“RN 285” Roulette (2)

Posted on Updated on


Mapping perburuan makhluk “RN 285” telah dipetakan. Andaikan kelak dia jadi milikku, ibarat orang menikah, aku bakalan serius mennyuntingnya dengan status “kawin resmi”. Akan kupasrahkan gawe suci pada kebaikan budi agen berjalan sebagai mak comblang perjodohan ini. Aku tak mau menyandarkan diri pada tangan-tangan jahat sarkawi. Itu sama saja dengan “kawin lari”, menikah tanpa surat legal, tanpa pengakuan dari otoritas lembaga berwenang.

Dua Minggu Kemudian…

14.02

Berondongan peluru-peluru cair dalam ikatan H2O semakin deras menghujam bumi usai Agra Mas jurusan Tanjung Priok-Karawang Timur membayar pajak atas penggunaan jalan tol di gerbang exit Karawang Barat.

DSC_0156

Banjir kecil pun tercipta di beberapa titik Jalan Raya Badami. Gumpalan awan colombus masih mengepung hamparan awang-awang, seolah menguji nyali dan ketahanan mentalku agar jangan menciut.

Telah aku tepis zona nyaman yang diselenggarakan Pulogadung, Rawamangun ataupun Tanjung Priok kala berutinitas pulang ngetan.

Aku belum menggenggam secarik tiket, masih abu-abu tentang nasib trip ini nanti. Tak kugubris taksiran waktu tempuh, kisaran tarif maupun kadar pelayanan unplanned bus andai kisah “arjuna mencari cinta” meleset. Dan ini adalah belantara Klari, yang kubabat dan kubangun sebagai landas pacu pertama demi tereksekusinya ritual terbang menjelang akhir pekan.

Rolet ini ibarat perjudian, penuh spekulasi, main untung-untungan, mengandalkan insting semata. Semua ini kulakukan demi nyai…eh, “RN 285” maksudku.

Berkat hantaran angkot warna biru jurusan Klari-Cikampek, sampailah aku di seputaran pertigaan lampu merah Klari, yang merupakan jalur in out kendaraan yang hendak menuju/ keluar Tol Cikampek melalui loket Karawang Timur. Shortcut maya ini mulai dilirik para pengemudi intercity, setelah exit Dawuan maupun Cikopo kerapkali dibekap kemacetan di saat bubaran jam kerja.

DSC_0158

Dan detik-detik inilah petualangan pertaruhanku dimulai. Sukseskah berkimpoi dengan “RN 285”, ataukah malah gigit jari termakan sumbarku sendiri?

14.38

Keyakinan itu menyeruak kala bus yang pertama kali hadir adalah Sedya Mulya, AD 1451 CG, yang dua minggu sebelumnya aku kecap real taste of Wonogiren-nya.

DSC_0160

Moda jatah Pademangan itu seakan mengirim pesan bahwa aku tepat berpijak pada slottime armada-armada Wonokarto.

Kucueki saja klakson yang terkesiur. “Maaf…aku pernah mereguk wangi tubuhmu,” batin ini menolak.

Lima menit kemudian, giliran saudara mudanya, Sedya Mulya berpakaian Nucleus 3 dengan kelas Bisnis AC, tiba mendekat. Kubentangkan lima jari sebagai isyarat bahwa aku emoh diajak ber-ajojing sepanjang malam dengannya.

DSC_0162

Lalu terlihat duo Agra Mas, model Ventura dan Jetbus mengarah ke Terminal Klari, tempat checkpoint sempalan PO Giri Indah itu berada.

Tak lama berselang, jadoel community yang lain menampakkan diri. PO Putera Mulya, dengan mesin OH Prima serta model tubuh non orisinal hasil permakan Sari Murni Body Builder, Wonogiri. Tembakan lampu dim tak kuindahkan. Andai moodtour sejarah” sedang bergolak, pastilah iming-iming konstanta keklasikan itu akan kuturuti.

Hatiku berdegup kencang. Cemas-cemas harap. Barangkali sudah puluhan kali tri-warna lampu bangjo berbagi tugas untuk mengedip, namun tak ada bus lain yang kunjung datang.

“Kemanakah gerangan ‘RN 285’? Apakah dia sudah melangkah di depan jauh sebelum aku berdiri di sini? Ataukah dia sudah fullseat sehingga menghindar exit Karawang Timur? Ataukah dia lagi regular maintenance sehingga offline dulu?” selarik pertanyaan menghantui benakku.

“Ah…kugelar saja injury time selama 5 menit. Seandainya rencana percintaan ini kandas, ya apa boleh buat!? Barangkali Dewi Fortuna sedang tidak memihakku!”

Kulirik agen-agen bus yang berbanjar di belakang punggungku. Garuda Mas, Madukismo, Pahala Kencana, Rukun Jaya, Nusantara, GMS dan Mulyo Indah seakan genit menggodaku yang tengah terombang-ambing dalam biduk ketidakpastian.

