Latest Event Updates

Muria-Raya United (1)

Posted on


Kalau bukan sebab dering telepon di siang itu, entah berapa lama lagi perhelatan tradisi akhir pekan dengan sedikit wah ini betah bersemayam dalam angan-angan.

Adalah perayaan ritual sakral yang merdeka dalam segalanya, tak terjajah aturan dan norma-norma. Saatnya pesta pora, hura-hura dan foya-foya menikmati kebebasan pulang ngetan, tanpa pening soal budgeting, tidak acuh perihal batasan waktu tempuh, dan tak terkurung oleh  jeruji PO-PO tambatan. Pengkondisian yang sengaja kuniatkan untuk mencari nuansa dan romantika baru dalam lakon mingguan; me-remove kejenuhan wira-wiri yang masih terus membelenggu.

“Pa, tadi malam keluarga Paklik M***** bersilaturahmi ke rumah,” istriku membagi warta lewat piranti komunikasi nirkabel.

“Bawa kabar apa, Ma?”

“Hari Minggu besok anaknya married, dapat arek Suroboyo,” ujar wanita yang hampir sembilan tahun menjabat sebagai ibu negara.”Kita diminta ikut iring-iring temanten!”

Surabaya! Ah, mana mungkin cukup waktu untuk melawat ke kota pemilik kosakata j*nc*k, jika hanya menggantungkan spacetime dua hari on weekend.

“Papa ambil cuti lah!” pintanya, meski aku juga sedang berpikir ke arah sana.

Tentu tetap kululuskan permintaan yang akan mengusik my workdays itu. Mengingat sosok ‘Bapak Cilik’ begitu lekat dalam kehidupan rumah tanggaku. Dia yang menghalalkan hubungan dengan calon pendampingku kala itu, dalam ikatan resmi yang bernama pernikahan. Beliaulah yang didapuk sebagai penghulu, host acara ijab kabul nan agung lagi suci bagi kami berdua.

Sekecil apapun bantuan yang diminta, pasti tak akan kutampik selama aku mampu. Demikian tekad yang kugaungkan sebagai wujud darma bakti kepadanya.

“Baik, Ma, aku cuti saja barang dua atau tiga hari.” pungkasku.

Kamis, 14 Februari 2013

16.16

“Kepada penumpang Raya non AC yang bernama Didik Edhi, mohon segera naik ke armadanya. Bus siap diberangkatkan!”

Baru saja aku kelar melunasi hutang salat asar di mushola pool, panggilan lewat pengeras suara itu terdengar menggema.

Ya ampun, baru seperempat jam lepas dari pukul empat, mengapa sudah diuber-uber untuk bersiap. Batinku memprotes.

Aku pun bergegas melapor pada seorang ticketing girl di bagian help desk, melakukan boarding pass untuk tiket yang kupermanenkan sehari sebelumnya. “Mbak, ini Didik Edhi.”

“Langsung naik ya, Pak. Busnya persis di samping kiri kantor.“ instruksinya dengan ramah.

IMG00308-20130214-1606

 “Mas turun mana?” tiba-tiba laki-laki muda mendekat dan kemudian menyapa.

“Semarang, Mas!” jelasku singkat. Rupanya, dia kenek bus yang akan menjadi transporter pembawa ragaku menuju kota pemproduksi kue lunpia.

“Eh, Mas, kalau mau lanjut ke Terboyo, enaknya turun mana ya?” selidikku, mengingat ini kali pertama aku menciptakan rute baru, menyimpang dari alur pelayaran lama untuk menuju kampuang nan jauh di mato.

“Kalau turun Krapyak, Mas kudu naksi. Kalau mau nge-bus, ya turun Sukun apa Banyumanik!” paparnya gamblang. “Jam dua-an sudah ada kok yang ke Terboyo!”

Catet…

Kurang semenit dari setengah lima teng, Si Nona (akronim dari non AC) itu menonaktifkan tuas pengunci parking brake.

IMG00323-20130214-1621

Meninggalkan teman dengan grade di atasnya, di antaranya gerombolan eksekutif AD 1503 AG, AD 1497 AG, AD 1511 AG, AD 1430 AG dan AD 1509 AG.

IMG00310-20130214-1612

Tak lupa pula bilang “Aku duluan ya!” pada pasangan strata Super Top, Legacy SR-1 dan  Comfort, yang masih kerasan berhabitat di markas Pulogadung.

IMG00315-20130214-1616

Gerakan agresif ditunjukkan dengan memotong paksa arus kendaraan yang menyemut di jalan protokol penghubung Pulogadung-Bekasi.

Mantap…walau hanya bersenjatakan ‘kavaleri’ tahun emisi 80-an, OH 1113 masih menyalak garang, menuruti karakter trengginas sang juru mudi.

Sayang, kesemrawutan yang berpangkal di pertigaan Igi hingga ujung Pasar Cakung memangkas tempo banter yang coba dirancang. Sementara ulah PO Setia Negara ‘Shely’, B 7377 WB, yang menginfiltrasi jalur motor kian menahbiskan premis bahwa Laskar Cirebonan adalah penganut paham “ora ngedan ora keduman”.

IMG00332-20130214-1651

16.56

Belum berselang lama usai menuntaskan transaksi di Gerbang Entry Cakung, anak kecil yang duduk di baris kedua muntah berulang.

Aku pun memaklumi, bus tanpa pendingin udara, identik dengan angkutan ‘orang udik’ yang jarang melakukan perjalanan jarak jauh. Wajah-wajah yang berdiam di atas ketiga puluh enam seat yang terpancang di kabin melambangkan warga dusun pelosok. Adalah hal yang lumrah, biasa lagi jamak, mabuk darat berteman akrab dengan modanya kau jelata. Aku harus kuat menahan jijik dan geli andai ada yang sukses mengotori geladak dengan lontaran cairan dari dalam perut.

Malu-maluin ibumu saja, Nduk…Nduk…!” damprat si ibu sembari membersihkan isi lambung yang berceceran di lantai.

Beberapa penumpang di sekitarnya menutup hidung, mungkin sembari mengomel mengapa orang tuanya tidak tanggap darurat dengan ‘kebencanaan’ seperti ini.

Sementara asisten driver dengan cekatan mengulurkan pertolongan. Bantuan yang berwujud kain lap dan kain kresek sebagai media antisipatif, diberikan. Inilah sikap positif yang dilanggengkan para kru sehingga PO Raya begitu dicintai penggemarnya. Nguwongke uwong, pepatahnya.

Dibarengi penampilan apik suara penyanyi Ratih Purwasih yang diputar melalui rekaman MP3, bus yang cuma punya semburan hulu ledak setara 130 tenaga kuda berinisiasi membangkitkan sisa-sisa nafasnya.

Kupandangi panel-panel yang terbenam di dashboard. Masih lumayan terbaca, mulai indikator water temperature, jarum skala rpm, serta penunjuk tekanan angin. Hanya speedometer yang mogok kerja, sama sekali jarumnya tak mau bergerak untuk menghitung seberapa cepat pusingan roda.

Tapi di mana pusat kontrol perangkat AC-nya? Ops…aku lupa kalau ini minus penyejuk ruangan. Hehe…

IMG00319-20130214-1617

Pantas saja nangkring sebiji kipas angin mini sebagai penyegar lapisan kulit Pak Sopir di kala didera kepanasan.

Wuss…wuss…

Hembusan angin yang cukup telak menyusup melalui sela-sela kaca geser yang terbuka ketika ‘Grobogan EpiZentrum’ TZ-25, K 1677 DF, meng-overtake secara barbar dari samping kanan, di Km. 49 JORR Cacing.

IMG00337-20130214-1709

Wow…kebisingan dan keriuhan udara mistis Pantura lebih bisa dirasai dengan bis non AC.

Di Interchange Cikunir, bersualah dengan salah seekor member of Haryanto Group. HR-04, demikian kode yang dicantumkan.

Hal itu mengundang decak kagum ibu-ibu yang duduk di sebelahku.

“Bus Lor (utara) sae-sae ya, Mas!” pujinya jujur dan mangkus.”Saya paling suka kalau lihat Shantika.”

Weleh…weleh…ternyata lumayan melek bab dunia per-bus-an. Dari tutur cerita selanjutnya, beliau adalah pengguna setia Raya dari tahun 1980 hingga sekarang. Tak sekalipun pernah berpaling dari PO lain, bahkan untuk trip kali ini, beliau gratis tis hasil barter 10 tiket yang dikumpulkan sebelumnya.

