Latest Event Updates

Sate Ayu; Heterogenitas Per-Sate Kambing-an Nusantara

Posted on Updated on


Semenjak meminang gadis pujaan 10 tahun silam, dua telinga saya ini pun mulai berkenalan dan kian intim dengan yang namanya sate Ayu. Lho, kok bisa?

Rupa-rupanya, tanah tempat warung makan ini berdiri hanya berjarak “lima langkah” dari rumah nenek mantan pacar, di daerah Kuncen, Padangan, Bojonegoro.

Sebenarnya, niatan untuk mentaarufi menu sate Ayu juga sudah lama terbersit, mungkin seusia pernikahan kami. Namun, meski hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selalu saja urung dan terus tertunda. Pasalnya, setiap kali sowan dan bertamu ke rumah eyang putri, tak ada istilah perut kosong. Sebagai  cucu-cucu dan buyut-buyut yang diistimewakan  :) , hidangan dan cemilan komplit dan berselera selalu tersaji di meja buat keluarga kami. Tak ada ruang untuk berlapar ria walau hanya semenit saja.

But, kalau enggak nyolong-nyolong kesempatan, kapan lagi akan terealisasi membikin happy lidah kami akan dahaga mencoba khazanah perkulineran yang baru? :(

Jelang hari peringatan 70 tahun negeri ini merdeka, beserta istri dan tiga pretty little angel tercinta, kuajak mereka untuk icip-icip olahan dapur khas sate Ayu. Setelah menyeberang  jembatan Kuncen, dan selanjutnya berbelok kanan di area pertigaan Mbaru, Padangan, sampailah cikar Nippon kami pada halaman sebuah rumah makan. Tak ada nuansa bahwa bangunan yang tepat berlapak di sisi double track jalur kereta api Jakarta-Surabaya ini adalah rumah makan yang mbois dan classy. Tampilan muka, tata letak perabotan dan perangkat meja kursi begitu sederhana dan bersahaja, hanya minor customize rumah tinggal dan garasi yang dimodifikasi jadi lay-out rumah makan.

Jpeg
Jpeg

Jpeg

Kami pun memesan main course yang kondang seantero Cepu dan Bojonegoro, yakni sate kambing, berikut gulai sebagai tandem untuk menu makan siang kali ini. Untuk tipe satenya pun diberikan keleluasaan dalam memilih, mau yang nongajih (daging only) atau gado-gado, campuran antara jeroan, daging dan gajih.

Aroma daging bakar khas barbeque menyeruak, menusuk tajam sensor lembut indra penciuman saat sate terhidang di hadapan kami. Sebagai sambal buat penyempurna santapan, terhampar di dalam sebuah piring paduan irisan bawang merah, kol dan tomat muda, yang diguyur cairan kecap manis-gurih. Ditambah prejengan kuah gulai nan kuning mengental berhiaskan daging-daging muda yang mengambang, membuat lidah semakin intens memproduksi air liur. Lupakan sejenak bahaya laten kolesterol, asam urat atau lemak berlebih di badan. Ayo sikat! :)

Jpeg

Jpeg

Nyummi dan nyaris perfecto…

Itulah kesan kuat saat tusukan sate yang tersusun dari empat potong daging kambing mendarat di rongga mulut. Dagingnya empuk, teksturnya lembut dengan warna coklat burgundy, minus bau prengus, plus celupan sambal kecap bertaburkan tumbukkan cabe rawit serta rempah lokal, cukuplah untuk mengerek nilai citarasanya di level 9.8 dari 10. Ada keunikan tersendiri pada rasa dan bumbu sate Ayu, tak meniru dan seragam dengan taste sate Tegal atau sate Subali, Alas Roban, yang pernah aku cumbui.

Kunci dari kelezatan sate Ayu ini bertumpu pada pemilihan usia, jenis kelamin dan letak bagian daging kambing yang hendak diolah. Kambing haruslah peranakan Jawa, BBG alias Betina Baru Gede, umur antara 6-7 bulan, perawan atawa belum pernah kawin, dan daging paling berkualitas terbentuk pada keratan paha.

Metode pembakaran satenya pun kudu di atas bara yang bersumber dari kayu arang. Hembusan angin untuk mengontrol ukuran api dan pemerataan panas mengadopsi cara manual,  memanfaatkan energi gerak kipas bambu. Dijamin, daging akan matang merata hingga sisi terdalam, cara yang akan susah dipraktikkan apabila menggunakan kipas angin. Delicious taste created by classic cooking system. Hehe…

Karena lokasinya persis di samping rel dan pojokan spot palang pintu perlintasan sepur Mbaru, sensasi menikmati Sate Ayu kian lengkap dan menghibur tatkala dua kereta api, yakni rangkaian KA Maharani dan KA Petikemas hampir bersamaan lewat. Lengkingan sinyal alarm yang berkoalisi dengan derak gemuruh wheel boogie manakala beradu dengan permukaan rel bak live music performance yang meriuhkan kesenyapan  jalan akses menuju Waduk Selorejo, Banjarjo, Padangan, siang itu.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg
Jpeg

Jpeg

Oh iya, tempo doeloe, rumah makan ini jamak lumrah disebut warung sate kambing muda. Barulah setelah istri Pak Tarmuji (pemilik warung sate Ayu) yang bernama Bu Yayuk meninggal dunia, orang-orang menyebutnya dengan sate Ayu, istilah yang di-trim dari kata Y-Ayu-K. Semacam tribute dari khalayak atas jasa Bu Yayuk yang telah puluhan tahun setia menemani sang suami berjualan sate kambing.

Kini, warung yang buka dari jam 10.00 hingga 22.00 kian tenar hingga mancakota berkat informasi getok tular, rekomendasi mouth to mouth. Manakala kami berkulineran di sini, mobil-mobil luar daerah (nonpelat K **** E/Y) dan mobil operasional perusahaan silih berganti mengisi slot parkiran. Daerah Cepu dan Bojonegoro sebagai basis minyak domestik ibarat gunung gula yang diperebutkan geng semut. Adanya korporasi besar seperti Pertamina, Exxon Mobil dan Petro Cina yang mempekerjakan ribuan karyawan serta institusi-institusi pendukung industri perminyakan nasional  adalah berkah tersendiri bagi terciptanya emerging market bagi prospeksivitas dan profitivitas kelanggengan usaha rumah makan sate Ayu.

Jpeg

Bila sate Tegal identik disebut sate batibul (bawah tiga bulan), sate Ayu pun layak dan patut diganjar dengan julukan sate batubul, alias bawah tujuh bulan.   :)

– Salam Goyang Lidah –

Go [Green] Show (4)

Posted on Updated on


04.59

“What!? Demak!?” terperanjat aku dibuatnya, “Ck…ck…ck…3 ½ jam untuk 40 km!?”

Torehan mentereng koleganya, Golden Dragon N 7577 UA rikolo semono, touch down @ 03.30 am di Rembang kala aku melakoni trip perdana  flight Jakarta – Malang, bakal tetap invincible.

IMG00805-20130531-1621

IMG00800-20130531-1618(rev)Memang luar biasa silang sengkarut stadium empat yang mendera kawasan Semarang Barat dinihari tadi. Angan-anganku untuk melontarkan ucapan salam “Selamat subuh, my beloved city!” menguap tak berkesan.

