Denpasar Noon (3)

Posted on


14.23

Itulah display waktu yang terpampang pada monitor jam di pojok kanan atas ketika moda yang aku cumbui melepaskan tali tambatnya dari bolder Terminal Ubung. Tertinggal ± 20 menit dari keberangkatan saudara kembarnya, DK 9001 AC.

Di bawah kendali driver berbadan agak gempal, tempo rendah dipertontonkan saat menekuni ruas Jalan HOS. Cokroaminoto, Denpasar. Tak perlu susah payah untuk menyalip bus ukuran sedang jurusan Ubung – Gilimanuk, PO Lintas Samudera, yang masih tampak ogah-ogahan bekerja.

DSC00525

Sebagian penumpang mulai melahap hidangan makanan ringan, yang berisi kacang telur, roti isi selai nanas, wafer coklat dan sebotol air mineral. Adanya bonus segelas Pop Mie seakan jadi pelengkap layanan snack wah yang diagungkan oleh PO Surya Bali.

IMG_2097

Lalu-lintas memadat di daerah Pakraman, Ubung. Situasi sempat berhenti beberapa saat, ketika iringan-iringan rombongan pengantin yang dikawal para pecalang meminta prioritas untuk dibukakan jalan.

DSC00521

Berselang 5 atau 6 kendaraan di depan, tampak pantat Gunung Harta yang mengklaim dirinya bersasis monocoque,  tengah mengawali hajat tripnya menuju kota atlas. Sementara di jalur lawan, Rasa Sayang EA 7290 L tampak tergesa-gesa untuk memungkasi tugasnya hingga ke bumi Mataram.

DSC00520

Di agen Uma Anyar, bus yang memaknai  livery-nya dengan simple elegance ini menjumput lagi dua sewa, hingga tinggal menyisakan beberapa lagi kursi kosong di deret belakang.

Hinomaru RK8 R260 pun mulai pasang kuda-kuda, mengeluarkan karakter asli. Bus seketika dipacu, dan mulai dapat dicicipi ‘feel speedy’-nya. Sementara aku sendiri lebih khusyuk celingak-celinguk kanan kiri untuk memandangi setiap jengkal tanah dari pulau yang baru pertama di-explore.

Satu yang menyita perhatianku adalah Kampung Sempidi, Kecamatan Mengwi, tempat kantor pusat pemerintahan Kota Badung berdiri. Sayang, konsentrasi mataku untuk menemukan Terminal Tipe A Mengwi sia-sia belaka lantaran tak berhasil kutangkap keberadaannya.

Justru, kebutuhan biologis untuk membangun alam mimpi tak bisa kutolak. Bila tubuh telah menuntut istirahat, dengan cara apa lagi kudu dilawan?

15.10

Kesibukan agen di Jalan Bypass Ir. Soekarno, Tabanan, dalam mengurusi dua kliennya saat menaiki armada, membantuku terjaga dari nyenyak.

Penyalin, Tabanan.

Di luar kaca, tampak digarap proyek raksasa berupa pembangunan pilar-pilar penyangga jalan di pinggir-pinggir tebing. Entah lah, apa itu sebagian dari proyek jalan tol Trans Bali, mengingat jalan raya Denpasar-Gilimanuk sudah demikian padatnya, tak tertampung lagi oleh space jalan yang ada? Ataukah sekadar membangun jalan-jalan shortcut untuk memperpendek rute mengingat jalan di sini berkelak-kelok mengikuti kontur alam perbukitan?

DSC00506

Dari arah depan, melaju bus paket Pahala Express, B 9227 IU. Sementara di belakangnya bertarung sengit Margahayu N 7219 UR versus Dahlia Indah bermesin Jepang, Nissan, beradu cepat untuk memperoleh pole position di Ubung nantinya.

