Latest Event Updates

Budi Yang Tak Beranjak Gede (2)

Posted on


Sesuai prosedur, semestinya kru cepat-cepat melakuan penggantian ban, toh biang keladi penyebab ketidakberesan semua ini telah dipindai.

Namun tak ada tanda-tanda ‘quick respon’ itu. Malah awak kabin ngobrol di samping bus, entah apa yang sedang dirundingkan. Tak ada gerak cepat untuk menurunkan  ‘si cadangan’ atau mengeluarkan tools ganti ban yang tersimpan rapi di dalam bagasi.

Para pengisi singgasana merek Hai mulai hilang kesabaran. Mereka berduyun-duyun semburat keluar lantaran tiada  progress berarti.

“Ada apa sih, Pak, kok lama?” tanya seorang di antaranya.

“Eh…maaf  Pak, anu…ban belakang sobek.” ujar driver dengan setengah gelagapan.

“Bukannya tinggal ganti?”

“Hmm…itu Pak, ban serepnya juga sobek”

Blaik…bus hendak menempuh jarak ratusan kilometer tanpa perlengkapan ban yang memadai?

“Terus didiamkan begini saja?” balas yang lain dengan nada sewot, lantaran kesal mengapa ‘jabatan’ cadangan tidak dianggap urgen.

Maklumlah, masyarakat Pakujembara (Pati-Kudus-Jepara-Rembang-Blora) sangat-sangat intoleran dan anti permissive dengan sebutan ‘mogok’ di jalan.

“Sebentar ya Pak, itu keneknya lagi nyari ban.” jelasnya berusaha menenangkan, seraya telunjuknya mengerucut pada ‘si pembantu’ yang tengah sibuk keluar masuk bengkel rumahan.

Beberapa menit kemudian…

“Susah, mana ada yang jualan ban tubeless bekas.” lapor kenek setelah usahanya hunting ‘donat hitam’ itu tak memberikan hasil positif.

“Pak…Ibu…kami minta maaf. Saya mohon bersabar. Sekarang lagi diusahakan dikirim bus pengganti dari Pulogadung.” jelas sopir dua, yang dari keriput wajahnya menandakan beliau cukup senior, setelah berembuk dengan kru yang lain.

Tak ada yang bisa kami perbuat selain menunggu…menunggu…dan menunggu.

Sedikit kemujuran melingkupi. Adanya jajaran warung makan peramu ‘nasi karawang’ yang khas itu, jadi obat P3K alias Pertolongan Pertama Pada Kelaparan.

Dan yang ndilalah lucu, salah satu kedai itu bernama persis dengan bus yang menyinggahi. Jangan-jangan, orang awam yang lewat menyangka pemilik rumah makan ternyata punya unit angkutan massal? Hehe…

IMG00249-20120427-2153

Kuracik sepiring nasi dipadu tumis kacang dan ikan bakar sebagai pengganjal darurat kantong lambung. Hitungan-hitunganku, setidaknya jam 12 malam nanti baru disediakan service makan malam.

Sekali lagi, kusaksikan dua penumpang yang dilanda kasmaran itu bermasyuk ria memamerkan keintiman di depanku, sembari menghabiskan menu telah yang dipesan.

Hi…bikin mupeng! 

22.35 

“Pak…Ibu…itu bisnya datang. Disiapkan semua ya, jangan ada yang ketinggalan.” perintah Pak Sopir saat lampu sorot smiley mendekat, menghapus kebosanan yang membekap raga ketiga puluh sembilan manusia.

Datanglah armada pengganti, yang tentu saja tak asing bagiku. XBC-1518/59 Euro 3.

Ah, tak sempat lama menikmati masa kedewasaan ‘Budi gede’, kini dia ‘mengecil’ kembali.

Baby mercy…baby mercy…bus yang job desk sejatinya dikhususkan bagi kepentingan inner city, namun ‘diselewengkan’ orang Indonesia sebagai pekerja rodi untuk menggawangi trayek jarak jauh.

Penumpang telah bersiap, dengan posisi kursi tiap penghuni yang tak berubah. Tampang-tampang lumayan sumringah tampak menghiasi raut muka. Permasalahan selesai, tinggal berharap agenda perburuan waktu untuk menggantikan masa yang telah terbuang benar-benar diwujudkan kedua juru mudi ‘anyar’.

Ah…mengapa tak berangkat-berangkat juga?

“Aduh… kenapa ban serep armada ‘suksesor’ ini diturunkan? Kentir…jalan tanpa ban cadangan lagi?” pikiranku bertanya-tanya, melihat kenek selesai ngolong di bawah overhang depan dan kemudian menggelindingkannya untuk diserahkan kepada ‘bus malang’.

Sungguh-sungguh spekulasi yang beresiko tinggi. “Semoga tak ada lagi aral di jalan, segalanya akan baik-baik saja…” dengan pasrah sepasrah-pasrahnya, doa kupanjatkan pada Yang Kuasa.

22.47 

“Ayo Pir, ndang dikleak, ra usah nganggo rem!” aba-aba ala komporan dari bangku  tengah menggaung ke segenap penjuru kabin. (Ayo, Pir, cepat ‘dikleak’, tak usah pakai rem)

(NB : Aku kurang tahu apa padanan kata dari kata ‘kleak’ apabila di-Indonesiakan. Kalau di Rembang, ‘kleak’ adalah istilah di bidang pertanian, yang artinya dicangkul/ dibajak yang dalam (CMIIW). Entah daerah Pati Lor,sepertinya punya makna sendiri tentang ‘kleak’ ini. Mas Aneez, Mas Umam, Mas Aam atau Mas Wisnu bisa membantu menjelaskan.)

Moda darat berpelat nomor K 1405 H memulai debutnya. Dan gampang ditebak,  kinerja ‘roket pendorong’ yang cuma disangga empat batang torak kurang cocok dengan karakter dan ekspektasi pengguna jasanya.