Di luar layar bening, begitu over confident-nya dua anggota “VGA Gank”, HR 99 dan HR 113 melakukan lari pagi. Berdua akur berkejar-kejaran, head to head, ngacir lintang-pukang, mengeksploitasi seluruh potensi tenaga kuda yang dipunya. Barangkali, tiada seteru sepadan, sehingga kerabatnya sendiri  dijadikan sparing partner. Hehe…

Rekayasa lalu-lintas agar truk dan bus mengarah ke dalam kota diterapkan Dinas Perhubungan dan Kepolisian Resor Kudus. Peninggian badan Jalan R Agil Kusumadya tahap II dan perbaikan drainase membuat jalan di depan Terminal Jati hanya berfungsi separuh.

Armada ber-livery grafity tri-warna; merah-kuning-biru ini menyejajari PO Widji Lestari S 7064 UJ racikan body builder Langgeng Jaya selama menempuhi rute antara perempatan Kencing hingga pertigaan Gendok, dalam upayanya mencapai jalan lingkar kota kretek.

Bias cahaya mentari menghangati lengkung cakrawala yang mempersatukan alam lentog dan alam pesantenan. Ratusan buruh pabrik rokok yang hendak berangkat beraktifitas, riuh menyemut.

Grade determinasi pun drop, nyungsep, karena terbitnya matahari adalah isyarat penanda bahwa jam malam buat “bus Jakarta-an” telah paripurna. Kru on board pun lebih memilih outer ringroad sebagai dewa penolong untuk menghindar dari keramaian pusat Kota Pati.

Mahkota Putri Sejati S 7218 UN, angkutan wisata dari Mojokerto, melorot satu trap saat di-kick rangkingnya tepat di atas Jembatan Kali Juwana.

Sekali lagi, bus berkode HT xxx men-simulasi-kan kevulgarannya dalam melucuti busana kebesaran para rival. Mengkaryakan petak darurat, Pahala Kencana B 7089 XA mengobrak-abrik defile monster-monster jalanan yang berarak-arakan, manakala N 7706 UA sendiri tengah menggodok strategi untuk lepas dari jepitan mereka.

Sebagai closing ceremony yang dipusatkan di sekeliling area tambak garam Kaliori, bus yang mem-branding nama prestisenya dengan font Cooper Black ini mengibarkan panji-panji kewibawaan lebih tinggi ketimbang umbul-umbul yang dikerek dua etnis pelat K, masing – masing PO Patmo K 1492 AB dan PO Selamet K 1710 GA.

Jpeg

06.43

“Mas yang turun Rembang ya?” tanya helper yang sengaja menghampiri lapak dudukku, me-remind bahwa patok finish yang kutuju sebentar lagi akan terpijak.

And finally…usai 16 jam 48 menit sekian-sekian detik bergulat dan bergelut dengan kejamnya “siklon Pantai Utara”,  Chartreuse Green berlabuh barang sejenak di dermaga bumi kawista, untuk memuntahkanku keluar dari perut gunung yang berjuluk Harta. Gunung Harta.

Yes you…Gunung Harta!

Jpeg

Go [Green] Show (3)

Posted on Updated on


21.10

Meng-copy karakter mesin diesel, bus ber-nocan GH-093 ini kian lama kian panas. Jalan tol sepanjang 35 km laksana gelaran karpet merah untuk mengukuhkan kedigdayaan “The Green”.

Bak film action, di mana sang jagon babak belur di permulaan skene, kini fase menapaki babak klimaks. Dengan lidah cemetinya, aktor utama semakin menggebu-gebu melontarkan cambukan ke selongsong enam injektor Mercy Elektrik agar semakin royal menyuntikkan kabut solar ke dalam ruang bakar.

Move on!

Aksi revenge alias balas dendam didemonstrasikan. Pahala Kencana “aluminium body” B 7868 IZ menepi, dinding bentengnya rontok, tak kuasa menahan gempuran bertubi-tubi. Demikian pula Bee Trans, AA 1616 AD. PO yang sebutannya sekilas memiliki kemiripan dengan bus pariwisata dari Jakarta Utara, Bee Bus, meraung hebat hingga kelelahan, saat kinerja dapur pacu diajak lomba lari di atas special stage yang bumby dan rigid.

Handoyo berbusana Panorama 3 tak luput mengangkat bendera putih lalu menancapkannya di papan petunjuk kilometer 245. And next, bus yang ber-cyber portal di www.gunungharta.com ini semakin merangsek ke bidang buritan bus yang (buatku) selalu ngangeni, Lorena.

Jpeg

N 7706 UA dan B 7186 PV seiya sekata, merangkaki akses keluar Pejagan, berdampingan menanti palang kereta api terbuka saat sepur Jayabaya pass away dan kompak mendorong-dorong Langsung Jaya “Comfort” agar menciptakan celah untuk di-overtake menjelang jembatan Cimohong.

Semestinya, panorama kerlap-kelip pendaran LED yang menghias pinggang produk P.363 LE-420 itu membinarkan lensa mata. Namun apa daya, kesadaran diri terhipnotis buaian air suspension nan mentul-mentul.

22.56

B 7206 XA.

Demikian kombinasi huruf dan angka yang terpindai indra penglihatan manakala aku terbangun dari peraduan.

Wow…Lorena Jetbus 2 lagi.

Berdua pun terlibat race seru mencaploki badan jalan yang merupakan poros koneksi antara Kota Pemalang dan kota batik, Pekalongan.

Asli Prima E-44 hanya jadi penonton ketika pemain “old track” dan “new comer” duel gengsi dan pamer hegemoni, membusungkan dada untuk meneguhkan siapa jawara Pantura sepanjang malam itu.

Sayang, permainan lampu riting LE-610 kurang ciamik sehingga gagal dijadikan panduan yang mangkus kala menguntitnya. Mau tak mau, pengemudiku mem-pilot-i armadanya secara mandiri dan berdikari, tak sepenuhnya menggantungkan titah “guru pembimbing” di depan.

Setelah melewati Jembatan Kali Comal sisi selatan yang berkeadaan ramai lancar, Gunung Harta mengungkit kembali denyut tensinya.

Tak kenal patah arang, ikhtiar gigih yang diperjuangkan moda berkapasitas 32 seat itu akhirnya ber-ending gemilang. Eksekutif Denpasar jebol defence-nya usai digerus habis-habisan dari semenjak Petarukan hingga Wiradesa.

Namun, euforia kemenangan itu hanya sesaat. Tiba-tiba turbulensi udara serasa telak menghantam kaca tempered samping, efek dari aliran aerodinamika yang diciptakan Pahala Kencana B 7875 IZ saat menusuk secara kilat dari belakang.

Banter tenan mitra juru masak Uun itu, Ju! :)

Meliuk-liuk lah bus dengan etiket “Grand Father” ini menyasar belantara jati Roban. Usia kendaraan tak bisa berbohong, manakala tenaga renta OH Prima Sedya Mulya, AD 1449 CG, kewalahan untuk mengimbanginya di wilayah Pucungkerep, Subah.

Rimba “spooky” yang dulu identik sebagai sarang bajing loncat dan dicitrakan sebagai kawasan angker serta mistis seakan kehilangan kesemarakan menyongsong pergantian hari. Suasana sunyi dan wingit menyergap, mengantarkan Gunung Harta menderu sendirian tanpa sejawat. Hanya prestasi kecil yang diukir ketika Harapan Jaya kelas VIP, AG 7916 UR, dibuat tak berkutik saat menuruni jalan baru Sentul, Gringsing.

00.43

Rumah makan Sari Rasa, Jenarsari, kemudian disinggahi. Aku pikir bakal cooling down sementara waktu, seperti yang diteladankan PO Garuda Mas ataupun Kramat Djati, yang belum lama ini aku sebadani. Terbersit kemauan untuk menyantap nasi langgi, menu favoritku di eat area ini.

