Go [Green] Show (2)

Posted on


Go [Green] Show (2)

Tak seperti Santoso “Lintas Malam”,  Luragung Jaya “Alter”, Sahabat “Sindang” dan Sahabat “Bentas” yang menjalani time out di tem-tem-an liar Cikopo, Chartreuse Green semakin mengembangkan layar.

Pasar modern Cikampek tampak menggeliat proses konstruksinya, seakan tak mau kalah gereget bertanding dengan pengerjaan tol Cikampek – Palimanan. Tak bisa dibayangkan bagaimana tambah kusutnya pertigaan lampu merah Cikopo jikalau Cikapali tertinggal dalam pembangunan. Bagi kaum PJKA yang begitu menghargai waktu pasti berharap, pasar yang bakal berdiri di atas lahan 30 Ha itu bersedia “sein kiri”, dan memprioritaskan jalan bebas hambatan sepanjang 116 kilometer untuk beroperasi lebih dahulu. ”Semakin lambat, semakin baik” baginya. Hehe…

Dua tetes rezeki kembali dipungut, masing-masing dari agen Cikopo dan Pangulah. Berbarengan itu pula naik pedagang oleh-oleh khas bumi Priangan, wajit cililin dan dodol garut. Nyentriknya, dari model penjualan ala drama monolog ini, pembeli terakhirlah yang biasanya mendapatkan harga paling murah.

16.58

Vintage of Pantura. Urat nadi transportasi penghubung Jakarta dengan kota-kota di utara Pulau Jawa dan kini mendapat stigma negatif sebagai lahan proyek abadi, seolah menjadi wahana show yang akan menantang fisik, konsentrasi dan daya tahan para abdi jalanan.

Lalu-lintas terpantau ramai lancar di ambang senja. Gunung Harta melaju dengan putaran mesin berpusing ria pada skala ekonomis. Pahala Kencana B 7861 IZ yang unggul daya gedor dibiarkan berlalu.

Brake air chamber pun bekerja secara sempurna menekan kampas rem untuk menghentikan pergerakkan bus yang jalurnya dipotong serampangan oleh Parahyangan AC 384.

Ciberes, surga dunianya pria-pria kesepian yang jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta, menghadiahkan hiburan audio dengan setingan SPL (Sound Pressure Level) ber-desibelitas tinggi. Raungan exhaust manifold Mitsubishi BM yang dibenamkan di kompartemen mesin PO Menara Jaya sukses memekakkan gendang telinga, saat obyek yang ber-tagname “Blazer” kena salip.

Lagi-lagi, hujan turun dengan derasnya. Kecepatan jelajah diturunkan. Meski begitu, pantat Pahala Kencana berkode W5 jurusan Wonogiri kian lekat dikuntit.

Dua sejoli berjalan beriringan, bahu-membahu menyisihkan Muji Jaya yang tengah diderek truk ban dobel, persis di depan rumah makan Markoni. Sepertinya ada masalah serius yang menimpa MD-46 itu, sehingga harus ditandu menuju bengkel swakelola di Ngabul, Jepara, sana.

Menjelang Desa Pamanukan Kota, arus kendaraan tersendat oleh pembetonan badan jalan. Batch terakhir OH-1526 ini bersabar mengantri di sela-sela Harapan Jaya Scorpion King H 380 dan Luragang Jaya, E 7598 YA, berbodi Pointer bikinan Tri Jaya Union.

Di halaman restoran Nusantara 2, Artha Jaya “Tondano” dan Langsung Indah “Lintang” tengah melemaskan sendi-sendi. Sebenarnya aku berharap muncul penampakkan Madu Kismo cap “Sumatera” line Pulogadung-Tuban. Ada Mas Dedy “Crew Penyayang” yang on stage. Sayang, saat kutanyakan posisi ter-update, laskar Karangturi, Lasem, masih terlilit crowded di Dawuan.

17.42

Azan magrib mengumandang di awang-awang ketika bus berpaspor kota apel ini hendak memberikan service plus berupa gala dinner gratis bagi pengguna jasa.

Pelataran pojok belakang Taman Sari laksana padang rerumputan, lantaran  legiun Gunung Harta memblokir bidangnya.