Tak bisa dibantah memang, saat jalan lengang, setelah putaran atas ‘dapat’, bus berdaya maksimal 177 PS/2200 rpm ini mampu deras melesat. Namun, menghadapi situasi lalu-lintas yang agak rapat, pramudi harus pandai-pandai me-menej gear ratio, yang berimbas pada rajinnya aktivitas shift-up/shift-down tongkat persneling.

Di sisa penghabisan jalan tol yang dikelola Jasa Marga, terbukti bahwa mesin yang diklaim ramah lingkungan ini keteteran. PO Wisata berpaspor DIY, Langen Mulyo, raja Priangan timur, PO Budiman Banjarsari-Depok serta Prima Jasa Lebak Bulus-Tasik membungkamnya dari lomba pacuan “who is the fastest?”.

Budi Yang Tak Beranjak Gede (1)

Posted on


“Sudah isi berapa, Mbak?” tanyaku pada dara penjaja tiket PO Budi Jaya.

“Baru sepertiga, Mas.” jawabnya dengan getir, seolah melukiskan pekan ini adalah fase ‘paceklik’ penumpang.

Untuk kali kedua, aku menyandarkan ritual go east di pundak flight akhir embarkasi Pulogadung. Meski minggu sebelumnya pertaruhan perdanaku kurang berbuah manis di ujung laras Meriam Lasem, namun tak ada alasan untuk kapok menggali di mana keberadaan ‘zona nyaman’ nyapu jagat bus-bus Muria-an.

Di senja itu, tak banyak pilihan menarik sebaik Budi Jaya.

Terus terang, kepincutnya hati ini lantaran dibius oleh nilai jual sebiji mesin Hino generasi RG1-JS yang bertengger di balik ‘cangkang setra’ garapan punggawa Morodadi Prima.

IMG00246-20120427-2112

Masih lekat di dinding ingatan, ketika kenal pertama dengan ‘geng Margorejo’, aku disandingkan dengan ‘Budi Kecil’, julukan armada XBC-1518 bervolume 4.249 cc. Setidaknya, kini Si Budi bertambah ‘gede’, seiring meningkatnya kapasitas mesin menjadi 7.961 cc.

Bandingkan dengan pesaingnya yang sekadar ‘low end’, Sido Rukun dan Selamet. Dua bus yang masih setia menggandeng keuzuran OH Prima-King dan sama-sama mengusung bodi yang sudah selayaknya di-renewal.

Jelas Budi Jaya di atas angin, menang segala-galanya.

“Tolong, saya dicarikan kursi sebelah kiri mepet kaca ya, Mbak.” pintaku merintis deal transaksi dengan wanita berkulit putih bersih itu.

18.20

Sebabak pertandingan bola, K 1678 FA berwarna kuning gading lalu dilepas dari ‘tali tambatnya’. Beruntung bin hoki. Lepas magrib, tingkat hunian kursi langsung melejit di atas 80%, dipantik banyaknya go show-ers yang menunggu bubaran kerja untuk memulai start perjalanan pulang ngampung.

Di pintu keluar, dengan secarik selendang jahitan New Armada yang menjuntai di tubuh, Selamet terkesan merana. Hanya barisan seat depan saja yang sejauh ini mampu dikaryakan. Entah berapa lama lagi akan kick off, sementara ‘peluit panjang’ selesainya jam ngetem tinggal hitungan menit.

Di sepanjang penggal jalan antara Pulogadung-Cakung, kusaksikan tiga bus dengan kondisi yang nyaris sama, masih berkutat dengan minimnya sewa. Masing-masing Teguh Jaya berkaroseri Galaxy Coach, Era Trans jurusan Blora-Cepu serta Harta Sanjaya dengan headlamp Marcopolo.

Itulah seni perang anggota jamaah al-sapu jagat-iyah. Bagaimana pressure setoran begitu menghimpit, berpacu dengan count down waktu yang kian larut – penanda semakin menyusutnya target incaran -; mau tak mau teknik tingkat tinggi dalam menjerat korban kudu dikuasai, sekaligus gape dalam bernegosiasi harga. Padahal kontestan lain juga  tak kalah gertak dalam membikin gaduh persaingan.

Pos kontrol Cakung kembali jadi pendongkrak pendapatan. Beberapa penumpang naik tahta, dan dua di antaranya adalah sejoli yang sepertinya sedang dimabuk cinta. Dwi-gender itu mendapatkan jatah  tempat duduk di deret nomor dua dari belakang, tak jauh dari ‘poskoku’.

Aku tak menggugat kemesraan yang diumbar, toh bagiku itu urusan nafsi-nafsi. Tapi yang membuat jengah, sepasang insan beda jenis itu rasanya ngga matching. Yang satu bapak-bapak setengah baya, sedang kekasihnya boleh dibilang masih ranum.

Apa laki-laki tersebut seorang vegetarian, suka sama lalapan daun muda? Mbuh ah, apa peduliku…Hehe.

Dari 40 lapak yang dijual, kini hanya satu yang bersatus unsellable. Dan kebetulan, kursi tak bertuan itu tertanam di sampingku.

18.55 

Style driving yang sebelumnya tenggelam oleh lautan de-urbanisasi warga pinggiran yang membanjiri jalan Bekasi Raya, lambat laun diperagakan  di atas panggung Jakarta Outer Ring Road (JORR).

Begitu prospek, kompetitif dan menjanjikan.

Demikian hasil assessment-ku menilai performa driver pinggir saat melahap karpet hitam penghubung Cilincing-Cikunir. Selaras dengan profil dan jiwanya yang dialiri darah muda, agresifitas seketika meluap-luap.

AKAP terbaik untuk kelas ekonomi versi Kemenhub, Daya Melati Indah (DMI) 1 ZX, saudara tuanya, New Travego 55 VX serta serikatnya, Proteus 20 D milik SJ Langgeng Utama tak ubahnya hanya ‘teh tawar’,  minuman pembuka sebelum menyantap kudapan berat.