Tetapi, niatku bertepuk sebelah tangan. Checker hanya melakukan fungsi controlling, menyidak isi kabin dan memparaf manifest penumpang. Bus yang akan membuka trayek baru Jakarta-Lumajang-Banyuwangi ini beranjak pergi melanjutkan matchday-nya.

Tunggal Dara Putera yang dibebat busana revolution dibekap nafasnya, sebelum sebuah petrol station di distrik Cepiring mereduksi gelinding setengah lusin roda-rodanya.

“Bapak…ibu…bagi yang pengin ngopi, sholat atau ke toilet, silahkan turun!” demikian arahan yang dikumandangkan asisten driver manakala nozzle dispenser abu-abu di arahkan petugas SPBU ke mulut tangki BBM.

Walah…ternyata di sini rihatnya. Murah, meriah dan merakyat. Hehe…

01.12

20 menit kemudian, Pak Heri comeback, mengendali setir bundar Mercedes-Benz untuk sesi kedua.

Jpeg

Aku pun memeluk kembali tampuk Aldilla two in one, 3A – 3B, sembari mencicipi hidangan snack kemarin sore.

Jpeg

 

Jpeg

Movement bus yang dirilis ke pasar melalui diler Hartono Raya Motor ini tertahan lagi oleh pengecoran ruas Kalibodri, Kendal. Ahabot sanggane mengarungi samudera Pantura yang bergulungkan riak, bertiupkan angin taifun, berpayungkan awan cumolonimbus.

Sesudah menyetor mahar upeti ke Dishub Kota Semarang lewat perantara peron Mangkang, Gunung Harta menyegerakan setengah pengembaraan pamungkasnya demi menyingkat durasi masa tempuh. PO Ugama, AA 1440 AA, tersenyum kecut tertinggal dalam perburuan posisi terdepan.

01.44

Pfuh…untuk kesekian kali degup jantung ini tersengal dan terbata, memandangi lautan kendaraan yang diam, malang melintang, tak bergerak, di seputaran rayon Tugurejo. Mampet pet, buntu tu..

“Pasti gara-gara spot pembetonan di Krapyak,” terka batinku yang tengah meratap. “Pimpro-nya mengadopsi sistem Oracle sih…jadinya ora kelar-kelar!”

Distorsi kegetiran ini bertambah sungkawa, manakala aku jadi penyaksi betapa innocent-nya New Shantika “Panoramic”, Tunggal Dara 19 dan Purwo Widodo “Kian Santang”  mencederai etika berlalu-lintas dengan mengacak-mengacak jalan yang bukan haknya.

Kedengkian memuncak, kecemburuan membukit, menatap raut semringah Pahala Kencana divisi Bandung D 7839 AA, Harapan Jaya 19 dan Lorena LE-111 yang telah terbebas dari belit kemacetan saat kres dengan mereka. Berseberangan nasib, busku masih terseok-seok, meringkuk dalam kesesakan penjara jalur kiri.

Sebagai bentuk kepasrahan diri,  aku hanya bisa mengatupkan kelopak mata.

Go [Green] Show (2)

Posted on


Go [Green] Show (2)

Tak seperti Santoso “Lintas Malam”,  Luragung Jaya “Alter”, Sahabat “Sindang” dan Sahabat “Bentas” yang menjalani time out di tem-tem-an liar Cikopo, Chartreuse Green semakin mengembangkan layar.

Pasar modern Cikampek tampak menggeliat proses konstruksinya, seakan tak mau kalah gereget bertanding dengan pengerjaan tol Cikampek – Palimanan. Tak bisa dibayangkan bagaimana tambah kusutnya pertigaan lampu merah Cikopo jikalau Cikapali tertinggal dalam pembangunan. Bagi kaum PJKA yang begitu menghargai waktu pasti berharap, pasar yang bakal berdiri di atas lahan 30 Ha itu bersedia “sein kiri”, dan memprioritaskan jalan bebas hambatan sepanjang 116 kilometer untuk beroperasi lebih dahulu. ”Semakin lambat, semakin baik” baginya. Hehe…

Dua tetes rezeki kembali dipungut, masing-masing dari agen Cikopo dan Pangulah. Berbarengan itu pula naik pedagang oleh-oleh khas bumi Priangan, wajit cililin dan dodol garut. Nyentriknya, dari model penjualan ala drama monolog ini, pembeli terakhirlah yang biasanya mendapatkan harga paling murah.

16.58

Vintage of Pantura. Urat nadi transportasi penghubung Jakarta dengan kota-kota di utara Pulau Jawa dan kini mendapat stigma negatif sebagai lahan proyek abadi, seolah menjadi wahana show yang akan menantang fisik, konsentrasi dan daya tahan para abdi jalanan.

Lalu-lintas terpantau ramai lancar di ambang senja. Gunung Harta melaju dengan putaran mesin berpusing ria pada skala ekonomis. Pahala Kencana B 7861 IZ yang unggul daya gedor dibiarkan berlalu.

Brake air chamber pun bekerja secara sempurna menekan kampas rem untuk menghentikan pergerakkan bus yang jalurnya dipotong serampangan oleh Parahyangan AC 384.

Ciberes, surga dunianya pria-pria kesepian yang jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta, menghadiahkan hiburan audio dengan setingan SPL (Sound Pressure Level) ber-desibelitas tinggi. Raungan exhaust manifold Mitsubishi BM yang dibenamkan di kompartemen mesin PO Menara Jaya sukses memekakkan gendang telinga, saat obyek yang ber-tagname “Blazer” kena salip.

Lagi-lagi, hujan turun dengan derasnya. Kecepatan jelajah diturunkan. Meski begitu, pantat Pahala Kencana berkode W5 jurusan Wonogiri kian lekat dikuntit.

Dua sejoli berjalan beriringan, bahu-membahu menyisihkan Muji Jaya yang tengah diderek truk ban dobel, persis di depan rumah makan Markoni. Sepertinya ada masalah serius yang menimpa MD-46 itu, sehingga harus ditandu menuju bengkel swakelola di Ngabul, Jepara, sana.

Menjelang Desa Pamanukan Kota, arus kendaraan tersendat oleh pembetonan badan jalan. Batch terakhir OH-1526 ini bersabar mengantri di sela-sela Harapan Jaya Scorpion King H 380 dan Luragang Jaya, E 7598 YA, berbodi Pointer bikinan Tri Jaya Union.

Di halaman restoran Nusantara 2, Artha Jaya “Tondano” dan Langsung Indah “Lintang” tengah melemaskan sendi-sendi. Sebenarnya aku berharap muncul penampakkan Madu Kismo cap “Sumatera” line Pulogadung-Tuban. Ada Mas Dedy “Crew Penyayang” yang on stage. Sayang, saat kutanyakan posisi ter-update, laskar Karangturi, Lasem, masih terlilit crowded di Dawuan.

17.42

Azan magrib mengumandang di awang-awang ketika bus berpaspor kota apel ini hendak memberikan service plus berupa gala dinner gratis bagi pengguna jasa.

Pelataran pojok belakang Taman Sari laksana padang rerumputan, lantaran  legiun Gunung Harta memblokir bidangnya.

Spektrum hijau itu terkomposisi oleh N 7565 UA duta seri A Bogor – Ponorogo, N 7567 UA jurusan Bogor – Tulungagung, DK 9193 GH OH-1626 Bogor – Malang, GH-092 seri E Pulogadung – Ponorogo, serta “RN 285” GH-037 sebagai senator seri B Tangerang – Ponorogo.

