleh, Om? Masak ngga bawa sesuatu buat yang di rumah?” rayunya lagi, berharap aku meluluskan tawarannya.

“Memang jam segini ada yang jualan?” tanyaku.

Ngga jauh dari sini ada toko yang buka 24 jam, Om, Krisna namanya!”

Dengan bantuan motor Yamaha Mio kesayangannya, kami berdua melaju membelah dinginnya hawa dinihari.

“Ini tempatnya, Om,” ujar dia setibanya di parkiran sebuah pusat oleh-oleh di Jalan Tuban.

IMG_1953

“Saya tunggu di sini, silahkan belanja sepuasnya. Dan jangan khawatir, nanti saya antar lagi ke bandara!” dia mengingatkan.

Ketika memilah dan memilih ragam jenis buah tangan, ternyata aku baru paham, penganan dari Pulau Dewata kebanyakan berbahan kacang. Dan satu di antaranya punya sebutan unik, kacang disco. Menilik namanya, jenis jajanan ini telah mengalami detradisionalisasi, disesuaikan dengan modernitas zaman. Mana ada indeks kosakata ‘disco’ dalam bahasa daerah Bali?

Aku pun hanya membeli barang dengan kuantitas yang tak seberapa, yang penting keluarga di rumah bisa mencicipi kue-kue bikinan ‘Ida Ayu Komang’ ini.

Swalayan Krisna terbilang cukup besar dan megah. Dan konon, empunya hanyalah tamatan sekolah dasar. Tapi lazimnya cerita di negeri dongeng, kini dia sukses jadi enterprenuer kondang, raja kecil dalam kosmos perekonomian Pulau Bali.

Saat melewati teras gerai ini, melihat bangku-bangku panjang tanpa penghuni, pikiranku mendadak berubah. Aha!? Mengapa harus balik ke bandara, toh esok aku pasti kudu keluar dari sana juga kan? Mengapa tak tidur di sini saja, meniru beberapa pria pelayan toko yang rebahan di ruang tunggu? Lumayan, bisa merem barang dua atau tiga jam. Bodo amat andai ada yang mengolok-olok aku sebagai pelancong gembel, karena untuk keperluan bobok pun mesti numpang di emperan toko. Hehe…

IMG_1954

 “Bli, kamu langsung pulang saja ke rumah! Saya biar di sini saja. Terima kasih banyak atas kebaikannya!” kataku membuka pintu perpisahan dengan Bli Galih, seorang tenaga outsourcing di Bagian Cleaning Service Bandara Ngurah Rai, yang dari pribadinya telah memberi kesan sangat positif bagi visitor yang baru pertama kali menginjak tanah Bali. Aku merasa ‘diuwongke’, dimuliakan laksana bintang tamu, meski berstatus alien yang terdampar di galaksi bima sakti.

Aku terkagum-kagum dengan personal penduduk suku Bali. Keramahtamahannya, sifat supel, sense of brotherhood serta sikap egaliter mereka luar biasa.

07.15

Sang surya telah merangkaki segalah bentang langit Kota Denpasar. Binarnya mulai menjalar menghangati keteduhan pagi.

Sementara itu, suasana sekitar bandara tak seperti biasanya. Ada gelaran sterilisasi jalur ke arah Ngurah Rai International Air Port, dengan disiagakannya begitu banyak aparat keamanan. Ratusan anak sekolah didaulat sebagai pagar ayu untuk memberi penghormatan melepas kepulangan tamu-tamu VVIP kembali ke negara masing-masing. Sementara sirine voojrider meraung-raung ke awang-awang, bak bunyi lonceng isyarat bahwa situasi keamanan tengah dalam bahaya perang.

IMG_1964

 IMG_1967

Di tengah kesibukan mereka, langkah kakiku tersaruk, menyusuri trotoar Jalan Bypass Ngurah Rai, demi mencari keberadaan shelter bus kota.

IMG_1972

Perjuangan  sejauh 2 kilometer selama 20 menit untuk menemukan spot naik-turun penumpang  itu tak dibarengi dengan availabilty (ketersediaan) armada yang memadai. Setengah jam sudah aku termangu, sebelum bus tanggung ber-letter DK 9266 xx datang menghampiri. Duhdek, susahnya mencari alat transportasi pelat kuning di sini!

Inilah sebagian dari rencanaku. Mengisi slottime antara jam 07.00 s.d 12.00 dengan ber-happyhours mengecap bus kota yang belum lama ini diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Bali, dengan cap Sarbagita.

