Go [Green] Show (3)

Posted on Updated on


21.10

Meng-copy karakter mesin diesel, bus ber-nocan GH-093 ini kian lama kian panas. Jalan tol sepanjang 35 km laksana gelaran karpet merah untuk mengukuhkan kedigdayaan “The Green”.

Bak film action, di mana sang jagon babak belur di permulaan skene, kini fase menapaki babak klimaks. Dengan lidah cemetinya, aktor utama semakin menggebu-gebu melontarkan cambukan ke selongsong enam injektor Mercy Elektrik agar semakin royal menyuntikkan kabut solar ke dalam ruang bakar.

Move on!

Aksi revenge alias balas dendam didemonstrasikan. Pahala Kencana “aluminium body” B 7868 IZ menepi, dinding bentengnya rontok, tak kuasa menahan gempuran bertubi-tubi. Demikian pula Bee Trans, AA 1616 AD. PO yang sebutannya sekilas memiliki kemiripan dengan bus pariwisata dari Jakarta Utara, Bee Bus, meraung hebat hingga kelelahan, saat kinerja dapur pacu diajak lomba lari di atas special stage yang bumby dan rigid.

Handoyo berbusana Panorama 3 tak luput mengangkat bendera putih lalu menancapkannya di papan petunjuk kilometer 245. And next, bus yang ber-cyber portal di www.gunungharta.com ini semakin merangsek ke bidang buritan bus yang (buatku) selalu ngangeni, Lorena.

Jpeg

N 7706 UA dan B 7186 PV seiya sekata, merangkaki akses keluar Pejagan, berdampingan menanti palang kereta api terbuka saat sepur Jayabaya pass away dan kompak mendorong-dorong Langsung Jaya “Comfort” agar menciptakan celah untuk di-overtake menjelang jembatan Cimohong.

Semestinya, panorama kerlap-kelip pendaran LED yang menghias pinggang produk P.363 LE-420 itu membinarkan lensa mata. Namun apa daya, kesadaran diri terhipnotis buaian air suspension nan mentul-mentul.

22.56

B 7206 XA.

Demikian kombinasi huruf dan angka yang terpindai indra penglihatan manakala aku terbangun dari peraduan.

Wow…Lorena Jetbus 2 lagi.

Berdua pun terlibat race seru mencaploki badan jalan yang merupakan poros koneksi antara Kota Pemalang dan kota batik, Pekalongan.

Asli Prima E-44 hanya jadi penonton ketika pemain “old track” dan “new comer” duel gengsi dan pamer hegemoni, membusungkan dada untuk meneguhkan siapa jawara Pantura sepanjang malam itu.

Sayang, permainan lampu riting LE-610 kurang ciamik sehingga gagal dijadikan panduan yang mangkus kala menguntitnya. Mau tak mau, pengemudiku mem-pilot-i armadanya secara mandiri dan berdikari, tak sepenuhnya menggantungkan titah “guru pembimbing” di depan.

Setelah melewati Jembatan Kali Comal sisi selatan yang berkeadaan ramai lancar, Gunung Harta mengungkit kembali denyut tensinya.

Tak kenal patah arang, ikhtiar gigih yang diperjuangkan moda berkapasitas 32 seat itu akhirnya ber-ending gemilang. Eksekutif Denpasar jebol defence-nya usai digerus habis-habisan dari semenjak Petarukan hingga Wiradesa.

Namun, euforia kemenangan itu hanya sesaat. Tiba-tiba turbulensi udara serasa telak menghantam kaca tempered samping, efek dari aliran aerodinamika yang diciptakan Pahala Kencana B 7875 IZ saat menusuk secara kilat dari belakang.

Banter tenan mitra juru masak Uun itu, Ju!🙂

Meliuk-liuk lah bus dengan etiket “Grand Father” ini menyasar belantara jati Roban. Usia kendaraan tak bisa berbohong, manakala tenaga renta OH Prima Sedya Mulya, AD 1449 CG, kewalahan untuk mengimbanginya di wilayah Pucungkerep, Subah.