Jpeg

Dari terakhir aku turut Nusantara NS-39 setengah tahun yang lalu, menu makan yang disajikan pun sami mawon, minim improvisasi. Nasi putih, sayur nangka, sepotong ayam, kering tempe, kerupuk serta segelas teh hangat jadi konstanta baku rumah makan yang berdiri di atas turut tanah desa Legon Kulon, Pamanukan, ini.

Jpeg

18.15

Belum genap lima menit melakukan restart, traffic flow kembali tersumbat di distrik Mundusari. Demikian pula arah sebaliknya.

Macet lagi…macet lagi…gara-gara proyek abadi!

Lepas dari area pengecoran, kembali Pahala Kencana, B 7289 BW, mengerdilkan derap langkah bus yang kukendarai. Sebagai obat pahitnya, Royal Safari H 1448 DC dipecundangi sesaat setelah menyeberangi Kali Sewo. Hal itu semakin menahbiskan realita bahwa urusan per-speed-an, armada Jatim-an lebih unggul ketimbang tim Solo-an.

Kandanghaur pun jadi subyek yang menyuguhkan derita bagi pengguna jalan. Sungguh berat nian beban yang ditanggung oleh entitas “ngaso mampir” bila setiap hari mesti “baku hantam” dengan kemacetan yg bersifat masif, sistematis dan terstruktur seperti ini.

Cuma kamu sayangku di dunia ini 

Cuma kamu cintaku di dunia ini

Tanpa kamu sunyi kurasa dunia ini

Tanpa kamu hampa kurasa dunia ini

Rancak kendang berirama koplo bertalu-talu mengiringi duet biduan biduanita, Brodin dan Tya Agustin, yang sedang melantunkan lagu cinta. Non-stop music judulnya, karena dari awal keberangkatan, a new pattern of dangdut itu terus mengalun nyaris tanpa jeda.

Meski para hater menuding bahwa koplo adalah musikalitas picisan, namun kita harus berlapang dada untuk mengakui bahwa warna musik yang diusung orkes-orkes melayu macam Sera, New Pallapa, Monata, Pantura, Romansa, Soneta atau Sagita mengharubirukan jagat hiburan di atas permadani hitam pada dasawarsa ini.

Koplo telah menyelamatkan ekosistem dangdut tanah air dari mandulnya kreativitas dan produktifitas para musisi. Dan yang membikin acung jempol, Cak Shodiq dkk memupuk dan merawatnya bukan dari jalur mimbar-mimbar nan glamour milik media entertainment, melainkan di atas panggung-panggung lapangan nan pengap dan berdebu.

19.11

“Awas…awas…awas!!!”

Serentak penumpang di barisan depan menyuarakan early warning system ketika ujug-ujug sebuah mobil Nissan X-Trail keluaran anyar mengerem mendadak, sementara laju Gunung Harta tengah meluncur dengan derasnya.

Pedal deselerator diinjak kuat-kuat, tapi celaka dua belas…Pak Oda, nama joki tengah ini, kehabisan space aman pengereman. Secara refleks dan spontan, lingkar setir dibanting radikal ke sisi kiri, dan alhasil, menggaruk-garuk jalan tanah di tepian selokan yang menganga lebar. Moda yang terdaftar di Ditlantas Polda Jawa Timur itu pun miring-miring dan terombang-ambing menggilasi lapisan makadam yang ekstrem bergelombang. Beruntung, kemudi masih bisa dikendalikan dengan mahir dan skillful, mencegah kemungkinan terburuk, bus akan terperosok.

Rupanya, adanya selisih ketinggian antara jalan lama dan beton baru yang membentuk kurva curam menjadi triggernya. Yang patut ditimpakan kesalahan tentulah pihak kontraktor yang lalai tidak memasang rambu-rambu peringatan dini tentang adanya perbaikan jalan.

Aku sisihkan tempo untuk chat dengan Mas Didik Supriyanto lewat piranti facebook messenger. Terus terang, soal seluk-beluk Gunung Harta, aku termasuk bocah kemarin sore. Hanya sedikit yang aku tahu, lebih banyak yang aku tidak tahu. Dari pelanggan seri A itulah, aku bisa  mengorek secuil knowledge tentang PO yang kisah riwayatnya babar di pulau dewata ini. Thanks atas asistensi virtualnya, Mas!

Usai melengserkan Setia Negara “Edelweis”, armada yang berkastil di Tabanan, Bali, ini bergandengan erat dengan PO pelat merah milik Perum Damri. Satu demi satu, konvoi truk-truk bertonase besar di-divide et empera-kan di sepanjang lingkar Widasari.

Hanya satu bus yang menjadi pesakitan oleh ekses kerukunan mereka berdua, yakni korps Palur Jaten, dengan ciri lambung bertuliskan 398.

Badai stagnasi hebat melanda teritorial Kertasemaya. Hampir 15 menit lautan kendaraan lumpuh, tak tahu sebab penyakitnya. Ada Pahala Kencana “New Marcopolo” di depan dan Luragung Jaya “Al Yahya”, E 7592 YA di samping kiri, ikut tak berkutik, terjerembab di dalamnya.

Tanpa dinyana, Kramat Djati, B 7481 IS menyabotase jalur lawan, disokong bala bantuan di belakangnya, yakni Setia Negara “Bento” dan Laju Prima B 7461 IS.

Dari pergeseran sejangkah demi sejangkah, Gunung Harta berjumpa celah sempit untuk mencoba peruntungan sebagaimana tiga bus sebelumnya.

Bertindak laksana mayoret bagi kendaraan lain yang turut serta membuntuti, “tapak haram” yang relatif sepi disisir. Setidaknya, tiga kilometer sulur keruwetan terlipat berkat intuisi tajam dan peran jam terbang pramudi.

Bogor Indah “Old Legacy”, GMS “Selendang” garapan New Armada, Rosalia Indah JB 2 dan koleganya 446, Handoyo “Oranye”, Harapan Jaya 29 serta 17, Lorena LV-340, OBL “Pepsi Blue”, Pahala Kencana “Nano-Nano” B 7787 IZ, Harapan Jaya AG 7066 US, Laju Prima berkode 96, Lorena jurusan Banyuwangi, serta Harapan Jaya 3, hanya bisa gigit jari, menyaksikan kelacuran kaum ngeblonger dalam menaklukkan deret antrean.

Pada simpul kemandekan barulah diketahui akar masalahnya. Adanya pengaspalan ulang yang bersinggungan dengan lokasi longsornya talud saluran irigasi Kliwed adalah musababnya.

Selanjutnya, iring-iringan empat bus berubah urutan usai Setia Negara “Bento” dan Damri  beridentitas 3425 menurunkan penumpang di Susukan. Dan kini yang jadi dirigennya adalah Laju Prima “New Marcopolo”, memimpin koor saat menembus kemacetan minor di depan Pasar Tegalgubug.

20.48

Tol Palimanan-Kanci membujur kaku di depan kepala. Di sinilah biasanya show off level top speed dipentaskan. Aset kepunyaan Bapak I Wayan Sutika ini berangsur trengginas. Penegasannya, Luragung Jaya “Reang” dilompati di KM 211, dan selanjutnya menyungkurkan Kuda Tulungagung berpenggerak Hino R260.

“Kalau tidak mengasapi, niscaya akan diasapi.”

Pemeo itu berlaku sahih di atas jalan raya.

