Mabuk Kemenangan (2)

Posted on Updated on


Cikopo, 16.50

Macet di seputaran pangkal Tol Cikampek-Jakarta kala bubaran jam kerja jadi rutinitas abadi. Deretan kendaraan dari kelas roda dua hingga enam poros roda mengular sampai Pertigaan Mutiara.

Di pinggir jalan, terlihat Langsung Jaya “Fatikah” membuka kap atas dan kru tengah mengutak-atik unit pendingin transporter berkelas bisnis AC itu.

IMG_2638

Sementara, bus pertama yang bersilangan dengan PO Kemenangan adalah Kramat Djati, B 7432 IS, yang masih hot from oven, tanpa bangku penumpang. Bukan jetbus ala body builder tersohor, melainkan garapan Karoseri Kasturi Prima Sejati, Malang.

Ketersendatan yang didominasi oleh truk-truk bertonase berat kembali menggenang menjelang simpang Jomin. Ditambah kemunculan bigfoot, makhluk misterius mirip kera yang menghuni hutan wilayah Amerika Utara, kian merunyamkan keadaan. Hehe…

IMG_2652

IMG_2653

Semula, bus yang berpaspor kota brem, Madiun, ini kembali ke kultur semula, sabar mengantri. Namun, sejak dikipas-kipasi serdadu Ngembal Kulon, HR63, yang berulah selonong boy dari bahu jalan, driver yang menurutku bertipikal sumbu pendek ini pun tiba-tiba meledak.

IMG_2645

Seakan tak ingin dicap sebagai anak bawang di “ladang garam”, jalur lawan pun disandera. Misinya, mengembalikan kehormatan yang telah direnggut “The Survival”. Meski untuk itu, dia harus membuntu aliran lalu-lintas saat head to head dengan truk kepala hijau tipe SG 360TI.

IMG_2647

IMG_2649

Sejenak memohon kebaikan Rosalia Indah, 396, untuk menyingkap kerapatan celah, Kemenangan menyelinap ke jalan yang benar.

Rupanya, “Blue Titans” line Madura itu tak mau disepelekan dengan menyalip kembali dari sisi kiri.

IMG_2650

Sayang, niatan untuk mengekor bus yang ber-wisdommunio podo atimu” (bicaralah sesuai kata hatimu) itu digagalkan tackling Putra Luragung “Kumbang”. Hal ini membuat pak sopir sedikit geram dan mengumpat sinis.

IMG_2651

Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk “menggebuk”  VGA gank. Hehe…   

IMG_2655

Petak Jomin-Kaliasin adalah neraka bagi kendaraan yang mengarah barat. Aksi saling serobot, hingga menyisakan satu lajur utara tak terelakkan. Bus-bus jarak menengah (Cirebon-Kuningan-Tegal-Purwokerto) banyak yang terjerembab dalam kekusutan suasana. Iseng-iseng, aku baca panji-panji kebesaran mereka untuk menandai jati diri masing-masing. Ada Tepos, Sahara, Jalla Darat, Putra Sindang, Caraka, Ganesha, Alexis, Rehan, Abdi, Rengganis, Dewi, Mubarok, Budakngora, Lodaya, Wiralodra, Keong Mas dan yang jumlah aksaranya paling irit, SP, milik Bhinneka. Barangkali, para pelanggan lebih familiar dengan julukan ini daripada nama PO bersangkutan.

Di dalam jejalan ratusan kendaraan itu, terselip Karina berkode jurusan LE-113. Sepertinya produk 058 dalam status pinjaman saudara tuanya, Lorena, untuk mengisi trayek Banyuwangi-Lampung.

IMG_2658

Titik-titik kerusakan jalan pantura masih banyak tersebar di petak Cibanggala – Ciberes. Entah kapan pihak DPU pusat akan merealisasikan janji perbaikan kendati intensitas hujan sudah berkurang drastis. Ops, ini negeri salah urus, tak usah banyak menuntut pada petinggi republik mimpi…

Jederrr…jederr…jederr…

Rasa-rasanya, sambungan las hendak lepas dan baut-baut penyangga bangunan Jetbus HD ini mau rontok saat terperosok ceruk-ceruk nan dalam di depan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi.

Kerusakan dan kemacetan jalan adalah penyumbang terbesar menjulangnya cost maintenance bagi operasional PO akhir-akhir ini. Bodi bus-bus AKAP kian tak awet dan cepat berisik, kaki-kaki rakus mengkonsumsi ban dan kampas rem, beban kerja mesin bertambah berat, dan dalam jangka panjang akan memperpendek life time onderdil serta umur ekonomis kendaraan.

Peristiwa horor hampir saja terjadi di distrik Sukasari. Seorang biker sempoyongan hendak jatuh setelah dicaplok liang, membuat Kemenangan yang sedang menguntit menginjak tuas rem sedalam-dalamnya. Ingat akan kejadian lima tahun silam, kala bus yang aku tumpangi menggilas pengendara motor hingga tewas seketika di Kendal. “Semoga peristiwa memilukan yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri cukup sekali terjadi, sekaligus terakhir kali,” pintaku kala itu.

Kini, bus yang dilengkapi fasilitas reclining seat minus leg rest, bantal, selimut, toilet hingga hiburan audio-video ini mencoba menyempitkan gap dengan pantat Kuda Tulungagung, AG 7515 UR. Tak ada nafsu yang meluap-luap untuk mencundanginya, lantaran sebentar lagi bakal ada kewajiban yang wajib diemban. Yakni men-service makan malam bagi segilintir penumpang.