Dalam kemampatan lalu lintas, Damri berbodi Magneto B 7111 TAA serta Mayasari Bhakti B0904 mencuri derapnya. Sementara HR-04 tercecer di belakang karena terhalang ratusan obyek perintang.

Lepas dari area Cibitung, energi gedor mulai meluap-luap. Output mesin yang full untuk menggerakkan flywheel tanpa digandoli tali kipas penggerak kompressor AC, benar-benar membuatnya meroket untuk ukuran bus tua.

Bus karyawan, PO Parahyangan B 7273 IS serta Restu N 7710 UG dikandaskan. Meski untuk urusan top speed di lintasan sepi masih dikalahkan oleh Sahabat ‘Robet’ dan Sinar Jaya 73DX.

Wuss…wussde javu, dan terjadi lagi hempasan angin mengibarkan gorden-gorden pelindung kabin dari sengatan cahaya mentari.

Kini giliran HR-04 dengan tagline ‘Bara Tangguh’, menyejajari. Dari balik kaca, pramudi MB OH 1526 itu memberi kode da-da-da-da. Driver Raya yang secara senioritas sepertinya lebih unggul membunyikan klakson dan mempersilahkannya untuk mendului. Sebuah persahabatan kental dan erat antarsesama abdi jalanan.

IMG00341-20130214-1734

Menjelang gate otomatis Cikarang, Gunung Mulia Proteus dan 73 DX kembali tertinggal karena bus yang menancapkan kaca depan model two pieces ini menang dalam pemilihan jalur yang lebih steril.

Sembari menikmati snack gratisan, kupandangi tarian HR-04 nan super eksotis.

IMG00326-20130214-1640

IMG00330-20130214-1645

Meliuk kanan kiri, membelah sirkuit, mengiris kepadatan, memamerkan lampu rem yang terus berkedip-kedip, menjunjung nama kehormatan sebagai the new alap-alap.

Namun sayang, sessnya bus langganan itu tak serta merta membikinku untuk selalu stay tune, beristikamah mereguk kehandalannya. Ada kalanya muncul aspirasi bosan dan jemu lantaran tiap saat dicekoki racun speedy. Itulah alasanku mengapa memilih Raya sebagai wahana perselingkuhan dari artis-artis papan atas pelat K. Ingin kugali dan kurasai sendiri, benarkah bus yang dikalungi medali dangerously comfortable coach bisa disatukan dengan DNA Muria-an yang mengalir di dalam nadiku? 

Aku pengin menyelenggarakan perkawinan multi-etnik  antara unsur Muria dan zat Raya. Muria-Raya United, demikian aku mengistilahkan. Bisakah klop dalam persenyawaan heterogen antarkeduanya?

GreenZational (3)

Posted on


Setelah memberi kesempatan isoma (istirahat sholat makan), kurang lebih 40 menit kemudian, Lorena produk 299 ini melanjutkan pengembaraan  menuju kampung halaman Ida Ayu dan I Wayan. Subtitusi driver dijalankan, meski urusan habit dan attitude driving, tak ada perbedaan menyolok alias setali tiga uang dengan joki pertama. Cukup-cukup santun di jalan, lemah gemulai bahkan cenderung kelewatan, hingga mempersilahkan jenis kendaraan apapun untuk mendahuluinya. Hehe…

Meski begitu, Gajah Mungkur Evolution sempat disisihkan sebelum menyejajari sebuah Mikrolet M-15 yang lampu belakangnya blank out. Entah mau kemana angkutan trayek Tanjung Priok – Kota ini, hingga nyasar ke rute bus malam.

Benerin dulu tuh lampu, nyiksa mobil belakang!!!” pekik Pak Sopir lantang, mengingatkan kita bahwa potensi kecelakaan membesar andai pengguna kendaraan abai terhadap kelengkapan kendaraan termasuk lampu-lampu. Sebuah tindakan yang patut diacungi jempol, selaras pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Belum lama berjalan, di Patrol, bus berhenti lagi untuk loading paket. Satu persatu, penggiat malam Pantura berlalu. Dari urutan depan, tercatat Santoso Hinomaru, Raya Panorama DX, serta Rosalia Indah 252. Eretan pun turut menjadi saksi kegarangan PO Sahabat Al Zidan yang benar-benar melumpuhkan pergerakan si penyandang gelar ISO 9001 : 2000 dari Anglo Japanes American (AJA) ini.

Dari Losarang hingga menyusuri bypass Widasari, bertemulah kawan seiring sejalan, Pahala Kencana B 7903 IW. Laksana Proteus itu rajin membimbing New Celcius, sampai-sampai aku mengandaikan bahwa “tanpa pernah sejengkal pun” melebarkan jarak. Tapi sayang, setelah berakrab ria sepanjang hampir 10 km-an, provokasi yang dilancarkan PO Sumba Putra memporak-porandakan pertemanan yang telah dikreasi. Ombak Biru bertrayek Jogja-Klaten sepertinya tak terima dikompori geberan gas mesin tua Galaxy Coach berkode 19, saat disalip dari sisi kiri. Dilupakannya Lorena yang adem ayem ini, bergegas dikuntitnya bus ranah Wonogiren itu, dan dalam hitungan belasan detik, tak tampak lagi sorot back lamp-nya. Busku kesepian lagi…

Jujur saja, aku turut prihatin atas dibukanya kembali bypass Widasari, belum lama ini. Jalan pintas ini setidaknya membunuh separuh eksistensi jalan lama, yang membujur antara pertigaan Celeng hingga pertigaan Widasari, sebab kini tak laku lagi dilirik bus malam. Padahal, sirkuit ini adalah stereotip jalan Pantura tempo dulu, yang hanya terdiri dua lajur, dengan pepohonan besar yang mengapit kedua sisi jalan. Saat musim mangga Indramayu yang terkenal besar dan ranum daging buahnya, bertebaranlah pedagang musiman yang menggelar lapak di pinggir jalan. Sebuah harmonisasi indah antara jalan Pantura, hasil alam dan masyarakat setempat.

Di trek yang relatif lurus inilah panggung catwalk para driver unjuk kebolehan dan adu nyali, main loop-loopan, melarikan armadanya sekencang-kencangnya sambil menari-nari meliukkan badan bus di tengah barisan angkutan berat yang merayap. Terlebih saat melewati area pembuangan residu produksi gas alam berupa kobaran api yang menyala-nyala ke awang-awang, serasa jilatan panasnya turut membakar pertarungan medan Pantura yang dari dulu memang terkenal panas. Malangnya, kini semua hanya tinggal kenangan, jadi pemanis bibir penutur cerita tentang kekeramatan jalur Pantura.

Kertasemaya–Tegal Gubug-Tol Cirebon tak mampu aku tangkap lagi gambarnya, kalah oleh pemejaman mata secara bergilir. Sejenak terjaga saat bus yang dilengkapi fasilitas smoking room ini menapak teritorial Gebang. Yang artinya, exit Kanci yang dipilih, bukan melenggang ke tol Pejagan.

Bangun kembali di ruas Brebes-Tegal saat posisiku menempel Lorena rasa Patriot yang mengusung trayek LB-2406, tujuan Tegal–Slawi–Purwokerto. Sementara dari arah berlawanan, arus bus malam yang mengangkut pemudik yang akan kembali meladang seolah tiada jedanya.  Bus Kudus-an, Solo-an, Ponorogo-an, Jogja-an, Pacitan-an, Purwodadi-an hingga Wonogiri-an seakan tak putus, sambung menyambung menjadi satu. Dugaanku, demand atas bus masih begitu tinggi, calon penumpang membludak berkaca pada armada PO Nusantara yang sempat kutatap kaca depannya, dengan kode jurusan aneh-aneh, semisal NS-26, NS-100, NS-102 dan NS-108, yang tak bakal dijumpai pada hari biasa.

Agen Kota Tegal. Controlling kedua yang dilakukan setelah Cikampek, menambah deretan  spot yang kudu dihampiri bus-bus Lorena-Karina arah ke timur.