Rimba “spooky” yang dulu identik sebagai sarang bajing loncat dan dicitrakan sebagai kawasan angker serta mistis seakan kehilangan kesemarakan menyongsong pergantian hari. Suasana sunyi dan wingit menyergap, mengantarkan Gunung Harta menderu sendirian tanpa sejawat. Hanya prestasi kecil yang diukir ketika Harapan Jaya kelas VIP, AG 7916 UR, dibuat tak berkutik saat menuruni jalan baru Sentul, Gringsing.

00.43

Rumah makan Sari Rasa, Jenarsari, kemudian disinggahi. Aku pikir bakal cooling down sementara waktu, seperti yang diteladankan PO Garuda Mas ataupun Kramat Djati, yang belum lama ini aku sebadani. Terbersit kemauan untuk menyantap nasi langgi, menu favoritku di eat area ini.

Tetapi, niatku bertepuk sebelah tangan. Checker hanya melakukan fungsi controlling, menyidak isi kabin dan memparaf manifest penumpang. Bus yang akan membuka trayek baru Jakarta-Lumajang-Banyuwangi ini beranjak pergi melanjutkan matchday-nya.

Tunggal Dara Putera yang dibebat busana revolution dibekap nafasnya, sebelum sebuah petrol station di distrik Cepiring mereduksi gelinding setengah lusin roda-rodanya.

“Bapak…ibu…bagi yang pengin ngopi, sholat atau ke toilet, silahkan turun!” demikian arahan yang dikumandangkan asisten driver manakala nozzle dispenser abu-abu di arahkan petugas SPBU ke mulut tangki BBM.

Walah…ternyata di sini rihatnya. Murah, meriah dan merakyat. Hehe…

01.12

20 menit kemudian, Pak Heri comeback, mengendali setir bundar Mercedes-Benz untuk sesi kedua.

Jpeg

Aku pun memeluk kembali tampuk Aldilla two in one, 3A – 3B, sembari mencicipi hidangan snack kemarin sore.

Jpeg

 

Jpeg

Movement bus yang dirilis ke pasar melalui diler Hartono Raya Motor ini tertahan lagi oleh pengecoran ruas Kalibodri, Kendal. Ahabot sanggane mengarungi samudera Pantura yang bergulungkan riak, bertiupkan angin taifun, berpayungkan awan cumolonimbus.

Sesudah menyetor mahar upeti ke Dishub Kota Semarang lewat perantara peron Mangkang, Gunung Harta menyegerakan setengah pengembaraan pamungkasnya demi menyingkat durasi masa tempuh. PO Ugama, AA 1440 AA, tersenyum kecut tertinggal dalam perburuan posisi terdepan.

01.44

Pfuh…untuk kesekian kali degup jantung ini tersengal dan terbata, memandangi lautan kendaraan yang diam, malang melintang, tak bergerak, di seputaran rayon Tugurejo. Mampet pet, buntu tu..

“Pasti gara-gara spot pembetonan di Krapyak,” terka batinku yang tengah meratap. “Pimpro-nya mengadopsi sistem Oracle sih…jadinya ora kelar-kelar!”

Distorsi kegetiran ini bertambah sungkawa, manakala aku jadi penyaksi betapa innocent-nya New Shantika “Panoramic”, Tunggal Dara 19 dan Purwo Widodo “Kian Santang”  mencederai etika berlalu-lintas dengan mengacak-mengacak jalan yang bukan haknya.

Kedengkian memuncak, kecemburuan membukit, menatap raut semringah Pahala Kencana divisi Bandung D 7839 AA, Harapan Jaya 19 dan Lorena LE-111 yang telah terbebas dari belit kemacetan saat kres dengan mereka. Berseberangan nasib, busku masih terseok-seok, meringkuk dalam kesesakan penjara jalur kiri.

Sebagai bentuk kepasrahan diri,  aku hanya bisa mengatupkan kelopak mata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s