Mabuk Kemenangan (1)

Posted on Updated on


Jumat, 7 Maret 2014

Pulo Gadung, 12.47

“Eh, Mas! Mas! Mau ke mana?” panggil seseorang dengan fonetis yang terdengar ketus, mengusik selaput gendang telinga.

Kutoleh pandang ke arah sumber suara, meski tak menghentikan jangkah kaki ini untuk terus menyusuri area parkiran motor yang merupakan lorong penghubung antara shelter Trans Jakarta dan pintu keluar terminal.

DSC_0744

“Ah, malas dengan orang beginian. Seragam lusuh, tak ada badge nama PO, makin kentara saja mencirikan momok itu. Calo gadungan!” gumamku.

“Maaf, saya mau naik Kemenangan!” kugunting saja ajakan pembicaraannya daripada terlibat dialog yang bakalan mencekam nantinya.

Bergegas kupercepat langkah, namun tak membuat dia pantang menyerah.

“Eh, kalau naik Kemenangan, lewatnya sini!” hardik lelaki itu dengan sedikit kesal, sembari jari telunjuknya menunjuk gate in pojok yang menuju embarkasi jurusan Surabaya, Madura dan Mataram.

Sabodo teuing!” cerca batinku. (Bodo amat)

Tentu saja, berbasis pengalaman, spot itu sebisa mungkin harus kuhindari. Di sanalah oknum-oknum gaje biasa berkumpul, menyusun modus operandi dalam menjebak penumpang.

Beruntung, cewek berperawakan subur yang merupakan duta dari salah satu PO semenanjung Muria turut mendekat.

“Mau ke mana, Mas?” tanyanya dengan ramah.

“Rembang, Mbak!”

“Ayo, ikut Haryanto. Buat Mas, udah deh…saya kasih 120 ribu!” rayunya maut, mencoba menggoyahkan plan A yang telah kupetakan jauh-jauh hari.

Kutatap tubuh mulus di seberang pagar. Dengan guyuran cat putih mutiara sebagai latar, berpadu kelir ijo pupus, hitam arang dan sedikit list oranye, colour mark-nya sangat artistik dan sejuk di mata. Fujiyama, demikian etiket kebanggaannya.

DSC_0740

“Maaf, Mbak, saya ikut Kemenangan saja!” tampikku. Aku memilih setia pada rencana.

“Ini mau berangkat loh, Mas. Tuh, lihat Kemenangan! Apa sabar menunggu sampai penuh?” bujuknya lagi dengan trik mendiskreditkan sang rival yang masih kosong melompong belum terisi.

Kugelengkan kepala.

Aku punya hajat mulia ingin menghadiahkan pengalaman baru serta kesan mendalam untuk perjalanan wira-wiri kali ini. Gara-garanya, bibit-bibit “edan sepur” semakin bertunas dan bersemi menyelingkuhi interest-ku terhadap sarana transportasi bus. Hal itu akan sulit kupenuhi secara sempurna seumpama kusambut pelukan hangat HR104, kolega dari HR87, HR90, HR91, HR92, HR67 dan HR79 yang sering aku gauli saat perjalanan balik ke Jakarta.

Dan sejurus kemudian…

“Om agen Kemenangan ya?” tanyaku pada bapak paruh baya berkemeja warna jingga yang masih kinclong, setelah kulihat name plate “Kemenangan” terjahit di atas saku depan.

DSC_0743

“Benar, Mas. Mau ke mana?”

“Ke Rembang, Om. Diangkut ngga?” gayaku sok retoris, “Kalau iya, berapa?”

Hehe…ayo, Mas. 150 ribu saja. Langsung naik ke busnya ya!” ujarnya semringah seraya menggiringku menghampiri “obyek jualannya”, sekaligus diumpankan pada ibu muda yang bertindak sebagai ticketing girl.

DSC_0736

“Dikasih harga berapa sama Om-nya, Mas?” koreknya dengan membisik.

“150, Mbak,” gamblangku yang tengah sibuk memungut dua lembar doku pecahan seratus ribu dari balik kantong celana.

DSC_0735

*****

Satu jam sudah PO Kemenangan mengais-ngais rezeki, namun nyatanya, tak ada yang bisa digaet semenjak aku dan lima penumpang yang lain teken kontrak buat trip satu malam yang sebentar lagi akan kami lakoni.

IMG_2603

Merana dan mengenaskan, itulah deskripsi satire untuk menggambarkan kiprah PO debutan di medan membara, Jakarta-Madura.