IMG_1975

 “Batu Bulan ya, Mbak!” request-ku saat pramugari moda yang berkoridor Kota – GWK itu memungut ongkos tarif perjalanan setara Rp3.500,00, sesuai petunjuk Bli Dewa Anom yang sebelumnya aku mintakan pedomannya soal rute-rute bus Sarbagita.

IMG_1973

“Maaf, Bapak, tujuan bus ini bukan ke sana.  Nanti bisa turun Halte Pesanggaran, oper bus Sarbagita yang ke Batu  Bulan,” urainya gamblang.

Kerepotan kedua menghadang. Sarbagita — akronim dari Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan –, jurusan Nusa Dua – Batu Bulan PP benar-benar sukses memubazirkan waktu, saat kutunggu-tunggu di Pesanggaran.

IMG_1977

IMG_1978Bus berpostur Nucleus 3 dengan nomor identitas 02 ini seakan menjadi potret kurang welcome-nya pencanangan penggunaan angkutan umum terhadap animo masyarakat. Meski dilengkapi fasilitas pendingin udara, hiburan full audio, usia kendaraan yang  relatif baru, tidak ngetem di sembarang tempat,  kru yang berpenampilan rapi, nyatanya kurang menarik minat dan terkesan tidak laku jual. Tercatat hanya lima sewa yang bisa maksimal didapat, padahal rute dari Nusa Dua ke Batu Bulan membujur sepanjang 30 km.

“Bus ini kalau dikelola swasta, bukan pemerintah, pasti sudah gulung tikar, Mas!” simpul warga Bali yang aku ajak berbincang tentang prospek mass transportation di sini.

Tidak seperti busway di ibukota yang terintegrasi di tiap koridor dengan sistem tiket terusan, serta pembelian melalui loket-loket yang ada di tiap halte, sebaliknya Sarbagita menerapkan karcis lepas. Tiap kali berpindah antar armada Sarbagita, terdapat kondektur on board yang menarik karcis dari tangan per penumpang.

Berturut-turut disinggahinya halte-halte Serangan, Danau Poso Sanur, Sindhu Sanur, Matahari Terbit, Padanggalak, Prof. IB. Mantra, Tohpati dan terakhir Terminal Batu Bulan.

Meski moncer sebagai destinasi wisata kelas internasional, yang berimplikasi serbuan life style dan peradaban yang dibawa para traveller dari berbagai belahan dunia, namun tidak serta merta membuat masyarakat Bali menanggalkan jati diri, identitas budaya dan adat istiadat leluhurnya. Konsep tata kota dengan memberi sentuhan etnik warisan luhur nenek moyang terlihat apik. Arca-arca bercorak ke-Hindu-an berikut pura peribadatan mematung  hampir di setiap sudut kota.

IMG_2000

 IMG_2001

45 menit kemudian, sampailah Sarbagita beregistrasi DK 9194 JE di Terminal Batu Bulan.

IMG_1983

Sebuah landscape stanplat yang jauh dari sangkaanku semula, dan semakin menegaskan bahwa angkutan umum berikut fasilitas penunjangnya bak anak tiri di tengah gemerlap bisnis pariwisata Pulau Bali.

IMG_1985

Terminal yang dikelola oleh Pemkab Gianyar ini pemandangannya kotor, kurang terawat, sepi penumpang serta minus soal estetika dan keindahan bangunan sebuah maha karya manusia.

IMG_1986

Bahkan, di sinilah aku dapat menyaksikan puing-puing kebesaran PO Simpatik yang tinggal menyisakan bus ukuran 7/8 dengan layanan rute Padang Bai- Batu Bulan.

IMG_1996

Warung Makan Wong Malang di depan Pasar Pudak, di seberang Terminal Batu Bulan, cukup menggugah nafsu sarapan pagi karena aku minim referensi akan menu masakan Bali yang cocok berdamai dengan lidah orang Jawa.

Aku pun rehat sejenak, mengisi amunisi sebagai bahan penggerak organ tubuh, sebelum meneruskan trip selanjutnya, menggapai Terminal Ubung.

 

 

2 thoughts on “Denpasar Noon (1)

    thoh said:
    5 Desember 2013 pukul 4:04 pm

    alhamdulillah…
    akhirnya bisa baca tulisan mas didik lagi..
    kemarin kok sempet vakum lama mas?

    didiksalambanu responded:
    5 Desember 2013 pukul 6:59 pm

    iya, mas, jari-jarinya lagi mati gaya.hehe…
    itulah celah kelemahan saya, mas, menulis belum bisa dijadikan rutinitas, masih bergantung mood yang kadang naik turun. masih perlu banyak belajar sama penulis-penulis handal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s