Ada kejadiaan yang mencuri perhatianku saat bus bervolume silinder 6374 cc ini menjilati lapisan aspal daerah Dadapan, Tegal. Tak selang lama setelah disalip Rosalia Indah 206, tiba-tiba mengalir deras Pahala Kencana RK8 K 1603 B dari sebelah kiri dan kemudian membabat habis halang rintang kendaraan-kendaraan lain di depannya. Dari larinya yang ngotot dan seolah kesetanan — ingkar dari adat istiadat divisi Kudus — aku menduga Mas Ferry Fonda sang penghelanya. Masih terngiang kabar itu, bahwa selama lebaran ini dia jadi serep armada 1603. Jangan-jangan memang benar adanya.

Mendekati lingkar kota Pemalang, bus yang mengadopsi teknologi mesin intercooler turbocharger berhasil mencetak skor, mengandaskan langkah Santoso seri N, Pasar Kemis-Klaten, sebelum setor muka ke checker yang didapuk juga sebagai agen chapter Kota Ikhlas.

Aku pun nyenyak kembali, dan tersadar saat kru meminta stempel dan bubuhan tanda tangan dari kantor perwakilan Pekalongan. Pufhh…Jakarta-Pekalongan sampai empat kali wajib lapor, yang artinya ada sekitar setengah jam masa yang tersita. Cape deh

Mode alam sadarku yang on-off melulu, mengubur diorama malam kawasan hutan jati Alas Roban. Melek mata kulakukan secara paksa saat kurasakan busku berhenti begitu lama, tepat di belakang OBL Jakarta-Solo Si Hantu Laut B 7777 IZ. Rupanya, berbarengan berhenti di agen Krapyak, Semarang, yang letak keduanya berdekatan.

Ada sedikit permasalahan di sini. Armada bertahun emisi 2011 dipending keberangkatannya, menunggu Karina Madura di belakang yang diputus perpal karena ada permasalahan engine.  Akhirnya, dapat limpahan penumpang tujuan Bangkalan serta Lamongan, yang akan didrop ke rumah makan Taman Sari, Tuban, menanti bus yang sesuai jurusan. Kasihan juga mereka. Tapi siapa yang berharap ada kejadian yang cukup menganggu di tengah acara bepergian?

Kupandangi lagi display waktu yang tak pernah mogok kerja itu, tertulis 01.24. Loh, meski lamban dalam urusan lari, menurutku masih di dalam range waktu tempuh yang wajar, 9-10 jam untuk Jakarta–Semarang. Little surprising tentunya bagiku. Padahal di awal trip, aku terlalu underestimate. Semisal jam 6 pagi LE-612 mampu menurunkanku di Rembang, sudah merupakan rekor yang patut dihargai, mengingat rapor merah saudaranya, KE-460 Rawamangun-Bojonegoro yang seringkali tengah hari baru tiba di bumi Dampo Awang, padahal beda jam keberangkatan dari Jakarta tak sampai 3 jam.

Bisa tembus 12 jam kah,  dengan menyisakan spesial stage Semarang-Rembang?

Dengan kendali beralih kembali ke driver pertama, bis berdaya hingga 260 tenaga kuda ini melanjutkan derap kaki-kakinya dengan santai, tanpa pernah memforsis kinerja enam batang torak yang terbenam di dapur pacu. Tak urung, di arteri Pelabuhan Tanjung Mas, Budi Jaya bertagline “Arjuna Mencari Cinta” dan Pahala Kencana B 7689 IV melancanginya. Kemudian ditiru juga oleh Haryanto The Ocean di wilayah Genuk dan Nusantara Irizar jadi-jadian di Sayung.

Di batas kota Kudus mengarah Pati, terjadi kecelakaan frontal yang melibatkan mobil travel vs Toyota Kijang. Mikrobus terguling melintang di tengah jalan, sementara MPV 2000 cc terbang dan nyungsep di rumah warga. Sepertinya kejadiannya belum lama terjadi, terlihat dari kesibukan warga dan aparat kepolisian yang tengah berupaya mengevakuasi bangkai kendaraan.

Entah tidur part ke berapa yang aku adegankan, saat raungan mesin Hino Putri Michiko-nya Nusantara koridor Poris Plawad-Kudus-Rembang menjerembabkan “The Green”, membuyarkan peraduanku. Kuedarkan pandangan sekeliling, hmm…areal tambak garam Kaliori. Sesegera mungkin aku menghadirkan seluruh nyawaku, karena 5 km lagi bersiap turun di alun-alun tanah kelahiranku tercinta, yang malam itu masih dipayungi duka nestapa lantaran pasar kota luluh lantak diamuk jago merah, hingga membumihanguskan sebagian besar kios berikut isinya, hari Rabu sebelumnya.

Dan tepat pada pukul 04.10, saat detik-detik menjelang adzan subuh berkumandang dari Masjid Agung Rembang, aset berharga yang asal muasalnya dari jerih payah Bapak GT Soerbakti itu menyelesaikan tugas dalam melayaniku. Tak sampai 13 jam untuk memangkas jarak sejauh hampir 600 km.  Lumayan hebat juga…

Sungguh beruntung lika-liku perjalanan yang baru saja paripurna kuemban. Berjodoh dengan armada teranyar, disempurnakan dengan ketepatan waktu tempuh. Meski miskin determinasi, tertatih-tatih dalam berlari, pelayanan off board dan on board yang perlu ditambal sana disulam sini, namun setidaknya tercapai cita-cita pribadiku untuk tetap lestari menggandeng tangan Lorena dalam satu pengamalan ritual mingguan. Bagaimanapun kondisi dan keadaannya, meski kini lebih sering dihujani kritik, jadi ajang cemoohan hanya lantaran emblem OH 1725, dipandang tak lagi istimewa, hingga muncul sikap apriori menjurus antipati terhadapnya, aku tak bakal bisa menghapus aroma keharumannya dari palung sanubari terdalam.

Karena dialah alasan mutlak, yang telah menyihirku hingga akhirnya aku terkagum-kagum pada magnificient sebuah bus. Di mataku, itulah “kesensasionalan” yang melekat abadi pada sosok magis yang bernama Lorena.

Aku sendiri menjuluki kesensasionalan itu dengan “GreenZational”, hasil rekayasa peng-akronim-an idiom “Green Sensational”.

IMG00290-20110909-1504

Sah-sah saja, kan?

GreenZational (2)

Posted on


Pengabar waktu di pojok depan kiri kabin memampangkan angka 15.26, saat Lorena mengangkat jangkar dan mengembangkan layarnya.

Bagiku, kehadiran bus ini ibarat gol balasan, yang dengan jelas mengisyaratkan bahwa “The Green” masih punya kuasa dan stamina untuk berkiprah dalam percaturan per-bus-an tanah air, bersanding dengan kompetitor-kompetitornya. Kepercayaan Ibu Eka Sari pada mesin Mercedes Benz terbaru seri OH 1526 E3, dan selanjutnya dibingkai dalam busana terbaru gubahan Rahayu Sentosa, New Celcius, seolah membungkam anggapan di forum terminal-an bahwa Lorena-Karina Grup telah melewati zaman keemasannya. Who knows, sensasi-sensasi kecil yang ditunjukkan, seperti penambahan armada kinyis-kinyis ataupun yang sekedar ganti baju, pembukaan trayek baru serta derivikasi bidang usaha hingga menjamah angkutan Trans Jakarta dengan bendera LRN adalah sinyal kebangkitan jilid II yang tengah dipersiapkan matang.

IMG00289-20110909-1502

Back on the track…

Menyusuri permadani hitam Pedati – Cawang hingga kilometer-kilometer awal tol Jakarta-Cikampek, LE-612 ini mengalun perlahan, tanpa agresitivas, sarat dengan kekaleman. Pusingan roda hanya bermain-main di bilangan 60-70 kph, menanggalkan style alap-alap di masa jayanya, berganti budaya eco-speed. Alhasil, dia tak mampu beradu cepat dengan Rosalia Indah 144 di km 08, Kramat Djati Madura B 7484 IS di km 10 serta Ramayana AA 1636 AB di km 15.

Berhubung ada penumpang dari agen Bekasi Timur, The New Mercy Electric ini sementara meninggalkan gelanggang sepanjang 73 km, dan menjelang loket pembayaran, kres dengan Ramayana F3 dan Maju Lancar Smiley yang mengarah kembali ke tol.