Setelah membuka rekening gol, kini gilirannya kebobolan. Bee Trans, bus wisata dari Kota Kebumen, Luragung Jaya “Amazone” serta Pahala Kencana, B 7868 IZ dan saudara kandungnya, B 7861 IZ, mengumbar kelincahan tatkala melahap lapangan seluas bentang Plumbon – Ciperna. Gunung Harta pun mundur sejengkal.

Walaupun proses persalinan dari satu rahim, duo kuning ivory pecah kongsi dalam pemetaan alur navigasi. 61 IZ menerobos akses keluar via Kanci, sementara 68 IZ melenggang lurus mengarah gerbang Mertapada.

Jpeg

Uniquely brotherhood of  Pegangsaan…

Go [Green] Show (1)

Posted on Updated on


Jawa Dwipa, 14 November 2014

13.38

“Yang terminal turun sini! Depan macet…depan macet!” seru kenek Metromini 03 seakan mendeportasi lima sewa yang tersisa dari singgasana fiber seat berkelir jingga.

Kupatuhi instruksinya dengan bergegas menjejak daratan. Aku harus berkompromi dengan hajat PT. Jaya Kontruksi yang tengah berkutat merevitalisasi stanplat yang diampu oleh Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, sehingga menyebabkan kemacetan sporadis di bibir terminal.

Jpeg

“What the first come, I’ll grab it…”

Kali ini, tekad itu kuresonansikan menyikapi kebiasaan untuk menyelenggarakan metode go show bila berkehendak pulang ngetan.

En toh, telah kutanggalkan kefanatikan, ke-addict-an atau pengharapan pada merek (baca : PO) tertentu. Aku tak mau pilih-pilih. Aku bebas merdeka, tak disandera penyesalan andai yang kudapat meleset dari ekspektasi. Siapapun yang berjodoh denganku, aku mesti nerimo dan legowo. Yang demikian justru lebih mudah melahirkan rasa syukur dan menjauhkan dusta atas nikmat perjalanan.

Sorot mata menyudut jauh ke depan mengiringi langkah kaki yang kian mendekati lapak-lapak non permanen di luar pagar proyek, tempat agen-agen menjajakan dagangannya.

“Ah, slot AKAP cuma berisi Laju Prima,” gumamku, “Tak satu pun bus yang mengamalkan izin trayeknya melintasi tanah kelahiranku, menampakkan wujud!”

Kupandangi kesibukan para pekerja yang didaulat untuk membelanjakan anggaran senilai 47 miliar demi mempercantik wajah fasilitas publik ini agar lebih passanger friendly.

“Kerja…kerja…dan kerja!!!” sesuai jargon retorika pemilik sah mobil sedan Mercedes-Benz S600 Pullman Guard bernopol Indonesia 1. Hehe…

Sebalnya, suratan nasib sepertinya hendak menggoda kegalauanku saat dia mem-PHP dengan menghadirkan Harapan Jaya berkode 40. Dan daftar tunggu kian bertambah panjang, tatkala datang lagi sosok yang tak bisa memenuhi aspirasiku. Dialah Kramat Djati “Setra” jurusan Ponorogo.

Menit kesepuluh baru saja bergulir, manakala raut muka Jetbus HD berbalur dominasi warna hijau chartreuse merapat. Dari luar kaca, kondisi bangku penumpang terlihat kosong melompong, tiada berpenduduk.

Aha…rupanya ini buah penantianku! Bukan Pahala Kencana, Lorena, Akas Asri, Kramat Djati, Malino Putra ataupun PO Haryanto.

Jpeg

“Om, masih ada bangku?” tanyaku pada staf ticketing yang baru saja selesai me-loading barang di bagasi bawah.

“Sepi, Mas!” balasnya dengan mimik tak riang. “Tujuannya mana?”

“Rembang, Om. Berapa?”

Ditelisiknya kertas putih berlaminasi, berisi price list skema penarifan yang menjadi acuan dalam penetapan ongkos perjalanan yang akan ditanggung oleh calon penumpang.

“200, Mas,” jawabnya.

Seketika aku mengernyitkan dahi sebagai bahasa keberatan atas tawarannya.

“Ya sudah, 190 saja buat Mas!” pungkasnya mengunci pintu transaksi.

Jpeg

13.55

Dengan okupansi yang jauh di bawah target, hanya empat kursi yang laku jual, Gunung Harta dipaksa tinggal landas. Dan sepengetahuanku, ini termasuk kategori pemberangkatan prematur, karena adatnya take off pada rentang jam 14.30 s.d 15.00.

Sepertinya, keuzuran terminal tak mengizinkan tetamunya untuk ngetem berlama-lama karena keterbatasan lahan parkir. Thus, setiap bus wajib tepo seliro dengan berbagi waktu antarsesama.

Memanfaatkan shortcut yang dikreasikan oleh Jl. Perserikatan-Jl. Cipinang Baru Raya-Jl. Bekasi Timur Raya-Jl. DI Panjaitan-gate in Pedati, telapak keenam “donat hangus” mulai menemukan habitat yang cozy untuk mengoptimalkan performanya.

Setelah merasai lengangnya sepenggal jalan bebas hambatan Wiyoto Wiyono, lalu lintas mengental di KM 0 Tol Cikampek. Adanya pengerjaan concrete separator untuk menggantikan sistem pengaman guard rail yang jadi biangnya.

Terbukti, pagar pembatas berbahan baja kurang cukup ampuh dan safety untuk menahan impak dari  benturan kendaraan yang mengalami loss control. Tentu masih lekat dalam ingatan akan kecelakaan yang menimpa Mitsubishi Lancer EX si Dul, anak Ahmad Dhani, di Tol Jagorawi, juga kasus “loncatnya” Mayasari Bakti P. 39 Bekasi-Grogol di KM 13 Tol Cikampek pada awal tahun 2000-an, yang dua-duanya menyeberang jalur berlawanan sehingga menyebabkan tabrakan frontal.  Meski faktor human error lebih mengemuka, namun tragedi tersebut mengungkapkan fakta bahwa teknologi guard rail sudah masanya dikritisi.

Keenceran menggenang kembali hingga simpang susun Cikunir. Centang perenang muara pertemuan tiga ruas tol jadi pemandangan rutin di kala office hours. Terlihat Rosalia Indah PB 106 dan kawan sejamaahnya, 141, berjibaku meloloskan diri.

Mayasari Bakti AC-05 nomor lambung T-269 berjalan timpang sehingga dengan entengnya dilewati moda yang ngelen reguler di koridor Rawamangun-Surabaya-Malang ini. Sewa miring mengacaukan kaidah ilmu mekanika dan konsep keseimbangan yang telah diformulasikan pabrikan serta karoseri saat merancang bangunan di atas struktur sasis Hino era RK Turbo itu.

Berbanding terbalik 180º, kompatriotnya yang menggawangi celah Pasar Senen-Bekasi Timur, B-1027, dengan gagahnya mencengkeram lajur terluar, yang memang dikhususkan bagi kendaraan untuk mendahului atau berkecepatan lebih.

Jpeg

14.35

Wow…berkunjung ke planet baru tetangga bumi. Hehe…

Begitu parodinya saat “Property Mountainmelipir ke gerbang exit Bekasi Timur, berbarengan dengan keluarga Mayasari Bakti yang lain, beregistrasi B 7824 XA.

Berbondong-bondong, Maju Lancar seri D, Pahala Kencana-nya Mas Ferry Fonda, K 1707 B, trio Rosalia Indah; 391, 455 dan 457, dan Harapan Jaya 16, return to toll. Sementara New Shantika H 1743 BG asyik leyeh-leyeh di pelataran kantor kecil yang mengageninya.