Di saat Pahala Kencana telah memberangkatkan dua armada, Jetbus non HD, B 7298 IX serta Legacy Sky, B  7821 IZ, pun dengan dua unit kavaleri Haryanto, Fujiyama serta Joker, dan dipungkasi Kramat Djati yang diwakili oleh New Travego rombakan, Kemenangan justru mengalami puso dalam mengumpulkan pundi-pundi keuntungan.

DSC_0751

DSC_0764

Nasibnya tidak lebih baik ketimbang Karina KE-550 yang masih berpangku tangan di front belakang, dibekap kesusahan dalam menjaring sewa.

DSC_0748

“Ini nanti ambil penumpang Cikarang satu, Klari dua!” instruksi mandor kepada kru ketika mereka melakukan briefing singkat sesaat sebelum keberangkatan.

O la la…para juru mudi yang akan turun lapangan ternyata sepuh-sepuh. Dari guratan keriput di wajah, jelas mengidentifikasikan rentang usia 55 – 60 tahun. Menilik sejarah bahwa Kemenangan sejatinya adalah PO kawakan dari tlatah Jawa Timur yang lebih banyak bermain di bidang usaha angkutan pariwisata, bisa jadi kedua driver tersebut adalah penggawa senior yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi pada perusahaan yang menaungi nasib dapur mereka.

Sedangkan sang asisten sedang melanglang selasar kabin, mendistribusikan jatah snack yang berisi sekerat kue basah plus segelas air mineral bagi tiap pemilik kursi.

IMG_2598

Akhirnya, tepat pukul 14.05, bus perpelat nomor AE 7220 UN ini berpisah dengan pos utamanya. Dia bersiap mengarungi selaksa duka berkarir hingga Sumenep, kudu tegar mengunyah aspal pantura yang akhir-akhir ini citarasanya lagi pahit serta getir tatkala dikecap tapak-tapak roda.

DSC_0750

Menjelang lampu merah yang mempertemukan ujung terminal dengan Jl. Perintis Kemerdekaan, PO Madu Kismo selangkah ditinggalkan. Laskar Karangturi yang mengusung nama gunung ikon Kota Batu, Panderman, masih asyik bergelut dengan masalah klasik, paceklik penumpang.

“Ah, aku membuang peluang emas untuk mengeksekusi plan B!” kesahku saat melewati sarang Garuda Mas. Tampak spesies the most wanted, Mercedes Benz OH 1830, menggawangi dinas sebagai eksekutif satu Pulogadung – Cepu sore itu. Buka selubung saja, ini kegagalan kali keempat aku berburu batangan Pak Alan Suherian itu. Dua kali dapat kompensasi diikutkan eksekutif dua, RK8 Air Suspension, B 7027 UGA dan B 7024 UGA, percobaan ketiga berjodoh dengan kres-kresannya, OH 1626, E 7871 HA, dan pada kesempatan terakhir malah kugadaikan dengan PO Kemenangan.

Kini, kansku membidiknya kian menciut lantaran terbit kabar dari pentolan GMM (Garuda Mas Mania), Mas Jefry dan Mas Hendro, bahwa pihak manajemen tengah menyiapkan suksesor untuk mendongkel kedudukan Mercy 300 HP dari tahta eksekutif satu di medio tahun politik ini.

Ah, sudahlah…

Tipar – Pertigaan Tol Cakung, 14.20-14.38

Keruwetan lalu lintas khas metropolitan menyambut di bilangan Tipar. Jalan utama yang menjembatani ibukota dengan kota satelit Bekasi banjir kendaraan. Bus mantan kepunyaan PO pariwisata dari pulau dewata, “Tridifa Trans”, ini seakan melanggengkan citranya sebagai armada pelesiran. Tak ada gelagat untuk memangkas kemacetan, setia di lajur paling kanan, pasrah diri menguntit truk trailer yang menarik sasis kosong berukuran 40 feet.

IMG_2592

IMG_2602

IMG_2600

Jalur tambahan yang terjepit di antara selokan dan markas TNI AD Tipar benar-benar dimanfaatkan oleh Bejeu Scorpion King, Langsung Jaya, AD 1423 CF, serta Hiba Utama kode GLX 06. Tak perlu tempo lama, bertiga sukses mendekat traffic light Pasar Cakung, sementara PO Kemenangan sekadar jadi peneropong dari jarak jauh, penyaksi betapa berkobar-kobarnya elan trio tersebut mengawali kick off.