Trek Meiling tak ubahnya meng-copy paste dari profil trek Ambarawa – Pringsurat. Sempit, disarati tikungan, diseling turunan-tanjakan, dengan habitat flora khas dataran tinggi di sekelilingnya. Kesesakkan lalu-lintasnya pun mirip dengan jalur penghubung Semarang-Jogja itu. Padat merayap, dijejali kendaraan kecil, angkutan umum hingga truk-truk muatan berat.

DSC00505

Hanya Akas Asri, N 7339 US, yang sempat kupergoki berdesakan di dalam traffic yang menuju Denpasar.

Kemacetan stadium ringan terjadi di Distrik Selemadeg. Pekerja-pekerja kontraktor dari Dinas PU setempat berjibaku mengaspal ulang badan jalan.

Bus yang cikal bakalnya rintisan bisnis travel ini seolah tak bisa berkutik mengumbar aksi lantaran rapatnya barisan para pengguna jalan. Gunung Harta Pariwisata DK 9166 GH, Book Panorama JB HD B 7389 IZ, Indonesia Abadi N 7490 UR, serta Damri bernomor lambung 4241 lari-lari kecil mengarah ke timur. Yang sedikit unik, bus pelat merah itu memajang tulisan ‘TKI Deportasi’ di kaca depan. Apakah dia berperan sebagai angkutan para pekerja Indonesia ilegal yang tertangkap basah di negeri orang sehingga dipulangkan paksa ke tanah air?

Di tengah kemolekan alam Bajera, di mana megahnya dome langit, birunya samudera, royo-royonya persawahan, sublimnya gunung – gunung, serta rimbunnya hutan berpadu membangun taman surga kecil di hamparan planet bumi, mataku nyaris tak lepas menatap bahenolnya pantat jetbus yang menempel di tubuh PO Wisata Komodo.

IMG_2099

Adanya upacara adat perkawinan di sebuah pura membuat pergerakkan kendaraan melambat, sehingga  meng-assist Surya Bali untuk terus mendekati.

Beratnya stage jalan utama Pulau Dewata ini tak luput membawa korban. Sebuah truk gandeng bermuatan semen dirundung celaka, terjebur parit setelah menghajar deretan pohon di tepian jalan.

IMG_2105

Dan sekali lagi, rivalitas bus-bus rute pendek Surabaya/ Jember – Denpasar dipertontonkan di depan publik Suraberata. Empat bus sekaligus menghunus tajinya masing-masing, merebutkan supremasi penguasa daerah tapal kuda. Berturut-turut, Indonesia Abadi bermodel ‘Jenong Louhan’, PO Borobudur kelas bumel, CWM Trans dan Akas Asri mode Concerto, terlibat duel seru di dalamnya.

Memasuki Kabupaten Jembrana, performa alat transportasi berkapasitas 30 seat ini semakin merajalela. Dengan setengah nekat, belasan mobil pribadi berikut truk-truk dikebiri sekaligus, dan selanjutnya menempel lekat buritan Wisata Komodo, terpisah jarak tak lebih dari 10 meter.

DSC00501

Merasa tersodok, bus dengan mural sekawanan kuda sumbawa itu pun mengeluarkan taringnya. Keduanya beriringan, tampil meledak-ledak, bersinergi mengacak-acak jalan, dan cenderung bertingkah pongah sebagai entitas kendaraan besar. Sebuah Toyota Avanza pun terciprat getahnya, disingkirkan ke bahu jalan, saat  bus yang bergelar ‘The Luxury Liner’ itu memaksa mendahului kendaraan lain tanpa ada celah bebas.

DSC00493

Namun, birahi yang meluap-luap untuk menyuksesi singgasana ‘Jit Bis HD SE’ kian tak terbendung. Dengan lengkingan alarm mesin over-running, Surya Bali kuasa menyungkurkannya.

IMG_2053

Mantap…Muria style go to the east!

16.14

Kramat Djati Setra Selendang adalah skuad Jakarta-Denpasar pertama yang bersilangan jalan, saat menginjak wilayah Pekutatan.