Jpeg

SPBU 34.17119 di depan Depsos patut mendapatkan maqom yang mulia di mata pengurus PO-PO yang memiliki perwakilan di kota patriot. Tanpa uluran tangan pom bensin ini, bus-bus bakal boros waktu lantaran kesusahan mencari rongga u-turn untuk berbalik arah. Bisa-bisa mereka harus ke Pertigaan Bulak Kapal, atau bahkan memutar di Terminal Bekasi yang seringkali semrawut dan acakadut.

Jpeg

Belasan penumpang di ruang tunggu naik melantai. Separuh kapasitas hunian terisi. Batas minimal pendapatan untuk menutup bea operasional telah tercapai. Semoga ada pos-pos lain yang disinggahi untuk mencetak profit agar roda perekonomian bisnis angkutan senantiasa roll on.

Jpeg

15.20

Setelah hampir satu jam terdampar di planet Bekasi gara-gara kacau-balaunya pengaturan lalu-lintas di perempatan Cempaka, moda yang dibekali “mitraliur” jenis OM 906LA Euro III melanjutkan karir politiknya.

Di KM  25+200, Rosalia Indah berbusana Legacy SR-1 dibikin mati kutu sebelum gerbang keluar Cikarang Utama menyambut agenda city tour yang diemban Pak Heri, sang driver pinggir ini.

Lahirlah momen eyel-eyelan berebut jalan dengan GMS “Master Combat” di tengah pusaran kemacetan menjelang fly over Pasir Konci. Kemelut itu pun disaksikan oleh Sumba Putra AD 1583 DG dan Pahala Kencana ‘Anak Bawang”.


Jpeg

JpegSegera kukirim pesan di whatapps kepada ‘mandor’ GMS, Mas Dimas, “Tuh, Master Combat mau masuk pul. Siap-siap ya!” Tak selang lama, berbalas iming-iming yang menggiurkan. “Kapan naik GMS, Om? Pokoknya saya siap mengusahakan yang terbaik.”

“Sip, Mas, nanti aku kabari. Asal jangan diikutkan armada Comet XII. Kapok aku!” candaku. (Peace ya, Mas Dimas!)

Sebenarnya ironis menilik hasil blusukan di Cikarang Selatan ini. Cuma satu penumpang tambahan yang didulang. Pemubaziran tempo, solar dan tenaga kru, tentunya. Berhubung yang demikian adalah SOP perusahaan,  bagaimanapun repot dan ribetnya, amanat itu wajib diemban.

Rinai luruh ke seantero alam Karawang Barat. Aspal jalan sekejap kuyup kala tetesan air kian solid menciutkan luasan pandang. Bertiga bersama Rosalia Indah PB 106 dan Sinar Jaya “Wastem Style”, menyusun pawai rapi di lajur dua.

Aksi setengah nekat dipertontonkan ikon transportasi wong Gunung Kidul, PO Maju Lancar. Seakan cuek dengan kondisi trek licin dan kemunculan titik-titik blindspot, AB 7009 AW itu mengangkangi bahu jalan untuk memangkas ketertinggalan.

Jpeg

Hujan, yang bagi jombloers bermetafora menjadi 1% air dan 99% kenangan pilu bersama mantan yang kini ditikung orang, makin hebat mencurahkan muatan cairnya. Handycap alam tak menyurutkan bus yang memajang logo mickey mouse lagi cengar-cengir di atas awan sebagai simbol kenyamanan ini unjuk dominasi. Perlahan tapi meyakinkan, PB 106 AD 1495 AU, Sinar Jaya 18 RA jurusan Bobotsari, Warga Baru 486, bus karyawan Parahyangan BCB 175, Tunggal Dara “evolution wannabe” serta PO Sri Mulya Cikarang-Rajagaluh, anak asuh Bintang Sanepa Group, dilengserkan di petak antara KM 48 – KM 70.

Jpeg

16.32

Terlihat, calon pangkal ruas tol Cikapali (Cikampek-Palimanan) going on progress. Pengerjaan pilar-pilar penyangga gelagar jembatan yang sebidang dengan jalur rel kereta Jakarta-Bandung sedang dikebut. Proyek yang baru saja disidak oleh Menteri PU dan Pera Kabinet Kerja, Basuki Hadi Muljono, ini semakin tampak profil gigantisnya.

Jpeg

I wish, pada medio 2015, atau menjelang ritual tahunan idul fitri, setidaknya Cikapali sudah bisa di-soft launching untuk menyibak gelombang eksodus kaum urban yang hendak merayakan lebaran di kampung halaman masing-masing.

Amin, ya Rab…

Mabuk Kemenangan (4)

Posted on Updated on


Sabtu, 8 Maret 2014

Alas Roban, 00.02

Saat duduk sebagai penumpang bus, bagiku, menyeberangi alas Roban adalah momen krusial saat menjelajahi sisi utara Pulau Jawa. Di sini, performa sesungguhnya dari para pemain Liga Premiere Pantura dapat diukur.

Faktor skill, insting, kejelian membaca situasi, serta jam terbang pengemudi amatlah strike untuk  untuk menahbiskan siapa sesungguhnya yang paling lihai menaklukkan rute berat yang dikontruksikan oleh Alas Roban. Tak cukup hanya berpatokan kekuatan mesin ber-cc besar semata.

Tiga bus yang sempat tidak terlacak rimbanya tahu-tahu sudah kembali memimpin. Berturut-turut dari belakang ke depan, Garuda Mas, B 7383 IZ, Sindoro Satria Mas, 223, dan Gunung Harta, DK 9131 GH.

Tak pelak, laga antar keempat kontestan memasuki episode-episode seru di zona Tulis – Banyu Putih. Pressing ketat yang diperagakan Kemenangan membikin Garuda Mas kelimpungan. Idem ditto pula dengan Sindoro Satria Mas berpakaian New Sprinter yang sukses menggondol gelar sebagai yang terdepan dari cengkeraman Gunung Harta koridor Jakarta – Ponorogo.

Perbedaan poin antara Kemenangan dengan Gunung Harta kian melebar terganjal gerak lambat truk-truk yang kepayahan mendaki tanjakan Clapar, Subah. Usaha tak kenal capai untuk memburunya akhirnya gagal total lantaran rumah makan Alam Sari 2 menyabdanya untuk menepi.

IMG_2666

Banyu Putih, 01.10

Setelah hampir ¾ jam secara bergantian ditemani oleh pool matenya, PO Kemenangan, Legacy Sky, AG 7219 UN, yang sedang heading to Jakarta, Madjoe Utama dengan kode pintu 222, serta Zentrum MK, TZ16, Kemenangan pun melepas tali tambatnya dari pelataran rumah makan yang dulu bernama Sabana Jaya.

IMG_2665

DSC_0791

IMG_2663

Lingkar kemudi telah berpindah pemilik. Separuh perjalanan telah ditempuhi. Dan kini, jalur warisan kompeni menanti.

Mengandalkan kepekaan naluri serta ilmu titen membaca sorot lampu kendaraan lain, the real Roban itu dengan tangan dingin berhasil dijinakkan. Belasan truk-truk bukanlah onak berarti saat PO Kemenangan meneguhkan dominasinya melahap special stage yang berkelak-kelok serta menurun tajam di  bibir jurang yang menyabuki trek Poncowati. Tak sampai lima menit masa yang dibutuhkan untuk merekatkan pangkal dan ujung tanjakan yang lebih dikenal dengan sebutan Plelen lama ini.