Menyisir hulu Tol Jakarta-Cikampek, semakin superior daya 242.4 PS yang disemburkan dapur pacu berpenggerak enam silinder. Raya 18 jadi ‘hidangan pertama’ yang dilumat, disusul kemudian Sinar jaya 14 ZX serta kompatriotnya, 29 S.

Rasa lapar yang belum hilang dieliminir dengan memangsa Rosalia Indah Legacy Sky 360, Pemadu Moda Damri 4674 Bandara-Kayuringin, plus Sinar Jaya B 7248 VB berbasis kostum Concerto.

Belum kenyang juga, bus karyawan Parahyangan BHB 45, PPD 17 Bekasi-Dukuh Atas, gerombolan Laskar Pelangi – Sinar Jaya B 7912 IS, Setra 85 DX, Panorama DX 20 S -, serta Si Merah Agra Mas 5072 jadi penyempurna jamuan gala dinner yang disajikan meja bebas hambatan.

“Assololey…mantap!” batinku bersorak kegirangan, sesaat sebelum palang pintu gerbang Cikarang Utama dikerek turun.

Namun… puluhan detik kemudian dunia terasa berubah drastis.

Saat mencoba ‘adu speed’ dengan Rosalia Indah OM 906LA, busku ‘hilang keseimbangan’. Semakin dipacu, jalannya terasa timpang, kabin mulai gemetaran dan seringkali ndeprok ke sisi kanan.

Di km 35+400, ‘supervan’ jurusan Pulogadung-Tayu ini dipaksa minggir oleh keadaan, untuk memastikan persoalan yang terjadi.

“Ban kanan dalam kempes…”  kesah kenek kepada sopir, dengan ekspresi tak bergairah.

Sepertinya itu bukan problematika serius, menilik kenyataan bus dihela lagi. Tapi situasi memburuk, ketika kecepatan putar keenam roda menukik tajam. Sederet bus yang belum lama diasapi sekarang memutarbalikkan skor.

Rest area km 39 jadi singgahan sementara, dan orientasi utamanya adalah minta bantuan tukang ban yang membuka tempat usaha di dalamnya. Jasa isi angin lah yang dibutuhkan untuk menangani ‘trouble’ pada salah satu kaki.

Lima menit setelahnya…

“Sudah, nanti di sana saja,,” seru asisten, mengajak juru kemudi untuk kembali berjalan.

Barangkali, aku dan seluruh penumpang tidak ngeh dengan kendala yang sesungguhnya terjadi. Namun, saat mengaspal di ruas tol, barulah kami merasa was-was, cemas sekaligus penasaran dan bertanya-tanya, ada apa gerangan.

Permasalahan rupanya belum teratasi. Bus kelahiran tahun 1997 itu kian memble, tak ada larinya sama sekali, selalu memagari diri di lajur satu.

82 J, Nusantara HS-220, Gunung Mulia Panorama DX, Setia Negara ‘Pistis’, Sinar Jaya jurusan Margonda serta teman sebarak, 14 ZX, seakan bilang “EGP, Emang Gue Pikirin…” dengan kesusahan yang menimpa ‘Budi gede’.

Giliran berikutnya, Luragung Jaya ‘Rama Jennet’, tiga Prima Jasa beda trayek, masing-masing Bekasi-Garut, Kalideres-Bandung, serta Bekasi-Bandung, Shantika Biru, Dewi Sri berbusana Equator, Sinar Jaya Comfort serta Muji Jaya MD-88 menjerembabkannya di dalam kubangan ketidakmenentuan.

Belum lagi lusinan truk, — yang andai aku seorang truk mania, pasti akan aku catat identifikasinya satu per satu – menyemprotkan kepulan residu hitam untuk dihirup armada seharga ‘seratus ribu’ ini.

20.40

Dipilihlah exit km 46 sebagai jalur penyelamat, ketimbang malu jadi pecundang di sirkuit sepanjang 72 km. Diparkirnya bus di depan ‘kawasan industri’ tambal ban, yang berderet selepas gate out Karawang Barat.

Maafkanlah, Bila Ceritaku Suatu Dosa… (3)

Posted on


“Jo, bus-bus yang dari Lebak Bulus masih di belakang kita?” tanya Pak Sopir tanpa gairah, saat tapak roda menggilas jalanan Kota Pati.

“Masih, Nyo.”

“Tolong ditelepon Jo. Kita oper saja penumpang kita. Aku ngga sanggup nyopir lagi. Hawanya apes, nanti malah tambah tak keruan kalau kita terus lanjut,” pintanya, seolah belum lepas dari bayang-bayang “kematian” si penunggang motor.

“Terserah Nyo. Terus kita mau ngapain?”

Sopir hanya menggeleng. Air mukanya memadam, menampakkan rasa bersalah dan kesedihan mendalam.

“Maaf Bapak, Ibu, semuanya. Busnya ini rusak, tak bisa melanjutkan perjalanan kita yang masih jauh. Nanti dioper ke bus belakang, yang sebentar lagi sampai. Sekali lagi kami minta maaf…”

Demikian announcement dari kru #3 kepada penumpang, saat bus dihentikan tak jauh dari Terminal Puri, Pati.

Penumpang mafhum walaupun sebenarnya bus masih bisa dipaksa berjalan. Mental dan psikis pengemudi yang tengah terguncanglah yang jadi sumber penyebabnya.

Seketika itu pula mereka menyibukkan diri untuk “proses evakuasi”, menata badan, mengemasi barang-barang bawaan, dan selanjutnya turun menanti bus pelangsir.

Saat menunggu, kucoba menelisik bagian moncong bus yang sebelumnya menggebuk habis-habisan sepeda motor.