Tampak hiruk pikuk suasana “showroom bus” di seberang Kantor Depsos Kota Patriot, dimeriahkan pentas selebritis terminal semacam  OBL Patas AA 1616 BY, serta tri sula dari keraton Palur, yakni NL 241, NL 201 serta NL 265.

Lima orang tambahan mengisi kursi yang masih kosong, meski tiga di antaranya berstatus titipan, dilangsir menuju agen Cikampek karena bus mereka menunggu di sana.

Ada pemandangan menarik sebelum kembali ke jalan bebas hambatan. Di dekat lampu merah jembatan Kalimalang, tampak para penjaga keutuhan NKRI ini saling bahu-membahu mengganti ban depan kendaraan dinas ketentaraan, yakni bigbus bikinan PT Texmaco Perkasa Engineering.

Kembali, kecepatan rendah yang dipertontonkan B 7616 XA menurunkan derajatnya sebagai wahana bulan-bulanan. Tak kurang dari Agra Mas eks inner city bus negara sakura, Prima Jasa Pemandu Moda Bandung-Soeta, Laju Prima B 7461 IZ serta Laju Prima 26 Jetliner Merak-Bandung menggasaknya. Berupaya melekat pada pantat Kramat Djati B 7933  IS, tapi juga percuma karena bus dengan jurusan Ponorogo itu justru semakin samar tertangkap pelupuk mata.

Exit Cikarang Barat. Beriringan dengan Malino Putra B 7889 MZ yang berkepentingan sama, busku pun melakukan break lagi dari arena panas, karena ada request dari agen yang berhasil menjaring empat penumpang.

IMG00291-20110909-1632

Sempat terjadi kekacauan karena kursi 2B yang aku hak-i bentrok dengan penumpang Cikarang. Akhirnya, setelah di tata ulang, aku tetap di singgasana semula, sementara yang belakangan naik kudu mengalah, didudukkan di baris ke-5.

Lalu, hampir bersamaan Budiman 3E-47 dan Prima Jasa Lebak Bulus-Tasik B 7682 VB mengasapinya di km 39, membuat Lorena kian jauh tercecer. Tentu saja, bagi speed addict, kurang cocok menggauli Si Ijo ini. Tapi, tak semua penumpang ber-mindset demikian. Lebih banyak yang menonjolkan variabel lain seperti selera, nama besar, gengsi, kedekatan kru, needs dan fanatisme, dalam menunjuk PO yang diyakini nyaman sebagai teman perjalanan.

Di lajur arah Jakarta, terdampar bus Shantika, yang berdasar bukti livery-nya adalah barang lungsuran PO SAN, Bengkulu, sedang mengalami trouble di bahu jalan. Tampaknya, selama arus mudik dan balik ini, bus yang cikal bakalnya lahir di Semarang selatan ini terkesan sukses men-SHANTIKA-kan pulau Jawa. Apakah ini efek pengelolaan bisnis perusahaan otobus (yang konon) dengan sistem franchise sehingga secepat kilat menggurita populasi armadanya?

Perubahan itu keniscayaan. Lambat tapi pasti, driver pinggir mulai berani membejek pijakan pedal gas. Ujung merah jarum speedometer sesekali menciumi angka 80 km/jam. Dengan kecepatan yang meningkat tipis, aksi pecah telur terjadi. Harum Prima B 7330 WV Tangerang – Madiun, Sinar Jaya B 7999 XA serta Rosalia Indah Jupiter Li beridentitas 252 berhasil diperdayai.

Sayang, penambahan volume semprotan solar ke ruang bakar itu belum cukup juga untuk menghadang lari Putra Luragung Aldi Perdana, Agra Mas 3102 Cikampek-Tanjung Priok berikut Laskar Pelangi 6 VX.  “Noda setitik” ini seakan menenggelamkan kembali prestasi kecil yang telah diraih sebelumnya.

Jam 17.27. Armada berbasis bodi model Evolution, dengan sentuhan mayor change pada sektor buritan dan paras depan, menyambangi pos Cikopo, leyeh-leyeh berdampingan dengan dua Galaxy Coach PO Patriot dengan embel-embel tulisan Lorena. Bus bantuan untuk melayani area Banyumas-an rupanya. Selain menurunkan penumpang langsiran, dilakukan pula pengecekan daftar manifes penumpang oleh pengawas operasional, sekaligus dropping snack bagi para sewa.

Merintis etape “Truly Pantura”, bus berkapasitas 32 bangku ini langsung dihadang ketersendatan di Simpang Jomin. Gerakannya hanya mengekor aksi yang dilakukan Dedy Jaya G 1689 GG di depan.  Lepas dari taffic jam, justru kemacetan dari arah timur panjang menjuntai, hampir 5 km-an julur ekornya. Meski kepadatan arus balik sudah berangsur menurun, tapi penumpukan di titik-titik rawan macet masih saja berlangsung.

Greget itu padam lagi. Bus berbintang lima ini kembali ke khittahnya, sebagai bus alon. Sekelas Tunggal Daya AD 1426 CG, Sinar Jaya 52E serta 6 VX dengan gampang melewatinya di daerah Patokbeusi.

Sementara, jagat hiburan dan gairah malam di seputaran Ciberes tampak mulai menggeliat, seiring berakhirnya larangan truk-truk  melintasi jalan nasional. Lampu LED flip flop berkedap-kedip, dengan nuansa keremangan yang menyeruak di ruangan dalam. Sementara wanita-wanita berdandan menor, bersendau gurau memajang diri di teras rumah, laksana etalase toko tengah menjajakan barang dagangan. Sebuah lanskap yang indah untuk dicumbui, terutama bagi para pengumbar hawa nafsu serta pencari nikmat sesaat. Sebenarnya, “interaksi sosial” yang terjalin di dalamnya menciptakan simbiosis mutualisme yang menguntungkan bagi percepatan perekonomian masyarakat sekitar  kompleks, andai kita menafikan sisi pelanggaran etika, moral serta norma-norma.

Ah, sudahlah… talking about morality, talking about nothing di republik ini.

Di ruas Ciasem-Pamanukan, aksi simpatik berwujud konvoi bus malam diperagakan. Saling bergantian merangsek antara Handoyo Panorama 3 jurusan Solo-Prambanan, Kramat Djati Madura, Scorpion King Maju Lancar AB 7062 CD, Gajah Mungkur model Proteus serta New Celcius yang aku tumpangi. Sungguh parade senja yang memukau.

Sementara, di titik Sukasari arah Jakarta, kemacetan panjang terjadi lagi. Causa primanya ialah mogoknya truk gandeng di jalur II, sementara itu 7-8 koleganya yang sama-sama berjenis kendaraan barang dengan dua bak terpisah, ikut nimbrung membantu dengan memarkir berderet di belakangnya. Lucu dan terkesan ngawur juga laku solidaritas yang dijunjung, meski dampaknya merugikan pengguna jalan yang lain.

18.40, OM-906 LA pun rehat di Rumah Makan Taman Sari, menghidangkan jamuan makan malam bagi penumpang sekaligus penanda bahwa intermediete pertama, penghubung poin Tajur-Lebak Bulus-Rawamangun-Bekasi Timur-Cikarang-Cikopo-Pamanukan, lengkap sudah dituntaskan. 

GreenZational (1)

Posted on Updated on


Pulang Enggak? Pulang Enggak? Pulang Enggak?

Begitulah pertanyaan elementer di minggu pertama workdays setelah jeda libur hari raya, namun sejatinya membangun keruwetan dan perkecamukan yang bertele-tele di atas meja sidang perlogikaanku.

“Tak pulang rindu, pulang mesti tebal saku”, ah…mana yang kuputuskan?

Di balik gegap gempita serta kemeriahan perayaan momen kemenangan umat Islam, pascalebaran selalu mengundang permasalahan pelik bagi pelakon mudik mingguan sepertiku ini. Apalagi kalau bukan penyakit laten berupa upping price tiket yang super edan-edanan, yang dilakukan oleh hampir semua PO.

Misal Jumat depan aku nekat pulang, barangkali tak begitu terkendala dengan ke-anomali-an ini lantaran posisiku menentang arus balik. No problemo lah. Tapi, soal ke baratnya nanti benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Terlebih sudah menjadi “tradisi negatif” di dunia bus regional Muria Raya, harga tiket tak serta merta terjun ke patokan yang wajar, seiring dengan berakhirnya “durasi tuslah” yang ditetapkan pemerintah. Bisa-bisa, hingga H + 3 minggu, masih melambung di atas 50% dari nominal resmi, yang berarti belum juga menamatkan era pemberlakuan batas atas untuk ongkos perjalanan moda darat itu.