Disusul kemudian Pahala Kencana New Marcopolo B 7589 IZ dan tak berselang lama, Flying Eggs New Travego B 7935 IS juga melintas lalu.

Jauh di depan mata, terhalang ombak Samudera Hindia yang bergulung-gulung tinggi, jelas terhampar Pulau Jawa. Sementara anggunnya bukit barisan Ijen bersiap melumat ego dan kesombongan diri manusia sebagai makhluk kerdil ciptaan-Nya. Ini sebagai penanda, bahwa sebentar lagi adalah waktunya berlayar menumpang kapal api. Dan lagi-lagi, itulah pengalaman perdanaku naik bus mengarungi lautan.

But…ada apa gerangan di depan, ketika lampu hazard Lorena LE-611 OH 1526 Denpasar-Jakarta berkedip-kedip, sedangkan posisi bus berada di tengah jalan?

Ah, rupanya ada insiden kecil dengan melibatkan dump truck, sehingga tanduk spion Evonext milik Bu Eka Sari itu berantakan, tak berwujud lagi. Untung crash itu tak sampai menyentuh permukaan kulit bodi.

Menapaki ibukota Kabupaten Jembrana, Negara, Surya Bali mengarahkan haluannya ke seberang Terminal Jembrana. Satu penumpang lagi mesti dipungut, mendongkrak load factor di angka persentase maksimal, 100%.

Tak terbantahkan, sinaran Surya Bali memang lagi berbinar-binar. Di saat weekdays, di tengah kepungan PO pesaing yang lebih senior, bahkan oleh yang mbahurekso gugus Jepara sendiri, hari itu Surya Bali sanggup memberangkatkan dua armada dengan okupansi full seat. Itulah yang jadi pembeda.

Seakan-akan dia menampar sebuah pemeo, bahwa PO-PO non pelat K akan babak belur  bila menggarap pasar Pakujembara (Pati-Kudus-Jepara-Rembang-Blora), sebagaimana nasib buruk yang menimpa PO-PO dari penjuru Jakarta.

Back to track…

Banyubiru, sebuah desa di sebelah barat Negara, menggoreskan prestasi kembali, saat Akas Asri berkaroseri Dafi Putra lengser lewat permainan terbuka, sebelum ‘nol dua’ merangsek ke trap depan yang ditempati PO Sedya Mulya.

Meski bermodalkan armada lawas, era sasis OH 1521, namun bus dari ranah Wonogiri itu juga tak kalah lincah menggesek-gesekkan tapak rodanya. Percobaan dilakukan berkali-kali, namun malah membikin bus-ku terlihat kewalahan, kesulitan membangun ruang untuk menyalipnya.

‘Hati-hati! Daerah Lintasan Satwa’

Demikianlah amar yang tertulis pada papan peringatan yang tertanam di pinggir jalan, ketika memasuki kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Kalimat itu bertuah ketika pramudi harus menginjak pedal rem dalam-dalam kala seekor biawak besar dengan muka innocent, tanpa permisi, tiba-tiba saja menyeberang.

Wow…betapa kaya keanekaragaman jenis satwa yang dipunya bumi pertiwi ini.

Sein kiri pun dinyalakan, menghampiri sebuah mobil L300 pick up yang hendak menitipkan paket yang jumlahnya seabrek, di depan museum yang berdiri di dalam kawasan hutan penyelamat spesies burung Curik Bali.

Yang aku suka dari daerah ini, banyak tersebar pohon-pohon lontar menjulang tinggi, persis dengan vegetasi tetumbuhan di sekitar kampungku. Setidaknya kini aku pun tahu, ada tiga daerah yang merupakan sentra pohon penghasil buah siwalan itu, di mana produk derivasinya adalah tuak/ arak, yakni Rembang, Tuban dan Bali.

Pantas saja Bali terkenal akan araknya, karena tumbuhan dari marga palem-paleman ini tumbuh subur, makmur dan sejahtera di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s