Mabuk Kemenangan (3)

Posted on


Kertasemaya, 20.10

Serangan spartan yang dilancarkan Kemenangan secara bertubi-tubi ke jantung pertahanan Pahala Kencana, B 7905 IZ, membuat kinerja OH 1626 itu kelelahan. PO liliput berdaulat atas PO goliath.

Rival sepadan kembali didapatkan. Kali ini Garuda Mas B 7732 WB yang memberikan perlawanan alot dan liat. Dua kali upaya untuk menggusur posisinya kandas, selalu nyangkut di buritan  truk lantaran Hino AK8 berstrata ekonomi 2-2 non AC itu punya sifat kepala batu, tak sedikitpun legowo untuk mengalah.

Meski beda trayek, bukanlah kompetitor dalam liga yang sama, mereka layaknya dua tokoh animasi kartun Tom dan Jerry.  Aksi kejar-kejaran yang dipertontonkan cukup menegangkan. Aku pun senyum-senyum terhibur. Bahkan naluri liarku tak berani bertaruh bahwa rear engine bakalan berjaya mengungguli front engine.

Wusss…

Tanpa disadari, sebuah wujud Legacy Sky, B 7921 IZ, yang lagi-lagi bagian dari family Ombak Biru menyayat jalur kanan, mendegradasi trap Kemenangan berikut Garuda Mas. Metode overtakingnya ciamik. Halus, smart, dan  tanpa terdeteksi radar. Silent killer, mungkin ungkapan yang cocok buat menyanjungnya.

Tegal Gubug, 20.35

Pasar sandang terbesar di Asia Tenggara hendak memulai hari pasarannya yang jatuh pada Sabtu esok. Pelat-pelat mobil luar Cirebon menyesaki kantong-kantong parkir. Bahkan, pedagang-pedagang baju dan kain dari wilayah pesisir timur, dari mulai Pasar Kliwon, Kudus, hingga Pasar Jatirogo, Bojonegoro, pada eksodus mengambil barang kulakan dari Tegal Gubug dan mulai meninggalkan Pasar Tanah Abang.

Mungkin, pergeseran para pelaku ekonomi itulah yang membuat pasar seluas 30 ha ini menjadi simpul kemacetan baru dalam lima tahun belakangan ini.

Luragung Jaya “Yudhistira” meraup berbal-bal paket dan cuek bebek meski letak berhentinya melintang jalan. Seakan bus jurusan Kuningan-Jakarta itu mencibir Kemenangan, bahwasanya untuk mencetak profit, tak perlu membuka trayek sampai ujung dunia. Hehe…

Tol Palimanan – Kanci, 20.48

“Pak, saya turun Tol Ciperna!” rikuest seorang teteh dengan logat Priangan Timur nan kental kepada pengemudi.

Wew…sepanjang aku bersebadan dengan bus-bus Madura-an, inilah pemecahan rekor “penumpang meteran” terpendek. Cuma Klari sampai Cirebon! Benar-benar wanita dengan selera berkelas serta borjuis. Salam takzim buatnya…

Anak kembar punya ikatan telepati yang kuat. Begitu premis para psikiater.

Tak dinyana, HR77 “Legendaris” menyebelahi PO Kemenangan. Dua armada persis identik, sama-sama eks PO Tridifa Trans, sama-sama bertipe Hino RK8JSKA-NHJ, sama-sama mengusung bentuk Jetbus HD jahitan Adi Putro, sama-sama mempertahankan livery lama, dan sama-sama berkarya sebagai bus malam setelah disapih dari induknya, kini berdiri sejajar.

Tapi mengapa tak ada sikap basa-basi, saling sapa, setidaknya bersulang klakson? Justru diem-dieman sebagai saudara sebiologis?

Malah, tim Solo itu menaikkan gengsinya dengan mendongkrak kecepatan. De javu, lagi-lagi… Kemenangan “dipailitkan” oleh Haryanto.

Apa segampang ini bus yang juga punya izin AKDP untuk mengoperasikan line Surabaya-Banyuwangi menyerah?

Ternyata tidak!

Dari jauh, pendar lampu belakang dari konvoi rapat lima unit bus samar tertangkap retina mata. Semuanya berbanjar di sisi kanan, karena lajur satu terhambat truk gandeng yang merayap pelan.

