Go [Green] Show (1)

Posted on Updated on


Jawa Dwipa, 14 November 2014

13.38

“Yang terminal turun sini! Depan macet…depan macet!” seru kenek Metromini 03 seakan mendeportasi lima sewa yang tersisa dari singgasana fiber seat berkelir jingga.

Kupatuhi instruksinya dengan bergegas menjejak daratan. Aku harus berkompromi dengan hajat PT. Jaya Kontruksi yang tengah berkutat merevitalisasi stanplat yang diampu oleh Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, sehingga menyebabkan kemacetan sporadis di bibir terminal.

Jpeg

“What the first come, I’ll grab it…”

Kali ini, tekad itu kuresonansikan menyikapi kebiasaan untuk menyelenggarakan metode go show bila berkehendak pulang ngetan.

En toh, telah kutanggalkan kefanatikan, ke-addict-an atau pengharapan pada merek (baca : PO) tertentu. Aku tak mau pilih-pilih. Aku bebas merdeka, tak disandera penyesalan andai yang kudapat meleset dari ekspektasi. Siapapun yang berjodoh denganku, aku mesti nerimo dan legowo. Yang demikian justru lebih mudah melahirkan rasa syukur dan menjauhkan dusta atas nikmat perjalanan.

Sorot mata menyudut jauh ke depan mengiringi langkah kaki yang kian mendekati lapak-lapak non permanen di luar pagar proyek, tempat agen-agen menjajakan dagangannya.

“Ah, slot AKAP cuma berisi Laju Prima,” gumamku, “Tak satu pun bus yang mengamalkan izin trayeknya melintasi tanah kelahiranku, menampakkan wujud!”

Kupandangi kesibukan para pekerja yang didaulat untuk membelanjakan anggaran senilai 47 miliar demi mempercantik wajah fasilitas publik ini agar lebih passanger friendly.

“Kerja…kerja…dan kerja!!!” sesuai jargon retorika pemilik sah mobil sedan Mercedes-Benz S600 Pullman Guard bernopol Indonesia 1. Hehe…

Sebalnya, suratan nasib sepertinya hendak menggoda kegalauanku saat dia mem-PHP dengan menghadirkan Harapan Jaya berkode 40. Dan daftar tunggu kian bertambah panjang, tatkala datang lagi sosok yang tak bisa memenuhi aspirasiku. Dialah Kramat Djati “Setra” jurusan Ponorogo.

Menit kesepuluh baru saja bergulir, manakala raut muka Jetbus HD berbalur dominasi warna hijau chartreuse merapat. Dari luar kaca, kondisi bangku penumpang terlihat kosong melompong, tiada berpenduduk.

Aha…rupanya ini buah penantianku! Bukan Pahala Kencana, Lorena, Akas Asri, Kramat Djati, Malino Putra ataupun PO Haryanto.

Jpeg

“Om, masih ada bangku?” tanyaku pada staf ticketing yang baru saja selesai me-loading barang di bagasi bawah.

“Sepi, Mas!” balasnya dengan mimik tak riang. “Tujuannya mana?”

“Rembang, Om. Berapa?”

Ditelisiknya kertas putih berlaminasi, berisi price list skema penarifan yang menjadi acuan dalam penetapan ongkos perjalanan yang akan ditanggung oleh calon penumpang.

“200, Mas,” jawabnya.

Seketika aku mengernyitkan dahi sebagai bahasa keberatan atas tawarannya.

“Ya sudah, 190 saja buat Mas!” pungkasnya mengunci pintu transaksi.

Jpeg

13.55

Dengan okupansi yang jauh di bawah target, hanya empat kursi yang laku jual, Gunung Harta dipaksa tinggal landas. Dan sepengetahuanku, ini termasuk kategori pemberangkatan prematur, karena adatnya take off pada rentang jam 14.30 s.d 15.00.

Sepertinya, keuzuran terminal tak mengizinkan tetamunya untuk ngetem berlama-lama karena keterbatasan lahan parkir. Thus, setiap bus wajib tepo seliro dengan berbagi waktu antarsesama.