“Semua tergantung pasar, Mas, kalau masih ramai ya jangan harap cepat kembali ke harga normal.” bela agen bus langgananku, seakan mengamini kebijakan manajemen PO tempat dia bernaung.

“Aku Ingin Pulang “ itulah final decision-ku, mengutip satu judul lagu pelantun syair-syair balada, Ebiet G Ade. Apalagi teringat rengekan permaisuri yang ngebet melakukan visit ke dokter kandungan, kian mensyahihkan dalihku bahwa bentang Pantura antara Jakarta – Rembang memang kudu aku jelajahi kembali.

“Sekali niat pulang ya tetap pulang, apa yang perlu ditakuti. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan untuk mengakali dan mengirit bea perjalanan ke ibukota nanti.” lirih batinku membisik, menebalkan keyakinan bahwa  ibadah PJKA akhir pekan ini harus terselenggara dengan cermat lagi hemat.

Jumat, 9 September 2011.

Iklim kerja yang masih angot-angotan, memberiku kesempatan untuk memangkas timeline meski harus mencederai aturan kantor berupa penistaan jam kehadiran. Tak apalah, diri ini sudah kebal disunat. Ketika gajian, komponen tunjangan transport seringkali terpangkas sekian ratus ribu gara-gara kenakalanku ini.

Berkat jasa hantaran bus antar halte antar shelter bernomor lambung JET-033, diteruskan assist dari Metromini 03, kira-kira pukul setengah tiga, aku mendarat di jantung Terminal Rawamangun.

Sebenarnya, ada hasrat untuk mengayunkan langkah kaki menuju pelataran pojok barat. Kekuatan “sex appeal” duo bidadari berkulit nano-nano yang diampu Pahala Kencana sesaat membelalakkan penglihatanku. Adalah dua jetbus masing-masing jurusan Blitar dan satu lagi tanpa papan trayek. Feelingku, sepertinya akan difungsikan untuk jatah Bojonegoro, sehingga bisa berkompromi dengan rute kepulanganku.

Tapi rencana itu kutunda. Aku nyaris melupakan sesuatu, yakni belum sowan dan ber-minal aidzin wal faizin ke Mas Mul, yang tengah melangsungkan “open house” bagi penikmat sotonya.

Puji syukur, gerai kulinernya sudah buka dan beruntung pula aku bertemu dengan Mas Nano dan dua member HR-mania. (Maaf, saya lupa namanya). Setelah beramah tamah, melepas kangen serta berwawancanda, jarum jam perlahan mendekati angka tiga.

“Mau naik bus apa, Pakdhe?” tanya Mas Nano, sambil merayu untuk mencoba PO ini atau PO itu.

Inilah tak enaknya bepergian dengan metode go show. Hati gampang berbolak-balik disuguhi ragam godaan, sehingga membelokkan peta rancangan pra-turing. PO A itu favoritku, tapi menatap body bus B yang lebih mengkilap, terkadang merabunkan pandangan. Atau PO X terkenal banter, namun keberadaan bus Y yang mengusung fitur kenyamanan lebih, jadinya merubah pikiran.  Demikianlah kegagapan yang kadangkala aku alami.

Ogah menyiakan-nyiakan tempo dan tak mau semakin bingung akan siapa  yang kurangkul sebagai calon transporter, tiba-tiba nuraniku membuat keputusan yang mengejutkan, tak logis dan berbau spekulatif.

“Pokoknya, bus timur-an yang datang sebelum jam tiga dan bus itu harus paling baru, Mas Nano?” jawab lisanku meneruskan bisikan kalbu.

Jejaka Kuningan itu pun menawarkan diri menyidak bus-bus yang datang selama aku tinggal nongkrong di tempat Mul Soto, sesuai dengan requirement yang aku sebut.

“Ada Malino Jupiter, KD Marcopolo Malang, OBL Evolution Banyuwangi, Lorena Setra Banyuwangi, PK Marco 1526 Malang. Dan ini yang paling cocok dengan incaran Pakdhe, Lorena Denpasar New Celcius…” terangnya gamblang.

Wah, ternyata kandidat penyambung aspirasiku adalah Lorena.

Hmm...Si Ijo. Gimana ya? Iya apa engga? Engga apa iya? Ada kalanya, aku ini belum sepenuhnya dapat membebaskan diri dari belenggu stigma miring tentang performa penggawa kerajaan Tajur itu. Padahal, aku berusaha berpegang teguh pada ikrar yang kuucap sendiri, bahwa setiap bus punya keekslusifan, tak bisa senantiasa diunggulkan maupun selamanya dicibir. Menurutku, sikap yang demikian lebih obyektif dalam menilai suatu bus/PO. Jadi tak perlu saling berbantah, melebai-lebaikan PO kesayangan.

Bagiku, bus tak ubahnya pertambangan emas, tinggal kita pintar-pintar menggali bongkahan, mendulang biji mulianya untuk kemudian mendapatkan gemerlap kemilaunya. Bukan begitu? Hehe…

Yo wis…aku harus konsisten dengan fatwaku, bahwa sore ini, bus paling belia tahunnya yang aku klik. Dan alhamdulillah ya…sesuatu banget (syahrini mode : on),  kali ini Lorena adalah dead choice, tak bisa dibarter dengan yang lain.

Atas bantuan Mas Nano, diantarkannya aku menuju loket Lorena untuk membeli satu seat.

“Ke Rembang ikut Denpasar boleh, Mbak?” tanyaku berbasa-basi.

“Bisa Mas, tiket dua ratus,”

“Wew.. mahal amat. Pek go ya?” tawarku.

Mbak agen diam sejenak, kemudian mengiyakan dengan ekspresi dingin.

“Ya sudah Mas. Rembang satu orang ya?” seraya sibuk mengisi kolom-kolom pada lembar tiket berseri B.11-LE 563454, sebagai pemungkas transaksi. 

Escape From Comfort Zone (4)

Posted on


Tettt…tett… Klakson digaungkan sebagai pengganti kata salam bagi kru PO Bejeu Smiley Tayu-Pulogadung yang sedang berkutat dengan trouble, saat Garuda Mas baru saja melenggang dari pintu keluar rest area yang berdampingan dengan Rumah Makan Sari Rasa itu. Mungkin, nama Tayu lah yang menyatukan kedekatan emosional di antara mereka, meski beda latar PO, kesejahteraan dan budaya.

Kethoprak humor namun sarat pesan religi dari duet Konyil dan Markonyik diputar lewat piranti visual berupa TV LCD 26”, ketika keenam roda penyangga chasis dan bodi  menggilas jalur Weleri lama. Saking asyiknya para penumpang mengumbar tawa menyaksikan dagelan lokalan Pati tersebut, kutangkap sekelebat obyek besar menyungkurkan langkah bus-ku. Ternyata PO asal Serang, Armada Jaya Perkasa eks Shantika, B 7185 IS, yang tadi sempat dihembusi angin di daerah Cepiring.

RG, Si Jago Tanjakan.

Tak terbantahkan lagi konklusi yang demikian. Tanjakan panjang Plelen, dengan rata-rata kemiringan mencapai 40 derajat, berhasil dijinakkan mesin berdaya 240 HP secara enteng. Digenapi tontonan pamer kedigdayaan saat menenggelamkan laju Damri kode 3426 serta Tri Mulia berarmor Panorama 2.

Kesadaranku mulai menyurut, ditimang-timang kontur alam Alas Roban yang didominasi permukaan jalan naik turun. Keinginan untuk merelaksasi diri mulai terusik oleh ketidaknyaman ruang kabin kelas ekonomi. Kaki tak bisa selonjoran, putaran sudut reclining seat yang tak seberapa merebah, serta pundak penumpang sebelah yang sedikit menganeksasi lapakku, adalah handicap yang mesti kuterima.

Ditambah lagi semburan AC yang cukup mengerutkan tulang, tanpa ada tameng selimut serta bantal, benar-benar merepotkan stamina dan vitalitas tubuh untuk mengusirnya. Terlebih aku lalai membawa sarung dan jamu t*l*k an*in, barang wajib yang telah aku pikirkan sebelumnya untuk disiapkan, sehingga tak ada lagi pelindung badan untuk menangkal paparan hawa dingin.