Tol JORR – Tol Cikampek, 14.40 – 16.46

Walaupun bangku masih nglondhang, tak menjadikan hukum darurat untuk menambah okupansi dengan cara ngetem di mulut tol Cakung. Bus dengan tenaga kinetik powered by Hino R.260 ini bablas masuk Tol JORR Cakung-Cilincing. Pakem bus wisata dipertahankan. Kecepatan dijaga di rentang 60-80 km/ jam. Kesantunan dijunjung dengan berteguh fatwa bahwa menindas jalur larangan bus/ truk adalah haram seharam-haramnya. Jangan ditanya soal manuver dan zig zag style, lingkar setir hanya berputar tak lebih dari radius 30 derajat, memaku diri di lajur dua.

Menjelang KM 49 Bintara, yang baru-baru ini heboh sebagai lokasi penemuan mayat Ade Sara, mahasiswi Universitas Budi Mulya yang dibunuh mantan kekasih yang bersekongkol dengan bokin barunya, Setia Negara “Si Botak” berjalan dengan langkah seribu. Sementara, di kolong perlintasan jalan sebidang tol, sebuah dump truck terjerembab menghantam separator hingga mencium pilar jembatan.

IMG_2605

Lepas dari Interchange Cikunir, Kemenangan mulai pamer taring. Agra Mas 5102 dimasukkan sebagai isian pertama dalam daftar torehan positif, disusul aksi meng-overtake armada Tunggal Daya Nucleus 3. Mayasari Bakti B0913 pun tampil gemilang, memdemonstrasikan tarung bebas di gelanggang tol yang kondisinya sedang bebas hambatan.

DSC_0771

Exit Cikarang Pusat kena tetes manisnya. Sepinya populasi pengguna jalan membikin akses menuju kawasan industri itu meninggalkan adatnya sebagai gate out paling semrawut sepanjang ruas tol Jakarta-Cikampek.

IMG_2613

IMG_2616

IMG_2620

Cuma butuh waktu 10 menit keluar-masuk Tol Cikampek untuk menjemput penumpang yang bertujuan Kudus, kini waktunya unjuk performa kembali. Dan hasilnya, you know lah…kembali negatif. Hehe…

Era Trans berlingkup cangkang Evonext, K 1745 F, Menara Jaya dengan mesin Mitsubishi BM, Luragung Jaya pelat E 7729 YA, Patas Termuda “Prona” serta medium bus Hiba Utama B311 menekuk lutut bus berkapasitas 34 seat ini.

“Kalah solar, c*k…” begitulah pledoi yang mangkus tatkala kulirik sebatang baut stopper yang difungsikan sebagai limiter tertanam di area cakupan kerja tuas akselerasi.

Kini giliran Terminal Klari yang disinggahi. Geliat stanplat kecil yang diampu oleh Dishub Kota Karawang ini mulai tampak mencuat. Bus-bus malam memenuhi emplasemen. Terdata Murni Jaya E69 jurusan Jogja, Agra Mas BM 025, Royal Safari H 1714 DC, Kramat Djati seri 4 Ponorogo, dan skuat bus yang paling susah disalip, Sinar Jaya dan Sumber Alam.

IMG_2627

IMG_2629

IMG_2633

Unik dan beda dengan yang lain, demikian penilaianku mendapati fakta terjadi aplusan pengemudi, meski kapten pinggir baru bekerja ± 2 ½ jam. Dan interval rotasi pendek – pendek ini akan terus diterapkan sepanjang perjalanan. Faktor “U” kah?         

Every driver has a different skill and sikil…

Garang, ngotot dan ngeyel… Itulah kesan “joki baru” saat menghela kuda balap dari ras Nipponkoku ini. Jarum kecepatan ditenggerkan di atas skala 90 kmh manakala menuntaskan jengkal 20 km dari jalan tol yang tersisa.

Imbasnya, nilai rapor pun terkerek ke level biru, kala berhasil menyatroni posisi Gajah Mungkur, AD 1417 AG, bus paket Rosalia Indah, 712, serta Kramat Djati relasi Jakarta-Denpasar, B 7861 IW.

Di KM 65 terjadi kecelakaan yang menimpa truk pembawa peti kemas milik korporasi pelayaran asal Taiwan, Wan Hai Lines. Kontainer bercat biru dongker dengan dimensi panjang 12 meter itu nyungsep ke dalam parit, menyebabkan flow lalu lintas melambat.

Setelah berhasil berkelit dari TKP, bus dengan model kabin high roof ini kembali digeber semampu pedal gas berayun mencapai batas penalti. Harapan Jaya kode lambung H.238, “Setyo Tuhu”, disemburi asap berkonten carbon monoksida, dan hampir saja Tunggal Dara Putera berbusana Crystal gawean Restu Ibu jadi sasaran empuk berikutnya. Unfortunatelly, garis kejut yang dipasang pihak Jasa Marga menjelang gerbang Cikopo, mengendurkan berahinya.

IMG_2637

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s