Spektrum hijau itu terkomposisi oleh N 7565 UA duta seri A Bogor – Ponorogo, N 7567 UA jurusan Bogor – Tulungagung, DK 9193 GH OH-1626 Bogor – Malang, GH-092 seri E Pulogadung – Ponorogo, serta “RN 285” GH-037 sebagai senator seri B Tangerang – Ponorogo.

Jpeg

Dari terakhir aku turut Nusantara NS-39 setengah tahun yang lalu, menu makan yang disajikan pun sami mawon, minim improvisasi. Nasi putih, sayur nangka, sepotong ayam, kering tempe, kerupuk serta segelas teh hangat jadi konstanta baku rumah makan yang berdiri di atas turut tanah desa Legon Kulon, Pamanukan, ini.

Jpeg

18.15

Belum genap lima menit melakukan restart, traffic flow kembali tersumbat di distrik Mundusari. Demikian pula arah sebaliknya.

Macet lagi…macet lagi…gara-gara proyek abadi!

Lepas dari area pengecoran, kembali Pahala Kencana, B 7289 BW, mengerdilkan derap langkah bus yang kukendarai. Sebagai obat pahitnya, Royal Safari H 1448 DC dipecundangi sesaat setelah menyeberangi Kali Sewo. Hal itu semakin menahbiskan realita bahwa urusan per-speed-an, armada Jatim-an lebih unggul ketimbang tim Solo-an.

Kandanghaur pun jadi subyek yang menyuguhkan derita bagi pengguna jalan. Sungguh berat nian beban yang ditanggung oleh entitas “ngaso mampir” bila setiap hari mesti “baku hantam” dengan kemacetan yg bersifat masif, sistematis dan terstruktur seperti ini.

Cuma kamu sayangku di dunia ini 

Cuma kamu cintaku di dunia ini

Tanpa kamu sunyi kurasa dunia ini

Tanpa kamu hampa kurasa dunia ini

Rancak kendang berirama koplo bertalu-talu mengiringi duet biduan biduanita, Brodin dan Tya Agustin, yang sedang melantunkan lagu cinta. Non-stop music judulnya, karena dari awal keberangkatan, a new pattern of dangdut itu terus mengalun nyaris tanpa jeda.

Meski para hater menuding bahwa koplo adalah musikalitas picisan, namun kita harus berlapang dada untuk mengakui bahwa warna musik yang diusung orkes-orkes melayu macam Sera, New Pallapa, Monata, Pantura, Romansa, Soneta atau Sagita mengharubirukan jagat hiburan di atas permadani hitam pada dasawarsa ini.

Koplo telah menyelamatkan ekosistem dangdut tanah air dari mandulnya kreativitas dan produktifitas para musisi. Dan yang membikin acung jempol, Cak Shodiq dkk memupuk dan merawatnya bukan dari jalur mimbar-mimbar nan glamour milik media entertainment, melainkan di atas panggung-panggung lapangan nan pengap dan berdebu.

19.11

“Awas…awas…awas!!!”

Serentak penumpang di barisan depan menyuarakan early warning system ketika ujug-ujug sebuah mobil Nissan X-Trail keluaran anyar mengerem mendadak, sementara laju Gunung Harta tengah meluncur dengan derasnya.

Pedal deselerator diinjak kuat-kuat, tapi celaka dua belas…Pak Oda, nama joki tengah ini, kehabisan space aman pengereman. Secara refleks dan spontan, lingkar setir dibanting radikal ke sisi kiri, dan alhasil, menggaruk-garuk jalan tanah di tepian selokan yang menganga lebar. Moda yang terdaftar di Ditlantas Polda Jawa Timur itu pun miring-miring dan terombang-ambing menggilasi lapisan makadam yang ekstrem bergelombang. Beruntung, kemudi masih bisa dikendalikan dengan mahir dan skillful, mencegah kemungkinan terburuk, bus akan terperosok.

Rupanya, adanya selisih ketinggian antara jalan lama dan beton baru yang membentuk kurva curam menjadi triggernya. Yang patut ditimpakan kesalahan tentulah pihak kontraktor yang lalai tidak memasang rambu-rambu peringatan dini tentang adanya perbaikan jalan.