Dari Pertigaan Kota Sari, Gringsing, hingga Patebon, bus non air suspension ini terperangkap dalam pusaran persaingan dengan Langsung Jaya “Pandan Arum”. Sempat dua kali saling bertukar posisi, sebelum “gerobak Jepang” dengan roket pendorong jenis AK174LA itu melempar handuk putih.

Kali Bodri, 01.55

Jejak kemenangan kembali dipahat di jalan arteri Kota Kendal. Dengan puing-puing agresivitas yang masih mampu diorbitkan, derap bodi Genesia karya New Armada yang membingkai GMS, mampu dihempaskan. Perlakuan yang sama juga dialamatkan pada Fire Fox Palur, nomor lambung 396, serta Sindoro Satria Mas, 223.

Lingkar Kaliwungu kini menghamparkan “ring tinju” untuk sekali lagi menjajal peruntungan berduel dengan salah satu pemain Ngembal Kulon United.

The Joker, yang kemarin siang di Pulo Gadung menempati pole position di depannya, kini terlihat terang.

DSC_0756

Peluru pertama nyaris saja berbuah skor, namun saat side by side, Red Titans itu malah mengungkit kecepatannya.

Satu dari big three penguasa Pulau Garam itu rupanya tak mau dipermalukan tim new entry. “Follow me if you cor !!!” begitu sesumbarnya. (cor solar, maksudku…)

Lagi-lagi, intersep kedua yang tinggal menyisakan ¼ bodi lagi untuk menyalipnya terbentur kendaraan kecil yang melaju pelan di sisi kiri.

Lewat open play niscaya bakal susah untuk jadi juara, maka “taktik culas” pun diaplikasikan. Melihat HR64 tunduk traktat untuk mencoret absensi kehadiran di Terminal Mangkang, PO Kemenangan pasang kuda-kuda untuk langsung melenggang. Dan kenalakannya pun terendus petugas jaga di pinggir jalan dan seketika diberhentikan. Mau tak mau, upeti yang dibayarkan dilipatduakan agar tak kena semprot.

Kudus, 03.20

Mendadak, aku terbangun.

Rupanya, antara Krapyak hingga Tanggulangin aku nyilem di dasar mimpi. Rasanya, baru kali ini aku menikmati perjalanan bus malam dengan jam tidur paling larut. Jam dua dinihari baru bisa merem.

Entahlah, apa ini yang dimaksud dengan makna kiasan dari label “Mabuk Kemenangan”? Ataukah scene-scene yang terpanggungkan di atas venue Pantura begitu menggoda adrenalin dan mendidihkan gejolak darah muda?

Sementara itu, di depan Terminal Jati, nongol kembali si “antagonis”, musuh batman,  The Joker. Kereta kencana beregistrasi B 7038 VGA itu mencuri kembali supremasi yang susah payah dibangun PO Kemenangan.

Namun, harapan akan hadirnya kembali pertandingan ulang dengannya karam terwujud. Bus berjantung pacu 7.7 liter itu mengarahkan moncongnya ke perempatan Kencing, sementara bus yang mempercayakan Aldilla untuk urusan singgasana para penumpang ini menentukan arah pelayarannya sendiri menuju Pati via ring road.

DSC_0746

Wuss…

Ritme mata yang naik turun terkantuk-kantuk seketika buyar, ketika Pahala Kencana, B 7905 IZ, melakukan revenge di daerah Widorokandang, Pati. Sepertinya, yang mengendalikan kokpit sudah berganti, tidak sama ketika PO Kemenangan mengalahkannya beberapa saat yang lalu. Kini, bus jurusan Jember I itu show off aura kelincahannya, tanpa kompromi membabat satu persatu gerandong-gerangdong jalanan, dan akhirnya dalam sekejap sirna dari pandangan. Sementara, aku hanya bisa menggeleng-geleng sembari lirih memujinya, “Dasar kentir…

Rembang, 04.44

“Terima kasih ya, Pak!” kalimat thanks giving aku sanjungkan kepada para kru, saat bersiaga turun di seberang Kantor Polantas Polres Rembang.

Hampir 15 jam untuk menempuhi rute Pulogadung-Rembang, sejauh 550 km. Not bad …dengan kondisi jalan Pantura yang satu per dua-nya yang amburadul, dengan dua kali istirahat makan dengan akumulasi waktu hampir dua jam, dan dengan dua kali masa kerja shift penggantian kursi tiap pengemudi.

Aku tinggalkan doa, semoga Kemenangan kuasa mematahkan pemeo lama bahwa bus dari gugus Jatim acap kesulitan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Mereka berulang kali hanya jadi sub ordinat dan dipandang inferior atas bus-bus berpelat “B”, bila menggarap dunia malam lintas provinsi. Dan semoga pula, PO dengan jingle “the best choice to travel” ini mampu berguru pada PO Harapan Jaya atas kisah pencapaiannya berupa hegemoni hakiki atas tanah Wilis Raya.

DSC_0747

*****

Sebenarnya, apa sih korelasi judul “Mabuk Kemenangan” secara harfiah dengan ending cerita? Toh, secara track record, PO Kemenangan tampil biasa-biasa saja, tak layak disebut pemenang. Prestasinya pun pasang surut, angin-anginan. Kadang tampil perkasa, namun sebaliknya, kerapkali pula jadi bulan-bulanan kawan-kawan sejawatnya. Kurang pantas andai “acara wisudanya” dirayakan secara euphoria, dengan “bermabuk-mabukkan” hingga lupa daratan.

Hmm…masih ingatkah akan sosok laki-laki yang meminta izin kepada kru untuk jeda sejenak lantaran ada  keperluan mencari obat di daerah Patrol?

Rupanya, ia tengah pusing tujuh keliling direpotkan oleh pasangannya yang didera siksa mabuk perjalanan. Dari awal berangkat hingga aku dari tercungkil dari takhta satu malam, istrinya dibekap mabuk darat nan amat akut serta masif. Puluhan kali terlontar erangan sumbang keluar dari mulut, terdorong desakan rasa mual untuk memuntahkan isi lambung. Dan kendala minor ini membuat nuansa happy journey penumpang lain berubah menjadi jijik, illfeel dan tidak nyaman.

Bukan maksud mencela atapun merendahkan martabat perempuan itu. Toh nyatanya, dialah yang menjadi sebab turunnya inspirasi bagiku untuk memparaf judul “Mabuk Kemenangan” dalam tulisan kali ini. Karena sejatinya, wanita muda itulah yang punya sangkut-paut dan relevansi erat dengan idiom  “Mabuk (di dalam) (PO) Kemenangan” dalam artian yang sesungguhnya.

IMG_2661

 -rampung-

Mabuk Kemenangan (3)

Posted on


Kertasemaya, 20.10

Serangan spartan yang dilancarkan Kemenangan secara bertubi-tubi ke jantung pertahanan Pahala Kencana, B 7905 IZ, membuat kinerja OH 1626 itu kelelahan. PO liliput berdaulat atas PO goliath.

Rival sepadan kembali didapatkan. Kali ini Garuda Mas B 7732 WB yang memberikan perlawanan alot dan liat. Dua kali upaya untuk menggusur posisinya kandas, selalu nyangkut di buritan  truk lantaran Hino AK8 berstrata ekonomi 2-2 non AC itu punya sifat kepala batu, tak sedikitpun legowo untuk mengalah.