Dengan kalkulasi yang cermat serta teliti, pedal gas pun dibejek secara intens. Dalam speed tinggi, satu persatu, barisan itu terlewati. HR77, Jetbus Pahala Kencana, Harapan Jaya AG 7049 US, serta kompatriotnya, AG 7494 UR.

Tinggal satu lagi aset Ibu Hartatik Cahyana, AG 7678 UR, yang masih melenggang di depan. Ruang menyalipnya kian ciut karena pantat truk di muka kian mendekat. Mau tak mau, aksi jilat sapi dilanjutkan nyetik tipis dan goyang kanan dilakukan secara kilat. Hal yang membuat sitting beauty-ku di bangku 1A  meradang! Panas dingin, Rek! It’s trully nekat!

Tapi, babak klimaks itu terpaksa di-break, karena cadangan bahan bakar kian tergerus. Proses refuel akan dilakukan di SPBU rest area tol Cirebon. Niatan itu dianulir, ternyata antrian truk yang hendak mengisi solar juga panjang menjuntai, karena dari delapan dispenser warna abu-abu, hanya dua yang difungsikan.

Sebagai gantinya, pom di daerah Kanci dibayar tunai untuk menyuntikkan infus cair sebagai nutrisi utama penggerak mesin varian J08E-UF.

DSC_0738

Dan di pitstop imajiner ini pula dilakukan lagi barter jabatan pengemudi.

Etape Kanci-Losari-Brebes tak ubahnya jalan tol bebas bayar. Kanal sunyi yang dibangun etape sepanjang hampir 50 km benar-benar menggoda para speed addict. Laju bus kian melesat, tanpa rintangan berarti. Lubang-lubang yang bertebaran pun masih bersahabat diredam telapak roda, meski dilindas dengan kecepatan tinggi.

Gajah Mungkur ber-STNK B 7070 IS serta Medium Bus Aladin Cirebon-Tegal-Semarang dibuat tak berdaya mengikuti ulahnya. Bahkan, sempat pula beradu sprint dengan lokomotif CC 206 yang menyeret rangkaian 10 gerbong barang di daerah Pejagan. Namun, lambat laun, PO Kemenangan keteteran mengimbangi output engine bikinan GE Transportation, Amerika, itu.

Brebes – Pekalongan, 22.17 – 23.58

Hujan deras mengguyur kota industri telur asin. Sikap hati-hati diambil dengan mendemosikan skala jelajah ke level ekonomis.

GMS “Missile2” serta Sindoro Satriamas kode 223 kuasa melampaui, menodai prestasi PO Kemenangan yang sebelumnya digdaya meruntuhkan tampuk Gunung Harta, DK 9131 GH, di Desa Suradadi, Tegal.

Rasa kantuk yang datang tak kugubris. Film layar lebar yang disiarkan kaca depan bisa-bisa mubazir bila dilewatkan dengan tidur. Apalagi melihat semangat juang driver berusia senja yang masih panggah menggeluti rute ratusan kilo tiap hari, membuatku mengagungkan kata salut dan apresiasi kagum.

Berikutnya, Garuda Mas “Lanange Jagat” jadi pemeran pembantu. Marcopolo, B 7383 IZ, begitu gemulai menari-nari di atas catwalk Pantura.

Ngga dapat adiknya, kakaknya juga boleh…Mungkin itu yang ada di pikiran PO Kemenangan, setelah kisah asmaranya dengan Garuda Mas Skyliner selama mengaspali alam Eretan dikandaskan oleh Pahala Kencana.

Berdua pun memintal hubungan bilateral nan manis, membangun mahligai indah sepanjang garis khayal Petarukan – Wiradesa. Garuda Mas sebagai imam, Kemenangan sebagai makmum.

Setiap ada pertemuan, niscaya akan datang perpisahan.

Jembatan Siwalan, yang masuk wilayah Wiradesa, jadi aral keintiman yang telah terangkai. Kerusakan badan jalan di atas gelagar jembatan akhirnya jadi triggerit’s time to say goodbye”. Moda berkelas AC ekonomi itu salah pilih jalur yang steril dari lubang, sedangkan bus-ku terus meluncur dengan bantuan kontur kiri jalan yang lebih rata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s