Ya Allah…Ya Gusti…

Terlihat bumper berbahan fiber di bentangan kiri porak poranda tak berbentuk lagi. Kaca headlamp berbentuk bidang daun pun retak berantakan, meski bohlamnya masih sanggup memancarkan sinar kemilau. Dan yang mengiris lara adalah “prasasti bisu” di atas lampu besar, berupa tertinggalnya cat bodi motor berwarna merah darah yang masih hangat menempel di atas kulit legam tubuh Royal Coach E. Goresan panjang tak beraturan itu seakan jadi signature bahwa telah tergariskan kontak fisik tak seimbang antara “David vs Goliath”, dan (barangkali) juga pencatat akan momen krusial berpisahnya ruh dari raga seorang anak manusia.

***

Wahai…jalan raya. Mengapa Engkau yang hakikat muasalnya diciptakan sebagai tempat saling berbagi kini malah  mengalami dekadensi, menjelma menjadi kubangan pentas ego diri serta arogansi?

T – a – m – a – t

Maafkanlah, Bila Ceritaku Suatu Dosa… (2)

Posted on


Kurasakan bus menghantam sebuah benda yang merintangi jalan. Dalam hitungan sepersekian detik, di antara keremangan cahaya lampu kota samar kusaksikan seseorang “terbang”, terhempas dan akhirnya jatuh telungkup di rerumputan pinggir jalan. Saat kutoleh ke belakang, dia tampak diam, membujur kaku, tak bergerak sama sekali. Sedang motor bebek yang dikendarai terpelanting dan jatuh terguling berkali-kali sebelum terjerembab ke dalam selokan, efek dramatis akibat tersambar kendaraan besar.

“Masya Allah…ngeri!!!” batinku terhenyak setengah tak percaya bahwa perjalananku kali ini berakrab dengan bencana.

Cesss…cesss….cesss….                  

Pengereman terakhir dilakukan dan bus baru benar-benar berhenti kurang lebih 100 m jauhnya dari titik crash.

Seketika ruangan menjadi gaduh, wanita dan anak-anak menjerit histeris dan suasana menjadi riuh tak terkendali saat para penumpang kemudian berdiri dan saling bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu dari balik kemudi…

“Gimana, Jo? Gimana itu orangnya?” tanya driver dengan gemetaran. Duduknya pun lunglai sambil memeluk lingkar setir, lemas tak kuat lagi menyangga tubuh.

(Jo : panggilan sopir kepada kenek – pen)

“Perhitunganku mati, Nyo. Keras sekali tertabraknya…” jawab asisten pengemudi itu sekenanya, seolah ia sendiri belum habis pikir mengapa busnya dirundung kenahasan. Dilongoknya kaca spion kiri di luar pintu, diamatinya setiap sudut frame, berharap kondisi korban bisa diintip lewat media pengintai itu.

“Ada apa?” tanya sopir kedua yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya, mengorek peristiwa apa yang barusan terjadi.

“Nghajar motor. Tewas sepertinya. Ngawur… ngawur…baru belajar naik motor tuh orangnya!” umpat Mas Kenek, yang dari nada bicaranya terkesan geregetan dengan ulah biker yang tak tahu etika itu.

“Sudah…sudah…kita turun. Ayo ditolong…” timpal sopir tengah itu seraya menuruni tangga dek kabin, dan hendak membuka pintu.

Tiba-tiba pria-pria berbadan besar yang duduk di barisan depan — dan menurutku satu rombongan — , angkat bicara.

“Ah, ngapain ditolong segala,” sergah satu di antara mereka. “Dia tuh yang beloon, nyaris mencelakai seisi bus. Biar dirasakan sendiri akibatnya.”

“Benar…benar…percuma!” lirih bisik-bisik antarpenumpang menggumam.

“Tapi…apa tidak kasihan, siapa tahu nyawanya masih bisa diselamatkan,” protes pria paruh baya yang berdiri di tengah, dengan bijak.

“Iya…iya….benar juga. Biar bagaimanapun, dia juga berhak ditolong!” serentak diamini sebagian yang lain.

“Maaf Pak, Bu, Saudara-Saudara. Saya tahu persis kejadiannya,” ujarnya meredam polemik antara hitam dan putih. “Dia tuh motong jalan kita. Motornya tanpa lampu, ngga pake helm, knalpotnya bikin budek. Sudah gitu ngebut, ngga tengok kanan kiri waktu putar arah, mau menyeberang. Kalau bukan karena pengaruh minuman, lagi  mabuk, orang waras mana yang senekat itu?”

Semuanya terpekur menyimak keterangannya.

“Apa pantas orang seperti itu ditolong? Dia tuh cari mati dan memang pantas untuk mati…” simpulnya tak kalah geram, layaknya orator ulung membius audience-nya.

Suasana masih terdiam membisu, berkalang kebimbangan.

“Sudah Pak Sopir, jalan lagi. Kasihan penumpangmu nanti terlantar di jalan kalau ini jadi urusan polisi. Mereka ingin cepat sampai tujuan, mereka punya kepentingan masing-masing. Apalagi nasib kamu. Masuk penjara, diskors kantor, berminggu-minggu ngga kerja. Makan apa anak istrimu? Belum lagi kena uang perkara. Habis banyak kamu nanti…” ceramah kawan satunya lagi dengan mimik innocent serta enteng, meski ia sendiri juga tidak menjelaskan andai ada apa-apa di belakang nanti, siapa yang akan pasang badan, jadi penanggung jawab.

Aku pun hanya bergeming terpaku, tak tahu harus berbuat apa. Aku jauh belia dibanding mereka, jadi apa kuasaku. Di satu sisi aku merasa iba dan sudah semestinya membantu korban, tapi di sisi lain juga muak dengan ulah anak-anak muda yang gemar mabuk-mabukkan dan trek-trekan motor di tengah malam. Seringkali dalam trip pulang mingguanku, jalan lingkar Kota Demak dan Kudus disulap jadi sirkuit dadakan, ajang adu nyali dan unjuk gejolak adrenalin.

Aku juga tidak tahu, siapa “sosok misterius” pria-pria berpostur tegap dan kekar itu, sehingga tak gentar membuat keputusan berani dan bertentangan dengan norma-norma humanisme yang begitu diagungkan umat manusia.