Meski beda trayek, bukanlah kompetitor dalam liga yang sama, mereka layaknya dua tokoh animasi kartun Tom dan Jerry.  Aksi kejar-kejaran yang dipertontonkan cukup menegangkan. Aku pun senyum-senyum terhibur. Bahkan naluri liarku tak berani bertaruh bahwa rear engine bakalan berjaya mengungguli front engine.

Wusss…

Tanpa disadari, sebuah wujud Legacy Sky, B 7921 IZ, yang lagi-lagi bagian dari family Ombak Biru menyayat jalur kanan, mendegradasi trap Kemenangan berikut Garuda Mas. Metode overtakingnya ciamik. Halus, smart, dan  tanpa terdeteksi radar. Silent killer, mungkin ungkapan yang cocok buat menyanjungnya.

Tegal Gubug, 20.35

Pasar sandang terbesar di Asia Tenggara hendak memulai hari pasarannya yang jatuh pada Sabtu esok. Pelat-pelat mobil luar Cirebon menyesaki kantong-kantong parkir. Bahkan, pedagang-pedagang baju dan kain dari wilayah pesisir timur, dari mulai Pasar Kliwon, Kudus, hingga Pasar Jatirogo, Bojonegoro, pada eksodus mengambil barang kulakan dari Tegal Gubug dan mulai meninggalkan Pasar Tanah Abang.

Mungkin, pergeseran para pelaku ekonomi itulah yang membuat pasar seluas 30 ha ini menjadi simpul kemacetan baru dalam lima tahun belakangan ini.

Luragung Jaya “Yudhistira” meraup berbal-bal paket dan cuek bebek meski letak berhentinya melintang jalan. Seakan bus jurusan Kuningan-Jakarta itu mencibir Kemenangan, bahwasanya untuk mencetak profit, tak perlu membuka trayek sampai ujung dunia. Hehe…

Tol Palimanan – Kanci, 20.48

“Pak, saya turun Tol Ciperna!” rikuest seorang teteh dengan logat Priangan Timur nan kental kepada pengemudi.

Wew…sepanjang aku bersebadan dengan bus-bus Madura-an, inilah pemecahan rekor “penumpang meteran” terpendek. Cuma Klari sampai Cirebon! Benar-benar wanita dengan selera berkelas serta borjuis. Salam takzim buatnya…

Anak kembar punya ikatan telepati yang kuat. Begitu premis para psikiater.

Tak dinyana, HR77 “Legendaris” menyebelahi PO Kemenangan. Dua armada persis identik, sama-sama eks PO Tridifa Trans, sama-sama bertipe Hino RK8JSKA-NHJ, sama-sama mengusung bentuk Jetbus HD jahitan Adi Putro, sama-sama mempertahankan livery lama, dan sama-sama berkarya sebagai bus malam setelah disapih dari induknya, kini berdiri sejajar.

Tapi mengapa tak ada sikap basa-basi, saling sapa, setidaknya bersulang klakson? Justru diem-dieman sebagai saudara sebiologis?

Malah, tim Solo itu menaikkan gengsinya dengan mendongkrak kecepatan. De javu, lagi-lagi… Kemenangan “dipailitkan” oleh Haryanto.

Apa segampang ini bus yang juga punya izin AKDP untuk mengoperasikan line Surabaya-Banyuwangi menyerah?

Ternyata tidak!

Dari jauh, pendar lampu belakang dari konvoi rapat lima unit bus samar tertangkap retina mata. Semuanya berbanjar di sisi kanan, karena lajur satu terhambat truk gandeng yang merayap pelan.

Dengan kalkulasi yang cermat serta teliti, pedal gas pun dibejek secara intens. Dalam speed tinggi, satu persatu, barisan itu terlewati. HR77, Jetbus Pahala Kencana, Harapan Jaya AG 7049 US, serta kompatriotnya, AG 7494 UR.

Tinggal satu lagi aset Ibu Hartatik Cahyana, AG 7678 UR, yang masih melenggang di depan. Ruang menyalipnya kian ciut karena pantat truk di muka kian mendekat. Mau tak mau, aksi jilat sapi dilanjutkan nyetik tipis dan goyang kanan dilakukan secara kilat. Hal yang membuat sitting beauty-ku di bangku 1A  meradang! Panas dingin, Rek! It’s trully nekat!

Tapi, babak klimaks itu terpaksa di-break, karena cadangan bahan bakar kian tergerus. Proses refuel akan dilakukan di SPBU rest area tol Cirebon. Niatan itu dianulir, ternyata antrian truk yang hendak mengisi solar juga panjang menjuntai, karena dari delapan dispenser warna abu-abu, hanya dua yang difungsikan.

Sebagai gantinya, pom di daerah Kanci dibayar tunai untuk menyuntikkan infus cair sebagai nutrisi utama penggerak mesin varian J08E-UF.

DSC_0738

Dan di pitstop imajiner ini pula dilakukan lagi barter jabatan pengemudi.

Etape Kanci-Losari-Brebes tak ubahnya jalan tol bebas bayar. Kanal sunyi yang dibangun etape sepanjang hampir 50 km benar-benar menggoda para speed addict. Laju bus kian melesat, tanpa rintangan berarti. Lubang-lubang yang bertebaran pun masih bersahabat diredam telapak roda, meski dilindas dengan kecepatan tinggi.

Gajah Mungkur ber-STNK B 7070 IS serta Medium Bus Aladin Cirebon-Tegal-Semarang dibuat tak berdaya mengikuti ulahnya. Bahkan, sempat pula beradu sprint dengan lokomotif CC 206 yang menyeret rangkaian 10 gerbong barang di daerah Pejagan. Namun, lambat laun, PO Kemenangan keteteran mengimbangi output engine bikinan GE Transportation, Amerika, itu.

Brebes – Pekalongan, 22.17 – 23.58

Hujan deras mengguyur kota industri telur asin. Sikap hati-hati diambil dengan mendemosikan skala jelajah ke level ekonomis.

GMS “Missile2” serta Sindoro Satriamas kode 223 kuasa melampaui, menodai prestasi PO Kemenangan yang sebelumnya digdaya meruntuhkan tampuk Gunung Harta, DK 9131 GH, di Desa Suradadi, Tegal.

Rasa kantuk yang datang tak kugubris. Film layar lebar yang disiarkan kaca depan bisa-bisa mubazir bila dilewatkan dengan tidur. Apalagi melihat semangat juang driver berusia senja yang masih panggah menggeluti rute ratusan kilo tiap hari, membuatku mengagungkan kata salut dan apresiasi kagum.

Berikutnya, Garuda Mas “Lanange Jagat” jadi pemeran pembantu. Marcopolo, B 7383 IZ, begitu gemulai menari-nari di atas catwalk Pantura.

Ngga dapat adiknya, kakaknya juga boleh…Mungkin itu yang ada di pikiran PO Kemenangan, setelah kisah asmaranya dengan Garuda Mas Skyliner selama mengaspali alam Eretan dikandaskan oleh Pahala Kencana.

Berdua pun memintal hubungan bilateral nan manis, membangun mahligai indah sepanjang garis khayal Petarukan – Wiradesa. Garuda Mas sebagai imam, Kemenangan sebagai makmum.

Setiap ada pertemuan, niscaya akan datang perpisahan.

Jembatan Siwalan, yang masuk wilayah Wiradesa, jadi aral keintiman yang telah terangkai. Kerusakan badan jalan di atas gelagar jembatan akhirnya jadi triggerit’s time to say goodbye”. Moda berkelas AC ekonomi itu salah pilih jalur yang steril dari lubang, sedangkan bus-ku terus meluncur dengan bantuan kontur kiri jalan yang lebih rata.