Pamanukan, 17.40     

Menu buffet tiga sehat tanpa lima sempurna yang terdiri dari nasi putih, telur pedas, sayur sop, sambal tahu, kerupuk serta teh manis disajikan.

DSC_0779

Itulah kekhasan hidangan Rumah Makan Nusantara 2. Seumur-seumur mengaktori peran sebagai karyawan PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), baru inilah aku mampir di “saung” yang bersebelahan dengan outlet Wijaya Subang, diler resmi mobil pabrikan Toyota.

DSC_0782

DSC_0784

DSC_0780

DSC_0775

Hampir  sejam “masa reses”, namun selama itu pula PO Kemenangan take a rest alone. Entahlah,  PO apa saja yang bermitra dengan rumah makan yang berdiri di atas turut tanah Jalan Raya Pamanukan km. 2,5, aku juga kurang tahu. Hanya ada plang nama PO Zentrum tertempel di dinding. Namun setelah diakuisisi oleh Tri Sumber Urip Group, apa iya masih “dimasukkan” di sini?

Subtitusi pengemudi dipentaskan kembali. Rupanya, driver pinggir yang tadi adem ayem mulai panas seiring rona lembayung melukis langit.

It’s showtime…

Belum lama melakukan warming up, titik kulminasi kerusakan Pantura menghalang di depan Pasar Pusakanagara. Jalanan sungguh-sungguh acak adut dan siap menelan siapa saja yang lengah dan kurang waspada.

Harapan Jaya AG 7049 US terlalu enteng untuk didahului. Dan kekalahan OH 1626 itu terbalaskan oleh Menara Jaya “Dona Doni” yang lari kesetanan saat mengaspal di bentang Sumur Adem.

Di Pasar Patrol, bus mengangkut dua penumpang imbuhan. Dari hasil pembicaraan telepon antara awak kabin dengan owner, memang ada arahan untuk mengambil sewa tambahan bilamana saldo bersih dari penjualan tiket masih defisit untuk menutup biaya operasional.

Sebagai newbie di belantika “antar provinsi”, aku maklum dan mafhum dengan kebijakan yang demikian. Apalagi PO Kemenangan bukanlah modalis besar.

Saat melangsungkan joyride trayek Madura, tanpa gembar-gembor advertising yang meriuhkan bursa terminal-an. Bahkan, timing buka jalurnya pun menurutku kurang pas. Mengapa bukan momentum Idul Fitri atau bahkan Idul Adha, saat perantauan Madura menyelenggarakan mudik besar-besaran?

Dan hematku, untuk menciptakan image serta branding yang kuat, perlu menciptakan livery tersendiri buat armada-armadanya, bukan bawaan PO sebelumnya. Bukankah itu salah satu bahan pencitraan yang cukup menjual serta tepat sasaran!?

Dari curi dengar percakapan itu pula, aku pun tahu bahwa tingkat hunian kursi dari Jakarta masih kedodoran, berbanding terbalik dengan arah ngulon yang mulai nge-seat. Masih dibutuhkan banyak usaha, perjuangan dan kerja keras lagi dari semua lini operasional bus yang bermarkas di Jl. Kol. Sugiono No. 88, Surabaya, itu untuk dapat bersaing dengan PO-PO mapan lainnya.

Baru saja hendak berangkat kembali, mendadak seorang lelaki memohon izin untuk turun.

“Pak..Pak…tunggu sebentar! Mau ke apotek, beli obat!” bilangnya dengan tergesa-gesa.

“Iya, Mas, tapi jangan lama-lama ya!” pesan Bapak Sopir.

Klajaran Kulon – Jatibarang, 18.50 – 19.55

Garuda Mas berjubah Skyliner jadi pemandu perjalanan kali ini. Berdua saling seiring-sejalan, bergandengan erat, merenda asa sepagi mungkin menggapai tujuan akhir. Sayang, kebersamaan yang terjalin dirusak oleh kehadiran orang ketiga. Dialah Evonext Nano-Nano jurusan Madura. B 7916 WB mengacak-acak barisan dan terkesan mendorong-dorong Garuda Mas ber-engine Hino RK8 untuk memutus kemesraan dengan PO Kemenangan.

Tak padam semangat, bus dengan corak tubuh bermotifkan tribal sulur tanaman ini terus melaju. Meski galau ditinggal “pacar sesaat”nya yang telah direbut Pahala Kencana, dia cepat move on.

“Dendam kesumat”nya coba dilampiaskan pada Pahala Kencana, Jetbus, B 7905 IZ, yang kini semakin mepet posisinya. Memforsir rpm di atas angka 2000 rupanya tak sanggup juga meladeni polah aset milik Pak Hendro Tedjokusumo.

Byar…byar…byar…

Sorotan cahaya lampu highbeam memantul dari kaca spion. Tanpa banyak cingcong dan umbar terompet, varietas Evonext Pegangsaan yang lain tahu-tahu menyodok dari sisi kiri.

Byar…byar…byar…

Reffrain itu terulang kembali. Tak berselang lama, Another Hino RG berkerudung Evonext, B 7298 IS, diam-diam menikam pula dari belakang.

Wownever ending RG, banter banget!

Secara kolektif, tiga Evonext Pahala Kencana yang semuanya ngelen ke “arena karapan sapi” layak dapat predikat sebagai man of the match malam ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s