“Cepat jalan, keburu nanti ada memergoki. Jangan sampai banyak orang ini disengsarakan satu orang tolol itu. Tinggalin saja…” perintah temannya yang lain dengan tegas, memungkasi konflik batin di dada para penumpang dan kru.

Meski sempat canggung dan speechless, dengan tergesa-gesa, Pak Sopir pun mulai menjalankan busnya kembali.

Entah pikiran apa yang sedang berkecamuk di benaknya, sehingga menuruti intruksi yang jelas-jelas melabrak pranata sosial.

Rasa berdosakah?

Sedang menyusun alibi kah?

Atau merasa “beruntung”, luput dari jaring hukum?

Jangan-jangan dia dilingkupi kekhawatiran akan “karma” di masa depan?

Ataukah berbahagia, lantaran nanti masih bisa bertemu anak istri, bukan membuat mereka bersedih mendengar kabar suami atau bapaknya meringkuk di balik jeruji?

Mbuh ah…

Nyatanya, forum perdebatan pelik itu berdurasi sangat singkat. Cukup satu menit untuk membuat keruh kejernihan logika kami dan ujung-ujungnya semuanya “mau” menerima kata mufakat untuk meninggalkan korban. Kami jadi pelakon aksi tabrak lari, hit and run, sebuah perbuatan yang merendahkan harkat dan harga diri manusia lain.

Dan anehnya, perilaku barbar dan mungkar kami berlangsung sukses, aman serta tak terpindai oleh mata yang lain. Latar situasi begitu mendukung. Tak satupun kendaraan yang melintas, tiada orang yang berlalu lalang, pasca terjadinya kecelakaan di pagi buta tersebut.

Bus yang disemati julukan Mercy Intercooler itu semakin menjauh meninggalkan tempat kejadian perkara. Selamatlah kami semua, khususnya awak kabin dari peradilan dunia. Meski nurani kami juga terus-menerus memberontak atas perilaku konyol dan anti kemanusiaan, terutama kenaifan kami dalam meniadakan wilayah Ilahiyah, bahwa Gusti Allah mboten sare. Dia lah Maha Segala Penyaksi…

Aku tak menyalahkan Pak Sopir, Bapak-Bapak yang memprovokasi agar urung menolong si korban, atau semuanya yang terlibat tak langsung dalam musibah ini. Andai kami bisa men-somasi si pengendara motor, justru kami lah yang akan menuntut kesialan ini. Gara-gara kecerobohan serta keteledorannya, pihak bus yang akhirnya terancam jadi pesakitan di hadapan ketok palu vonis hakim.

Ah…sejatinya yang patut disalahkan atas semua ini  adalah “pengaretan pasal-pasal” yang termaktub dalam kitab undang-undang lalu lintas dan jalan raya yang dianut republik ini.

Selama penyelesaian hukum atas kasus kecelakaan masih menempatkan si kecil sebagai pihak yang selalu terbela, senantiasa dimenangkan gugatannya tanpa proses penyidikan yang jujur, transparan dan sesuai fakta sebenarnya di lapangan — dengan dalih terlalu rumit, bertele-tele dan kesulitan menghadirkan saksi –, dengan alasan kepraktisan, si besar selalu jadi “tumbal pemerasan”  dan menanggung kerugian terbanyak hingga lahir idiom “yang besar yang bayar”, jangan harap aturan itu akan tegak setegak-tegaknya.

Yang ada justru malah sebaliknya. Berita pelecehan terhadap moralitas dan adab budi pekerti di jalan raya masih acapkali terdengar. Praktik pen-Tuhan-an terhadap kaidah rimba belantara –yang besar yang lebih berdaulat — di atas mimbar permadani hitam diam-diam digaungkan, imbas dari melempemnya penerapan asas ketaatan hukum.

Selama ada niat dan kesempatan pelaku untuk melarikan diri, itulah cara instan yang ditempuh untuk membebaskan diri dari jerat kerunyaman penanganan kasus kecelakaan lalu lintas. Non-sense bagi si pengecut itu, meski dia kelak dicap sebagai “musuh kemanusiaan”.

Miris…

Maafkanlah, Bila Ceritaku Suatu Dosa… (1)

Posted on


Aku lupa kapan persisnya peristiwa itu terjadi. Namun rekaman alur kisah tragis itu masih betah bersemayam di sela-sela lipatan otakku.

***

“Bakar!!! Bakar!!! Bakar saja lembar catatan itu!” bisiknya agitatif. “Kalau kau masih was-was, satukan abunya, kemas ke dalam peti mati dan kunci rapat-rapat. Lalu tenggelamkan ke dasar lautan yang terdalam. Yakinlah, yang demikian bisa meluruhlenyapkan bercak hitam itu agar tak lagi mengotori dinding ingatanmu.”

Hasutan setan sungguh-sungguh memburamkan keberadaban dan nalar sehatku sebagai makhluk berakal, tak lama setelah babak pilu di atas panggung jalan raya teradegankan, kira-kira lima tahun silam.

Barangkali, bukan aku sendiri yang memiliki “rencana tak senonoh” seperti itu. Ada dua puluhan orang yang duduk dalam satu bus bersamaku. Bisa jadi, mereka punya pemikiran yang sama dan sepaham untuk memberedel kasus itu selamanya.

Meski dengan kadar peran yang berbeda – sebutlah ada si pelaku utama, aktor figuran maupun hanya penyaksi — namun kami secara sadar mengakui, semuanya punya andil atas terselenggaranya fragmen pencederaan nilai-nilai kemanusiaan.

We must keep this secret so tight,” demikianlah kesepakatan imajiner kami kala itu, untuk menyuci tangan dari pertanggungjawaban dunia atas tragedi keji dan amoral.

Bukan maksudku membelot dari konsensus busuk dengan membeberkan rahasia yang mesti dijaga berjamaah. Seiring melenggangnya waktu, aku tetap tak sanggup menghapus aib kehidupan itu sepenuhnya. Ada kalanya, bayang-bayang kehinaan keinsanan kami menari-nari di depan pelupuk mata, mencoreng martabat kami sebagai hamba Tuhan yang berderajat paling tinggi.