Memanfaatkan shortcut yang dikreasikan oleh Jl. Perserikatan-Jl. Cipinang Baru Raya-Jl. Bekasi Timur Raya-Jl. DI Panjaitan-gate in Pedati, telapak keenam “donat hangus” mulai menemukan habitat yang cozy untuk mengoptimalkan performanya.

Setelah merasai lengangnya sepenggal jalan bebas hambatan Wiyoto Wiyono, lalu lintas mengental di KM 0 Tol Cikampek. Adanya pengerjaan concrete separator untuk menggantikan sistem pengaman guard rail yang jadi biangnya.

Terbukti, pagar pembatas berbahan baja kurang cukup ampuh dan safety untuk menahan impak dari  benturan kendaraan yang mengalami loss control. Tentu masih lekat dalam ingatan akan kecelakaan yang menimpa Mitsubishi Lancer EX si Dul, anak Ahmad Dhani, di Tol Jagorawi, juga kasus “loncatnya” Mayasari Bakti P. 39 Bekasi-Grogol di KM 13 Tol Cikampek pada awal tahun 2000-an, yang dua-duanya menyeberang jalur berlawanan sehingga menyebabkan tabrakan frontal.  Meski faktor human error lebih mengemuka, namun tragedi tersebut mengungkapkan fakta bahwa teknologi guard rail sudah masanya dikritisi.

Keenceran menggenang kembali hingga simpang susun Cikunir. Centang perenang muara pertemuan tiga ruas tol jadi pemandangan rutin di kala office hours. Terlihat Rosalia Indah PB 106 dan kawan sejamaahnya, 141, berjibaku meloloskan diri.

Mayasari Bakti AC-05 nomor lambung T-269 berjalan timpang sehingga dengan entengnya dilewati moda yang ngelen reguler di koridor Rawamangun-Surabaya-Malang ini. Sewa miring mengacaukan kaidah ilmu mekanika dan konsep keseimbangan yang telah diformulasikan pabrikan serta karoseri saat merancang bangunan di atas struktur sasis Hino era RK Turbo itu.

Berbanding terbalik 180º, kompatriotnya yang menggawangi celah Pasar Senen-Bekasi Timur, B-1027, dengan gagahnya mencengkeram lajur terluar, yang memang dikhususkan bagi kendaraan untuk mendahului atau berkecepatan lebih.

Jpeg

14.35

Wow…berkunjung ke planet baru tetangga bumi. Hehe…

Begitu parodinya saat “Property Mountainmelipir ke gerbang exit Bekasi Timur, berbarengan dengan keluarga Mayasari Bakti yang lain, beregistrasi B 7824 XA.

Berbondong-bondong, Maju Lancar seri D, Pahala Kencana-nya Mas Ferry Fonda, K 1707 B, trio Rosalia Indah; 391, 455 dan 457, dan Harapan Jaya 16, return to toll. Sementara New Shantika H 1743 BG asyik leyeh-leyeh di pelataran kantor kecil yang mengageninya.

Jpeg

SPBU 34.17119 di depan Depsos patut mendapatkan maqom yang mulia di mata pengurus PO-PO yang memiliki perwakilan di kota patriot. Tanpa uluran tangan pom bensin ini, bus-bus bakal boros waktu lantaran kesusahan mencari rongga u-turn untuk berbalik arah. Bisa-bisa mereka harus ke Pertigaan Bulak Kapal, atau bahkan memutar di Terminal Bekasi yang seringkali semrawut dan acakadut.

Jpeg

Belasan penumpang di ruang tunggu naik melantai. Separuh kapasitas hunian terisi. Batas minimal pendapatan untuk menutup bea operasional telah tercapai. Semoga ada pos-pos lain yang disinggahi untuk mencetak profit agar roda perekonomian bisnis angkutan senantiasa roll on.