DSC_0164

DSC_0163

15.05

Tiba-tiba..

Tett…tett…tett…

Kutoleh pandangan menyudut pada traffic light area. Aku terkesima dibuatnya.

Wah…wah…wah…sebuah obyek dengan “jepit rambut” warna coklat susu bertagline “Luxury Bus” berpacu dengan fase transisi cahaya hijau menjelma merah.

DSC_0113

“Inilah yang kucari!!!”

Secepat kilat kulambaikan tangan, namun sayang, respon bapak sopir agak telat. Bus terlambat melakukan pengereman hingga baru benar-benar berhenti dengan melebihkan jarak ± 50 meter dari posisiku mematung.

Dengan suka cita, kumantapkan ayunan kaki untuk acara ijab kabul sebagai barang bukti halalnya hubungan antara manusia dengan makhluk yang digandrungi.

“Kemana, Mas?” tanya sang agen berjalan, yang kini di mataku laksana seorang penghulu.

“Semarang ya, Om”.

“Silahkan, Mas, masih ada yang kosong kok!”

“Berapa tarifnya, Om?” korekku sekadar berbasa-basi. Padahal, berapapun dia menyebut nominal, selama masih di bawah angka 200 ribu, aku siap menyerahkan mas kawin secara tunai, tanpa kutawar sepeserpun.

“125, Mas, sudah termasuk service makan!”

Sah…sah…sah…

DSC_0167

Digiringnya aku menuju kursi pelaminan nomor 33, karena baris depan dan tengah telah berpenghuni.  Tak apalah nyempil di depan toilet dengan sudut pandang terbatas, yang penting dan sakral, aku akan merenda jalinan percintaan dengan pasangan yang sangat aku idam-idamkan selama ini.

DSC_0169

Bus dengan nomor polisi AD 1719 AR bergerak maju secara perlahan, nyante dan kalem. Dua tambahan penumpang didapat di daerah Purwasari, Tamelang. Dan jumlah yang sama pula diperoleh di Jl. Ahmad Yani, Cikampek. Satu rezeki plus kembali diraih di Jl. Stasiun Dawuan, hingga menyisakan bangku terakhir di sudut belakang.

Di samping Mal Cikampek, agen berjalan pun paripurna bertugas untuk hari itu sembari pamit kepada kru. Lewat media telepati, kutitipkan kata terima kasih akan sumbangsihnya, dan semoga dia mendengar kalimat sanjung puji ini.

15.35

Finally, last seat itu berpenduduk kala seorang pemuda menyetop di depan garasi Warga Baru,  Kaliasin, Pangulah Utara. Laris manis tanjung kimpul, tampilan manis penumpang ngumpul. Hehe…

Dihibur aksi panggung duet Mbak Eny dan Mas Irul dalam kemasan Djandut (Djaranan Dangdut) Orkes Melayu Sagita Assololey, nyata-nyata menggairahkan suasana. Dua  unit LCD TV yang terbenam di dalam kabin setidaknya bisa mengalihkan perhatian dari alon-alonnya pusingan enam ban yang menyangga sasis ladder frame bikinan prinsipal Hino Motors Indonesia ini.

Langit berpayungkan mendung pekat mengiringi joyride bersama Sedya Mulya. Busku hanya jadi garda bagi medium bus bermodelkan Tourista, PO IKF, E 7532 PA.

Jalan Pantura mulai menunjukkan nestapa kerusakan di sana-sini, gara-gara dicuci genangan air hujan, dikucek tapak-tapak roda angkutan tonase berat. Di tengah rintik gerimis, terlihat sekawanan alat berat; asphalt finisher, tandem roller serta pneumatic roller, sibuk bekerja mengaspal ulang badan jalan di distrik Balonggandu, Jatisari.

Di Pasar Cikalong, nego alot sempat terjadi dengan nomine sewa. Entahlah, ketidakcocokan itu karena harga, ataukah posisi tempat duduk, sehingga dia batal menggunakan jasa bus berteknologi diesel konvensional ini.

Lalu lintas sore itu senyap, tak banyak kendaraan berseliweran. Rumah Makan PO Haryanto juga kosong melompong, tak satupun bidak yang dijuluki “the fastest bus on South East Asia” itu menampakkan wujud.

Yang justru mendatangkan keprihatinan, di bawah guyuran hujan, dua cewek ABG bermotor matic dengan dandanan seronok, tanpa helm dan kelengkapan motor yang memadai, dengan asyiknya bercanda di atas motor. Mereka tak menyadari, manuver-manuver setang kemudi telah menyulitkan laju pengguna jalan yang lainnya. Semoga mereka bukan bagian dari suku kimcil, atau bangsa cabe-cabean, ataulah nama-nama yang lain…yang saat ini tengah jadi pembahasan hangat di Komisi Perlindungan Anak.   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s