Aku sisihkan tempo untuk chat dengan Mas Didik Supriyanto lewat piranti facebook messenger. Terus terang, soal seluk-beluk Gunung Harta, aku termasuk bocah kemarin sore. Hanya sedikit yang aku tahu, lebih banyak yang aku tidak tahu. Dari pelanggan seri A itulah, aku bisa  mengorek secuil knowledge tentang PO yang kisah riwayatnya babar di pulau dewata ini. Thanks atas asistensi virtualnya, Mas!

Usai melengserkan Setia Negara “Edelweis”, armada yang berkastil di Tabanan, Bali, ini bergandengan erat dengan PO pelat merah milik Perum Damri. Satu demi satu, konvoi truk-truk bertonase besar di-divide et empera-kan di sepanjang lingkar Widasari.

Hanya satu bus yang menjadi pesakitan oleh ekses kerukunan mereka berdua, yakni korps Palur Jaten, dengan ciri lambung bertuliskan 398.

Badai stagnasi hebat melanda teritorial Kertasemaya. Hampir 15 menit lautan kendaraan lumpuh, tak tahu sebab penyakitnya. Ada Pahala Kencana “New Marcopolo” di depan dan Luragung Jaya “Al Yahya”, E 7592 YA di samping kiri, ikut tak berkutik, terjerembab di dalamnya.

Tanpa dinyana, Kramat Djati, B 7481 IS menyabotase jalur lawan, disokong bala bantuan di belakangnya, yakni Setia Negara “Bento” dan Laju Prima B 7461 IS.

Dari pergeseran sejangkah demi sejangkah, Gunung Harta berjumpa celah sempit untuk mencoba peruntungan sebagaimana tiga bus sebelumnya.

Bertindak laksana mayoret bagi kendaraan lain yang turut serta membuntuti, “tapak haram” yang relatif sepi disisir. Setidaknya, tiga kilometer sulur keruwetan terlipat berkat intuisi tajam dan peran jam terbang pramudi.

Bogor Indah “Old Legacy”, GMS “Selendang” garapan New Armada, Rosalia Indah JB 2 dan koleganya 446, Handoyo “Oranye”, Harapan Jaya 29 serta 17, Lorena LV-340, OBL “Pepsi Blue”, Pahala Kencana “Nano-Nano” B 7787 IZ, Harapan Jaya AG 7066 US, Laju Prima berkode 96, Lorena jurusan Banyuwangi, serta Harapan Jaya 3, hanya bisa gigit jari, menyaksikan kelacuran kaum ngeblonger dalam menaklukkan deret antrean.

Pada simpul kemandekan barulah diketahui akar masalahnya. Adanya pengaspalan ulang yang bersinggungan dengan lokasi longsornya talud saluran irigasi Kliwed adalah musababnya.

Selanjutnya, iring-iringan empat bus berubah urutan usai Setia Negara “Bento” dan Damri  beridentitas 3425 menurunkan penumpang di Susukan. Dan kini yang jadi dirigennya adalah Laju Prima “New Marcopolo”, memimpin koor saat menembus kemacetan minor di depan Pasar Tegalgubug.

20.48

Tol Palimanan-Kanci membujur kaku di depan kepala. Di sinilah biasanya show off level top speed dipentaskan. Aset kepunyaan Bapak I Wayan Sutika ini berangsur trengginas. Penegasannya, Luragung Jaya “Reang” dilompati di KM 211, dan selanjutnya menyungkurkan Kuda Tulungagung berpenggerak Hino R260.

“Kalau tidak mengasapi, niscaya akan diasapi.”

Pemeo itu berlaku sahih di atas jalan raya.

Setelah membuka rekening gol, kini gilirannya kebobolan. Bee Trans, bus wisata dari Kota Kebumen, Luragung Jaya “Amazone” serta Pahala Kencana, B 7868 IZ dan saudara kandungnya, B 7861 IZ, mengumbar kelincahan tatkala melahap lapangan seluas bentang Plumbon – Ciperna. Gunung Harta pun mundur sejengkal.

Walaupun proses persalinan dari satu rahim, duo kuning ivory pecah kongsi dalam pemetaan alur navigasi. 61 IZ menerobos akses keluar via Kanci, sementara 68 IZ melenggang lurus mengarah gerbang Mertapada.

Jpeg

Uniquely brotherhood of  Pegangsaan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s