Jpeg

15.20

Setelah hampir satu jam terdampar di planet Bekasi gara-gara kacau-balaunya pengaturan lalu-lintas di perempatan Cempaka, moda yang dibekali “mitraliur” jenis OM 906LA Euro III melanjutkan karir politiknya.

Di KM  25+200, Rosalia Indah berbusana Legacy SR-1 dibikin mati kutu sebelum gerbang keluar Cikarang Utama menyambut agenda city tour yang diemban Pak Heri, sang driver pinggir ini.

Lahirlah momen eyel-eyelan berebut jalan dengan GMS “Master Combat” di tengah pusaran kemacetan menjelang fly over Pasir Konci. Kemelut itu pun disaksikan oleh Sumba Putra AD 1583 DG dan Pahala Kencana ‘Anak Bawang”.


Jpeg

JpegSegera kukirim pesan di whatapps kepada ‘mandor’ GMS, Mas Dimas, “Tuh, Master Combat mau masuk pul. Siap-siap ya!” Tak selang lama, berbalas iming-iming yang menggiurkan. “Kapan naik GMS, Om? Pokoknya saya siap mengusahakan yang terbaik.”

“Sip, Mas, nanti aku kabari. Asal jangan diikutkan armada Comet XII. Kapok aku!” candaku. (Peace ya, Mas Dimas!)

Sebenarnya ironis menilik hasil blusukan di Cikarang Selatan ini. Cuma satu penumpang tambahan yang didulang. Pemubaziran tempo, solar dan tenaga kru, tentunya. Berhubung yang demikian adalah SOP perusahaan,  bagaimanapun repot dan ribetnya, amanat itu wajib diemban.

Rinai luruh ke seantero alam Karawang Barat. Aspal jalan sekejap kuyup kala tetesan air kian solid menciutkan luasan pandang. Bertiga bersama Rosalia Indah PB 106 dan Sinar Jaya “Wastem Style”, menyusun pawai rapi di lajur dua.

Aksi setengah nekat dipertontonkan ikon transportasi wong Gunung Kidul, PO Maju Lancar. Seakan cuek dengan kondisi trek licin dan kemunculan titik-titik blindspot, AB 7009 AW itu mengangkangi bahu jalan untuk memangkas ketertinggalan.

Jpeg

Hujan, yang bagi jombloers bermetafora menjadi 1% air dan 99% kenangan pilu bersama mantan yang kini ditikung orang, makin hebat mencurahkan muatan cairnya. Handycap alam tak menyurutkan bus yang memajang logo mickey mouse lagi cengar-cengir di atas awan sebagai simbol kenyamanan ini unjuk dominasi. Perlahan tapi meyakinkan, PB 106 AD 1495 AU, Sinar Jaya 18 RA jurusan Bobotsari, Warga Baru 486, bus karyawan Parahyangan BCB 175, Tunggal Dara “evolution wannabe” serta PO Sri Mulya Cikarang-Rajagaluh, anak asuh Bintang Sanepa Group, dilengserkan di petak antara KM 48 – KM 70.

Jpeg

16.32

Terlihat, calon pangkal ruas tol Cikapali (Cikampek-Palimanan) going on progress. Pengerjaan pilar-pilar penyangga gelagar jembatan yang sebidang dengan jalur rel kereta Jakarta-Bandung sedang dikebut. Proyek yang baru saja disidak oleh Menteri PU dan Pera Kabinet Kerja, Basuki Hadi Muljono, ini semakin tampak profil gigantisnya.

Jpeg

I wish, pada medio 2015, atau menjelang ritual tahunan idul fitri, setidaknya Cikapali sudah bisa di-soft launching untuk menyibak gelombang eksodus kaum urban yang hendak merayakan lebaran di kampung halaman masing-masing.

Amin, ya Rab…

One thought on “Go [Green] Show (1)

    purwanto77 said:
    28 November 2014 pukul 2:14 pm

    Setelah menunggu sekian lama, akhirnya terbit juga CaPer karya pujangga roda 1/2 lusin ini.. ^_^ Great Job Mas Didik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s