“Aku dan mereka ternyata kerdil dan picik, tak punya nurani untuk berempati terhadap sesamanya…” sesalku kini.

Jujur, tak ada kemauan hati untuk mencari siapa yang patut disalahkan, siapa dalangnya, siapa provokatornya dan siapa pula yang menjadi korban, toh…kejadian itu sudah lama berlalu. Andai hendak dikuak, tak ada lagi barang bukti yang tersisa, raib serta musnah dipetieskan guliran masa.

Sebenarnya aku juga malu menjelenterehkan jiwa-jiwa pengecut yang bersembunyi di dada kami.  Namun seberkas harapan mencuat sebelum aku berbulat hati meniatkan diri membuka borok ini. Yakni, (semoga) ada pesan dan hikmah yang bisa digali, ditadaburi dan selanjutnya dihayati, khususnya demi kebaikan diri sendiri serta entitas pengguna jalan pada umumnya.

Demikianlah mukadimah yang mendasari gerak jari-jemariku untuk berbagi cerita sarat dosa dan yang pasti, akan menuai cibiran ini.

***

“Kalibanteng…Kalibanteng…yang turun harap bersiap-siap!” seru kenek santun, menciptakan sinyal alert bagi beberapa penumpang yang memegang tiket dengan tujuan Kota Atlas.

Bergegas dua atau tiga orang melantai, setelah gerak keenam roda dikunci cengkeraman lining brake bus bervarian OH-1521, tak jauh dari bundaran Kalibanteng. Sementara sebagian yang lain terusik dari peraduannya, tersengat oleh pijar lampu ruangan yang menusuk mata. Tak terkecuali juga aku, yang bersinggasana di baris keempat sisi jendela kiri.

“Wah, hampir setengah dua. Andaikan jalanan lancar, setidaknya pas azan subuh, aku bisa menginjak tanah kelahiranku kembali…” gumamku, saat kutatap display penanda waktu di pojok kiri kabin.

Ngreeeng….ngreeeng….ngreeeng…

Deru knalpot bersenandung riang, seirama ekspresi hatiku, memecah keheningan dinihari di belahan utara ibukota Jawa Tengah. Ditapakinya jalan arteri Pelabuhan Tanjung Mas, sebagai by pass penyingkat jarak untuk menembus kawasan Semarang timur. Dinaungi hamparan langit yang berselimutkan mendung tipis, lalu lintas benar-benar sepi, tak ubahnya walk alone di kota mati. Tak perlu tempo lama, kinerja dapur pacu OM-366 LA mumpuni untuk dikonversi oleh pedal akselerasi menuju kecepatan jelajah ideal bagi moda darat lintas propinsi.

Di rentang 80-100 km/ jam, itulah rabaanku berkaca pada siulan putaran turbo mesin dan simfoni hembusan angin yang terbelah oleh efek aerodinamis tubuh Setra Selendang garapan Adi Putro.

Baru saja para penumpang hendak merapatkan selimut, meneruskan pergumulan melawan hawa dingin yang dibangun perangkat air conditioned buatan Denso, sayup-sayup terdengar raungan muffler sepeda motor yang sedang ngebut, semakin lama semakin jelas mendekat ke arah bus. Penunggang roda dua yang berposisi berlawanan arah dengan armada kami itu kemudian mengurangi kecepatan, sambil membleyer-bleyer tuas gas, menghasilkan intonasi yang memekakkan telinga. Dari suaranya, aku bisa menebak, itu bukanlah knalpot standar, melainkan bobokan layaknya motor yang dipakai buat balapan liar.

Saat aku tengah berpikir tentang keberengsekan tengah malam  itu, tiba-tiba….

“Awas…awas, Nyo!!! Awas…!!! Motor itu mau muter!” pekik lantang Mas Kenek dengan terperanjat, terbata dan tergagap menghadapi “gelagat di luar dugaan” yang terjadi di depannya.

(Nyo : Panggilan kenek kepada sopir – pen)

Bersamaan itu pula,

Mati aku!? Goblok!!! Anak ini maunya apa?” maki Pak Sopir tak kalah tercengang dan kaget. Wajahnya seketika memucat dan gerak tubuhnya merefleksikan kepanikan, meski dia sendiri berikhtiar melawannya agar tetap tenang.

Cesss…cesss….cesss….

Dengan refleks dan spontanitas, sistem pneumatic brake diforsir bekerja rodi mengurangi laju kecepatan, meski imbasnya bus ajrut-ajrutan, terhuyung-huyung dan oleng kanan-kiri kebingungan saat melakukan perlambatan dibarengi aksi ngeles, seolah berupaya menghindari tabrakan frontal.

“Ya Allah!!! Allahu Akbar!!!…Allahu Akbar!” sontak sebagian besar penumpang terbangun dan langsung meratap pasrah, menyikapi situasi yang genting serta menegangkan.

Teettt….teettt….teettttttt….

Suara klakson menyalak panjang, namun terlambat, sebelum akhirnya…

Brakkk!!!! 

Mimpi Yang Terbeli (4)

Posted on Updated on


Kawasan Kledung Pass, Desa Reco, yang merupakan busur tertinggi etape Wonosobo-Temanggung, menghamparkan panorama alam yang begitu elok. Dijepit “gunung kembar”, Sindoro dan Sumbing, dengan puncak berbentuk kerucut yang tengah merah merona memantulkan terpaan surya pagi dari cakrawala timur. Wow…magnificient Indonesia!!!

Punggung jalan yang berubah menurun, dikombi tikungan tajam kiri-kanan, jadi ajang driver show off ketrampilannya. Bus yang punya 25 kapling bangku itu “terbang” cepat. Jalanan sempit tak merepotkan langkahnya dalam menepikan mikro bus Barito di chicane Kewadungan Jurang, dan berlanjut menggeser posisi PO Cebong Jaya di Paponan.