Alhasil, hanya tidur kualitas ayam yang bisa kurasai. Berkali-kali aku terbangun dari upaya untuk menyandarkan letih barang sejenak. Di tengah halusinasi alam sadarku, memoriku masih sempat merekam kejadian ketika Sedya Mulya Nucleus 3, Tri Sumber Urip Black Scorking, serta Bejeu Selendang Adi Putro berkonspirasi meredam kepak sayap Garuda-ku, menjelang batas kota batik.

01.05

Byarr…byarr…lampu penerangan kamar penumpang dinyalakan, sontak membelalakkan katup mataku. Kutengok samping kanan kiri, dan aku ingat persis, ini adalah homebase Kedawung, Cirebon. Wah…lumayan juga aku dapat berisitrahat dengan lelap, tanpa bisa memandang lanskap malam yang membentang dari Pekalongan hingga Cirebon. Bisa jadi aku yang kecapaian teramat sangat ataukah ragaku sudah menemukan chemistry yang pas sehingga mampu berdamai dengan kekurangan grade ekonomi ini?

Naiklah petugas kontrol, dan luar biasanya, secara random, beberapa penumpang ditanyai berapa harga tiket yang dikenakan agen. Sepertinya ini trik dari pengurus ticketing untuk melakukan pengawasan melekat kepada kinerja agen daerah, yang notabene jauh dari kantor pusat. Jangan sampai mereka mengambil keuntungan sesaat, main seleweng dari pricelist yang telah dirilis. Apalagi Garuda Mas mengantongi image sebagai bus dengan persentasi kenaikan tuslah Lebaran paling rendah dibanding PO lain.

Baru saja diberangkatkan dan melakukan ketok palu untuk mengambil jalur Karangampel, dengan segenap nafsu Nusantara Scania K 1466 B dan Luragung Jaya menempel, kemudian melampui  mantan pengguna baju Celcius, sebelum dire-build oleh Adi Putro, ini.

Di Losarang, saat aku terjaga, tampak pula Selamet Evobus K 1417 GA melakukan hal yang sama, mendepaknya dari persaingan.

Kulanjutkan acara tidurku kembali.

Ngrrengg…ngrrengg…nggrreng…

Riuh orkestra raungan knalpot membubarkan peraduanku. Rupanya itu suara gas buang dari bus-bus yang menelikung jalan berlawanan arah. Lintasan kiri berhenti total, bahkan ratusan kendaraan terlihat panjang mengular. New Marcopolo-ku terjerembab dalam antrian, sementara terlihat arak-arakan Rosalia Indah, Haryanto, Raya, Dewi Sri, Nusantara, Bejeu, serta Handoyo menyabet lajur sebelahnya.

Lantaran tak ada tanda-tanda mencair, bus-ku pun ikut-ikutan melanggar rules jalan raya, menyodok ke kanan, menyalip lautan pengguna jasa Pantura, meski akhirnya back to the line.

“Kiri…kiri…Depan polisi…Depan polisi!!!” seru kenek Dewi Sri, dan serentak beberapa bus mematuhinya.

Setelah berkutat dalam kubangan kemacetan di Patokbeusi, terjawab sudah causa prima segala kekacauan ini. Sebuah medium truck pengangkut genteng menabrak truk lain di depannya, sehingga menimbulkan dampak kecelakaan berantai. Masing-masing antara bus SJLU Setra Adi Putro yang menyodomi Kijang Commando, serta bumper Pahala Kencana B 7926 IW mencium pintu kanan Kijang Innova.

Pantas saja separah itu traffic jam-nya.

Ya Allah, ujian apa lagi ini?

Mulai dari kawasan pinggiran Subang ini, mendadak aku dihinggapi seteru abadi para turingers, sakit perut. Aliran udara jahat yang digelontorkan lubang louver AC selama lebih dari 12 jam, tanpa kupersiapan senjata penolaknya, sungguh-sungguh membuat lambungku menyerah, didera masuk angin.

Resah dan gelisah rasanya…

Tak ingin memikul siksa berat yang ditanggung perangkat pencernaan, kuputuskan untuk menyudahi  kiprah burung Garuda yang sepanjang malam berjibaku membantuku dalam menaklukkan arena Pantura.

04.50

“Pak, saya turun sini saja!” request-ku kepada Pak Sopir, saat samar kulihat bangunan dengan list talang warna merah menyala sebagai colour mark sebuah SPBU. Ya…pom  bensin di daerah Cikopo, Cikampek, inilah yang akhirnya membebaskan derita biologisku.

——-

Aku pun hanya bisa merenung…

Apa salahku hingga putus perjuanganku di tengah jalan, sebelum paripurna mencapai tujuan akhir?

Mengapa aku rontok dalam mengemban misi turing bersama bus ekonomi Pati-Jakarta justru pada pengalaman perdana?

Karma dari pemilik bangku eksekutif-kah, gara-gara aku kabur dari zona nyaman?

Apakah dosaku sendiri yang kala itu, jujur saja, setengah hati memilih bus-nya kaum marjinal sebagai sandaran pengiritan?

Ataukah memang ini challenge bagi jiwa ke-busmania-anku, bahwa aku sejatinya belum lulus menggauli kasta ekonomi dan kudu remidi, mengulang lagi, menyetubuhi bus-bus senasib sepenanggungan dengan Garuda Mas? Semisal Bayu Megah atau Sido Rukun.

Ah, entahlah…

Escape From Comfort Zone (3)

Posted on


“Ayo berangkat, sudah jam-nya. Kalau ngga dateng, ditinggal saja…” warning kenek kepada agen setelah dua “tangkapannya” tak jua datang.

“Tolonglah, tunggu sebentar…” pintanya.

“Ya sudah, disuruh cepetan tuh. Kita tunggu di luar terminal,” pungkas asisten sopir itu dengan tak sabar.

Melihat gelagat kru, betul apa yang dibilang Mas Indra, bahwa Garuda Mas adalah bus yang paling menghargai jam keberangkatan, anti permisif terhadap keterlambatan. Terlihat dari sikap cekat-ceket, tak mau buang waktu, dan bertele-tele dalam urusan penataan penumpang. Mungkin, inilah nilai positif sistem engkel dari pengoperasionalan bus.

Moda berpaspor B 7355 IS pun menunggu telaters di mulut pintu keluar. Sempat petugas mengusirnya karena menghalangi bus lain yang hendak meninggalkan terminal.

Menapak ruas Pati – Kudus, driver benar-benar all out memamerkan determinasinya. Ngotot serta trengginas. Apakah dia hendak pamer taring di hadapan user-nya, bahwa karakter “bus tamu” tak kalah dengan habit tuan rumah?

Terlebih dikipas-kipasi akting panggung nan seronok dari biduanita OM Romansa, yang tak kalah heboh dengan goyangan Lisa Geboy cs. Dengan irama dangdut koplo yang nge-beat dan menghentak-hentak, benar-benar membangkitkan gen speedy Hino RG.

Dua pasukan Ombak Biru, B 7189 X serta K 1596 B harus rela dikebiri dari sisi jalan tanah, saat lalu lintas di daerah Terban tersendat. Debu-debu beterbangan, seakan menjadi saksi monumental, meski single player, semata wayang, tanpa teman atau saudara di jalur timur, kekuatan kibasan sayap Garuda tak bisa disepelekan. Masih membayang saat Intercooler Kupu-Kupu yang aku naiki ngos-ngosan menguber Si Ijo di ruas Demak-Semarang. Benar – benar fight kinerja the man behind steering wheel-nya…

BG 7185 AU, PO Wisata dari Palembang, Talenta Muda, meski dengan susah payah, juga diasapi menjelang pertigaan Ngembal Kulon. Ah, apa sang nahkoda akan konsisten dengan laku mayak-mayak sepanjang malam, mengingat mahdzab beginian membutuhkan konsentrasi tinggi serta menguras energi?

Di stanplat Jati Kudus, adegan di Terminal Pati lebih sempurna terulang. Satu penumpang terpaksa ditinggal, karena menjelang detik-detik take-off tak tampak batang hidungnya. Beruntung, saat itu mendapat subtitutornya, seorang penumpang yang nekat go show di saat musim ramai.