Parakan. Kotanya Mas Yeremia Adi.

Suasana pagi begitu cerah. Geliat kehidupan kecamatan kecil di lereng Sumbing itu mulai terasa. Aktivitas warga  ramai memeriahkan sudut-sudut pasar tradisional Parakan. Busku hanya berlari-lari kecil mengitari kota plural namun sejuk, damai dan toleran. Menjelang tugu ikon Kota Parakan, bertemu muka dengan Handoyo AA 1453 DA. Aku menebak,  New Celcius itu adalah delegasi jurusan Malang-Purwokerto.

Tiba-tiba, awang-awang dipenuhi lautan awan putih yang bergulung-gulung. Karena “tak ada pilihan lain”, Rejeki Baru pun gagah berani menabraknya. Rupanya kabut tebal turun. Dalam hitungan menit, cuaca berubah drastis. Langit seketika redup, matahari seakan ditelan kepekatan halimun. Jarak penglihatan ke depan hanya sekitar 50 meter-an, itupun sudah disokong penyalaan lampu besar serta foglamp. Dinding kaca luar berembun masif, pandangan tak lagi leluasa diedarkan. Untuk melihat deretan rumah di pinggir jalan aku tak kuasa.

5.45

Bahkan, pusat kota Temanggung pun tak bisa kukenali lantaran “mega putih” masih mengurung. Hanya jam yang bisa kucatat saat menggeluti kota sentra tembakau nasional itu.

Kabut berangsur sirna di daerah Kranggan. Meski tinggal sejengkal lagi, rasa kantuk tak kuasa kulawan. Aku pun tidur-tidur ayam, dan terbangun di daerah Payaman.

06.28

Setelah “ngeblong” kiri lampu merah yang  “mengawinkan” jalan lingkar Soekarno-Hatta dan arah kota, bus berlivery tribal tanaman bersulur menerobos pintu keluar sub Terminal Kebonpolo, Magelang. Dan itulah penanda garis finish perjalanan interprovince bus Rejeki Baru, sekaligus titik langsiran untuk penumpang  Jogja serta Magelang Kota.

“Ibu/ Bapak mau kemana?” satu persatu sewa ditanya oleh petugas kantor cabang Magelang untuk mengetahui tujuan akhir mereka.

“Mas mau kemana?” giliranku “kena investigasi”.

“Jogja,”

“Silahkan naik mobil hitam ya, Mas.”

“Hmm…Diantar sampai tempat kan, Mas?”

“Rumah Mas daerah mana?”

“Seputaran Jl. Kaliurang Km.11”

“Saged (bisa) Mas, nanti bilang sama sopir, ya!”

Dengan hati setengah ikhlas, kutinggalkan memorable bus yang telah berjibaku sepanjang jarak 500-an km, dan menguras waktu tempuh selama 13 jam. PO wisata yang meninggikan service, kenyamanan serta feel excitement dalam memuliakan para “pelaku acara darmawisata” yang diemongnya.

Aku pun jadi maklum, mengerti dan kemudian mengamini, mengapa Lek Ponirin Similikithi dengan kesadaraan tinggi dan faktor kesengajaan, menenggerkan Rejeki Baru di pucuk pimpinan klasemen Liga Super Eksekutif (SE) yang tengah digelar. Memang undebatable lah…Hehe…

Sambil menanti estafet paket antara big bus dengan kendaraan feeder, kuhirup dalam-dalam udara hangat alam Magelang. Kukendorkan otot-otot raga yang semalaman terkungkung di dalam “penjara mewah” eklusifitas sebuah  armada travel.

Hmm…andaikan tak ada pembatalan tiket, nyaris saja aku gagal mengejawantahkan ” iming-iming” tentang cerita manis mereka dalam mengecap layanan super eksekutif Rejeki Baru. Keberuntungan ternyata lebih memihakku. Aku diloloskan dari lubang jarum, dan akhirnya bisa merengkuh buruan dalam mengincar spesies langka lagi unik di dalam dunia per-bus-an tanah air.

Rejeki Baru, ini baru (namanya) rejeki….

IMG00309-20120512-0602

“Mas, monggo naik, siap berangkat!” colek Mas Sopir membuyarkan lamunanku.

Kuayunkan telapak kaki mendekat Isuzu Panther ber-STNK AA 8532 QB, selaku armada limpahan.

IMG00315-20120512-0607

Kuungkit handle pintu tengah untuk mengangkangi “tahta anyar”, seraya batinku bergumam riang, “Mbah Kung, I’m coming….”

-Setengah Tamat-

Mimpi Yang Terbeli (3)

Posted on Updated on


Byar…

Pendar cahaya deretan lampu LED yang menempel di langit-langit menyentil kelopak mata.

Olala…ternyata dalam jarak “sehasta” dari Pananjung, Rejeki Baru menepi. Handbrake diaktifkan saat tapak roda menginjak parkiran rumah makan yang terletak di sisi kanan jalan.

Dari baliho, tertera nama “Ampera” dan disertakan alamat Jl. Bandung-Tasikmalaya Km 47, Limbangan, Garut.

IMG00307-20120511-2145

Kesan pertama, sebuah restoran yang tidak terlalu besar, dengan daya tampung ± 100 tamu.  Identitas bangunan berasitektur Sunda terlihat dari model atap julang ngapak, dengan daun kawung (enau) sebagai gentengnya. Di belakang ruang utama, terdapat saung-saung yang “mengapung” di atas kolam ikan.

Soal kebersihan, aroma masakan, landscape taman, keramahan pramusaji, layanan prasmanan, serta tata ruang cukup menggelorakan selera makan.

IMG00304-20120511-2139

Kuracik menu nasi putih, sayur asem, bakwan jagung, sambal goreng kentang mustofa, pepes ikan mas, sambal bajak plus lalapan, serta teh tawar sebagai penyedia nutrisi tubuh malam itu.