17.36

Dengan status kloter pertama, Neo Travego ini meninggalkan kota kretek. Selepas Jembatan Tanggul Angin, barulah eco-driving mengambang ke permukaan. Menyadari tanpa tandem, driver pun “memusingkan” roda bus pada skala kecepatan aman. Daya gedor pun dikendorkan, meski gereget sebagai penjinak jarak 550 km tak serta merta surut.

Di daerah Gajah, tampak PO Gumarang Jaya berbodi Tri Sakti berhenti di agen penjualan tiket. Semakin semarak saja lintas Pati-Sumatra setelah PO dari Muntilan, Putra Remaja, juga ikut bergumul meramaikan pasar gemuk ini menjelang bulan puasa kemarin.

Sebelum Pasar Jebor, Demak, kendaraan menumpuk akibat proyek peninggian badan jalan. Posisi busku menguntit bus plesiran, Gunung Sari. Berdasarkan pelat nomor asal — K 1545 F — serta livery, dugaanku Gunung Sari adalah sempalan dari PO Era Trans, Purwodadi. Dari hasil pengamatanku selama merasai atmosfer Pantura, kongsi Era Trans sepertinya (di)pecah menjadi tiga, yaitu Era Trans, Era Prima dan Gunung Sari. Apakah pemisahan ini untuk memetakan segmnetasi ceruk penumpang yang hendak disasar? Era Trans untuk line Purwodadi-Jakarta, Era Prima melayani Purwodadi-Sumatra dan Gunung Sari didedikasikan buat pariwisata.

Meski dengan lari pas-pasan, di ringroad kota wali, bus dengan izin trayek untuk Tayu-Pati-Pulogadung-Kalideres ini mencetak hattrick, dengan menghempaskan perlawanan bus beregistrasi K 1683 B, serta dua bus Sido Rukun, masing – masing model Setra Morodadi Prima H 1671 BA serta Laksana Comfort H 1467 BA.

Melewati kantor Polantas Demak, terlihat Sinar Mandiri “Bateh” membujur tak berdaya, hampir dua minggu teralineasi dari kerasnya trek Pantura Timur. Melihat kondisi body yang utuh tanpa cacat, masalah hukum yang menyeretnya pastilah melibatkan motor atau pejalan kaki.

Wuss…tanpa dinyana, dari sebelah kiri melesat dengan deras Scorpion King dari Lasem, saat Garuda Mas menginjak areal Sayung. Selain gaya menyalipnya yang cantik, aku sangat terkesan dengan balutan grafis minimalis yang menempel pada dinding samping. Hanya mengandalkan baluran cat hitam, putih serta abu-abu, tetapi paduan tri-warna ini benar-benar simpel dan membumi. Menilik tatto tubuh, inilah armada Tri Sumber Urip favoritku, di antara kemajemukan corak Raja Kalajengking yang dipunya Koh Paryono.

Sialnya, pesona kombinasi kerlap-kerlip lampu sein dan brake lamp yang diperagakan bokong semok K 1668 BD  mesti berakhir, setelah Hino RK8 itu menepi sehabis membayar retribusi tol di gerbang Muktiharjo.

Sesaat melaju dalam kesendirian, persis di atas simpang susun Jatingaleh, bus-ku bertemu dua kawan sejenis. Memanfaatkan bahu jalan, dua bus jurusan Purwodadi-Jakarta, yaitu Era Trans Non AC K 1761 BF serta Garuda Mas Concerto E 7624 HA ditumbangkan.

Krapyak, meeting point jalur timur, tenggara dan selatan.

Ajang balas dendam dilancarkan oleh Era Trans, memanfaatkan celah kiri yang lebih lengang. Sementara, Hinomaru keluaran 2004 ini hanya mampu menyalip bus wisata B 7432 BW, sebelum dihadang kemacetan, gara-gara bus Sumber Larees dengan papan jurusan Purwodadi-Jakarta berhenti mengeruk penumpang, meski letak bus masih berada di lajur 2.

“Sopir kalau jarang bawa Jakarta-an ya gini,” gerutu pemegang setir kemudi dengan aksen Sunda, sambil menyalakkan corong terompet dengan kerasnya.

Rapor biru kembali ditorehkan mesin seri J08C kapasitas 7961 cc di atas jalan lingkar Kaliwungu. Adalah PO Ezri dengan blazer model Nucleus 3, bernomor lambung 12, yang terpaksa menutup hidung menahan pengapnya semburan residu dengan tingkatan Euro 2 ini.

Di sentra penjualan tiket bus Cepiring, Kendal, secara “betina” mendahului PO Armada Jaya Perkasa yang tengah wajib lapor lantaran agen dapat menjaring penumpang tambahan. Aku pun haqqul yakin, armada Galaxy Coach AJP tersebut adalah lungsuran PO Shantika. Coretan air brush di bodi ala bus-bus official partner Piala Dunia 2006 Jerman, yang membenarkan tebakanku.

Keenakan melaju, tanpa disangka-sangka, muncul dari sisi kiri bus reyot dengan eksterior yang minim estetika, PO Usaha Jaya. Bumel, kucel, sarat dempulan, tanpa AC pula. Dan seperti Sumber Larees, bus yang biasanya merumput di jalur Semarang-Purwodadi ini banting setir, mengusung para perantau kembali ke ibukota. Menurutku, inilah bus-bus siluman, yang nongol pas Lebaran, setelahnya ngumpet ke orbit masing-masing.

19.50

Angkutan massal yang dilengkapi fitur toilet on the road ini “meluruskan punggung” sementara waktu di Rumah Makan Mekar Sari, Kendal. Seolah ingin mencari kehangatan, bus diparkir terjepit di tengah-tengah celah yang dibangun PO Madjoe Utama AE 7087 UB serta Garuda Mas New Travego, B 7384 IZ.

Aku pun harus me-manage langkah pengiritan kembali. Perbekalan ransum yang disiapkan istri kubongkar, menyiasati ketiadaan service makan malam untuk kelas ekonominya Garuda Mas. Tentu apple to watermelon bila dibandingkan pelayanan eksekutif yang memanjakan perut dengan kebijakan loss nasi dan sayur. Meski ada secuil ironi juga, dengan adanya penjatahan lauk yang tersirat dari amar “Maaf, ambil satu potong”.

“Sing sareh (yang lapang dada), Dik, bukankah hemat pangkal kaya, nikmat pangkal paha…” guyon akal pikirku. Hehe… 

Escape From Comfort Zone (2)

Posted on Updated on


“Hati-hati ya, Pa!” pesan mamanya anak-anak saat melepasku seraya mencium punggung tanganku, tak lama setelah motor kami mendarat di depan kantor Perhutani Kabupaten Rembang.

“Duh istriku, masih terbayang jelas saat kali pertama engkau mengantar kepergianku ke ibukota, dengan status kita berdua sebagai pengantin baru. Air kesedihan yang berkaca-kaca di pelupuk matamu saat mengiringi jangkah kakiku menapak kabin Lorena LE-381, tak bisa membohongi nuranimu, bahwa engkau pun sebenarnya terkaget-kaget dengan “model pernikahan aneh” yang bakal kita tempuh.

Perasaan sama itu pula yang membelengguku, ketika kusadari bahwa long distance relationship bukanlah perkara mudah dan ideal bagi sebuah keluarga. Tapi, teringat akan kata-katamu “jangan selalu dibayangkan karena akan terasa berat, langkahkan kaki dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya, yakinlah, jalinan cinta dua hati bakal lebih ringan dijalani”, membuat diri ini kuat mental dan tahan banting menyikapi kehidupan wira-wiri yang keras dan penuh aral.    

Tujuh tahun sudah guliran waktu menajamkan naluri keibuanmu. Meski acapkali ditinggal pendampingmu meladang nan jauh dari rumah, justru menegakkan ketegaranmu, tak jadi pribadi yang cengeng dan pemanja, selalu mandiri serta berdikari, urusan rumah tangga kau ampu sekuasamu. Dan semoga, di kelak kemudian hari, engkau menjadi ibu yang  dibanggakan buah hati kita.

Ketangguhanmu selangit, tak sepadan disandingkan dengan suamimu, meski aku bagian dari klan lelaki yang senantiasa bangga akan bekal kekuatan raga yang tercipta.”   

“Pati…Pati…Kudus…Semarang!!!” teriak lantang kenek PO Sinar Mandiri Mulia (SMM), membuyarkan lamunanku.

14.53

Segera kunaiki angkutan AKAP bertrayek Bungurasih – Terboyo, sebagai armada feeder yang menghantarkanku ke Terminal Pati. Ada keuntungan kecil yang kugenggam, yakni berjodoh dengan bus besutan Restu Group itu. Dibanding Jaya Utama, Widji Lestari maupun Indonesia, SMM lebih menantang adrenalin, lebih menonjol style alap-alapnya dibanding kompetitornya.

Naluriku tak meleset. Pengusung mesin varian AK8 E3 itu langsung melesat, membabat satu persatu perintang, khususnya truk-truk raksasa penghancur aspal Pantura. Jalan dua lajur, dengan lebar nge-press 6 meter yang membujur dari  Tambak Omben hingga Juwana, menjelma menjadi sirkuit yang menantang kecakapan skill penghelanya, dipadu unjuk keterampilan menyeser penumpang. Beberapa kali nyaris kres dengan mobil lain dari arah berlawanan, hingga moncong bus harus berkelit dengan menempel tipis pantat kendaraan di depannya.

Melihat sosok sang joki yang gaul dan funky habis, rambut disemir dengan dandanan eksentrik, seakan mempermanis tampilan model New Proteus yang dicambuknya. Apalagi saat kulirik jempol tangan kiri, dengan kukunya yang dipiara memanjang, seakan meneguhkan mitos bahwa ciri inilah petunjuk tersembunyi bahwa driver tersebut bergenre ngejoss.

Bus dengan label “Hunter Mania” ini mencatatkan skor di papan kemenangan saat mencundangi Pahala Kencana Setra Butterfly B 7599 XB di Kaliori. Aksi kejar-kejaran pun mengemuka selepas Tugu Sukun Kota Bandeng, ketika Sinar Mandiri N 7035 UG kelas bumel mulai tersusul. Sopir sempat ngomel-ngomel, lantaran kesal kompatriotnya tak bisa menjaga slah dengan bus berikutnya. Pantas saja, di Kota Bandeng ini, N 7726 UG nihil mendapatkan rezeki.

Setelah menggasaknya, tampak buritan poolmate yang lain, Patas Panda. Sepertinya, sopir Jetbus itu memancing permainan saat membiarkan busku hampir separuh bodi menyalipnya. Ternyata, binatang ikon negeri tirai bambu itu juga kian menambah kecepatan. Alhasil, dua raja jalanan saling sejajar beradu cepat, mengangkangi area beton Juana-Pati yang tengah sepi dari pengguna jalan, menahbiskan diri siapa yang lebih ngebut. Sayang, “drag race” mesti berakhir dengan bersulang klakson, saat N 7733 UG itu lebih memilih jalan lingkar, sementara ATB-ku mengarah ke Gemeces.

Wah…mantap, mukadimah turing nan memukau.

15.44

Terminal yang berlokasi di seberang pemancar radio kepunyaan paranormal kondang Bos Edi, Harbos FM, sore itu masih terlihat sunyi dalam jumlah kehadiran armada. Yang sedang lego jangkar hanya Nusantara, Bejeu, dua PO Selamet serta Pahala Kencana. Sementara, konsentrasi penumpang sudah memadati teras di depan loket-loket bus.

Setelah kutinggal sejenak menggugurkan shalat asar, barulah berlabuh kabilah yang lain. Tercatat, Muji Jaya, Shantika, Bayu Megah, Haryanto, Sido Rukun, Budi Jaya serta satu bus “extra ordinary” yang khusus diperuntukkan buatku, Garuda Mas.

“Langsung naik ya Mas, busnya segera berangkat,” kata Mbak Agen sesaat setelah aku melakukan check-in.

DSC00146 (1)

16.15

Kabin terkesan penuh sesak oleh para penduduk. Dimensi ruang yang “hanya” 11 m X 2.5 m, dipangkas luasan untuk smoking area, sungguh-sungguh sempit dijejali 50 seat. Tampak penumpang sedikit tersiksa dengan posisi dengkul mepet, dan antar bahu saling bersinggungan, memenuhi konfigurasi bangku 2-3.

Menatap raut muka “tetangga-tetangga Mas Anees” ini, tak bisa dipungkiri menyimbolkan sosok rakyat kecil, orang dusun, serta pekerja informal-an. Dan yang begitu kentara, cuek soal penampilan diri. Lugu, polos dan apa adanya, nyaris tanpa kontaminasi life style modern.  Really really economical taste…

Sebuah planet yang asing bagiku, namun sekaligus menjewer ke-sok ekslusifan-ku yang terjerembab dalam jeruji citra kenyamanan bus eksekutif. Ternyata aku ini wong ndeso yang lupa daratan, hampir menanggalkan kejelataanku sebelum akhirnya cekikan harga tiket menyadarkanku. Sebenarnya, aku tak jauh berbeda dengan mereka. Lahir, tumbuh dan besar di lingkungan pada strata masyarakat menengah ke bawah. Ada masanya, aku termasuk dalam golongan mereka, yang lebih mementingkan budget daripada comfortabilty sebuah perjalanan.

Terima kasih Garuda Mas atas “murahnya” biaya perjalanan serta reminder sosialmu. Aku harus berlapang dada menerima segala keterbatasan yang melekat pada bus ekonomi.

Saat duduk di baris kedua sisi jendela kiri, kucoba menghayati cerita mingguan yang pasti tak bakalan sama dengan fragmen-fragmen sebelumnya.

Yup… Barangkali, Garuda Mas (GM) ini bisa dijadikan potret buram penegas tuah kutukan belantara Muria yang ganas dan liar bagi pemburu-pemburu dari manca negara. “Tambang emas” di pesisir timur ini hanya prospek bila yang  mengeksploitasi adalah “pendulang setempat”.

Sejarah menulis, PO elite sekaliber Lorena, Kramat Djati, serta Gajah Asri Raya babak belur dihadang “persekongkolan jahat” pemain-pemain lokal. Apalagi tanpa dukungan finansial dan armada yang memadai semacam Setia Bhakti dan Agung Bhakti. Diakui sebagai “anak bawang” sudah merupakan prestasi bagus, meski akhirnya juga kembang kempis ditelan putaran zaman.

Tinggalah Garuda Mas dan Lorena yang konsisten beroperasi, “rajin masuk” setiap hari. Menurut Pak Alan, kru senior GM, Si Ijo dari Cirebon itu memang tak bakalan meninggalkan bumi Tayu dan Jepara, meski hanya menyisakan satu armada sekali pun.

“Itu lahan hoki bagi bos kita, Mas,” ujar beliau saat itu, ketika aku turut busnya dalam perjalanan Pulogadung – Blora.

Ternyata, di balik supremasi kepak sayap Garuda Mas yang begitu perkasa memeluk tampuk tlatah tenggara Jawa Tengah, justru kisah kesuksesan PO yang berbasis di Kedawung ini babar dari tanah Jepara. Lantaran stagnan mengelola jalur Pekalongan-Cirebon-Jakarta, rupanya jadi trigger bagi pemilik untuk memutar akal mengembangkan usahanya. Dan di awal tahun 1980-an, dipilihlah kota ukir sebagai jajahan baru.

Sayang, legitnya sirup manis bumi Kartini tak lama direguk. Setelah menetas PO pribumi, Muji Jaya, — terlebih karakter laskar Kalinyamat sebagai (maaf) penganut primordialisme sempit serta menjunjung tinggi fanatisme kedaerahan —  Garuda Mas pun sedikit demi sedikit terdesak. Dan GM-01 kala itu, kembali harus bergerak cepat kalau tak ingin terhempas. Intuisinya berbicara dan sungguhlah tepat, melirik ranah Purwodadi yang masih sepi pemain. Apalagi di tengah kocar kacirnya kondisi PO penguasa saat itu, PO Marga Mulia (CMIIW), Garuda Mas pun berkembang pesat serta ekspansif. Tak urung, di era kekinian, dengan prediket the best dalam urusan service, membawa nama Garuda Mas dinobatkan sebagai penguasa tunggal wilayah Grobogan dan sekitarnya.

“Tanpa masuk Jepara, kita tak akan merasai sukses di Purwodadi, Mas,” imbuh pemegang armada Jetbus Eksekutif itu.

Hasil kerja keras dan buah perjuangan yang patut diacungi empat jempol.