IMG00303-20120511-2131

“Semuanya Rp19.500,00, Mas.” kata Bapak bagian kasir, setelah mengaudit apa-apa saja yang aku comot.

22.10

45 menit berlalu, para penumpang telah siaga kembali di tempat muasal. Bus yang menjunjung slogan “melayani lebih sungguh” mengangkat kait jangkar. Tak lama setelah menapak jalan nasional, langsung mengekor bus wisata PO Efisiensi AA 1441 CM serta PO Damri 3383.

Bertiga berparade di antara rombongan truk dan mobil kecil, bahkan bergotong-royong dalam mengasapi bus Budiman Cikarang-Tasik di wilayah Cibatu, Kersamanah.

Bila aku komparasi, traffic pantai selatan tak seramai pantai utara. Namun lebar jalan yang tak seberapa membuat usaha menyalip sebuah motor pun butuh upaya keras.

Pangkalan, Citeras, tepatnya di rumah makan Rahayu 2, terlihat Doa Ibu Setra Adi Putro sedang mengakomodir  para sewa dalam menunaikan rutinitas mengisi perut.

Gereget dan fighting spirit pramudi tengah muncul ke permukaan. Cabikan kaki kanan dalam memainkan pedal gas mendorong reaktor dari marga RK8 menyuguhkan performa apiknya. Aset “pelat merah” R 1564 AD jurusan Jakarta-Cilacap dipaksa melempar handuk di  Cipatik.

Sayang, mataku tak bisa diajak kompromi untuk lebih lama mencumbui eksotisme tlatah Priangan Timur. Tak bisa dipungkiri, sebenarnya kenyamanan armada adalah seteru penggiat turing, hanya jadi pemindah kasur empuk di rumah ke atas roda, menurunkan value of travelling lantaran niatan menikmati ragam  kehidupan di sekeliling jalan raya terpangkas kegiatan tidur.

Malangbong hingga puncak Gentong, masih sempat kurasai level kesulitannya, di tengah kesadaran yang menyurut.

Sebelum akhirnya aku terlelap dalam buaian lima lapis bilah semi elliptical leaf spring, komponen penyusun sistem shock absorber.

00.46

“Bapak…Ibu…Monggo, bagi yang ingin ke belakang, kami persilahkan!” sayup-sayup suara dari Mas Kenek mengusik aksi meremku.

Kuamati kanan kiri, banyak “penduduk” mulai meninggalkan tahtanya, sementara bus rehat di sebuah areal SPBU di daerah Wangon.

Kendala bagi bus yang tidak menyediakan fasilitas toilet built in, sehingga ada acara time out di tengah perjalanan, memberi kesempatan kepada penumpang menyelesaikan hajat biologis mereka.

Break selama 10 menit, bus yang ditukangi taipan dari negeri Magelang itu mengaspal kembali. Silver Class berusaha mendekati Gapuraning Rahayu Evolution yang diintip dari kejauhan. Entah berapa lama gerakan approaching ke buritan Z 7991 TA itu diperagakan, hingga aku terkantuk-kantuk dan selanjutnya meneruskan mimpi.

04.38

Lirih kumandang azan subuh menelusup dinding telinga. Segera kubuka mata, mengedarkan pandangan ke sekitar. Hari masih berselimutkan gelap, sementara bus sedang berhenti di pojok pertigaan jalan nan sepi. Kru sibuk membongkar sebagian isi bagasi.

Samar kulihat plang toko obat “Bethesda”, Jl. Bhayangkara, yang ternyata adalah kantor chapter Kota Wonosobo.  

Huft…hampir empat jam aku melewatkan momem-momen indah  perjalanan. Rugi…padahal aku belum kenal mendalam jalur selatan Jabar dan jalur tengah Jateng. Kapan lagi aku berkesempatan mengembara ke rute yang sama sekali tak menyinggung peta PJKA yang kulakoni tiap pekan?

Sepertiga kursi telah ditinggalkan penghuninya, termasuk ibu-ibu yang duduk di sebelahku, sebelum produk Jepang itu melanjutkan sisa tripnya.

Menggilas jalanan kota kabupaten pemangku Dieng Plateau, melewati Terminal Mendolo yang lagi memajang Damri bergaun Skania jahitan Restu Ibu di “teras depan”, suksesor Marcopolo OH-1525 yang telah ditake over PO Haryanto itu, bersiap kerja rodi.

Yes… it’s showtime, ready for maiden voyage jalur Wonosobo-Temanggung-Magelang. Itulah pasal numero uno mengapa aku lebih memilih Rejeki Baru, memadamkan komporan Koh Hary Cendana Intercooler untuk menggagahi armada Evonext, duta baru Pahala Kencana line Jogja.

Hiking track Kertek-Kledung sepanjang 12 km jadi special stage untuk menguji durability mesin diesel empat langkah yang disangga enam silinder in line. Momen puntir sebesar 76 kgm pada putaran 1500 rpm pun terengah-terengah menjinakannya.

Lintasan berat berupa tanjakan landai memanjang berdaulat mendongkrak tingkat kebisingan di dalam kabin oleh raungan engine 7.684 cc yang menderu hebat.

Yang membuat takjub, setelah menyalip medium bus bertagline Jamaica, tampak di muka iring-iringan dua truk trailer yang hanya berkonfigurasi empat sumbu roda menggendong kontainer 40 feet. Ck…ck….ck…

Aku pun membayangkan kondisi bus bumel Purwokerto-Semarang yang ala kadarnya, minim perawatan dan malas meremajakan armada-armadanya, sementara tiap hari mesti berperang dengan medan yang penuh aral lagi maut. Benar-benar gede nyali dan nekat tingkat tinggi…

Pantas saja, untuk lajur yang mengarah ke barat disediakan wahana penyelamat, sebagai antisipasi bagi kendaraan yang mengalami braking failure. “Akal-akalan” yang persis sama diterapkan Jasa Marga Cabang Semarang dalam melindungi pengguna jasanya saat menuruni tol Jatingaleh-Muktiharjo.